Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.
Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.
Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.
Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Baby Ezio Rewel
Acara berlanjut ke ramah tamah. Hidangan makan malam disajikan—nasi hangat, aneka lauk pauk, dan minuman. Warga bergerak, saling menyapa, bercakap santai.
Krisna kembali berdiri di samping ayahnya, meladeni sapaan demi sapaan. Sesekali ia mengangguk, sesekali tersenyum tipis. Pikirannya tetap fokus, namun ada sudut kecil yang entah kenapa terasa kosong.
Wirda mengambil kesempatan. Ia mendekat saat Krisna berdiri sedikit terpisah.
“Mas Krisna,” panggilnya lembut.
Krisna menoleh. “Ya?”
“Saya dengar Mas Krisna mau buka klinik di sini,” kata Wirda, nadanya antusias. “Itu bagus sekali. Desa ini memang butuh klinik kesehatan.”
Krisna mengangguk. “Itu harapan saya.”
“Kalau boleh tahu,” lanjut Wirda, “lokasinya di mana?”
“Dekat pasar,” jawab Krisna. “Masih tahap persiapan.”
Wirda tersenyum. “Wah, strategis sekali. Kalau sekian ya Mas Krisna butuh bantuan tenaga administrasi atau apa pun, saya bisa bantu. Saya biasa mengurus hal-hal seperti itu.”
Krisna menatapnya sejenak, lalu mengangguk sopan. “Terima kasih, Wir. Nanti kalau perlu, saya hubungi.”
Wirda mengangguk senang. “Tentu. Mas Krisna masih simpan nomor ponsel saya?”
Pria itu tampak berpikir lama. “Kalau tidak simpan, nomor Mas Krisna berapa?” lanjut kata Wirda sembari mengeluarkan ponsel.
Percakapan mereka berlangsung ringan—tentang desa, tentang rencana klinik, tentang kehidupan di kota yang kini terasa jauh. Wirda pandai menjaga alur, tidak memaksa, tidak terlalu dekat, namun cukup hadir.
Di sela-sela obrolan, Krisna sesekali melirik kerumunan. Tanpa sadar, matanya mencari sosok yang tidak ada di sana.
Raisa.
Ia tahu gadis itu sudah pulang sejak sore. Ia bahkan tahu Raisa pulang dengan senyum dan upah kerja pertama hari itu. Namun entah kenapa, bayangan Raisa—dengan kemeja sederhana dan sepeda tuanya—menyelinap di antara gaun-gaun rapi dan obrolan santai malam itu. Seharusnya ia datang, karena masih warga desa yang sama.
“Mas Krisna?” suara Wirda menariknya kembali.
“Maaf,” Krisna berkata singkat. “Tadi kamu bilang apa?”
Wirda tersenyum maklum. “Saya tanya, Mas betah kembali ke desa?”
Krisna terdiam sesaat. “Sedang belajar beradaptasi kembali,” jawabnya jujur.
Wirda tertawa kecil. “Mas Krisna memang selalu jujur.”
Krisna tersenyum tipis. Ia melirik jam tangannya. Malam semakin larut, namun acara masih berlangsung hangat.
Di sudut halaman, Pak Wijaya berbincang dengan Pak Ridwan. Keduanya sesekali melirik ke arah Krisna dan Wirda yang tampak akrab.
“Kelihatannya mereka masih cocok,” ujar Pak Ridwan santai.
Pak Wijaya mengangguk pelan, matanya menerawang. “Kita lihat saja, Ridwan. Karena semua yang menjalaninya itu adalah anak-anak, bukan kita.”
Sementara itu, di rumah kecil yang sederhana, Raisa duduk di lantai bersama orang tuanya. Rantang dari Bu Lita sudah kosong, perut kenyang, hati hangat.
Bu Rika tersenyum sambil meneguk air hangat. “Hari ini kamu pasti hebat.”
Raisa tersenyum lebar. “Aku cuma kerja sesuai yang diminta, Mak.”
“Tapi kamu senang,” sahut ayahnya.
Raisa mengangguk. “Iya.”
Ia tidak tahu bahwa malam itu, di rumah besar yang terang oleh lampu dan harapan, namanya tidak disebut—namun keberadaannya diam-diam terasa.
Di antara doa dan rencana, di antara jodoh yang dipertimbangkan dan masa depan yang dirancang, hidup terus bergerak.
Dan di desa kecil itu, benang-benang takdir sedang ditarik pelan—mengikat dua dunia yang berbeda, menuju pertemuan yang belum selesai.
***
Malam itu hampir tak bisa disebut malam.
Jam dinding sudah melewati tengah malam, bahkan mendekati dini hari, tapi rumah Pak Wijaya masih terjaga. Lampu di ruang keluarga tetap menyala, tirainya setengah terbuka, dan suara rengekan bayi memecah kesunyian desa yang seharusnya sudah terlelap.
Baby Ezio—atau Ezio Novalio Wijaya, nama lengkap yang baru beberapa kali disebut—rewel tanpa sebab yang jelas.
