Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Variabel Yang Tidak Direncanakan
— Revano —
Laporan kuartal itu sudah terbuka di layarku sejak pukul enam pagi.
Dua jam kemudian, kursornya masih di baris yang sama.
Aku menutup laptopnya. Membukanya lagi. Membaca kalimat pertama paragraf ketiga untuk mungkin keenam kalinya, dan otakku memutuskan bahwa kalimat itu tidak lebih menarik dari lima kali sebelumnya.
Ini tidak biasa.
Aku tidak punya masalah dengan konsentrasi. Tidak pernah — itu salah satu hal yang selalu bisa kuandalkan dari diri sendiri, kemampuan untuk menutup semua pintu yang tidak relevan dan fokus pada yang ada di meja. Kemampuan itu yang membuat tiga tahun pertama di kursi ini bisa dilewati tanpa runtuh, ketika tekanan datang dari semua arah dan satu-satunya yang bisa kukontrol adalah seberapa tajam aku bisa berpikir di tengahnya.
Tapi pagi ini pintu yang seharusnya tertutup tidak mau menutup sepenuhnya.
Di celahnya: dua belas menit percakapan tentang tipografi dan hierarki visual dan keterbacaan di layar mobile.
Aku sudah membaca profil Ariana Dewi tiga kali sebelum kami bertemu pertama kali. Tim riset melakukan pekerjaan yang komprehensif — latar belakang pendidikan, riwayat kerja, klien-klien yang pernah ditangani, reputasi di komunitasnya. Semua ada di laporan yang cukup tebal untuk memberikan gambaran yang aku butuhkan untuk keputusan yang perlu dibuat.
Yang tidak ada di laporan itu adalah cara dia menjawab pertanyaan Hartono malam tadi.
Bukan caranya bicara — meski itu juga. Tapi keputusannya untuk menjawab dengan sungguh-sungguh ketika situasinya tidak memerlukan itu. Ketika jawaban basa-basi sudah lebih dari cukup, ketika tidak ada yang akan mempertanyakan apapun kalau dia memilih versi yang lebih aman dan lebih dangkal.
Dia tidak memilih itu.
Dan dua belas menit kemudian, Hartono — yang sudah dua puluh tahun di industri dan bukan tipe yang mudah terkesan oleh hal-hal yang tidak substantif — mengakhiri percakapan dengan kartu namanya diserahkan langsung ke Ariana, bukan ke aku.
Aku mencatat itu. Dengan cara yang berbeda dari bagaimana aku biasanya mencatat hal-hal yang relevan secara bisnis.
Kenzo masuk pukul delapan tiga puluh dengan agenda hari ini di tangannya — bukan di layar, tapi di kertas, karena dia tahu aku lebih suka membaca jadwal dari kertas di pagi hari ketika laptop sudah terlalu penuh dengan hal lain.
"Tiga meeting sebelum makan siang," katanya, meletakkan kertas di meja. "Satu presentasi internal pukul dua. Dan ada permintaan wawancara dari—"
"Tolak."
"Sudah kutolak. Aku hanya melaporkan."
Aku menatap jadwalnya. Padat tapi bisa dikelola. Jenis hari yang biasanya membuat aku masuk ke ritme kerja sejak menit pertama.
"Malam tadi berjalan baik," kata Kenzo — bukan dalam kapasitasnya sebagai sekretaris, tapi dengan nada yang berbeda. Nada yang dia gunakan ketika sedang membuat pernyataan yang ingin dia pastikan aku dengar.
"Berjalan sesuai yang diperlukan."
"Hartono meminta kartu nama Ibu Ariana."
"Aku tahu. Aku ada di sana."
"Draka juga memperhatikan."
Aku mengangkat mata dari jadwal. "Apa yang dia lakukan?"
