NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran, Alya menerima tawaran menjadi istri kontrak Bima, CEO muda paling berpengaruh di kota itu. Pernikahan mereka hanya berlangsung satu tahun — tanpa cinta, tanpa perasaan, tanpa masa depan.
Namun tinggal serumah dengan pria sedingin es yang diam-diam menyimpan luka masa lalu membuat batas antara kontrak dan kenyataan perlahan memudar. Ketika hati mulai terlibat, fitnah dan pengkhianatan justru menghancurkan kepercayaan mereka.
Saat kontrak berakhir, Alya pergi membawa rahasia yang tak pernah Bima duga.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang CEO muda harus belajar bahwa kehilangan jauh lebih menyakitkan daripada mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 — Retakan yang Tak Terlihat

Pagi itu, suasana di Wijaya Group tidak lagi dipenuhi bisik-bisik yang meragukan Alya. Namun ketenangan itu justru terasa terlalu rapi. Terlalu tenang.

Dan ketenangan yang terlalu rapi biasanya menyembunyikan sesuatu.

Alya berdiri di depan jendela ruangannya, menatap lalu lintas kota yang padat. Pikirannya bukan pada proyek pengembangan yang kini berada di bawah tanggung jawabnya. Bukan juga pada artikel media yang mulai berubah nada.

Ia memikirkan satu hal.

Kebocoran.

Seseorang dari dalam perusahaan sengaja melepas informasi akuisisi ke publik. Dan orang itu pasti memiliki akses tingkat tinggi.

Pintu ruangannya diketuk.

“Masuk.”

Bima masuk dengan langkah tenang. Seperti biasa, ekspresinya sulit dibaca. Namun Alya mulai mengenali satu hal—jika rahangnya sedikit mengeras, berarti ada sesuatu yang tidak ia sukai.

“Kita dapat laporan tambahan dari tim audit internal,” ucapnya tanpa basa-basi.

Alya berbalik. “Sudah mengerucut?”

“Ya.”

Ia meletakkan sebuah map tipis di meja Alya.

Nama yang tertera di dalamnya membuat alis Alya terangkat tipis.

Dimas Pratama.

Manajer senior divisi investasi. Sudah delapan tahun bekerja di perusahaan. Reputasi bersih. Loyal. Setidaknya di atas kertas.

“Motif?” tanya Alya.

“Belum jelas. Tapi ada transfer dana yang mencurigakan dua minggu sebelum berita bocor.”

Alya duduk perlahan. “Dia tidak akan bergerak tanpa jaminan.”

“Artinya dia tidak sendiri,” sambung Bima.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya sejak pembicaraan semalam, mereka berada dalam satu garis strategi yang sama tanpa perlu menjelaskan terlalu banyak.

“Kita jangan langsung konfrontasi,” ujar Alya pelan. “Jika dia punya rekan, mereka akan kabur.”

Bima mengangguk tipis. “Saya pikir juga begitu.”

Hening sejenak.

“Biarkan dia merasa aman,” lanjut Alya. “Sementara kita kumpulkan bukti lebih kuat.”

Bima menatapnya sedikit lebih lama dari biasanya.

“Kamu menikmati ini?”

Alya tersenyum samar. “Saya menikmati menyelesaikan masalah.”

Bima tidak membalas senyumnya. Tapi ada sesuatu di matanya yang berubah—bukan dingin, bukan juga keras. Lebih seperti… menghargai.

Siang hari, Alya sengaja turun ke lantai divisi investasi. Ia masuk dengan sikap biasa, menyapa beberapa staf, memberi komentar ringan pada laporan yang sedang mereka kerjakan.

Dimas menyambutnya dengan senyum profesional.

“Nyonya Wijaya. Kehormatan untuk kami.”

Nada suaranya halus. Terlalu halus.

Alya membalas dengan senyum yang sama terkontrolnya. “Saya hanya ingin melihat progres proyek Timur.”

“Semua berjalan sesuai rencana.”

“Bagus.” Alya menatapnya lurus. “Saya dengar Anda salah satu orang yang paling memahami proyek itu.”

“Sedikit pengalaman,” jawab Dimas rendah hati.

Percakapan mereka terdengar biasa bagi siapa pun yang memperhatikan. Tapi di balik kalimat-kalimat sopan itu, keduanya sedang mengukur satu sama lain.

Alya melihatnya.

Kilatan gugup yang cepat sekali muncul saat ia menyebut timeline akuisisi.

Sangat tipis.

Hampir tak terlihat.

Tapi cukup.

“Terima kasih atas kerja keras Anda,” ujar Alya sebelum pergi. “Saya harap loyalitas Anda pada perusahaan sebesar pengalaman Anda.”

Dimas terdiam setengah detik sebelum menjawab, “Tentu saja.”

Setengah detik itu terlalu lama.

Malamnya, di rumah, suasana lebih sunyi dari biasanya.

Alya duduk di meja makan, membuka laptopnya kembali. Data transaksi keuangan pribadi Dimas yang dikirim tim audit sedang ia pelajari ulang.

Bima masuk beberapa menit kemudian. Jasnya dilepas, dasinya dilonggarkan sedikit—tanda ia sudah cukup lelah hari itu.

“Kamu belum tidur?”

“Belum.”

Ia mendekat, berdiri di belakang kursi Alya, melihat layar laptopnya.

“Ada yang janggal,” kata Alya pelan. “Transfer ini tidak langsung ke rekening pribadi. Tapi ke perusahaan cangkang.”

Bima membungkuk sedikit, jaraknya terlalu dekat untuk disebut profesional.

“Apa kamu tahu perusahaan ini milik siapa?”

