Beberapa tahun lalu, berbagai celah ruang-waktu bermunculan, dan Blue Star pun memasuki era supranatural. Setiap orang memiliki kesempatan untuk membangkitkan “panel permainan”.
Lu Heng secara tak terduga membangkitkan kelas Summoner. Namun, makhluk-makhluk panggilannya tampaknya… agak tidak biasa.
……
【Si Bulat Daging】: Sebagai keturunan Dewa Jahat, setiap kali ia dimakan, ia justru menjadi semakin kuat. Ia juga mampu membuat musuh terjerumus ke dalam kekacauan persepsi.
【Anjing Mesum】: Sebagai kaki tangan yang setia, ia dapat berpindah tempat secara instan dan menampar orang, bahkan memutus semua skill lawan.
【Prajurit Medis】: Memiliki kemampuan menukar kondisi luka, dan juga bisa diam-diam mencuri organ milik orang lain.
【Zirah Keadilan】: Makhluk simbiotik yang dipenuhi energi positif. Bukan hanya memiliki daya tempur yang sangat tinggi, ia juga dapat berdiri di puncak moral untuk mengecam musuh, membuat lawan…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Back Dragon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 Selamat Malam, Makka Pakka
Bab 19: Selamat Malam, Makka Pakka
Lu Heng tersenyum dan mengangguk.
“Ingat, ingat. Kemampuan bikin barang kedaluwarsa, kan?”
“Haha, sini duduk, duduk.” Ia menarik Lu Heng duduk di ranjang.
“Kukenalkan yang lain.”
“Nah, yang botak ini namanya Zhang Tianyun. Kamu juga bisa panggil dia Kakak Rambut Hijau.” Jiang Jin memperkenalkan sambil menyeringai lebar.
Lu Heng mendengar itu dengan sedikit bingung. “Dia jelas-jelas botak, kenapa julukannya Kakak Rambut Hijau?”
“Aduh, karena kemampuanku memang bisa mengubah rambut orang jadi hijau,” jelas Kakak Rambut Hijau sambil menggaruk kepala plontosnya dengan santai. “Tapi kemampuanku ada efek samping. Setelah rambut diwarnai hijau, dalam tiga hari pasti jadi botak.”
Sambil berkata begitu, dia menunjuk kepalanya sendiri. “Nih lihat, aku nggak sengaja pakai kemampuan itu ke diriku sendiri. Jadinya malah bikin diri sendiri botak.”
Harus diakui, kepalanya memang licin dan mengilap.
“Lalu… kepala botak yang satu lagi ini kenapa?” tanya Lu Heng sambil menunjuk teman sekamar lainnya.
“Hahaha, si sialan ini namanya Qin Liang. Waktu awal masuk kuliah dia maksa mau coba kemampuanku. Ya sudah kupakaiin saja, jadilah botak,” kata Kakak Rambut Hijau sambil tertawa keras.
Qin Liang yang disebut namanya langsung memerah wajahnya. “Siapa yang tahu rambut hijau itu ada bonus botaknya! Sekali botak bisa sebulan penuh. Sampai sekarang sehelai pun belum tumbuh!”
“Tenang saja, tunggu beberapa waktu lagi pasti tumbuh,” ujar Kakak Rambut Hijau sambil melambaikan tangan.
Jiang Jin kemudian memperkenalkan, “Qin Liang ini di kelas kita dijuluki Kakak Keras.”
“Kakak Keras?” Lu Heng penasaran. “Seberapa keras?”
“Ayo, Xiao Liang, tunjukkan sedikit!” Jiang Jin langsung berdiri.
Qin Liang menyeringai dan menunjuk Lu Heng dengan satu jari.
Tiba-tiba Lu Heng merasa ada yang tidak beres di bagian bawah tubuhnya. Adik kecilnya mendadak berdiri tegak.
Lu Heng terkejut. “Astaga! Jadi kamu yang bisa bikin ‘adik kecil’ orang lain berdiri?!”
Kakak Keras tertawa puas. “Keras nggak? Cuma tanya, keras nggak?”
“Keras! Sangat keras!” sudut bibir Lu Heng berkedut, terpaksa mengakui kemampuan lawannya.
Teman-teman sekamar ini benar-benar unik.
Jiang Jin menepuk bahu Lu Heng. “Mulai sekarang, masuk kamar ini berarti kita semua saudara!”
“Saudara,” jawab Lu Heng sambil tersenyum.
Sejauh ini semuanya tampak mudah diajak bergaul, dan kepribadian mereka juga cukup menarik.
“Tapi ada satu pertanyaan lagi,” Jiang Jin tiba-tiba bertanya serius. “Kamu jomblo?”
“Hah? Iya, jomblo. Kenapa?” Lu Heng sedikit bingung.
“Hahaha, bagus! Kita semua jomblo! Saudara sejati!” Jiang Jin tersenyum lebar.
Lalu dia berdiri dengan semangat. “Ayo lanjut mabar! Lu Heng, main Honor of Kings nggak? Kita bareng!”
Lu Heng tersenyum dan menggeleng. “Nggak dulu, aku mau pindahin barang dulu.”
“Iya iya, ayo, kami bantu!” kata Jiang Jin.
“Baik, terima kasih.” Lu Heng tidak sungkan.
