Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.
8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Veri berjalan ke arah sofa, menjatuhkan bobot tubuhnya dibatas sofa coklat yang begitu empuk. Ia merogoh saku jas, mengambil ponsel lalu mencari sesuatu. Dengan seringai tipis, memutar rekaman percakapannya dengan Zea beberapa hari yang lalu. "Coba dengarkan ini," meletakkan ponsel ke atas meja.
"1 milyar, aku rasa ini sudah lebih dari cukup untuk membuatmu meninggalkan putraku."
Naka mengernyit mendengar suara ayahnya. Dengan hati gelisah, berusaha menajamkan pendengaran. Ia tak menyangka, jika Ayahnya telah melakukan hal sejauh ini demi memisahkan ia dan Zea.
"Aku tahu wanita sepertimu hanya menginginkan harta. Kesempatan tidak datang dua kali, kapan lagi kamu mendapatkan 1 milyar tanpa melakukan apapun. Kamu tak sepadan dengan Kanaka, kalian tak setara."
Naka meremat sprei, dadanya berkecamuk mendengar Ayahnya begitu gamblang mengatakan soal kesenjangan mereka. Ia bisa membayangkan seperti apa perasaan Zea saat mendengarnya.
"Jangan terlalu tinggi bermimpi. Hanya ada di dunia dongeng seorang pria kaya mau dengan pembantu. Saat Kanaka bisa melihat nanti, kamu bukan lagi seleranya."
Telapak tangan Naka terkepal kuat, marah pada pernyataan Ayahnya yang jelas-jelas tidak benar. Cintanya tulus pada Zea, meski ia tak pernah melihat seperti apa wajahnya. Ia sudah terbiasa dikelilingi wanita cantik, namun menurutnya, hanya Zea lah yang benar-benar tulus. Ketulusan Zea yang membuat ia jatuh cinta. Ia yakin, Zea tak mungkin mau menerima uang itu. Ia sangat mengenal Zea, mustahil kekasihnya itu tergoda hanya dengan 1 milyar.
"Kesempatan tidak datang dua kali, bagaimana Zea? Pergi dengan 1 milyar, atau memilih tetap bertahan dengan catatan, saya tidak akan pernah merestui hubungan kalian?"
Waktu serasa berjalan lambat, tak kunjung terdengar suara Zea. Jantung Naka berdetak sangat cepat, antara tak sabar sekaligus takut mendengar jawaban Zea.
"Baiklah Tuan, saya terima uang itu."
Jeder!!
Naka syok, tak ada angin tak ada hujan, tapi ia seperti disambar petir. Dunianya seakan runtuh. Wanita yang ia kira tulus, ternyata lebih memilih uang 1 milyar dari pada memperjuangkan cinta mereka. Tubuhnya membeku, dadanya sesak. Tak ada yang keluar dari bibirnya, selain hanya gumaman 'tidak' yang sama sekali tak terdengar.
"Pilihan yang tepat Zea. Kamu memang wanita yang realistis," ujar Very sembari tertawa renyah.
Very tersenyum puas, mematikan rekaman, lalu menyimpan kembali ponsel ke dalam saku jasnya. "Kamu sudah dengar sendirikan, apa pilihan Zea?" menatap Naka dengan seringai tipisnya. "Dia tidak pernah mencintaimu Naka, dia hanya menginginkan uang. Andai saja kau melihat seperti apa ekspresinya kala itu, kau akan sangat membencinya. Dia begitu bahagia saat menerima uang tersebut. Ekspresinya sudah menjelaskan, jika ia telah berhasil mendapatkan tujuannya, yaitu uang."
Telapak tangan Naka makin mengepal kuat, nafasnya memburu, dan wajahnya merah padam. Ia sangat kecewa dengan pilihan Zea.
