Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bentrokan tiga Vaksi
Langit di atas Lembah Kedu kini menjadi kanvas peperangan yang tidak masuk akal. Di lapisan tertinggi, Bahtera Exodus milik elit Bulan menggantung seperti monster besi yang sedang menurunkan taring-taring gravitasinya. Di lapisan bawah, ribuan jet tanpa awak dari faksi Area 51 yang kini dikenal sebagai The Reman melesat seperti serangga logam yang haus darah. Mereka tidak menyerang Bahtera; mereka menyerang siapa saja yang berada di darat, seolah ingin memastikan tidak ada manusia yang tersisa untuk dikuasai oleh elit Bulan.
Liora mengerem kendaraan taktisnya dengan kasar tepat di pelataran Borobudur. Debu vulkanik dari Merapi mulai menutupi jarak pandang, namun pendaran cahaya dari stupa-stupa candi nampak semakin kuat, berdenyut mengikuti napas Adam yang semakin berat.
"Adam, kau harus cepat!" Liora melompat keluar, senjatanya sudah terarah ke langit, menembaki drone-drone The Reman yang mulai menukik. "Faksi dari Nevada itu... mereka tidak peduli pada perisai bumi! Mereka hanya ingin menghancurkan segalanya agar elit Bulan tidak punya apa pun untuk dipimpin!"
Adam melangkah keluar dengan tubuh yang masih goyah. Ia menatap ke arah stupa utama. "Liora, mereka bukan ilmuwan pembangkang biasa. Mereka adalah 'The Pure Blood' faksi Unit 731 yang percaya bahwa manusia tidak perlu dimodifikasi, tapi harus dimusnahkan agar bumi bisa lahir kembali tanpa noda. Mereka menganggap elit di Bulan sebagai pengkhianat karena mencoba 'menyelamatkan' manusia dalam bentuk Nephilim."
"Jadi ini perang antara pembersihan total dan perbudakan total?" Liora berteriak di tengah suara ledakan pilar cahaya. "Dan kita terjepit di tengah-tengahnya?"
"Kita adalah anomali yang ingin mereka hapus," jawab Adam.
Adam berlari menuju pusat stupa, namun langkahnya terhenti. Dari balik bayangan stupa-stupa kecil, muncul beberapa sosok yang mengenakan setelan hitam taktis dengan helm sensorik yang canggih. Mereka bukan Arc.hon yang bergerak anggun; mereka bergerak dengan presisi militer yang brutal. Di dada mereka terdapat logo "51-Ω".
"Berhenti di sana, Arsitek," suara dari speaker helm salah satu prajurit itu terdengar dingin. "Kami sudah memantau kodemu sejak kau meninggalkan Singapura. Kau adalah variabel yang tidak terduga. Dan dalam matematika kami, variabel harus dieliminasi."
Liora segera melepaskan tembakan, namun prajurit-prajurit The Reman itu menggunakan perisai kinetik yang membelokkan peluru Liora seperti air. Mereka jauh lebih siap menghadapi senjata konvensional daripada para Arc.hon yang terlalu sombong dengan kekuatan frekuensinya.
"Hendrawan! Kau bisa meretas perisai mereka?" Liora berteriak ke komunikatornya.
Suara Hendrawan terdengar panik. "Sulit, Liora! Sistem mereka sepenuhnya analog-digital hibrida! Mereka menggunakan teknologi dari tahun 50-an yang digabung dengan komputasi kuantum! Ini adalah teknologi 'hitam' yang tidak pernah keluar dari gurun Nevada! Tapi tunggu... ada frekuensi yang bocor dari helm mereka. Itu frekuensi radio tua!"
"Adam! Gunakan suara radio!" Liora memberikan aba-aba.
Adam, yang kini memiliki kemampuan untuk memanipulasi gelombang secara langsung melalui sisa nanoteknologi di tubuhnya, memejamkan mata. Ia tidak mengirimkan serangan data, melainkan mengirimkan "suara putih" (white noise) yang sangat keras langsung ke frekuensi radio para prajurit itu.
Para prajurit The Reman itu berteriak kesakitan, memegangi helm mereka yang mendadak meledak karena tekanan suara statis. Liora tidak menyia-nyiakan kesempatan; ia menerjang maju dan melumpuhkan mereka dengan serangan jarak dekat.
"Masuk ke dalam stupa, Adam! Aku akan menahan mereka di sini!"
Adam memanjat tangga batu menuju pusat Borobudur. Di sana, ia meletakkan tangannya di atas batu kunci yang menghubungkan seluruh struktur candi dengan aliran air bawah tanah.
