Sekuel dari Novel Arjuna Bopo Istimewa.
Di sini kita akan di suguhkan dengan perjalanan cinta antara Arjuna dan Meshwa.
Perjalanan rumah tangga dan kehidupan dari Bopo Istimewa ini, ternyata banyak sekali ujiannya.
Apakah Meshwa yang berstatus sebagai istri sanggup menemani perjalanan Arjuna? ataukah dia akan menyerah?
Di Novel ini juga akan ada kelanjutan kisah cinta Nala dan Mifta. Lalu, bagaimana dengan Dipta? Apakah dia akan menemukan tambatan hati?
simak kelanjutan cerita dari Keluarga Bopo Desa Banyu Alas di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Ledekan Maut
"Aku tadi mimpi, menikah sama Mas." Lirih Meshwa.
"Nanti aja ceritanya ya, Sayang. Mas panggil Dokter buat periksa kamu dulu." Kata Arjuna yang kemudian beranjak untuk memanggil Dokter yang berjaga.
Setelah di periksa, Dokter bilang kalau kondisi Meshwa sudah normal dan bisa di pindahkan ke ruang perawatan esok setelah Dokter spesialis yang menanganinya berkunjung.
Dokter pun cukup heran dengan kondisi Meshwa yang pulih dengan cepat. Namun, ia tentu bersyukur karena pasiennya bisa pulih dengan cepat.
"Mas, aku mimpi-"
"Kamu gak mimpi, Sayang." Kata Arjuna sambil tersenyum.
"Kita memang sudah menikah. Mas menikahimu secara siri, sore tadi." Imbuh Arjuna yang membuat Meshwa terdiam.
Arjuna kemudian mengangkat tangan Meshwa yang kini sudah melingkar cincin pernikahannya. Pun Arjuna menunjukkan cincin perak yang ia kenakan sebagai cincin pernikahan.
"Kamu masih gak percaya, Dek?" Tanya Arjuna.
"Aku bingung, Mas." Jawab Meshwa.
"Mas gak bisa nunjukin buktinya karena gak boleh bawa hape ke sini." Kata Arjuna. Ia lalu menceritakan pada Meshwa tentang pernikahan mereka dan alasan mengapa Arjuna melakukan itu.
"Mau ketemu sama Bapak? Bapak yang menikahkan kita." Tanya Arjuna yang di jawab anggukan oleh Meshwa.
"Yasudah, Mas gantian sama Bapak, ya." Kata Arjuna yang kemudian beranjak. Tak lupa ia membubuhkan kecupan di dahi Meshwa.
Meshwa sendiri tiba - tiba membeku karena Arjuna mengecup dahinya. Ini adalah kecupan pertama yang ia rasakan dari Arjuna. Wajahnya pun terasa panas dan tampaklah rona merah di pipinya.
Tak berselang lama, Pak Jamal masuk. Ia tentu bahagia melihat putrinya yang sudah sadar, bahkan tampak jauh lebih segar dari pada siang tadi saat ia menjenguk Meshwa untuk pertama kali.
Pak Jamal pun menceritakan hal yang sama pada Meshwa saat putrinya iti menanyakan tentang pernikahannya dengan Arjuna.
"Mulai sekarang, kamu adalah tanggung jawab suamimu, Nak. Berbaktilah dan jadi istri yang baik buat Arjuna, ya." Pesan Pak Jamal sambil mengusap kepala Meshwa.
Setelah Meshwa sadar, satu persatu keluarganya bergantian menjenguk. Termasuk juga keluarga Arjuna yang masih ada di sana. Mereka bergantian masuk untuk menjenguk menantu baru mereka.
Meskipun sudah mendengar penjelasan dan cerita dari semua keluarganya, namun perubahan statusnya yang tiba - tiba ini masih terasa aneh dan seperti mimpi bagi Meshwa.
Bahkan, setelah ia menonton vidio saat prosesi ijab qabul pun, ia masih merasa jika semua ini seperti mimpi. Bukannya tak terima, justru karena ia merasa bahagia.
"Mas, Ibu kesini lagi gak?" Tanya Meshwa saat ia sudah di pindahkan ke ruang rawat biasa.
"Njih, nanti malam mungkin, Dek. Kenapa?" Tanya Arjuna yang di jawab gelengan oleh Meshwa.
Tak percaya begitu saja, Arjuna yang semula sedang bekerja, kemudian menutup MacBooknya dan menghampiri istrinya.
"Kenapa, Sayang? Kamu perlu sesuatu? Kan ada Mas." Kata Arjuna.
"Itu, aku gerah, Mas. Pingin mandi, boleh gak? Badanku rasanya lengket." Kata Meshwa.
"Belum boleh mandi, Dek. Mas lap pakai air hangat aja ya, badannya." Tawar Arjuna.
"Eh, anu. Nanti nunggu Ibu atau Mbak Nita aja." Kata Meshwa.
"Loh kenapa? Kan ada Mas. Mas ini suamimu loh, Dek. Lupa?" Tanya Arjuna yang kemudian menciumi wajah Meshwa hingga Istrinya itu terkekeh.
