NovelToon NovelToon
The Shadow-Wind : Reincarnation Crystals Of The Chosen

The Shadow-Wind : Reincarnation Crystals Of The Chosen

Status: tamat
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Action / Tamat
Popularitas:129
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

Di daratan Huanjiang, Dinasti Wuji Chao memerintah dengan tangan besi. Chen Fengyin lahir di desa yang damai, hingga sebuah pembantaian menghancurkan segalanya ketika dia masih kecil – menyisakan dia sebagai satu-satunya yang tersisa.

Ditemukan oleh seorang ahli bela diri kuno, dia menghabiskan tahun-tahun untuk melatih diri dan menguasai kekuatan elemen alam yang jarang orang bisa miliki. Namun ketika masa lalunya kembali mencari dia, pertempuran yang dahsyat membuatnya harus membangkitkan kekuatan legendaris yang hanya diberikan kepada orang terpilih.

Meskipun berhasil mengusir musuh, tubuhnya tak mampu menahannya. Tapi takdir tidak mengizinkannya pergi begitu saja – dia bangun kembali dengan tubuh baru di desa yang jauh, membawa kekuatan yang sama namun harus belajar mengendalikannya lagi.

Bersama teman baru yang setia dan kelompok perlawanan yang tersembunyi, Fengyin berkelana selama bertahun-tahun

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Pertempuran & Kematian

Tiga tahun di lembah tersembunyi.

Fengyin menghitung waktu bukan dengan matahari—yang jarang terlihat di antara pepohonan lebat—tapi dengan siklus sakitnya. Setiap bulan, ketika bulan purnama, koneksinya dengan keenam elemen meradang seperti luka yang tidak pernah sembuh. Kristal-kristal di punggungnya, yang dulu berdenyut selaras dengan jantung, kini berdenyut seperti denyutan nadi yang terluka. Cepat. Tidak teratur. Sakit .

Wanita berambut putih itu—yang menolak menyebut namanya, hanya meminta dipanggil "Shimu"—mengajarkan cara mengendalikan rasa sakit. Bukan menghilangkannya, tapi menggunakannya . Mengubahnya menjadi bahan bakar. Mengubahnya menjadi pengingat.

"Setiap kali kamu merasakan sakit," kata Shimu pada malam pertama bulan purnama, saat Fengyin terbaring di tanah, tubuhnya bergetar oleh kejang yang tidak bisa dikendalikan, "ingatlah apa yang diambil darimu. Ingatlah siapa yang mengambilnya. Dan biarkan sakit itu menjadi penggerak, bukan penghalang."

Fengyin belajar. Perlahan, dengan pahit. Belajar bahwa kekuatannya kini adalah pinjaman —sesuatu yang bisa diambil kembali kapan saja oleh Xie Wuyou, yang masih memegang bagian dari koneksi aslinya. Belajar bahwa menggunakan keenam elemen sekarang setara dengan berjalan di atas tali yang terbakar di kedua ujungnya.

Tapi dia juga belajar hal lain. Hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan kristal atau elemen.

Belajar tentang ramuan dari akar-akar yang hanya tumbuh di tempat Yǐng pernah menyentuh tanah. Belajar tentang meditasi dalam kegelapan total, di mana satu-satunya yang bisa dilihat adalah diri sendiri . Belajar tentang cara menenangkan jiwa-jiwa yang berbagi tubuhnya—Gu Yanqing yang muda, Lin Xuan, dan yang lainnya—sehingga mereka menjadi sekutu daripada penumpang.

Dan belajar tentang rencana .

Shimu punya rencana. Rencana yang telah disusun selama tiga puluh tahun, sejak dia berhasil melarikan diri dari Xie Wuyou dengan harga separuh jiwa. Rencana yang melibatkan seseorang yang bisa melakukan apa yang tidak bisa dia lakukan: memasuki inti Yǐng milik Xie Wuyou, dan melepaskan semua yang ditahannya.

"Tapi untuk itu," kata Shimu pada malam sebelum keberangkatan, "kamu harus membiarkan dia mengambil sisa kekuatanmu. Kamu harus menjadi kosong . Menjadi mangsa yang sempurna. Sehingga dia tidak curiga ketika kamu memasuki dirinya."

Fengyin menatapnya. Tiga tahun di lembah ini telah mengubahnya—bukan hanya fisik, tapi dalam . Matanya lebih tua. Bahunya lebih lebar. Tapi juga lebih... rapuh . Seolah-olah setiap penggunaan kekuatan meninggalkan retakan yang tidak terlihat.

"Dan kalau aku tidak bisa keluar?" tanyanya.

