Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.
Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.
"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."
Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FITNAH DI TERAS MESJID
Ia menatap langit sore yang mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Di tempat ini, ia baru saja belajar huruf Alif, Ba, Ta, mencoba meluruskan hidupnya yang bengkok. Tapi di luar sana, dunia lamanya sedang meledak.
"Syukuri keadilan ini, Hafiz. Tapi jangan jadikan kepuasanmu sebagai berhala baru," bisik Kyai Abdullah sembari menepuk pundaknya.
Hafiz hanya mengangguk pelan, kepalanya masih menunduk menatap lantai teras. "Saya cuma takut, Kyai. Takut kalau tertangkapnya Robi justru menyeret saya kembali ke kubangan itu."
Kyai Abdullah tidak menjawab, ia hanya menatap polisi muda di sampingnya dengan isyarat mata. Polisi itu, yang bernama Aris, berdehem pelan sembari merapikan seragamnya.
"Sebenarnya ada satu hal lagi, Mas Hafiz. Sebaiknya Mas jangan terlalu sering keluar dari area masjid untuk sementara waktu," ucap Aris dengan nada serius.
Hafiz mendongak, alisnya bertaut. "Kenapa? Robi sudah ditangkap, kan? Harusnya masalahnya selesai."
Aris mengeluarkan sebuah tablet dari tasnya, menggeser layar beberapa kali sebelum menunjukkannya kepada Hafiz. "Masalahnya bukan cuma di kepolisian, tapi di sini. Di dunia maya."
Hafiz melihat layar tablet itu. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat sebuah video yang sedang viral di platform TikTok dan Instagram.
Video itu diambil secara sembunyi-sembunyi saat tamu-tamu dari kota mendatangi masjid kemarin sore. Tapi narasinya benar-benar memuakkan.
“ CEO Koruptor Hafiz Alamsyah Bersembunyi di Masjid Desa dengan Kedok Jadi Marbot. Mencuci Dosa atau Mencuci Uang Hasil Rampokan?” tulis headline video tersebut.
Di kolom komentar, ribuan netizen menghujat habis-habisan. Mereka menyebut Hafiz pengecut yang menggunakan agama sebagai tameng pelarian.
"Ini gila... ini fitnah!" suara Hafiz meninggi, tangannya gemetar hebat memegang tablet itu.
"Ada akun anonim yang terus membagikan foto-foto Mas sedang menyapu, bahkan foto saat Mas sedang belajar ngaji tadi pagi," lanjut Aris dengan nada prihatin.
Hafiz terbelalak. Itu artinya, pemuda-pemuda kampung yang mengejeknya tadi pagi bukan cuma sekadar iseng. Mereka punya misi untuk menghancurkan sisa hidupnya.
"Lihat ini, Kyai! Mereka bilang saya menyuap Kyai dengan uang haram supaya bisa sembunyi di sini!" teriak Hafiz frustrasi, menyerahkan tablet itu kepada Kyai Abdullah.
Kyai Abdullah membaca komentar-komentar pedas itu dengan tenang, seolah kata-kata itu tidak lebih dari sekadar debu yang beterbangan.
"Warga desa sudah mulai terhasut, Mas Hafiz. Mereka berencana melakukan demonstrasi besok pagi untuk mengusir Mas dari kampung ini," tambah Aris lagi.
Zahra, yang sejak tadi mendengarkan dari balik pintu, akhirnya tidak tahan lagi. Ia melangkah keluar dengan wajah pucat dan mata yang berkaca-kaca.
"Tapi itu tidak adil! Mas Hafiz di sini kerja keras!" suara Zahra bergetar menahan tangis.
Hafiz menatap Zahra. Rasa bersalah kembali menghujam jantungnya. Gara-gara dia, ketenangan keluarga ini terancam hancur.
"Zahra, masuklah. Ini urusan laki-laki," perintah Kyai Abdullah lembut namun tegas.
Zahra menggeleng kuat. "Ayah! Mereka menuduh Ayah juga! Mereka bilang Ayah terima uang dari Mas Hafiz! Aku nggak rela Ayah difitnah!"
Suasana di teras rumah Kyai mendadak menjadi tegang. Hafiz merasa seperti sesak napas, oksigen di sekitarnya seolah menipis.
Malam itu, masjid yang biasanya tenang berubah menjadi tempat yang mencekam bagi Hafiz. Ia tidak berani menyalakan lampu di kamarnya yang kecil.
Dari jendela, ia bisa melihat kerumunan orang di kejauhan, di warung kopi depan gerbang. Suara mereka riuh, menyebut-nyebut namanya dengan nada penuh kebencian.
"Keluar lu, koruptor! Jangan nodai masjid kami!" suara teriakan itu terdengar lamat-lamat terbawa angin malam.
Hafiz memejamkan mata, air mata frustrasi mengalir di pipinya. Ia baru saja ingin belajar mencintai Tuhan, tapi dunia seolah tidak memberinya kesempatan.
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk pelan. Hafiz tersentak, mengira warga sudah mulai merangsek masuk.
"Mas... ini Zahra," bisik sebuah suara dari balik pintu.
