melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cinta yang dikorbankan
Ponsel di tangan Wulan terasa semakin berat.
Ia membaca pesan itu berulang kali.
Saya tahu tentang anak itu… dan tentang Agung.
Jantungnya berdegup keras.
Siapa yang tahu?
Selama ini ia yakin hanya dua orang yang mengetahui rahasia itu adalah dirinya dan Agung.
Tangannya sedikit gemetar ketika mengetik balasan.
Siapa ini?
Pesan itu terkirim.
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada jawaban.
Satu menit.
Dua menit.
Lalu ponselnya kembali bergetar.
Besok jam 10 pagi. Taman kota lama.
Tidak ada nama.
Tidak ada penjelasan.
Hanya itu.
Wulan menatap layar ponselnya lama. Perasaan takut dan penasaran bercampur menjadi satu.
Namun jauh di dalam hatinya, ada satu hal yang tiba-tiba muncul.
Harapan kecil.
Mungkin… seseorang akhirnya tahu kebenarannya.
Di sisi lain kota, Agung berdiri sendirian di balkon apartemennya.
Lampu-lampu kota membentang di bawah seperti lautan cahaya.
Ia memegang gelas minuman yang sudah lama tidak disentuh.
Pikirannya tidak berada di sana.
Entah kenapa malam ini wajah Wulan terus muncul di kepalanya.
Cara perempuan itu menatapnya sebelum pergi.
Kalimat terakhirnya.
“Suatu hari nanti kamu mungkin akan melihat wajah anak ini.”
Agung menutup matanya sejenak.
Ia seharusnya tidak memikirkan itu lagi.
Keputusan sudah diambil.
Namun sesuatu di dalam dirinya menolak untuk benar-benar diam.
Tanpa sadar ia kembali membuka laci meja di ruang kerjanya.
Foto USG itu masih ada.
Hitam putih.
Kabur.
Namun nyata.
Agung menatapnya lama.
Dan tanpa ia sadari, ingatan lama mulai muncul kembali.
berbulan bulan yang lalu.
Hari ketika ia membawa Wulan pulang ke rumah keluarganya untuk pertama kali.
Rumah besar milik keluarganya terasa dingin dan terlalu formal.
Wulan terlihat gugup, tetapi tetap mencoba tersenyum sopan.
Saat itu Agung masih berpikir semuanya akan baik-baik saja.
Namun ia salah.
Ayahnya, Hendra, bahkan tidak berusaha menyembunyikan ketidaksukaannya.
Tatapan pria itu dingin sejak awal.
Setelah makan malam selesai, Hendra memanggil Agung ke ruang kerjanya.
Pintu ditutup.
Suasana langsung berubah tegang.
“Apa hubunganmu dengan perempuan itu?” tanya Hendra tanpa basa-basi.
Agung menjawab jujur.
“Aku serius dengannya.”
Hendra tertawa pendek.
Tawa yang tidak mengandung kehangatan sama sekali.
“Kamu pewaris perusahaan ini,” katanya datar.
“Aku tahu.”
“Lalu kamu membawa seorang perempuan yang tidak tahu asal usulnya itu dan mengatakan kamu serius?”
Agung mengepalkan tangannya.
“Ayah bahkan belum mengenalnya.”
“Aku tidak perlu mengenalnya.”
Kalimat itu tajam.
Hendra berdiri dari kursinya dan berjalan mendekat.
“Dengarkan aku baik-baik,” katanya pelan namun penuh tekanan.
“Perempuan seperti dia tidak punya tempat di keluarga ini.”
Agung menatap ayahnya dengan keras kepala.
“Aku tidak peduli.”
Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi Hendra berubah menjadi lebih dingin.
“Kalau begitu mungkin kamu perlu diingatkan.”
Ia mengambil sebuah map dari meja dan melemparkannya ke depan Agung.
Di dalamnya ada dokumen perusahaan.
Kontrak.
Struktur kepemilikan saham.
“Perusahaan ini bukan hanya milikku,” kata Hendra. “Tapi aku yang menentukan siapa yang memimpinnya.”
Agung menatap ayahnya.
“Kalau kamu tetap bersama perempuan itu,” lanjut Hendra, “kamu tidak akan mendapatkan apa pun dari keluarga ini.”
Ruangan terasa sunyi.
Ancaman itu jelas.
Sangat jelas.
Namun Hendra belum selesai.
Ia menatap Agung lurus.
“Dan aku akan memastikan hidup perempuan itu juga tidak mudah.”
Agung langsung menegang.
“Maksud ayah apa?”
Hendra hanya tersenyum tipis.
“Dunia bisnis ini kecil.”
Kalimat sederhana.
Namun artinya sangat luas.
Agung tahu persis ayahnya mampu melakukan banyak hal.
Menghancurkan keluarga kecil wulan.
Menutup karir.
Membuat seseorang tidak bisa bertahan di kota ini.
“Jika kamu peduli padanya,” kata Hendra dingin, “kamu akan meninggalkannya.”
Ingatan itu berhenti di sana.