Shimu tidak menjawab langsung. Dia menatap api unggun, wajahnya berkilauan dengan cahaya yang membuatnya terlihat lebih muda dan lebih tua secara bersamaan.

"Maka kamu akan menjadi bagian dari koleksinya," kata akhirnya, suaranya datar. "Tapi kamu tidak akan sendirian. Aku akan mengikutimu. Bagian dari jiwaku—bagian yang masih utuh—akan berada di dalam liontin itu. Bersama bagian kakakku. Bersama semua yang kamu bawa."

Dia menoleh, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Fengyin melihat air mata di matanya.

"Kamu mungkin menganggap ini pengorbanan," lanjut Shimu. "Tapi bagiku, ini adalah pemulihan . Tiga puluh tahun menunggu. Tiga puluh tahun tidak hidup, tidak mati, hanya ada . Aku lelah, Fengyin. Dan kamu... kamu adalah cara aku bisa beristirahat sambil masih berarti sesuatu."

Mereka berangkat pada subuh berikutnya.

Bukan ke Gunung Puncak Angin—Xie Wuyou tidak akan kembali ke sana, tidak setelah kekalahan yang memalukan. Tapi ke tempat yang lebih dekat pada kekuatannya. Lebih dekat pada sumber .

Kota bayangan. Yǐngdū—ibu kota provinsi yang dikuasai Xie Wuyou secara langsung, tempat dia memerintah sebagai wakil Kaisar, tempat setiap sudut dipenuhi oleh mata-mata yang tidak punya wujud.

Mereka masuk pada malam hari, dengan wujud yang berbeda. Shimu menggunakan teknik yang hampir melupakan—membelah jiwa, menyembunyikan bagian terbesar di dalam Yuèyǐng Pèi, meninggalkan hanya cukup untuk berjalan, berbicara, mengalihkan perhatian . Fengyin menggunakan Yǐng yang tersisa untuk menyembunyikan kristal-kristalnya, membuatnya terlihat seperti petani biasa yang kehilangan arah.

Kota itu... salah .

Bukan karena kemiskinan—meski itu ada, meski terlihat di wajah-wajah kurus yang berjalan dengan mata kosong. Bukan karena kekerasan—meski itu juga ada, meski terlihat di mayat-mayat yang tergeletak di gang-gang sempit, yang tidak diangkat karena tidak punya keluarga yang peduli.

Tapi karena bayangan .

Di kota lain, bayangan adalah hal yang alami. Yang mengikuti matahari, yang bergerak dengan pemiliknya, yang tidak berpikir . Di Yǐngdū, bayangan adalah hal yang hidup . Yang bergerak sendiri. Yang menatap balik. Yang melaporkan setiap gerakan, setiap bisikan, setiap niat .

Fengyin bisa merasakannya. Dengan Yǐng yang masih dimilikinya, dia bisa mendengar mereka. Mendengar laporan-laporan yang dikirim ke istana Xie Wuyou. Mendengar nama-nama yang disebut. Mendengar... namanya sendiri.

"Target terdeteksi," bisik bayangan di seberang jalan, yang terlihat seperti milik seorang pedagang sayur. "Chen Fengyin. Tiānzé Zhě. Memasuki sektor tujuh. Memasuki sektor tujuh."

Shimu menatapnya, dan dalam tatapan itu ada peringatan. Jangan bereaksi. Jangan lari. Terus berjalan.

Mereus berjalan. Melalui pasar malam yang sepi. Melalui kuil yang ditutup. Melalui jembatan yang melintasi sungai hitam—bukan karena warna air, tapi karena bayangan yang terlalu pekat di dasarnya.

Dan di ujung jembatan, menunggu.

Xie Wuyou.

Bukan dalam wujud yang dikenal Fengyin—pakaian formal hitam, rambut terurai, kristal yang berputar dengan sombong. Tapi dalam wujud yang lebih sederhana . Jubah abu-abu. Rambut diikat. Kristal-kristal yang tidak terlihat, yang disembunyikan di dalam tubuh, siap dipanggil kapan saja.

Seolah-olah dia sedang beristirahat. Seolah-olah dia tidak menunggu .

"Chen Fengyin," kata Xie Wuyou, suaranya tidak lebih keras dari bisikan, tapi terdengar jelas di telinga. "Tiga tahun. Aku menghitung."

Dia berjalan mendekat, langkahnya ringan, hampir melayang .

