NovelToon NovelToon
Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mafia / Time Travel / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: PELARIAN DI HUTAN TERLARANG

Yun-seo menarik Yehwa dan berlari.

Di belakang mereka, teriakan iblis menggema di antara pepohonan. Langkah kaki berat mengejar, diikuti suara sayap mengepak dan pekikan liar.

"Kiri!" teriak Yehwa.

Yun-seo membelok, hampir menabrak pohon besar. Kabut semakin tebal, membuat jarak pandang hanya beberapa meter. Tapi itu mungkin keuntungan mereka—iblis juga kesulitan melihat.

"Cepat!" Yehwa terengah.

Yun-seo menggenggam tangannya erat, tidak mau terpisah. Di dunia asing ini, Yehwa adalah satu-satunya yang ia punya. Ia tidak akan kehilangannya.

THUD! Sesuatu mendarat di depan mereka.

Seekor iblis tinggi besar dengan empat lengan menghadang. Matanya merah menyala, mulut penuh taring menganga. "Manusia... di hutan suci..." geramnya. "Kalian akan kumakan!"

Yun-seo tanpa berpikir, melangkah di depan Yehwa. Cincinnya bersinar—bukan sengaja, refleks. Lapisan pelindung tipis menyelimuti tubuhnya.

Iblis itu menerjang.

BRAKKK!

Tangan besarnya menghantam pelindung merah Yun-seo. Lapisan itu bergetar, nyaris pecah. Tapi bertahan. Yun-seo terpental ke belakang, jatuh berguling.

Yehwa bergerak. Dengan kecepatan yang mengejutkan untuk manusia biasa, ia menusukkan belati ke kaki iblis itu. Iblis menjerit kesakitan, terhuyung.

"LARI!" teriak Yehwa, menarik Yun-seo bangkit.

Mereka berlari lagi, masuk lebih dalam ke hutan. Kabut semakin pekat, sampai-sampai mereka hampir tidak bisa melihat. Suara iblis mulai menjauh—mungkin tersesat juga.

Akhirnya, mereka tiba di sebuah tempat terbuka. Di tengahnya, sebuah kuil tua berdiri—Kuil Kegelapan, yang tadi dilihat dari kejauhan.

"Masuk," bisik Yehwa.

Mereka mendorong pintu batu yang berat, menyelinap masuk. Di dalam, gelap gulita. Hanya cahaya samar dari bercak lumut bercahaya di dinding yang memberi penerangan.

Kuil itu besar. Pilar-pilar batu menjulang, diukir dengan relief pertempuran kuno. Di ujung ruangan, sebuah altar dengan patung iblis bersayap enam duduk bersila.

"Kuil ini..." gumam Yehwa, suaranya bergema. "Aku pernah baca tentang ini. Tempat pemujaan Kaisar Iblis pertama."

Yun-seo mengamati sekeliling, waspada. "Aman?"

"Untuk sementara. Tapi iblis pasti akan mencari ke sini."

Mereka berjalan mendekati altar. Di atasnya, sebuah kotak batu tertutup rapat. Ukiran rumit memenuhi permukaannya—simbol-simbol yang sama dengan di cincin Yun-seo.

"Cincinmu," kata Yehwa. "Coba dekatkan."

Yun-seo mengulurkan tangan. Saat cincinnya mendekati kotak itu, batu merah di cincin bersinar terang—dan kotak itu mulai terbuka perlahan.

Di dalam, sebuah mahkota hitam dengan batu merah besar di tengahnya. Mahkota Iblis.

"Ini dia," bisik Yehwa, matanya terbelalak. "Pusaka yang dicari Lilian."

Tiba-tiba, suara dari belakang.

"Terima kasih sudah membukakan untukku."

Mereka menoleh. Lilian berdiri di pintu masuk kuil, diikuti puluhan iblis. Senyumnya lebar, penuh kemenangan.

"Lama tidak bertemu, Yang Mulia," sapa Lilian manis. "Atau haruskah aku panggil... Hwang Yehwa, pengungsi tak berdaya?"

Yehwa menggeram. "Pengkhianat."

"Pengkhianat?" Lilian tertawa. "Aku tidak mengkhianatimu. Aku menyelamatkan bangsa iblis dari ratu lemah yang mau berdamai dengan manusia." Ia melangkah maju. "Sekarang, serahkan mahkota itu. Mungkin akan kuberi kematian cepat."