"Tidak ada yang bisa dipegang secara spesifik." Kenzo memilih kata-katanya dengan hati-hati — dia selalu melakukan ini ketika menyangkut Draka, karena dia juga tahu batas antara informasi yang berguna dan spekulasi yang tidak produktif. "Tapi dia menghabiskan dua puluh menit berbicara dengan asisten Pak Hartono setelah percakapan tadi."
Aku mengangguk. Menyimpan informasi itu di tempat yang nanti akan aku kembali.
"Ada lagi?"
"Ibu Ariana terlihat nyaman."
Kalimat itu keluar dengan nada yang netral sempurna — Kenzo sangat baik dalam menyampaikan observasi tanpa mewarnainya dengan interpretasi. Tapi justru karena netralnya, ada ruang di setelahnya yang terasa seperti pertanyaan.
"Keluar," kataku.
Kenzo keluar tanpa ekspresi tambahan. Pintu menutup.
Aku memutar kursi ke arah jendela.
Dari lantai dua puluh delapan, Jakarta pagi terlihat sedang dalam proses menemukan ritme hari Sabtu-nya — lebih lambat dari hari kerja, lebih acak, tapi tetap bergerak dengan momentum yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Ibu Ariana terlihat nyaman.
Aku tidak butuh Kenzo untuk memberitahu itu. Aku melihatnya sendiri — dari jarak yang aku jaga sepanjang malam dengan kesadaran penuh, karena malam seperti tadi adalah malam di mana jarak itu penting. Terlalu jauh dan terlihat tidak meyakinkan. Terlalu dekat dan menghasilkan sesuatu yang tidak ada di agenda.
Yang tidak aku antisipasi adalah bahwa menjaga jarak itu lebih memerlukan usaha dari yang seharusnya.
Bukan karena situasinya menuntut lebih dari yang terencana. Tapi karena ada beberapa momen di mana jarak yang sudah aku tetapkan terasa seperti sesuatu yang kupertahankan secara aktif, bukan sesuatu yang ada dengan sendirinya.
Seperti ketika dia hampir jatuh di lantai yang licin dan tanganku bergerak sebelum pikiranku memberi instruksi.
Seperti ketika dia menjawab Hartono dengan presisi yang tidak ada di briefing manapun yang aku siapkan, dan aku berdiri di sebelahnya mendengarkan dengan cara yang berbeda dari cara aku biasanya mendengarkan orang.
Seperti ketika dia bilang aku hanya jadi diriku sendiri di lift, dan itu adalah kalimat yang paling sederhana yang bisa dia ucapkan tapi entah mengapa terasa seperti informasi yang lebih besar dari ukurannya.
Aku membuka laci meja. Mengeluarkan folder tipis yang berisi versi kontrak yang sudah ditandatangani — bukan untuk dibaca ulang, tapi karena ada kebiasaan lama yang kadang muncul ketika situasi terasa bergerak keluar dari parameter yang sudah ditetapkan: kembali ke dokumen, kembali ke yang tertulis, kembali ke yang bisa dipegang.
Pasal satu. Definisi dan ruang lingkup.
Perjanjian ini merupakan kesepakatan pernikahan kontrak yang bersifat eksklusif, rahasia, dan terbatas waktu.
Terbatas waktu. Dua belas bulan dari tanggal penandatanganan, yang artinya sepuluh bulan lebih tersisa.
Aku menutup folder itu.
Masalahnya bukan kontraknya. Kontrak itu jelas — aku yang menginstruksikan penulisannya sampai ke detail terkecil, dan tidak ada ambiguitas di dalamnya yang bisa menjadi sumber masalah kalau kedua pihak menjalankannya sesuai yang tertulis.
Masalahnya adalah bahwa variabel manusia tidak bekerja seperti pasal kontrak. Dan aku sudah cukup lama di dunia yang bergantung pada dokumen dan angka untuk tahu bahwa gap antara yang tertulis dan yang terjadi adalah tempat di mana sebagian besar komplikasi bermula.
Gap itu perlu dikelola.
Yang berarti jarak perlu dijaga.