Alya menggeleng.

Bima menarik napas pelan. “Milik keluarga Surya.”

Nama itu membuat Alya membeku sepersekian detik.

Surya Group.

Kompetitor lama Wijaya Group. Rivalitas yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

“Jadi ini bukan sekadar sabotase kecil,” gumam Alya.

“Tidak pernah kecil,” jawab Bima datar.

Ia berdiri tegak kembali. “Saya akan tangani ini.”

Alya menutup laptopnya perlahan. “Tidak. Kita tangani ini.”

Bima menatapnya.

“Kamu tidak perlu ikut masuk lebih dalam.”

“Ini sudah masuk ke dalam rumah saya,” jawab Alya tenang. “Kalau Surya menyerang lewat perusahaan, berarti mereka menyerang kita.”

Kata kita kembali terucap tanpa ragu.

Bima diam.

Ada sesuatu yang bergerak dalam dirinya setiap kali Alya menyamakan posisi mereka. Seolah wanita itu tidak pernah menganggap pernikahan ini sekadar transaksi.

Padahal awalnya memang begitu.

“Besok ada makan malam dengan investor asing,” ucap Bima akhirnya. “Perwakilan Surya akan datang.”

Alya mengangkat wajahnya. “Jadi kita akan bertemu langsung.”

“Ya.”

Satu kata.

Tapi berat.

Keesokan malamnya, restoran hotel bintang lima itu dipenuhi para pebisnis kelas atas. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya lembut ke meja-meja bundar yang tertata elegan.

Alya mengenakan gaun hitam panjang yang sederhana namun memancarkan wibawa. Rambutnya digerai rapi. Ia berdiri di samping Bima, bukan di belakang.

Tatapan orang-orang berbeda malam ini.

Bukan lagi meragukan.

Tapi memperhatikan.

Perwakilan Surya Group datang tidak lama kemudian.

Dan di antara mereka, seorang pria berdiri dengan senyum tipis penuh percaya diri.

Arsen Surya.

Putra pemilik Surya Group.

Tatapan pertamanya langsung jatuh pada Alya.

“Jadi ini Nyonya Wijaya yang banyak dibicarakan,” ucapnya ringan.

Nada suaranya sopan. Tapi ada lapisan lain di bawahnya.

Alya membalas dengan senyum tipis. “Dan Anda pasti Tuan Surya.”

Arsen tertawa kecil. “Kita sudah pernah bertemu sebelumnya, bukan?”

Kalimat itu membuat Alya terdiam sepersekian detik.

Bima menangkap perubahan halus itu.

“Kapan?” tanya Bima datar.

Arsen menatap Alya seakan memberi kesempatan padanya untuk menjawab.

Alya menegakkan bahunya. “Beberapa tahun lalu. Di sebuah forum bisnis kampus.”

Jawaban yang aman.

Arsen mengangguk pelan. “Anda masih terlihat sama. Hanya sekarang… lebih bersinar.”

Pujian itu terdengar terlalu pribadi untuk konteks bisnis.

Bima tidak menyukai itu.

Dan Arsen tahu.

Percakapan berlanjut dengan pembahasan investasi, angka, dan peluang kerja sama. Namun di bawah meja yang tertata rapi itu, perang tak kasat mata sedang berlangsung.

Tatapan.

Isyarat.

Tekanan halus.

Alya merasakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar persaingan bisnis.

Arsen bukan hanya ingin melemahkan Wijaya Group.

Ia ingin mengusik stabilitas Bima.

Dan mungkin—

Menggunakan dirinya sebagai celah.

Saat makan malam berakhir, Arsen mendekat sekali lagi.

“Kita harus berbicara secara pribadi suatu saat nanti, Nyonya Wijaya,” ucapnya pelan.

Alya tidak mundur. “Jika itu soal bisnis, silakan hubungi perusahaan secara resmi.”

Arsen tersenyum samar. “Tidak semua hal bisa dibahas secara resmi.”

Sebelum Alya sempat menjawab, Bima berdiri di sampingnya.

“Jika ada kepentingan, sampaikan pada saya,” ucapnya tegas.

Arsen mengangkat tangan ringan, pura-pura menyerah. “Tentu saja.”

Namun tatapannya pada Alya sebelum pergi mengatakan sesuatu yang berbeda.

Ancaman.

Atau mungkin permainan lama yang belum selesai.

Di dalam mobil menuju rumah, suasana hening.

Alya menatap keluar jendela.

“Kamu mengenalnya lebih dari yang kamu katakan tadi,” ujar Bima akhirnya.

Itu bukan pertanyaan.

Alya menarik napas pelan.

“Dulu dia pernah menawarkan kerja sama pada perusahaan ayah saya.”

“Dan?”

“Saya menolaknya.”

“Kenapa?”

Alya menoleh perlahan. “Karena caranya tidak bersih.”

Hening.

“Dan sekarang?” tanya Bima.

Alya menatap lurus ke depan.

“Sekarang dia akan mencoba cara lain.”

Mobil berhenti di halaman rumah.

Bima turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Alya. Gestur kecil yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.

Saat Alya berdiri di sampingnya, Bima berkata pelan—

“Kali ini, dia tidak akan menyentuhmu.”

Nada suaranya bukan sekadar pernyataan.

Itu janji.

Dan Alya tahu, perang yang mereka hadapi bukan hanya soal saham dan proyek.

Tapi juga masa lalu yang belum benar-benar selesai.

Dan babak berikutnya tidak akan sesederhana mempertahankan perusahaan.

Karena kini, permainan sudah masuk ke ranah yang lebih pribadi.

1
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!