Yun-seo melangkah di depan Yehwa. Cincinnya bersiap.

"Hei, iblis baterei," katanya dengan nada menantang. "Kalo mau ambil mahkota, lewatin aku dulu."

Lilian mengernyit. "Manusia? Apa-apaan ini?" Lalu matanya melebar melihat cincin Yun-seo. "Cincin Pemanggil? Kau—"

"Dia suamiku," potong Yehwa dingin. "Dan kau tidak akan menyentuhnya."

Lilian tertawa terbahak-bahak. "Suami? Ratu iblis menikahi manusia? Ini benar-benar lelucon terbaik!"

Tapi tawanya berhenti saat jimat di leher Yun-seo bersinar. Cahaya merah menyala, membentuk perisai besar di depan mereka.

"Hwang Cheol-soo?" desis Lilian. "Tetua sialan itu masih hidup?"

Yun-seo tidak menjawab. Ia meraih tangan Yehwa, berbisik, "Aku akan tahan mereka. Kau ambil mahkota."

"Tapi—"

"Percaya padaku!"

Yehwa menatapnya. Lalu mengangguk. Ia berbalik, meraih mahkota dari kotak batu.

Lilian berteriak, "HENTIKAN MEREKA!"

Iblis-iblis menyerbu. Tapi perisai merah dari jimat Hwang Cheol-soo bertahan—untuk sementara.

Yun-seo merasakan energi dalam jimat itu terkuras cepat. Beberapa detik lagi pasti pecah. Tapi Yehwa sudah menggenggam mahkota.

Saat tangannya menyentuh mahkota, sesuatu terjadi.

Cahaya hitam menyala dari mahkota, menyelimuti Yehwa. Tubuhnya bergetar, matanya terpejam. Dan tiba-tiba—rambutnya berubah perak, hanya sesaat, lalu kembali hitam.

Tapi di matanya, ada kilatan merah.

Kekuatannya... sedikit kembali.

Yehwa membuka mata. Tatapannya pada Lilian dingin membeku.

"Kau," katanya, suaranya bergema dengan wibawa ratu. "Akan kubuat menderita."

Lilian mundur selangkah, takut. Tapi segera menguasai diri. "Omong kosong! Kau tidak punya kekuatan!"

Yehwa mengangkat tangan. Api hitam kecil menyala di telapaknya—kecil, tapi nyata.

"Cukup untuk membuatmu kabur," desisnya.

Ia melambaikan tangan. Api hitam melesat, menghantam lantai di depan Lilian, menciptakan dinding api. Iblis-iblis mundur ketakutan.

Yehwa meraih tangan Yun-seo. "LARI!"

Mereka berlari ke pintu belakang kuil, menerobos kabut, masuk lebih dalam ke hutan. Dinding api Lilian mulai padam—teriakan pengejaran terdengar lagi.

Tapi mereka sudah terlalu jauh.

---

Entah berapa lama mereka berlari, akhirnya kabut mulai menipis.

Mereka tiba di tepi hutan, saat fajar mulai menyingsing. Yun-seo jatuh berlutut, kelelahan. Yehwa di sampingnya, juga terengah.

Mahkota Iblis masih di tangannya, bersinar redup.

"Aku... tidak percaya... kita selamat," gumam Yun-seo antara napas.

Yehwa menatapnya. Lalu, tiba-tiba, ia tertawa. Tawa kecil yang lama tidak terdengar.

"Kau gila," katanya. "Benar-benar gila. Menantang puluhan iblis dengan jimat seadanya."

Yun-seo tertawa juga, meski capek. "Aku juga nggak nyangka. Tapi lihat, kita selamat."

Yehwa berhenti tertawa. Ia menatap Yun-seo lama. Lalu, perlahan, ia mendekat.

"Terima kasih," bisiknya. "Kau... menyelamatkanku lagi."

Yun-seo tersenyum lelah. "Itu tugasku, kan?"

Yehwa menggeleng. "Bukan tugas. Ini... lebih dari itu."

Mereka berdua diam, saling pandang. Di antara mereka, mahkota di tangan Yehwa bersinar pelan.

Yun-seo ingin berkata sesuatu, tapi tiba-tiba—

"NAKAL KALIAN BERSEMBUNYI DI SINI!"

Mereka menoleh. Hwang Cheol-soo berdiri beberapa meter dari mereka, dengan dua ekor kuda dan ekspresi campuran marah dan lega.