"Tiga tahun untuk menyembuhkan luka yang kuberikan. Tiga tahun untuk berlatih menggunakan kekuatan yang kini milikku . Tiga tahun untuk merencanakan..." dia berhenti, menatap Shimu, "...ini. Pengorbanan terakhir. Pembelian waktu dengan jiwa. Teknik yang sangat... keluarga ."

Shimu menjadi kaku. Bukan karena takut—tapi karena terkejut . Karena Xie Wuyou mengenalinya. Setelah tiga puluh tahun, setelah perubahan wujud, setelah pembelahan jiwa.

"Kakak perempuan Gu Yanqing," kata Xie Wuyou, hampir dengan hormat yang sarkastis. "Yang berhasil melarikan diri. Yang kupikir sudah mati, atau setidaknya hancur . Tapi tidak. Kamu hanya menunggu . Menunggu seseorang yang cukup bodoh untuk mempercayai rencanamu."

Dia menatap Fengyin, dan di matanya ada sesuatu yang baru. Sesuatu yang hampir seperti... penghargaan .

"Dan kamu, Chen Fengyin. Kamu cukup bodoh. Atau cukup berani . Aku tidak yakin mana yang lebih benar."

Fengyin tidak menjawab. Dia hanya menatap. Menunggu. Memancing .

Karena itu adalah rencana. Membiarkan Xie Wuyou merasa superior. Membiarkan dia berbicara . Sambil Shimu, di belakang punggungnya, mulai menggerakkan tangan dalam pola yang hanya bisa dilihat oleh Yǐng—mempersiapkan teknik terakhir. Teknik yang akan mengirim mereka berdua—jiwa Shimu dan jiwa Fengyin—ke dalam tubuh Xie Wuyou.

"Aku datang untuk menyerah," kata Fengyin, suaranya datar. "Kekuatanku tidak cukup. Tubuhku rusak. Aku... aku hanya ingin hidup. Bahkan sebagai manusia biasa. Bahkan tanpa elemen. Bahkan..."

"Tanpa jiwa?" selesaikan Xie Wuyou. "Karena itu yang akan terjadi, kamu tahu. Aku tidak bisa mengambil kekuatanmu tanpa mengambil jiwamu. Tidak setelah apa yang terjadi tiga tahun lalu. Koneksi kita terlalu... mesra untuk pemisahan yang bersih."

Dia tersenyum, dan kali ini senyumnya mencapai mata. Senyum yang lapar .

"Tapi itu tidak masalah. Jiwa yang ditahan dalam kekuatanku tidak hilang. Tidak seperti yang kamu pikirkan. Mereka menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang abadi. Sesuatu yang..."

"Cukup," kata Shimu.

Bukan dengan suara—dengan tindakan . Tangannya selesai bergerak, dan ruang di sekitar mereka terdistorsi . Bukan menjadi gelap, tapi menjadi... tebal . Seolah-olah udara itu sendiri mengental, menjadi cair, menjadi sesuatu yang bisa masuk .

Xie Wuyou bereaksi—tentu saja dia bereaksi. Kristal-kristalnya muncul dalam sekejap, berputar dalam kecepatan yang membuat udara berteriak. Tapi terlambat. Shimu sudah selesai. Sudah membuka .

"Sekarang, Fengyin!" teriak Shimu, suaranya bergema dari segala arah, seolah-olah dia sudah tidak lagi sepenuhnya di sini. *"Masuk! Cari intinya! Lepaskan mereka!"

Fengyin tidak ragu. Dia menggunakan Yǐng yang tersisa—yang disimpan untuk momen ini—untuk melompat . Melompat ke dalam distorsi yang dibuat Shimu. Melompat ke dalam tubuh Xie Wuyou.

Dan dunia berubah.

Di dalam Xie Wuyou, tidak ada fisik. Tidak ada ruang. Hanya... lapisan .

Lapisan-lapisan jiwa, yang ditahan, yang ditumpuk, yang ditekan satu sama lain sampai hampir tidak bisa dibedakan. Fengyin melayang di antara mereka—bukan berjalan, bukan berenang, hanya ada —mencari inti. Mencari sumber dari semua ini.

Dia melihatnya. Wajah-wajah yang dikenali. Gu Yanqing yang muda, yang menatapnya dengan mata yang masih penuh dengan api. Lin Yao—bukan Lin Yao yang menjadi Kepala Desa, tapi Lin Yao yang lebih muda, yang belum memiliki janggut putih. Ratusan wajah lain. Ribuah. Semua yang pernah diserap Xie Wuyou dalam seratus dua puluh tahun.

Dan di tengah mereka, di inti dari labirin jiwa, sesuatu yang bersinar .

