Di kota futuristik Astra City, manusia biasa dan mereka yang memiliki kekuatan super hidup berdampingan setelah munculnya fenomena langit merah misterius. Raka Mahendra, pemuda dengan energi kosmik yang tak terkendali, harus menghadapi takdirnya, menyelamatkan kota, dan mengungkap rahasia di balik kekuatannya. Bersama Kayla, pengendali gravitasi, dan Adrian, bayangan dari masa lalu, Raka akan menghadapi peperangan, pengkhianatan, dan takdir kosmik yang akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DragonLucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 – Langit yang Retak
Langit di atas Astra City malam itu tidak seperti biasanya. Awan gelap berputar perlahan, menyelimuti cahaya bulan dengan pusaran merah yang menyerupai api, sementara angin dingin menerpa atap gedung pencakar langit. Dari kejauhan terdengar sirine mobil patroli dan teriakan panik warga yang berlari menyelamatkan diri dari ledakan yang baru saja mengguncang pusat kota.
Raka Mahendra berdiri di tepi atap sekolah, mata birunya yang bersinar seolah menantang gelapnya langit. Tangannya tergenggam, merasakan energi yang berdenyut di dalam tubuhnya. Energi yang sejak kemarin mulai muncul tanpa sebab yang jelas.
“Kenapa… setiap kali aku marah, langit selalu berubah?” gumamnya pelan, suaranya nyaris tertelan angin malam.
Di belakangnya, langkah ringan terdengar di atas lantai beton. Raka menoleh, melihat sosok seorang pria berjaket hitam dengan hood menutupi wajahnya. Mata pria itu menyala samar di balik bayangan.
“Kalau kau ikut campur lagi, kau akan membuka segalanya, Raka,” ucap pria itu dengan nada datar, tapi ada sedikit nada ancaman.
Raka menatap tajam, menahan ketegangan yang membakar dadanya. “Adrian… apa maksudmu?”
Adrian menurunkan hoodnya sedikit, memperlihatkan wajahnya yang dingin dan mata abu-abu tajam. “Langit itu tidak retak karena Gerhana Abadi. Itu retak… karena kau.”
Raka mengerutkan alisnya. “Karena aku? Apa maksudmu? Aku hanya… aku tidak pernah—”
“Tidak pernah apa?” potong Adrian. “Kau pikir kau manusia biasa? Kau sudah lebih dari itu, Raka. Kau bukan bagian dari mereka, bukan bagian dari Helios, bukan bagian dari Eclipse. Kau sesuatu yang lebih… sesuatu yang berbahaya.”
Raka memejamkan mata, mencoba menenangkan diri. Jantungnya berdegup kencang. Energi biru di tangannya semakin membara, mengikuti gelombang emosinya. “Aku hanya ingin melindungi orang-orang… Aku tidak ingin jadi monster.”
Adrian melangkah mendekat, menatap mata biru Raka dengan serius. “Monsternya sudah ada di dalam dirimu, Raka. Kau hanya belum menyadarinya. Setiap kali kau marah, kau memecahkan batasan yang bahkan Helios pun tidak berani sentuh.”
Raka menatap tangan kirinya yang mulai bersinar biru terang. “Aku… aku tidak bisa mengendalikannya. Setiap kali energi ini muncul, semua orang di sekitarku… aku takut aku akan melukai mereka.”
Dari kejauhan, terdengar suara ledakan kedua, lebih keras dari yang pertama. Raka menoleh, melihat gedung pusat kota nyaris roboh, orang-orang berlarian panik.
“Lihat?” Adrian menunjuk ke reruntuhan. “Itulah akibat dari kekuatanmu yang tak terkendali. Setiap detik yang kau tunda… semakin banyak yang terluka.”
Raka menghembuskan napas panjang. “Aku tidak ingin menjadi senjata. Aku hanya… aku hanya ingin hidup normal.”
Adrian tersenyum tipis, tapi ada dingin yang menusuk di balik senyum itu. “Normal? Kau tidak pernah punya pilihan itu, Raka. Sejak lahir, takdirmu berbeda. Dan takdir itu mulai menuntutmu sekarang.”
Sementara itu, dari sisi lain kota, sosok seorang wanita dengan rambut merah bergelombang muncul, melayang di udara. Itu adalah Kayla Arunika, seorang Astra yang mampu mengendalikan gravitasi. Tangannya terbuka, menarik reruntuhan dan mengalihkan pecahan beton yang jatuh.
“Raka! Cepat turun!” teriaknya melalui communicator. Suaranya penuh kepanikan tapi tetap tegas. “Aku tidak bisa menahan semuanya sendiri!”
Raka menatapnya, hatinya tersentuh. Kayla selalu menjadi suara logis di tengah kekacauan, satu-satunya orang yang selalu mempercayainya meski ia belum sepenuhnya mengendalikan kekuatannya. “Aku… aku akan turun,” jawab Raka. Energi biru di tangannya berdenyut lebih cepat, tubuhnya mulai bersinar.