Hafiz membuka pintu sedikit. Zahra berdiri di sana membawa segelas susu hangat dan sebuah benda kecil di tangannya.
"Zahra, kamu nekat? Kalau ada yang lihat, mereka bisa salah paham," ucap Hafiz dengan nada khawatir yang mendalam.
Zahra tidak peduli. Ia menyodorkan segelas susu itu. "Minum ini, Mas. Mas dari sore belum makan."
Hafiz menerima gelas itu dengan tangan dingin. Matanya kemudian tertuju pada benda yang dipegang Zahra. Sebuah ponsel pintar milik Zahra.
"Gunakan ini, Mas. Aku sudah buka beberapa akun berita. Lihat ini..." Zahra menunjukkan layar ponselnya.
Di sana, Robi sedang diwawancarai oleh media saat dibawa ke kantor polisi. Dengan wajah tanpa dosa, Robi menunjuk ke arah kamera.
"Semua ini ide Hafiz. Dia yang menyuruh saya melakukan transaksi gelap itu. Sekarang dia sembunyi di balik sarung di sebuah desa, pura-pura bertaubat!" ucap Robi dalam video itu.
Hafiz merasa ingin meledak. "Bajingan! Dia benar-benar ingin menghancurkan saya sampai ke akar-akarnya!"
"Mas, Mas harus bicara. Mas harus klarifikasi atau polisi akan benar-benar datang menjemput Mas dengan paksa esok pagi," ucap Zahra dengan nada mendesak.
Hafiz menggeleng lemah. "Pakai apa, Zahra? Siapa yang mau percaya sama omongan marbot miskin kayak gue sekarang?"
Zahra menggenggam tangan Hafiz sejenak sebuah kontak fisik yang sangat jarang mereka lakukan. "Aku percaya. Ayah percaya. Itu sudah cukup untuk mulai berjuang."
Hafiz terdiam, menatap mata bening Zahra. Di tengah badai fitnah ini, wanita ini tetap menjadi pelabuhan yang tenang baginya.
"Tapi aku nggak mau kamu kena masalah lebih jauh, Zahra. Kamu dan Kyai sudah terlalu banyak berkorban buat sampah kayak gue," bisik Hafiz parau.
"Mas bukan sampah! Mas itu permata yang lagi dibersihkan lumpurnya! Jangan biarkan lumpur-lumpur itu menang!" Zahra sedikit membentak, membuat Hafiz tersentak.
Malam semakin larut, namun Hafiz tidak bisa memejamkan mata. Ia duduk di pojok kamar.
Ia sempat berpikir untuk lari lagi. Lari ke hutan, atau lari ke kota lain dengan identitas baru. Tapi ia teringat pelajaran Alif tadi pagi.
Alif itu tegak lurus. Jika ia lari sekarang, maka niatnya untuk berubah akan selamanya menjadi miring.
Tiba-tiba, suara deru mobil yang banyak terdengar masuk ke halaman masjid. Cahaya lampu dari sorot mobil menerangi dinding kamar Hafiz yang kusam.
Hafiz melompat berdiri, mengintip dari balik gorden yang sobek. Jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang.
Bukan satu mobil, tapi tiga mobil polisi dengan sirine yang dimatikan namun lampu rotary yang terus berputar biru dan merah.
Seorang pria berseragam lengkap dengan pangkat tinggi di pundaknya turun dari mobil pertama. Ia memegang sebuah megafon.
"Hafiz Alamsyah!! Kami membawa surat perintah penjemputan anda kembali.
Warga desa mulai keluar dari rumah-rumah mereka, bersorak gembira melihat polisi akhirnya datang menjemput "sang penjahat".
"Tangkap dia, Pak! Seret keluar dari desa kami!" teriak salah satu pemuda yang tadi pagi memfoto Hafiz.
Hafiz melihat Kyai Abdullah keluar dari rumahnya, mencoba menenangkan massa dan berbicara dengan polisi tersebut.
Tapi, polisi itu tampak tidak peduli. Beberapa petugas mulai merangsek masuk ke arah bangunan marbot tempat Hafiz berada.
"Jangan kasar, Pak! Dia tidak bersalah!" teriah Zahra yang mencoba menghalangi jalan petugas, namun ia segera ditarik mundur oleh ibunya.
Hafiz menarik napas panjang. Ia mengambil sarungnya, merapikan baju kokonya, dan mengenakan peci yang diberikan Kyai Abdullah.
Ia tidak akan lari lewat pintu belakang. Ia tidak akan merusak kehormatan masjid ini dengan cara bersembunyi seperti tikus.
Hafiz membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Cahaya lampu polisi langsung menyambar wajahnya yang pucat namun terlihat tenang.
Ia melangkah keluar. Ratusan mata menatapnya dengan kebencian, namun Hafiz hanya menatap ke arah Kyai Abdullah dan Zahra.
Zahra menangis sesenggukan, menutup mulutnya dengan tangan saat melihat dua petugas polisi langsung memegang lengan Hafiz dengan kasar.
"Hafiz Alamsyah, Anda kami amankan kembali atas keterangan saksi kunci Robi Kusuma dan Cindy," ucap petugas itu sembari memborgol tangan Hafiz.