NovelToon NovelToon
PASHAM

PASHAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Epik Petualangan
Popularitas:717
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.

Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.

Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.

Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.

Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Langkah yang Salah

Kabut putih pekat menyelimuti segala sesuatu. Tio berdiri di tengahnya, berputar perlahan, mencoba mengenali satu titik referensi pun yang bisa membantunya menentukan arah. Tak ada. Semua tampak sama: bebatuan hitam basah, semak-semak kerdil yang tertutup air, dan kabut yang bergerak seperti makhluk hidup—mengalir, berputar, kadang menipis sebentar lalu menebal lagi.

Hujan gerimis masih turun, tidak deras tapi cukup untuk membuat segalanya licin. Jaket Tio sudah basah total, udara dingin merembes masuk hingga ke lapisan dalam. Kedinginan mulai merayap di ujung jari-jarinya. Ia mengguncang-guncang tangan, mencoba mengembalikan sirkulasi darah.

Tenang, Tio. Tenang. Ini cuma kabut. Ini cuma hujan. Lo bisa mikir jernih.

Ia menarik napas dalam, mencoba mengingat peta mental yang ia buat saat naik tadi pagi. Saat mendaki, ia melewati punggungan sempit yang disebut Batu Loncat. Setelah itu, area yang lebih terbuka dengan bebatuan besar. Lalu tanjakan terakhir menuju puncak. Sekarang, ia harus menemukan punggungan itu lagi, lalu mengikutinya turun.

Tapi dari mana arahnya?

Tio mencoba logika sederhana: saat mendaki, ia datang dari timur. Matahari terbit di belakangnya. Sekarang, meski tertutup awan, ia bisa memperkirakan arah berdasarkan waktu. Pukul setengah dua siang. Matahari seharusnya di barat daya. Tapi mana barat daya?

Ia mengeluarkan kompas lagi. Jarumnya masih berputar tak menentu—mungkin karena kandungan mineral besi yang tinggi di batuan vulkanik. Kompas tak bisa diandalkan.

Oke, oke. Alternatif lain.

Ia mencoba mengamati arah aliran air. Hujan membuat aliran-aliran kecil di permukaan tanah. Air mengalir ke bawah. Jika ia mengikuti aliran air, seharusnya ia akan turun. Tapi air mengalir ke segala arah di medan yang tidak rata ini. Dan mengikuti aliran air bisa membawanya ke jurang.

Tio memilih satu arah yang menurutnya paling mungkin. Ia berjalan perlahan, setiap langkah diuji dengan tongkat bambu. Di depan, bayangan-bayangan samar muncul dan menghilang—batu besar, semak, kabut yang bergerak.

Lima menit. Sepuluh menit. Ia terus berjalan, berharap kabut akan menipis dan ia akan melihat sesuatu yang dikenali.

Sebaliknya, kabut semakin tebal.

---

Tiba-tiba, tanah di bawah kakinya menghilang.

Tio merasakan sensasi aneh—satu kaki menginjak ruang kosong. Tubuhnya oleng. Ia mencoba mengayunkan tangan, mencengkeram tongkat lebih kuat, mencari pegangan. Tapi tongkatnya hanya membelah udara. Tubuhnya jatuh ke depan, tergelincir di permukaan batu yang basah dan berlumut.

Dunia berputar.

Tio merasakan tubuhnya membentur batu sekali, dua kali. Lututnya menghantam permukaan keras. Sikutnya terantuk tonjolan batuan. Ranselnya terseret, membentur setiap rintangan di sepanjang lintasan jatuhnya. Ia mencoba meraih apa pun—sejumput rumput, celah batu, apa saja—tapi tangannya hanya menggores permukaan licin tanpa mendapat cengkeraman.

Jatuh. Jatuh. Jatuh.

Berapa lama? Mungkin hanya beberapa detik, tapi terasa seperti selamanya. Tubuhnya terus tergelincir, memantul, jatuh lagi. Suara napasnya sendiri terdengar seperti dengusan panik di telinganya.

Lalu, dengan hentakan keras, tubuhnya berhenti.