Adrian menatapnya dengan tajam. “Turun? Kau pikir itu akan cukup? Tidak, Raka. Kau harus menyadari siapa kau sebelum terlambat.”
Raka menunduk sejenak, lalu melompat dari tepi atap. Angin malam menderu di telinganya, tubuhnya meluncur ke bawah, energi biru membentuk aura di sekelilingnya. Cahaya itu memantul di jendela gedung, membuat orang-orang di bawah menatapnya dengan campuran takjub dan ketakutan.
Di tengah kekacauan itu, Kayla mencoba menahan puing-puing yang jatuh. “Raka! Hati-hati!” teriaknya.
Raka mendarat dengan suara dentuman keras, energi biru menyebar di sekitarnya, mendorong beberapa reruntuhan menjauh. Ia menatap Kayla, tersenyum tipis tapi penuh ketegangan.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya.
Kayla mengangguk, meski napasnya masih terengah. “Sejauh ini… tapi mereka terlalu banyak. Kita tidak bisa menahannya sendiri.”
Di sudut lain, bayangan bergerak cepat, menembus kegelapan. Itu adalah Adrian, yang muncul di antara gedung, menatap Raka dari jauh. Ia mengangkat tangannya, bayangan gelap menjalar di bawah kakinya, siap menyerang jika Raka kehilangan kontrol.
Raka menatap Adrian, lalu menoleh ke Kayla. “Kau benar. Kita butuh strategi. Aku tidak bisa terus menyerang begitu saja.”
Kayla mengerutkan alis. “Strategi? Kita sedang bertahan hidup, Raka. Tidak ada waktu untuk strategi!”
Raka menunduk, menenangkan energi di tangannya. “Kalau begitu… aku harus belajar mengendalikan ini. Aku harus tahu siapa aku sebenarnya. Sebelum semuanya terlambat.”
Kayla menatapnya penuh perhatian. “Siapa kau sebenarnya? Kau baru saja mengatakan kau tidak tahu. Tapi kau bisa merasakan sesuatu, bukan? Energi itu… kau bisa menggerakkannya. Kau lebih dari manusia biasa.”
Raka mengangguk. “Aku merasa… berbeda sejak kecil. Energi ini muncul diam-diam, tapi aku selalu menahannya. Aku pikir aku bisa hidup normal. Tapi sekarang… aku mengerti, ini tidak normal. Ini… sesuatu yang besar.”
Adrian menatap dari jauh, bayangannya mulai memanjang, mengitari Raka seperti predator menunggu mangsa. “Ya… sesuatu yang besar. Sesuatu yang bisa menghancurkan kota ini jika kau tidak belajar mengendalikannya.”
Kayla melompat lebih tinggi, menarik reruntuhan yang tersisa dan menaruhnya di posisi aman. “Raka! Kita tidak punya waktu untuk berbicara seperti ini! Jika kau tidak segera bertindak, banyak orang akan mati!”
Raka menutup mata, merasakan detak jantungnya berpacu dengan energi kosmik yang mengalir melalui tubuhnya. “Aku… aku harus melakukannya. Aku harus mengendalikan kekuatan ini. Untuk kalian… dan untuk semua orang.”
Tiba-tiba langit di atas mereka retak, seperti pecahan kaca besar yang bercahaya biru. Sebuah cahaya terang menembus awan merah, memancarkan kilatan yang membuat semua orang menunduk. Raka membuka mata, melihat retakan itu, dan merasakan sesuatu bergetar di dalam dirinya.
“Kau merasakannya juga, kan?” bisik Adrian dari jauh, suaranya terdengar lebih lembut, tapi penuh arti. “Itu adalah panggilanmu, Raka. Tidak ada yang bisa menghentikan takdirmu sekarang.”
Raka menelan ludah, energi biru di tangannya mulai memuncak. Ia menatap Kayla, lalu Adrian, lalu ke retakan di langit. “Kalau ini takdirku… maka aku akan menghadapinya. Tidak ada yang bisa menghentikanku. Aku… Raka Mahendra, akan bertanggung jawab atas kekuatanku.”
Kayla tersenyum tipis. “Aku percaya padamu, Raka. Tapi kau harus bertindak cepat. Kota ini… tidak akan menunggu.”
Ledakan terdengar lagi dari pusat kota, kali ini lebih dekat. Raka menatap tangannya yang bercahaya biru, menarik napas dalam, dan perlahan-lahan mulai memfokuskan energi itu. Setiap denyut jantungnya, setiap getaran di tubuhnya, kini seolah selaras dengan cahaya di langit.
Di atas atap gedung, Adrian menatap Raka dengan mata yang tajam tapi juga penuh harapan. “Ini baru permulaan, Raka. Jangan takut pada dirimu sendiri. Karena kau akan membutuhkan seluruh kekuatanmu… dan lebih dari itu.”
Raka menatap ke langit merah yang retak, tangannya bersinar biru terang, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan kendali atas kekuatannya sendiri. Kota ini mungkin akan jatuh, mungkin banyak yang terluka… tapi satu hal pasti: Raka Mahendra telah lahir sebagai kekuatan yang tidak bisa diabaikan.