Very bangkit dari duduknya, merapikan jas karena harus kembali ke kantor. "Sudah cukup main-mainnya Naka, lanjutkan hidup dengan lebih serius. Ayah sudah mendapatkan donor mata, bersiap-siaplah untuk menjalani operasi dalam waktu dekat. Perusahaan menunggumu. Ayah sudah lelah, sudah ingin pensiun," beranjak pergi, meninggalkan kamar Naka.
Dengan dada bergemuruh hebat, Naka bangkit dari duduknya. Berjalan tak tentu arah, meraih apapun yang bisa diraih, lalu melemparkannya membabi buta.
Pyar, prang, bruk
Naka mengamuk, menghancurkan isi kamarnya.
Erika yang ada di sana sampai beberapa kali berteriak karena hampir terkena lemparan benda.
Tak peduli tubuhnya sakit karena menabrak meja, sofa, bahkan almari, Naka terus saja mengamuk, menghancurkan isi kamarnya yang memiliki banyak sekali kenangan bersama Zea selama 2 tahun ini.
Suster Erika yang ketakutan, akhirnya memilih kabur, keluar daripada kena lemparan barang.
"Arrgghhh!" Naka berteriak kencang, mengacak-acak ranjang, membuang bantal guling, menarik bed cover, sprei, dan apapun yang ada di sana.
Setelah lelah, ia menangis, tubuhnya ambruk ke atas ranjang, meringkuk sambil sesenggukan. Aroma tubuh Zea masih tercium sangat jelas disana. Bagaimana mungkin wanita yang semalam masih bercinta dengannya, pagi ini tiba-tiba telah meninggalkannya demi 1 milyar. Sampai detik ini, ia bahkan masih ingat bagaimana suara de sahan Zea semalam, juga bagaimana wanita itu menyebut namanya saat puncaknya datang.
"Ini pasti hanya mimpi," racau Naka. "Aku hanya perlu bangun. Iya, aku hanya perlu bangun," ia mencubit lengannya sendiri dengan sangat kuat, hingga rasanya sakitnya menjalar ke seluruh bagian lengan. "Hahaha," ia tertawa di sela-sela tangis. Ini bukan mimpi, ia tidak sedang tidur saat ini. Semalam, ia tidur sambil memeluk Zea, dan saat terbangun, ternyata wanita itu sudah pergi dengan 1 milyar. Wanita itu meninggalkannya. Ia telah kalah, kalau dengan uang 1 milyar.
Sekarang akhirnya ia tahu, kenapa Zea mau menginap di kamarnya semalam, kenapa Zea begitu agresif, itu semua karena semalam, adalah yang terakhir kalinya, semalam, adalah malam perpisahan.
...----------------...
"Tuan Naka tak mau makan, ia melempar makanan yang saya bawa," ujar Erika pada Very yang ada di meja makan, menikmati makan malamnya. Seharian ini, Naka belum makan sama sekali.
"Biarkan saja. Manusia punya insting untuk hidup, saat dipuncak kelaparan, dia pasti akan makan dengan sendirinya." Very hanya menanggapi dengan santai sambil menyendok makanannya ke dalam mulut. Ia sudah meminta Arka, orang kepercayaannya untuk memasang kamera di kamar Naka, jadi ia bisa memantau apa yang dilakukan putranya itu. Selama tidak melakukan hal yang berbahaya, ia biarkan saja Naka berbuat apapun. Ia yakin, semua ini tak akan lama, luka Naka akan disembuhkan oleh waktu. "Nanti saat ia sudah bisa kembali melihat dan bertemu dengan banyak sekali wanita cantik, ia pasti akan langsung lupa pada Zea," menyeringai tipis. "Bersihkan saja kamarnya, jangan ada pecahan beling berserakan."
"Em... tangan Tuan Naka terluka, tapi dia menolak saya obati," ujar Erika yang sedikit khawatir.
"Biarkan saja, hanya lupa kecil, ia tak akan mati karena kehabisan darah hanya karena luka itu."
o...o'o... kycduk kalian....
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
itu sih Aku ya Ze😄🤣