Bukan cahaya Guāng—cahaya yang terlalu tua, terlalu sakit . Cahaya dari jiwa yang telah ditahan terlalu lama, yang telah melupakan namanya sendiri, yang hanya ingin... bebas .

Shimu.

Bukan Shimu yang ada di luar—tubuh yang ditinggalkan di jembatan, yang kini mungkin sudah hancur oleh serangan Xie Wuyou. Tapi Shimu yang asli. Jiwa yang utuh. Yang telah menunggu tiga puluh tahun untuk seseorang yang bisa menemukannya.

"Kamu datang," bisik jiwa itu, suaranya seperti gema dari mimpi. "Aku khawatir kamu tidak akan. Khawatir rencanaku terlalu rumit. Terlalu berisiko."

"Aku di sini," kata Fengyin, meski tidak ada suara, hanya niat . "Aku di sini untuk membebaskanmu. Semuanya. Tapi aku tidak tahu caranya."

Shimu—jiwa Shimu—tersenyum. Senyum yang tua, yang lelah, yang siap .

"Caranya sederhana," kata jiwa itu. "Kamu harus menjadi pengganti. Menjadi inti baru. Menahan semua jiwa ini dalam dirimu, sehingga Xie Wuyou tidak bisa lagi mengontrol mereka. Sehingga mereka bisa memilih —untuk tinggal, untuk pergi, untuk menjadi bagian darimu atau bagian dari dunia."

"Tapi aku tidak cukup kuat," kata Fengyin. "Koneksiku dengan elemen sudah rusak. Aku hampir tidak bisa menahan jiwaku sendiri, apalagi ribuan jiwa lain."

"Itulah sebabnya aku di sini," kata Shimu. "Aku akan menjadi jembatan. Menyatukan jiwaku dengan jiwamu, untuk sesaat. Memberimu kekuatan yang cukup. Tapi hanya untuk sesaat. Hanya cukup untuk..."

"Untuk apa?"

"Untuk mengalahkan Xie Wuyou dari dalam. Menghancurkan inti Yǐng-nya. Membuatnya kosong , seperti yang dia lakukan pada begitu banyak orang."

Fengyin merasakan sesuatu. Bukan dari Shimu—tapi dari luar . Dari tubuh Xie Wuyou, yang sedang berjuang. Yang merasakan sesuatu yang salah di dalam dirinya. Yang mulai panik .

"Waktunya sekarang," kata Shimu. "Apakah kamu siap?"

Fengyin ingin menjawab tidak . Ingin menjawab bahwa dia tidak siap, tidak pernah siap, tidak akan pernah siap untuk ini. Tapi kemudian dia merasakan mereka. Semua jiwa di sekitarnya. Yang menatapnya. Yang menunggu .

Gu Yanqing yang muda. Yang mengangguk. Yang percaya .

Lin Yao yang muda. Yang tersenyum. Yang menginspirasi .

Ribuan jiwa lain. Yang tidak kenalnya, tapi yang tahu apa artinya ditahan . Yang tahu apa artinya menderita .

Dan dia merasakan sesuatu yang lain. Dari luar. Dari tubuhnya sendiri—tubuh yang ditinggalkan di jembatan, yang kini mungkin sudah hancur. Dari Yuèyǐng Pèi. Dari benih yang telah tumbuh selama tiga tahun.

Benih itu meledak . Bukan menjadi kehancuran, tapi menjadi kehidupan . Menjadi koneksi baru. Menjadi sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya.

Sesuatu yang bisa menahan. Sesuatu yang bisa melindungi .

"Aku siap," kata Fengyin.

Dan Shimu—jiwa Shimu—melompat . Melompat ke dalamnya. Menyatu. Memberikan segalanya.

Untuk sesaat—hanya sesaat—Fengyin merasa utuh . Merasa kuat. Merasa seperti Tiānzé Zhě sejati, seperti yang ditakdirkan, seperti yang diimpikan .

Dia bergerak. Bukan melawan Xie Wuyou—tapi melawan inti Yǐng-nya. Melawan sumber dari semua penderitaan ini. Menggunakan kekuatan yang diberikan Shimu, menggunakan harapan dari ribuan jiwa, menggunakan dirinya sendiri yang telah tumbuh selama tiga tahun di lembah tersembunyi.

Dia menghancurkan inti itu.

Bukan dengan ledakan—tapi dengan pelepasan . Membiarkan semua yang ditahan untuk pergi . Untuk memilih . Beberapa jiwa memilih untuk tinggal bersamanya—Gu Yanqing yang muda, Lin Yao yang muda, beberapa lainnya yang merasa berhutang budi. Beberapa memilih untuk pergi—menyebar, menjadi bagian dari dunia, menjadi bebas .