Agung membuka matanya kembali di apartemen yang sunyi.
Tangannya masih memegang foto USG.
Ia menghela napas panjang.
Saat itu ia memilih.
Ia meninggalkan Wulan tanpa penjelasan yang sebenarnya.
Ia membiarkan perempuan itu percaya bahwa ia berubah.
Bahwa ia tidak lagi peduli.
Bahwa semuanya hanya kesalahan.
Karena menurutnya itu cara paling aman.
Untuk dirinya.
Dan… mungkin juga untuk Wulan.
Namun sekarang semuanya kembali.
Kehamilan itu.
Percakapan mereka.
Tatapan Wulan yang penuh luka.
Agung menatap foto kecil itu sekali lagi.
Lalu berkata pelan, hampir seperti membenarkan dirinya sendiri.
“Aku sudah membuat keputusan yang benar.”
Namun untuk pertama kalinya sejak lama,
kalimat itu tidak terdengar sepenuhnya meyakinkan.Pagi datang dengan langit yang sedikit mendung.
Wulan hampir tidak tidur semalaman. Pesan misterius itu terus berputar di kepalanya seperti gema yang tidak mau hilang.
Saya tahu tentang anak itu… dan tentang Agung.
Kalimat itu terasa menakutkan sekaligus memberi secercah harapan.
Jam di ponselnya menunjukkan pukul 09.40 ketika ia akhirnya tiba di taman kota lama. Tempat itu tidak terlalu ramai pada hari kerja. Hanya beberapa orang tua yang berjalan santai dan anak-anak kecil yang bermain di ayunan.
Wulan duduk di bangku kayu dekat pohon besar.
Tangannya saling menggenggam.
Jantungnya berdegup tidak stabil.
Sepuluh menit terasa seperti satu jam.
Kemudian langkah seseorang mendekat dari belakang.
“Wulan.”
Suara itu membuatnya langsung menoleh.
Matanya melebar.
Orang yang berdiri di sana adalah seseorang yang sama sekali tidak ia duga.
Arman.
Adik laki-laki Agung.
Wulan berdiri perlahan, masih terkejut.
“Kamu?” katanya hampir tidak percaya.
Arman mengangguk pelan. Wajahnya terlihat serius, tidak seperti biasanya yang santai dan mudah tersenyum.
“Maaf membuatmu datang dengan cara seperti ini.”
Wulan masih mencoba memahami situasinya.
“Kamu yang mengirim pesan itu?”
“Iya.”
“Bagaimana kamu tahu…?”
Arman menarik napas panjang sebelum menjawab.
“Aku tahu lebih banyak dari yang kamu kira.”
Wulan menatapnya bingung.
Arman kemudian duduk di bangku dan memberi isyarat agar Wulan duduk kembali.
Beberapa detik mereka hanya diam.
Akhirnya Arman berkata pelan,
“Malam itu… di kantor Agung.”
Wulan langsung menegang.
“Aku ada di sana.”
“Kamu mendengar semuanya?” tanya Wulan dengan suara hampir berbisik.
Arman mengangguk.
“Aku datang untuk mengambil dokumen yang tertinggal. Aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian dari ruang sebelah.”
Wulan menunduk.
Rasa malu tiba-tiba menyergapnya.
Namun Arman segera berkata,
“Aku tidak datang untuk menghakimimu.”
Ia menatap Wulan dengan serius.
“Aku datang karena kamu harus tahu sesuatu.”
Wulan kembali mengangkat wajahnya.
“Apa?”
Arman terlihat ragu sejenak.
“Alasan sebenarnya Agung meninggalkanmu dulu.”
Wulan terdiam.
Luka lama itu masih terasa jelas di hatinya.
“Aku sudah tahu alasannya,” katanya pelan. “Dia memilih kariernya.”
Arman menggeleng.
“Tidak sesederhana itu.”
Wulan menatapnya bingung.
Arman menurunkan suaranya.
“Ayah kami, Hendra, mengancamnya.”
Wulan langsung terdiam.
“Ayahku bilang kalau Agung tetap bersamamu, dia akan menghancurkan hidupmu dan usaha kedaimu.”
Angin pagi berhembus pelan melewati taman.
Namun Wulan merasa dunia di sekelilingnya tiba-tiba berhenti.
Semua potongan masa lalu yang selama ini terasa membingungkan mulai tersusun perlahan.
“Jadi… dia meninggalkanku karena itu?” bisik Wulan.
Arman tidak langsung menjawab.
Ia menatap Wulan dengan ekspresi yang sulit ditebak.
“Aku tidak tahu apakah dia melakukannya demi melindungimu… atau demi dirinya sendiri.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Tapi satu hal yang pasti…”
Arman menatap perut Wulan dengan hati-hati.
“Agung mungkin menolak sekarang.”
Suasana menjadi tegang.
“Namun jika ayahku tahu tentang anak itu…”
Arman menghela napas.
“Masalah ini akan menjadi jauh lebih besar dari yang kamu bayangkan.”
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.