Tio terbaring di lereng curam, separuh tubuhnya tersangkut di semak-semak yang entah bagaimana berhasil menahan laju jatuhnya. Napasnya memburu. Jantungnya berdebar seperti ingin melompat keluar dari dada. Ia tidak bergerak, hanya berbaring di sana, merasakan sakit yang mulai menjalari seluruh tubuh.

Perlahan, ia menggerakkan jari-jari tangan. Masih bisa. Pergelangan tangan. Masih bisa. Lengan. Bahu. Sakit, tapi masih bisa digerakkan.

Lalu ia mencoba menggerakkan kaki.

Rasa sakit yang luar biasa menusuk dari pergelangan kaki kanan. Tio meringis, hampir berteriak. Ia menahan napas, mencoba mengatasi rasa sakit yang berdenyut-denyut itu. Ketika ia mencoba menggerakkan kaki lagi, rasa sakit yang sama menyambarnya.

Terkilir. Parah.

Tio menarik napas panjang, mencoba tenang. Ia berbaring di semak-semak itu, memandang ke atas. Kabut masih tebal, tapi ia bisa melihat garis samar di mana ia jatuh. Tebing itu tidak terlalu tinggi—mungkin 10-15 meter—tapi cukup curam dan licin untuk membuat jatuhnya tak terkendali.

Ia mengalihkan perhatian dari rasa sakit, mencoba mengecek kondisi lain. Ransel? Masih di punggung. Tapi posisinya miring, talinya melintir. Ia mencoba meraihnya, dan baru saat itulah ia mendengar suara yang membuat jantungnya berhenti.

Bruk.

Suara benda jatuh. Tio menoleh. Ranselnya tidak lagi di punggung. Ternyata saat jatuh tadi, salah satu tali pengikat putus, dan kini ranselnya tergelincir lebih jauh ke bawah, tersangkut di celah batu sekitar 5 meter di bawahnya. Dan karena posisinya terbalik, isi ransel mulai berhamburan keluar.

Tio melihat nesting-nya jatuh, memantul di bebatuan, lalu hilang dalam kabut. Kompor portablenya menyusul. Kantong makanan. Jas hujan cadangan. Semuanya jatuh satu per satu, menghilang entah ke mana.

"Tidak... tidak... TIDAK!"

Teriakannya bergema di antara kabut, tapi tak ada yang menjawab. Hanya suara gerimis yang terus turun, dingin dan tanpa ampun.

---

Tio diam beberapa saat, memproses apa yang baru saja terjadi. Tubuhnya sakit di banyak tempat. Kakinya kemungkinan cedera serius. Perlengkapannya berhamburan, mungkin sebagian besar hilang entah di dasar jurang. Dan ia bahkan tidak tahu persis di mana ia berada.

Ini... ini mimpi buruk.

Tapi ia harus bergerak. Berdiam di sini hanya akan membuatnya semakin kedinginan dan shock. Ia harus mencapai ranselnya, melihat apa yang masih bisa diselamatkan.

Dengan hati-hati, Tio mencoba bergeser. Rasa sakit di kaki kanan langsung menusuk, membuatnya meringis lagi. Ia meraih semak di dekatnya, menarik tubuhnya perlahan. Satu sentakan. Dua sentakan. Tubuhnya bergeser beberapa sentimeter.

Dari celah batu tempat ranselnya tersangkut, ia melihat kamera aksinya jatuh. Benda hitam kecil itu memantul di bebatuan, lalu jatuh ke dalam jurang yang lebih dalam. Tio hanya bisa memandanginya hilang, tak bisa berbuat apa-apa.

Satu per satu, benda-benda yang ia bawa dengan hati-hati dari Jakarta, yang ia kemas dengan cinta dan perencanaan matang, menghilang ke dalam jurang berkabut. Makanan. Perlengkapan masak. Pakaian kering. Semua.

Yang penting ranselnya. Mungkin masih ada sesuatu di dalam.

Akhirnya, setelah perjuangan yang terasa seperti berjam-jam, Tio mencapai ranselnya. Dengan satu tangan berpegangan pada celah batu, tangan lain meraih ransel yang tersangkut. Ia menariknya perlahan. Ransel itu lepas dari celahnya, jatuh ke pangkuannya.