Dan Shimu?

Shimu memilih untuk istirahat . Untuk tidak lagi menjadi bagian dari siapapun. Untuk menjadi tidak ada , yang dalam konteks ini, adalah hadiah terindah yang bisa diberikan.

Fengyin terbangun—bukan di dalam tubuh Xie Wuyou, tapi di luar . Di jembatan. Di tubuhnya sendiri.

Tubuh yang hancur. Yang tidak bisa bergerak. Yang merasakan darah mengalir dari terlalu banyak luka untuk dihitung.

Di sampingnya, tubuh Shimu—yang juga hancur. Yang tidak bernapas. Yang telah memberikan segalanya, bahkan sebelum Fengyin menghancurkan inti Yǐng.

Dan di depannya, Xie Wuyou.

Tidak berdiri. Tidak berkuasa. Tapi terbaring . Tubuhnya masih utuh—tapi matanya kosong. Kristal-kristalnya, yang pernah berputar dengan sombong, kini jatuh ke tanah. Tidak bersinar. Tidak berdenyut. Hanya batu. Hanya kaca .

Karena inti Yǐng-nya telah hancur. Karena semua jiwa yang ditahannya telah pergi. Karena—untuk pertama kalinya dalam seratus dua puluh tahun—Xie Wuyou adalah kosong . Tubuh tanpa jiwa. Hidup tanpa diri .

Fengyin ingin tertawa. Ingin menangis. Ingin merayakan .

Tapi dia tidak bisa. Tubuhnya tidak bisa bergerak. Kristal-kristalnya—yang dulu berdenyut, yang dulu hidup —kini terasa seperti batu asing di punggungnya. Sesuatu yang ditancapkan, bukan sesuatu yang menjadi bagian .

Dia merasakannya. Akhirnya. Yang selama ini ditakuti.

Kematian.

Bukan cepat. Tidak mudah. Tapi past . Darah yang mengalir terlalu banyak. Jantung yang berdetak terlalu lambat. Napas yang menjadi terlalu tipis .

Dia menatap ke atas. Ke langit yang mulai terang—fajar yang datang, meski dia tidak akan melihatnya sepenuhnya. Ke awan-awan yang bergerak, tidak peduli pada kehidupan atau kematiannya.

Dan dia merasakan sesuatu. Di dadanya. Di Yuèyǐng Pèi.

Benih itu. Yang telah tumbuh. Yang telah meledak. Yang kini... berkembang .

Menjadi sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Sesuatu yang melampaui kehidupan dan kematian. Sesuatu yang... menunggu .

"Inkarnasi," bisik Fengyin, mengerti. Bukan dengan pikiran—pikirannya terlalu lambat sekarang, terlalu kabur —tapi dengan jiwa. Dengan sesuatu yang lebih dalam.

Yuèyǐng Pèi bukan hanya liontin pelindung. Itu adalah wadah . Wadah untuk jiwa yang belum siap pergi. Yang masih punya tugas . Yang masih punya takdir .

Dia merasakan tubuhnya menjadi dingin. Merasakan penglihatannya menjadi gelap. Merasakan dirinya menjadi tipis, menyebar, menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Tapi dia juga merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang baru . Sesuatu yang menunggu di ujung terowongan gelap ini.

Sebuah tubuh. Kecil. Baru. Yang bernapas pertama kalinya.

Sebuah desa. Jauh. Tersembunyi. Yang masih di bawah kekuasaan Dinasti yang sama.

Sebuah kesempatan . Untuk tumbuh lagi. Untuk belajar lagi. Untuk melanjutkan .

Fengyin—Chen Fengyin, Tiānzé Zhě, murid terakhir Gu Yanqing—tersenyum untuk terakhir kalinya.

Dan kemudian dia pergi . Bukan menjadi tidak ada, tapi menjadi sesuatu yang lain . Sesuatu yang akan datang.

Di jembatan, di kota bayangan yang kini tanpa penguasa, tubuhnya terbaring. Dingin. Kosong.

Tapi Yuèyǐng Pèi masih hangat. Masih berdenyut. Masih menunggu .

Dan di dalamnya, benih yang telah tumbuh selama tiga tahun—benih dari harapan, dari pengorbanan, dari cinta —menunggu waktunya.

Sepuluh tahun.

Sepuluh tahun untuk tumbuh. Untuk menjadi kuat lagi. Untuk kembali .

Dan kemudian—kemudian—cerita akan berlanjut.

(bersambung...)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!