"Bumi... dengarkan aku sekali lagi," bisik Adam.
Tiba-tiba, Bahtera Exodus di langit melepaskan pasak gravitasi keduanya. Pasak itu meluncur tepat ke arah Borobudur. Jika pasak itu menghantam, candi ini akan hancur dan bumi akan kehilangan jangkar nuraninya.
Namun, di saat kritis itu, sebuah transmisi video dari faksi Area 51 menyela semua jaringan komunikasi dunia. Di layar monitor Liora, muncul wajah seorang pria paruh baya yang tenang dengan latar belakang hanggar pesawat yang sangat luas.
"Rakyat bumi, ini adalah Jenderal Van dari Komando 51. Elit di Bulan hanyalah parasit yang mencuri masa depan kalian. Kami di sini untuk memberikan satu-satunya solusi yang logis: Pembersihan Atmosfer. Dalam lima menit, kami akan meledakkan hulu ledak nuklir-kobalt di stratosfer. Ini akan membunuh seluruh Nephilim, seluruh Arc.hon, dan sayangnya... 90 persen kehidupan organik di permukaan. Tapi bumi akan selamat dari perbudakan elit Bulan."
Liora membeku. "Mereka ingin memusnahkan kita semua untuk menyelamatkan planet? Itu gila!"
"Itu adalah logika murni dari pengikut Unit 731 yang asli, Liora," suara Adam bergema, namun kali ini bercampur dengan getaran batu candi. "Mereka menganggap kehidupan manusia adalah virus. Kita harus menggagalkan ledakan itu DAN menangkis pasak dari Bulan secara bersamaan!"
"Bagaimana caranya?!"
"Kita harus mengubah Borobudur menjadi meriam Anti matter sesaat! Liora, aku butuh kode enkripsi dari 'The Deep Spine' yang kau bawa! Kode itu bukan hanya memori, itu adalah algoritma untuk memadatkan energi!"
Liora segera melempar perangkat data terakhirnya ke arah Adam. Adam menangkapnya dan menghubungkannya dengan pusat stupa.
Dunia seolah berhenti berputar sejenak.
Sebuah pilar cahaya putih yang begitu murni melesat dari Borobudur, namun kali ini ia tidak menyebar. Pilar itu membelah diri menjadi dua: Satu cabang menghantam pasak gravitasi dari Bulan, menghancurkannya menjadi debu di udara; cabang lainnya melesat menuju koordinat pesawat-pesawat pembawa bom dari Area 51.
Ledakan besar terjadi di langit. Bukan ledakan api, melainkan ledakan cahaya yang menetralisir semua energi nuklir dan elektromagnetik. Pesawat-pesawat The Reman berjatuhan seperti laron, sementara Bahtera Exodus terguncang hebat dan mulai miring ke arah samudera.
Namun, harga yang harus dibayar sangat mahal. Borobudur mulai retak secara masif. Batu-batu andesit yang telah bertahan seribu tahun itu mulai runtuh satu per satu.
"Adam! Keluar dari sana!" Liora berteriak, melihat stupa utama mulai runtuh menimpa Adam.
Adam menoleh, wajahnya dipenuhi cahaya yang mulai memudar. "Liora... alibi itu sudah hancur. Elit di Bulan sudah jatuh. Dan faksi di Nevada sudah bungkam. Tapi ingatlah... selama manusia masih mencari 'alibi' untuk ketakutan mereka, monster-monster ini akan selalu kembali."
Asap dan debu menelan puncak Borobudur. Liora berlari menembus reruntuhan, namun ia tidak menemukan Adam. Ia hanya menemukan sebuah batu kecil yang bercahaya sebuah memori fisik yang ditinggalkan Adam.
Di langit, Bahtera Exodus yang rusak mulai meluncur jatuh ke arah Palung Jawa, kembali ke tempat asal kebohongan mereka. Perang tiga penjuru itu berakhir dengan kehampaan yang bising.
Namun, saat Liora menatap ke arah ufuk, ia melihat sesuatu di monitor radarnya. Sesuatu yang luput dari perhatian semua orang selama perang berlangsung. Dari Area 51, ada satu pesawat yang tidak ikut menyerang. Pesawat itu terbang ke arah yang berbeda: Ke arah Antartika.
Pembaca kini dibiarkan dengan pertanyaan baru: Jika tiga faksi sudah bertempur habis-habisan di Indonesia, apa yang sebenarnya sedang disiapkan di kutub selatan? Apakah perang ini hanyalah pengalihan untuk sesuatu yang jauh lebih besar di bawah es?.