Ia membuka ransel dengan tangan gemetar. Isinya berantakan, banyak yang hilang. Tapi masih ada beberapa benda yang tersisa: sleeping bag yang basah kuyup, matras yang penyok, ponsel yang mati total karena air, jurnal kecilnya yang ajaibnya masih ada di kantong samping—basah, tapi utuh. Dan di kantong paling dalam, ia meraba sesuatu yang keras.

Pisau serbaguna. Masih ada.

Dan di kantong kecil di pinggang ransel, dua batang energi bar yang terselip.

Itu saja.

Tio duduk bersandar di batu, menatap barang-barang yang tersisa. Dari perlengkapan lengkap untuk pendakian lima hari, sekarang ia hanya punya sleeping bag basah, matras penyok, jurnal, pisau, dan dua batang energi bar.

Oh, dan satu botol air yang entah bagaimana masih tersangkut di sisi ransel. Setengah penuh.

Ia menengadah ke langit berkabut, mencoba menahan air mata yang entah karena sakit, entah karena putus asa, mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Kenapa?" bisiknya lirih. "Kenapa ini terjadi?"

Tak ada yang menjawab. Hanya gerimis yang terus turun, membasahi wajahnya, bercampur dengan air mata yang akhirnya jatuh juga.

---

Tio duduk di sana cukup lama. Rasa sakit di kakinya berdenyut terus, mengingatkannya bahwa ia tidak bisa diam terlalu lama. Ia harus membuat tempat berteduh darurat sebelum gelap. Ia harus bertahan.

Dengan susah payah, Tio mulai bergerak mencari lokasi yang lebih aman. Ia merangkak, menyeret kaki kanannya yang cedera. Setiap gerakan menyiksa, tapi ia tak punya pilihan.

Di bawah tebing tempat ia jatuh, sekitar 20 meter dari posisinya, ia menemukan ceruk kecil di antara batu-batu besar. Cukup untuk satu orang duduk meringkuk. Tidak ideal, tapi lebih baik daripada terbuka di lereng.

Tio merangkak masuk ke ceruk itu, menarik ranselnya. Di dalam, setidaknya ia terlindung dari hujan langsung. Ia duduk bersandar di dinding batu, memeluk lutut, menggigil.

Di luar, kabut masih tebal. Sore mulai merambat, ditandai dengan cahaya yang semakin redup. Malam akan segera tiba. Malam pertama dalam kondisi cedera, tanpa perlengkapan memadai, tanpa makanan cukup, tanpa tahu pasti di mana ia berada.

Tio membuka jurnalnya yang basah. Dengan pensil yang masih terselip di spiralnya, ia menulis dengan tangan gemetar:

"Hari 3. Jatuh. Kaki kanan cedera parah. Hampir semua perlengkapan hilang. Sisa: sleeping bag basah, pisau, 2 energy bar, setengah botol air. Aku tersesat. Aku takut. Tapi aku harus bertahan. Aku harus."

Ia menutup jurnal, memejamkan mata. Di luar, hujan mulai reda, tapi kabut masih setia menyelimuti. Malam akan segera tiba, membawa dingin yang lebih menusuk.

Dan Tio, sendirian di ceruk batu dengan kaki cedera dan perlengkapan minim, mulai menghadapi pertarungan terberat dalam hidupnya: bertahan hidup.

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
lanjuut/Determined//Determined/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
By the way, Thor, di deskripsi ceritanya kenapa pas paragraf keempat dan seterusnya nama MC-nya jadi Arya, ya? Atau ada dua MC?/Hey/
Bp. Juenk: 🤭 iya nih Kk typo dr tokoh di novel pf yg lain. thanks koreksi nya kakak
total 1 replies
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
mulai creepy... /Skull/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
apa yang kamu tabur, itu yang kamu tuai
한스Hans
Thor paragraf nya bisa di buat agak pendek GK 🤦 kepanjangan 🤦 , udah mampir Thor... mampir ya ke Switch-On 😄🤦
Bp. Juenk: siap. thanks supportnya 🙏
total 1 replies
Halwah 4g
mantap kaaaaa...karya baru lagi..sekrg dengan tema horor mengangkat tema pendakian...💪💪💪 semngat ka
Bp. Juenk: terimakasih Kaka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!