Yang berarti dua belas menit tentang tipografi tidak boleh mendapat tempat yang terlalu besar di kepala yang seharusnya sedang membaca laporan kuartal.
Aku membuka laptop lagi.
Kali ini aku berhasil sampai ke paragraf kelima sebelum pikiran itu kembali — bukan tentang tipografi, tapi tentang satu hal kecil yang terjadi di akhir malam.
Di lift naik, dia melepas sepatunya dan memegangnya di tangan dengan ekspresi seseorang yang baru dibebaskan dari sesuatu. Bukan dramatis — hanya gerakan kecil yang sangat natural, sangat tidak diperhitungkan untuk audiens manapun karena kami sudah di luar pandangan publik dan tidak ada yang perlu ditampilkan lagi.
Itu yang paling susah diabaikan.
Bukan Ariana Dewi yang berdiri di ballroom dengan senyum yang tepat dan jawaban yang tepat dan postur yang tepat. Tapi Ariana Dewi di lift yang melepas sepatunya karena kakinya sakit dan tidak ada alasan untuk pura-pura tidak sakit lagi.
Versi yang tidak ada di laporan tim riset manapun.
Kenzo masuk lagi pukul sembilan kurang sepuluh. "Meeting pertama sepuluh menit lagi."
"Siap."
Aku menutup laptop — laporan kuartal masih belum selesai dibaca, tapi itu bisa diselesaikan nanti. Berdiri, merapikan jas, dan mengambil ponsel dari meja.
Ada satu pesan masuk dari nomor yang baru tiga minggu tersimpan di kontakku — Ariana A. yang sama tidak memuaskannya dengan Revano A. di kontak ponselnya, tapi kami berdua rupanya sampai pada kompromi yang sama tanpa mendiskusikannya.
Pesannya singkat:
"Gaun Nara sudah kukembalikan. Ada klien yang minta meeting Senin pagi — tidak bentrok dengan jadwal apapun minggu ini."
Informatif. Tidak memerlukan respons panjang.
Aku mengetik: "Baik."
Mengirimnya. Lalu menambahkan satu kalimat sebelum meletakkan ponsel:
"Semalam kamu melakukan lebih dari yang kontrak minta."
Kutunggu sepuluh detik. Dua puluh. Tidak ada balasan langsung — mungkin dia sedang kerja, mungkin sedang sarapan, mungkin sedang melakukan apapun yang dilakukan orang Sabtu pagi di penthouse yang kutinggalkan pukul setengah tujuh tadi.
Aku memasukkan ponsel ke saku dan berjalan ke ruang meeting.
Di perjalanan, ponselku bergetar sekali.
Aku tidak membukanya sampai jeda pertama di meeting — empat puluh menit kemudian, ketika semua orang di ruangan sedang memeriksa dokumen masing-masing dan ada dua menit yang bisa kugunakan.
Pesannya tiga kata:
"Aku tahu kok."
Dan di bawahnya, setelah jeda yang dari timestamp-nya sekitar dua menit:
"Kamu juga."
Aku membaca itu dua kali.
Lalu meletakkan ponsel menghadap bawah di atas meja dan kembali ke meeting dengan konsentrasi yang akhirnya penuh — bukan karena masalahnya selesai, tapi karena ada sesuatu di dua kata terakhir itu yang anehnya justru menenangkan.
Kamu juga.
Pengakuan yang tidak memerlukan elaborasi. Dari seseorang yang rupanya sudah belajar cara membaca celah di antara kata-kata dengan kecepatan yang tidak aku antisipasi.
Variabel yang tidak direncanakan — tapi sudah ada. Dan seperti semua variabel yang tidak direncanakan dalam sistem yang cukup kompleks, pertanyaannya bukan lagi apakah ada, tapi bagaimana mengelolanya tanpa membiarkannya mengubah arah keseluruhan persamaan.
Pertanyaan yang, untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama, tidak langsung punya jawabannya.
— Selesai Bab 10 —