"Mas, ya Allah. Aku gak lupa, kok." Jawab Meshwa.
"Tapi aku malu." Lirihnya kemudian.
"Ya Allah, Istriku. Masak sama suaminya sendiri malu. Udah halal kok kalau mau lihat dari ujung kepala sampe ujung kaki. Semuanya itu udah resmi punya Mas." Kekeh Arjuna yang membuat wajah Meshwa memerah.
"Mas, jangan macem - macem, ya. Inget konsekuensi yang harus kita jalani." Kata Meshwa.
"Njih, Sayang. Mas gak macem - macem kok. Kalo tidur bareng sambil peluk, boleh. Mau cium - cium boleh. Mandiin kamu juga boleh. Yang gak boleh kan cuma merawanin kamu." Kata Arjuna.
"Mas, ya Allah! Fullgar banget omongannya." Kata Meshwa yang kemudian menutupi wajahnya dengan selimut hingga membuat Arjuna tertawa.
"Pokoknya Mas Juna jangan macem - macem. Iya kalo kuat nahan imin, kalo enggak? Kan susah sendiri." Cicit Meshwa yang bicara dari balik selimut.
"Iya - iya, Sayang." Kekeh Arjuna.
"Terus, jadi mau Mas mandiin?" Goda Arjuna sambil menyibak selimut Meshwa.
"Enggak! Aku gak jadi mandi. Udah gak lengket lagi badanku." Sahut Meshwa yang kembali memecah tawa Arjuna.
"Udah ah, sana Mas kerja lagi. Kerja yang rajin, kan sekarang harus nafkahin aku juga." Kata Meshwa agar Arjuna kembali ke tempatnya bekerja dan tak lagi menggodanya.
"Ya Allah, gemes banget, Istriku!" Kata Arjuna sambil mencubit gemas pipi Meshwa.
...****************...
"Ibu, aku mau ganti baju. Pingin di bersihin juga badannya." Pinta Meshwa pada Bu Laila yang baru datang.
"Meshwa gak mau Juna urusin, Bu. Masak katanya malu." Komentar Arjuna yang membuat Pak Jamal, Bu Laila dan Kak Romi tertawa.
"Suami loh itu. Masak sama suami sendiri malu." Ledek Kak Romi.
"Sekarang malu, nanti malem juga minta kelonin." Kata Kak Irfan yang turut meledek.
"Astaghfirullah! Punya Kakak dua kok ya mulutnya gacor banget. Dulu Ibu waktu hamil Kakak, ngidam apa sih? Ngidam keroto ya." Sewot Meshwa.
"Udah sehat tuh, udah bisa ngomel - ngomel." Kekeh Romi.
"Ibu capek ya, Bu? Sini biar Juna aja yang gantiin." Kata Arjuna yang kembali meledek istrinya.
Bu Laila dan Pak Jamal hanya bisa tertawa melihat kehebohan antara anak - anak dan menantu barunya. Dalam hati ia sungguh bersyukur karena Allah menghadirkan Arjuna untuk putrinya.
"Mas Juna jangan reseh, ya. Ibu, ayo cepetan, Bu." Rengek Meshwa.
"Ya kalo suamimu yang minta, Ibu gak bisa apa - apa lah, Wa. Kan kamu udah haknya suamimu." Kata Bu Laila.
"Yuhuuu! Sayang Ibu banyak - banyaaak!" Gelak Arjuna.
"Ibu kok malah belain Mas Juna, sih." Cicit Meshwa.
"Bukan belain. Ya memang seperti itu, to. Ibu, Bapak, sama Kakak - Kakakmu ya sudah gak berhak atasmu lagi. Tanggung jawab atasmu, sudah di limpahin ke Arjuna semua kemarin sama Bapak." Kekeh Bu Laila.
"Tapi emang udah bener kalo Ibu aja yang gantiin Meshwa. Takut Arjuna gak bisa tidur nanti. Bisa - bisa tiap jam dia mandi air dingin." Celetuk Kak Irfan.
"Oh iya! Kan baru boleh di garap setengah tahun lagi paling cepet." Timpal Kak Romi.
"Kasihan banget, adek iparku yang laki satu - satunya ini. Udah beli sawah sejengkal mahal - mahal. Mau nggarap aja masih inden dulu." Kata Kak Irfan yang membuatnya dan Romi tertawa.
"Bapak! Ibu! Denger tuh, bar - bar banget mulut anak laki - lakimu padaan." Omel Meshwa.
"Udah sih, Kak. Itu nanti jahitan Adekmu mberodol loh, kalian bikin teriak - teriak gitu." Kata Pak Jamal.
"Emang udah takdir, Kak. Malah kayaknya kutukan deh ini, dari zaman Yang Kung dulu. Entah kenapa kok Bopo Desa Banyu Alas gak bisa malam pertama dengan tenang. Ada aja yang bikin gak bisa unboxing." Kata Arjuna yang kembali membuat Irfan dan Romi terbahak - bahak.