"Kakek?!" seru Yun-seo.

"Dasar anak muda tidak tahu diri! Pergi ke Hutan Terlarang tanpa peta, tanpa persiapan, tanpa—" Ia berhenti, melihat mahkota di tangan Yehwa. Matanya melebar. "Kalian... berhasil?"

Yehwa mengangguk, tersenyum lelah. "Dia yang membukakan kotaknya."

Hwang Cheol-soo menatap Yun-seo dengan takjub. "Cincin Pemanggil... memang tidak pernah salah pilih."

Yun-seo menggaruk kepala, malu. "Kebetulan saja."

"Kebetulan?" Hwang Cheol-soo tertawa. "Tidak ada kebetulan, Nak. Cincin itu memilihmu karena kau pantas."

Yehwa bangkit, mendekati kuda. "Kita harus cepat kembali. Lilian tahu kau masih hidup, Kakek. Mereka akan mencari."

Hwang Cheol-soo menganggut serius. "Naik. Kita pulang."

Yun-seo naik ke punggung kuda dengan susah payah. Yehwa di belakangnya, memegang pinggangnya erat. Untuk pertama kalinya, Yun-seo naik kuda tanpa mengeluh.

Mereka berlari meninggalkan Hutan Terlarang, dengan mahkota pusaka sebagai bukti bahwa bahkan ratu tanpa kekuatan pun masih bisa melawan.

---

Tiga hari kemudian, di ruang rahasia toko Hwang Cheol-soo.

Mahkota Iblis diletakkan di atas meja, bersinar redup. Yehwa duduk di hadapannya, dengan Hwang Cheol-soo dan Yun-seo di samping.

"Mahkota ini memberikanmu sedikit kekuatan," kata Hwang Cheol-soo. "Tapi itu tidak cukup. Kau butuh semua pusaka untuk kembali ke kekuatan penuh."

Yehwa mengangguk. "Di mana yang lain?"

"Tersebar. Dijaga ketat oleh berbagai pihak. Tapi sekarang kita punya petunjuk." Hwang Cheol-soo membuka peta lain. "Pusaka kedua—Pedang Naga Iblis—ada di dalam Akademi Pedang Iblis Langit."

Yun-seo dan Yehwa terkejut. "Akademi?"

"Ya. Disimpan di ruang rahasia, dijaga oleh kepala sekolah. Kau harus masuk ke akademi itu, Yang Mulia."

Yehwa mengerutkan kening. "Tapi aku tidak punya identitas. Dan tanpa kekuatan—"

"Aku punya rencana." Hwang Cheol-soo tersenyum licik. "Kau akan masuk sebagai murid. Bersama suamimu."

Yun-seo hampir tersedak. "KAMI? Masuk akademi?"

"Kenapa tidak? Tes masuk akademi diadakan dua minggu lagi. Kalian sudah punya surat identitas sementara. Yang Mulia punya pengetahuan bela diri meski tanpa kekuatan. Dan kau, Yun-seo, sudah bisa dua jurus Pedang Iblis Langit."

"Itu belum cukup!"

"Cukup untuk tes dasar. Lagipula..." Hwang Cheol-soo menatap mereka bergantian. "Di dalam akademi, kalian bisa cari informasi tentang pusaka lain. Juga mungkin bertemu dengan tetua lain yang bersembunyi."

Yehwa diam, berpikir. Lalu mengangguk.

"Dia benar. Ini kesempatan."

Yun-seo menghela napas panjang. "Jadi... kita jadi murid akademi?"

"Kita jadi murid akademi." Yehwa tersenyum tipis. "Jangan khawatir, aku akan lindungi kau di sana."

Yun-seo mendengus. "Yang benar saja? Yang lindungin siapa selama ini?"

Mereka bertukar pandang, lalu tersenyum bersama.

Dua minggu lagi. Tes masuk Akademi Pedang Iblis Langit.

Dan dunia mereka akan berubah lagi.

---

[Bersambung ke Bab 10: Persiapan Akademi]

---

1
Amiera Syaqilla
hello author😄
Q. Zlatan Ibrahim: halo juga terimalasih sudah mampir
total 1 replies
Manusia Biasa
emang manusia kadang lebih dari iblis
Q. Zlatan Ibrahim: seringkali
total 1 replies
Manusia Biasa
wkwkw ngakak gua baca sandiwaranya, lucu🗿😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!