Tak lama kemudian, tempat tidur dan barang-barang Lu Heng sudah dipindahkan semua.
Setelah membereskan tempat tidur, mereka kembali mengajaknya mabar.
Karena tak enak menolak, Lu Heng pun ikut bermain beberapa ronde.
Mereka bermain sampai lupa waktu, tanpa terasa sudah pukul dua belas malam.
Lu Heng melihat jam. “Sudah jam dua belas. Kalian biasanya tidur jam berapa?”
Di kamar sebelumnya, mereka biasa tidur jam satu atau dua pagi. Dia menduga di sini juga sama.
“Kami sih jangan ditunggu,” jelas Jiang Jin. “Aku sama He Zheng biasanya tidur jam setengah satu. Tapi Kakak Rambut Hijau mungkin jam dua atau tiga. Kakak Keras lebih gila lagi, begadang semalaman itu biasa.”
Lu Heng terkejut. “Setiap hari begadang? Kamu masih peringkat Black Iron kan? Badan muda juga nggak tahan kalau terus-terusan begitu.”
Kakak Keras berkata, “Sedikit fakta menarik: umur yang hilang karena begadang lama sebenarnya sudah diganti oleh umur yang didapat dari begadang lama!”
“Jadi begadang itu menambah waktu muda dan mengurangi waktu tua. Sangat menguntungkan!”
Lu Heng mengangguk ragu. “Ada benarnya juga. Ibarat tukar jadwal, ya?”
“Kalau paham, tepuk tangan!” Kakak Keras tertawa.
“Aku tidur dulu ya.” Meski kondisi fisiknya jauh lebih baik sekarang, Lu Heng tetap mengantuk saat sudah waktunya.
“Baik, matikan lampu.” Kakak Rambut Hijau cukup pengertian dan langsung mematikan lampu kamar.
Teman-teman lain juga kompak mengecilkan suara permainan.
Kamar pun gelap, tapi mereka masih sesekali mengobrol.
Walau suara mereka sengaja dipelankan, dengan kekuatan mental Lu Heng yang tinggi, dia tetap bisa mendengar bisikan mereka.
Dan isi obrolannya benar-benar membuatnya sulit menahan tawa.
Misalnya, setelah mematikan game, entah kenapa Kakak Rambut Hijau membuka NetEase Cloud Music, memasang earphone, dan mendengarkan lagu-lagu galau.
Sambil mendengarkan, dia menghela napas. “Ah… Kakak Keras, coba kalau ada yang mencintaiku.”
“Aku merasa kesepian. Nggak ada yang mengerti aku.”
“Aku nggak mau setiap hari begitu terus. Aku ingin dicintai.”
Kakak Keras sambil scroll video pendek menjawab tanpa ampun, “Dasar. Pagi main game, siang main game, sore main game, malam juga main game.”
“Setiap jam dua belas malam buka lagu galau terus bilang butuh cinta. Kamu sakit apa sih?”
Teman sekamar lainnya berkata, “Kalau mau dicintai ya kejar cewek. Siapa tahu ada cewek yang salah lihat lalu suka sama kamu.”
“Kejar cewek ya… kamu juga tahu kemampuan PDKT-ku seburuk apa. Ngobrol satu kalimat langsung dimaki. Ah…” Kakak Rambut Hijau makin tenggelam dalam kegalauan.
Dia mulai berfantasi. “Coba kalau besok bangun aku bisa bangkitkan satu bakat lagi. Misalnya bikin tingkat pesonaku naik sepuluh ribu kali lipat. Nanti aku kirim ‘selamat pagi’ ke dewi pujaan, dia pasti nangis minta hidup bersama selamanya.”
“Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah hapus aplikasi novel itu,” celetuk teman sekamar sambil sudut bibirnya berkedut.
“Jangan mikirin perempuan terus. Kamu lebih cocok jadi biksu,” goda Kakak Keras.
“Eh serius! Waktu nilai ujian masuk kampus keluar, aku benar-benar ke kuil!” kata Kakak Rambut Hijau kesal. “Aku bilang ke kepala biara aku mau jadi biksu.”
“Tahu dia jawab apa? Dia tanya aku lulusan S2 atau doktor. Katanya pendidikan terlalu rendah nggak boleh jadi biksu!”
“Wkwk, terus kamu jawab apa?” tanya Kakak Keras terhibur.
“Aku bilang nilai ujianku cuma dua ratusan.”
“Lalu kepala biara bilang: Amitabha, Buddha kami tidak menyelamatkan lulusan diploma.”
“Pedih sekali, bro,” sahut yang lain sambil batuk kecil.
Kakak Rambut Hijau menghela napas dan kembali mendengarkan lagu galau.
Mereka masih terus mengobrol dari waktu ke waktu.
Awalnya membahas cewek, lalu masa depan, mengeluh tentang masyarakat.
Kemudian membahas sejarah, urusan negara.
Bahkan sempat berdebat sengit, mengkritik para presiden dari berbagai negara.
Baru sekitar jam tiga dini hari mereka satu per satu mulai tertidur, bahkan sebelum tidur pun masih saling mengucapkan selamat malam.
“Selamat malam, Makka Pakka.”
“Selamat malam, Upsy Daisy.”
“Selamat malam, Igglepiggle.”
Bersambung....