Tangisannya tidak melengking seperti bayi sakit, tapi juga tidak mau reda. Seperti orang kecil yang kebingungan, tidak nyaman, dan menuntut dipahami.
Bu Lita duduk di sofa dengan wajah letih, rambutnya sudah tidak serapi sore tadi. Krisna berdiri di dekat jendela, Ezio di gendongannya, langkahnya maju mundur mengikuti naluri seadanya.
“Dari tadi sudah dikasih susu,” gumam Krisna, suaranya serak karena kurang tidur. “Popok kering. Badannya nggak panas.”
Ezio merengek lagi, tangannya mengepal, kakinya menendang kecil.
Bu Lita mengusap wajahnya sendiri. “Ibu rasa dia nggak sakit.”
“Terus kenapa?” Krisna berhenti melangkah, menatap ibunya frustrasi. “Aku sudah coba semua cara yang aku tahu, Bu.”
Bu Lita bangkit pelan, mendekat. Ia menyentuh dahi cucunya, lalu dadanya. “Hangat normal. Nafasnya juga biasa.”
“Makanya,” Krisna menghela napas kasar. “Aku bingung.”
Bu Lita menatap Krisna lama, lalu berkata pelan, “Mungkin dia lagi beradaptasi dengan tempat baru. Atau, acara barusan bikin dia rewel.”
Krisna terdiam.
“Kamu lupa, Nak,” lanjut Bu Lita, “beberapa bulan ini dia tinggal di lingkungan yang berbeda. Suasana, bau, suara ... semuanya baru.”
Ezio merengek lagi, lebih panjang kali ini.
“Dan mudah-mudahan,” Bu Lita menambahkan dengan nada agak khawatir, “ini bukan sawan.”
Kata itu membuat Krisna menegang. “Jangan ngomong gitu, Bu.”
“Ibu cuma berharap,” jawab Bu Lita tenang. “Makanya dari tadi Ibu bacain doa.”
Ia meraih Ezio dari pelukan Krisna. “Sini, biar Ibu gendong.”
Krisna menyerahkan bayinya, lalu menjatuhkan diri ke kursi. Ia menyandarkan kepala ke sandaran, menutup mata sebentar—dan hampir tertidur duduk kalau saja tangisan Ezio tidak kembali pecah.
Bu Lita mengayun pelan, bibirnya komat-kamit membaca ayat pendek. Tangis itu sempat turun jadi rengekan, lalu naik lagi.
“Bu,” Krisna membuka mata, suaranya nyaris putus asa. “Aku ini dokter. Tapi kenapa sama anak sendiri aku merasa paling bodoh?”
Bu Lita menoleh, tatapannya lembut tapi tegas. “Karena jadi ayah itu bukan soal pintar atau tidak. Tapi soal sabar.”
Krisna tersenyum getir. “Sabar aku sudah habis.”
Bu Lita mendekat, menyerahkan Ezio kembali. “Gantian. Ibu istirahat sebentar.”
Krisna menerima Ezio dengan bahu berat. Bayi itu kembali merengek, menempelkan wajah ke dada ayahnya.
Krisna mengusap punggung kecil itu, suaranya lirih, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.
“Nak … kamu maunya apa sih? Papa bingung. Diayun salah, digendong salah. Susu sudah. Semua sudah.”
Ezio menjawab dengan tangisan kecil yang konsisten.
Menjelang subuh, mata Krisna merah. Bajunya kusut. Kepalanya berat. Tapi Ezio tetap belum benar-benar tidur.
Dan di sela kelelahan itu, tanpa ia undang, bayangan seseorang muncul di pikirannya.
Raisa.
Cara gadis itu menggendong Ezio kemarin.
Cara tangisan itu berhenti seketika.
Cara semuanya terasa lebih sederhana.
Krisna menghela napas panjang, menggeleng kecil.
Ini cuma kebetulan, katanya pada diri sendiri.
***
Di rumah kecil Raisa, pagi datang lebih cepat.
Bu Rika duduk di dipan, tubuhnya masih lemah tapi wajahnya sudah jauh lebih segar dibanding kemarin. Raisa sedang menyeduh teh ketika ibunya memanggil.
“Raisa.”
Raisa menoleh. “Iya, Mak?”
“Ibu mau minta tolong lagi.”
Raisa mendekat. “Kenapa?”
“Den Krisna kemarin bilang Ibu harus istirahat beberapa hari,” kata Bu Rika. “Jadi … bisa nggak kamu gantikan Ibu lagi hari ini, kerja di rumah Pak Kades?”
Raisa tidak langsung menjawab. Ia teringat nada Krisna, tatapannya, juga permintaan maaf canggung itu. Ia juga teringat uang enam puluh ribu kemarin—uang pertama hasil kerjanya sendiri.
Hitung-hitungan cepat langsung berputar di kepalanya.
Kalau kerja lagi, dapat upah lagi. Bisa buat ongkos cari kerja. Bisa nabung dong.
Bersambung ... 💔
kepo sm bibir lena, kira² meledaknya sprti ap y ???
mommy bab selanjutnya ditnggu 💪💪💪💪💪😊