Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor
Elvan Bagaskara
CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.
Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .
Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35
Mobil Elvan melaju semakin cepat di jalan raya yang mulai padat. Suara mesin terdengar lebih keras dari biasanya.
Di kaca spion, mobil hitam itu masih menempel di belakang mereka.
Jaraknya bahkan semakin dekat.
Kenzo menatap spion dengan serius. “Sial. Mereka makin dekat.”
Dari kursi belakang, Dira sudah memegang erat sabuk pengaman dengan kedua tangan.
Wajahnya pucat. “Ini bukan bercanda kan…”
Kenzo tetap fokus ke jalan.
“Tidak.”
Mobil di belakang tiba-tiba menyalip sedikit ke kanan seolah ingin memotong jalan.
Elvan langsung bersumpah pelan.
“Ken , hati-hati.”
Kenzo memutar setir sedikit dan mempercepat lagi. Mobil mereka melewati beberapa kendaraan lain.
Dira hampir menjerit saat mobil berbelok tajam.
“Gila! Kita balapan sekarang?!”
Kenzo menjawab singkat,
“Kita lagi kabur.”
Mobil hitam itu tidak menyerah. Ia kembali mendekat dari belakang. Sekarang jaraknya hanya beberapa meter.
Dira melihat ke belakang dan jantungnya semakin berdebar.
" Kenapa mereka ngejar kita…”
Elvan berkata dingin, “Karena mereka ingin kita berhenti.”
Dira langsung menggeleng.
“Jangan berhenti bang!”
Kenzo sedikit menyeringai tipis. “Memang tidak akan.”
Kecepatan mobil membuat suasana di dalam mobil semakin tegang.
Dira menoleh ke belakang lagi. Mobil hitam itu masih ada. Seolah tidak mau kehilangan mereka.
Tangannya mulai gemetar.
Tanpa sadar ia meraih bahu kursi Elvan lagi dari belakang.
“Om el…”
Suaranya terdengar lebih kecil dari biasanya. Elvan melirik ke kaca spion. Ia juga khawatir dengan dira.
Lalu ia melihat tangan Dira yang gemetar.
“Tidak apa-apa.”
Dira menggeleng. “Tapi aku takut.”
Itu jarang sekali keluar dari mulut Dira. Biasanya gadis itu selalu bar-bar dan berani.
Namun sekarang…
Ia benar-benar takut.
Elvan menoleh sedikit. “Dir, dengerin aku ”
Apa?”
“Kita pernah lolos dari hal yang lebih buruk dari ini.”
Dira mencoba menelan rasa takutnya.
Namun saat mobil di belakang membunyikan klakson keras, ia langsung menutup telinganya.
“Bang ken!”
Kenzo langsung memutar setir ke jalan yang lebih sempit.
Mobil mereka masuk ke jalan kota yang lebih ramai.Mobil di belakang sedikit kesulitan mengikuti.
Kenzo tersenyum tipis.
“Bagus.”
Namun beberapa detik kemudian… Mobil itu tetap berhasil masuk ke jalan yang sama.
Kenzo menghela napas. “Mereka serius.”
Dira memejamkan mata sebentar. Ia hanya bisa berharap mereka berhasil lolos.
Kenzo akhirnya memutar mobil ke arah jalan besar dekat sekolah Dira. Daerah itu mulai ramai oleh siswa dan kendaraan.
Mobil hitam di belakang akhirnya melambat. Seolah tidak ingin menarik terlalu banyak perhatian.
Kenzo terus memperhatikan spion.
Beberapa detik kemudian…
Mobil itu berbelok ke arah lain. Tidak lagi mengikuti mereka. Mobil Elvan akhirnya melambat.
Suasana di dalam mobil tiba-tiba terasa sangat sunyi.
Dira perlahan membuka matanya.
“...mereka pergi?”
Elvan masih melihat spion.
Sejenak.
Lalu ia mengangguk. “Sepertinya. Gitu.”
Dira langsung menghela napas panjang.
“Ya Tuhan…”
Ia bersandar ke kursi dengan lemas.
Kenzo menghentikan mobil di depan gerbang sekolah.
Ia menoleh sedikit ke arah Dira. “Kamu baik-baik saja kan?”
Dira masih mencoba menenangkan napasnya.
“Iya…”
Namun ia masih terlihat takut.
Elvan menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata pelan,
“Jangan pulang sendiri hari ini.”
Dira langsung mengangguk cepat. “Iya om.”
Kenzo membuka pintu mobil. “Abang bakal jemput kamu nanti.”
Dira keluar dari mobil dengan kaki sedikit lemas.
Namun sebelum masuk gerbang sekolah…
Ia menoleh kembali ke arah mobil Elvan.
Entah kenapa…
Perasaannya masih tidak tenang. Seolah-olah…
Tahu Kejaran tadi belum benar-benar selesai.
Mobil Elvan masih berhenti di depan gerbang sekolah setelah Dira turun. Dira berjalan masuk ke area sekolah sambil sesekali menoleh ke belakang.
Wajahnya masih terlihat sedikit pucat.
Di dalam mobil, Kenzo masih melihat ke arah jalan tadi. Mobil hitam itu sudah tidak terlihat.
Di dalam mobil, Kenzo masih melihat ke arah jalan tadi.
Mobil hitam itu sudah tidak terlihat. Namun suasana di dalam mobil tetap terasa tegang.
Kenzo akhirnya menghela napas.
“Menurut kamu itu orangnya Bara?”
Elvan tidak langsung menjawab. Ia masih menatap jalan dengan mata tajam.
“Bisa jadi.”
Kenzo menyilangkan tangan. "Berarti mereka sudah mulai bergerak lagi.”
Elvan menyalakan mesin mobil kembali.
Tatapannya dingin. “Aku sudah menduga itu.”
Kenzo menoleh.
“Terus sekarang?”
Elvan menjawab singkat, “Keamanan Dira harus ditambah.”
Kenzo mengangguk setuju. “Aku juga mikir begitu.”
Mobil Elvan akhirnya meninggalkan area sekolah.
Namun di dalam pikirannya…
Satu hal semakin jelas.
Bara tidak akan berhenti. Atau mungkin saja rencana dari orang lain..
.
.
.
.
.
Bersambung............