Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.
Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.
Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.
Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Wilayah Tanpa Hukum
Memasuki bulan kedua, aroma persaingan tidak lagi tercium dari kertas ujian, melainkan dari udara dingin yang membeku di antara Bima dan Senara setiap kali mereka berpapasan. Blok 4 telah menjadi garis batas yang sakral. Bagi Senara, wilayah itu adalah benteng pertahanannya, sebuah labirin beton dan gang-gang sempit yang tidak ramah bagi orang asing. Di sana, ia bukan sekedar "Si Jenius dari SMP 12" yang selalu dipuji para guru, melainkan bagian dari detak jantung pemukiman yang keras, di mana setiap orang harus punya cara sendiri untuk bertahan hidup.
Senara tidak pernah bersikap lemah lembut. Baginya, kelembutan adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli. Setiap tatapan meremehkan yang dilemparkan Bima kepadanya adalah bahan bakar yang membakar ambisinya untuk lebih terang. Ia tahu Bima mulai mengintai wilayahnya, mencoba mengendus-endus kehidupan pribadinya seperti predator yang lapar, dan Senara tidak punya niat sedikit pun untuk membukakan pintu bagi laki-laki itu.
Di SMP Super Internasional, suasana kelas jauh lebih tenang karena fasilitas yang kedap suara, namun di balik meja Bima, sebuah perang sedang berlangsung. Bima dengan cekatan mematikan fungsi layar utamanya yang menampilkan materi pelajaran saat Darmono lewat di samping mejanya. Begitu gurunya menjauh, fokus Bima kembali ke monitor sekundernya yang tersembunyi dengan tingkat kecerahan rendah.
Di sana, sebuah peta digital dari Blok 4 terbentang dengan detail yang sangat akurat. Titik-titik merah berkedip tak beraturan, menandai pergerakan transmisi data ilegal yang berusaha ia pecahkan selama berminggu-minggu.
"Tuan V, frekuensi di Blok itu sangat kacau," lapor suara berat dari earpiece nirkabel yang tersembunyi di balik rambut Bima. "Setiap kali target masuk ke radius lima ratus meter dari warnet Cyber-X, sistem enkripsi kita mengalami feedback. Ada seseorang di sana yang memasang pemancar gangguan. Sangat primitif, tapi efektif untuk memblokir pelacakan GPS."
Bima mengetuk-ngetuk meja dengan pulpen mahalnya, menghasilkan bunyi detak yang konstan. Rahangnya mengeras. "Blok 4 itu wilayah kumuh. Tidak mungkin ada infrastruktur canggih di sana, kecuali jika si pelindung itu memang menetap di sana," gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
Bima merasa sangat tertantang. Harga dirinya sebagai pewaris keluarga Wijaya seolah diinjak-injak oleh ketidakmampuannya menembus pertahanan sebuah pemukiman padat. Ia muak dengan keajaiban yang selalu menyelamatkan Senara di saat-saat kritis. Baginya, Senara adalah anomali yang harus dipecahkan, seperti sebuah kode rumit yang menolak untuk dibedah. Jika ia tidak bisa menembusnya lewat dunia digital yang abstrak, maka ia akan melakukannya secara fisik, menyentuh realitas yang selama ini disembunyikan Senara.
Sore harinya, langit seolah tumpah. Hujan turun dengan derasnya, menciptakan tirai air yang membatasi jarak pandang. Jalanan di pinggiran Blok 4 berubah menjadi kubangan lumpur yang pekat, licin, dan menjijikkan bagi siapa pun yang terbiasa dengan lantai marmer. Senara berjalan menembus badai itu dengan langkah cepat. Kepalanya tertutup tudung jaket yang sudah agak sobek di bagian bahunya, membiarkan beberapa tetes air merembes masuk ke dalam.
Tangannya mendekap erat tumpukan jurnal riset yang baru saja ia ambil dari kios fotokopi. Ia telah membungkusnya dengan lapisan plastik berlapis-lapis agar tidak basah. Baginya, lembaran kertas itu lebih berharga daripada kesehatannya sendiri.
Tiba-tiba, suara mesin mobil yang halus membelah suara hujan. Sebuah mobil SUV hitam berjalan melambat di sampingnya. Roda besar mobil itu menghantam genangan air, memercikkan air lumpur berwarna cokelat pekat tepat ke arah sepatu dan bagian bawah celana Senara.
Senara berhenti mendadak. Matanya berkilat marah, bukan karena air lumpurnya, tapi karena gangguan yang tidak diinginkan ini. Kaca mobil yang gelap itu turun perlahan, menampakkan interior mobil yang hangat dan mewah.
Bima duduk di balik kemudi dengan santai. Ia memang belum cukup umur secara hukum untuk mengendarai kendaraan bermotor, tapi di kota ini, kekuasaan keluarganya membuat aturan jalan raya seolah hanya saran belaka.
"Kamu terlihat begitu menyedihkan, Senara," ujar Bima. Suaranya terdengar jernih karena sistem kedap suara mobil, namun bagi Senara, itu terdengar seperti hinaan yang bergema. "Jurnal-jurnal itu akan hancur sebelum kamu sampai di gubukmu. Masuklah, sebelum kamu terkena hipotermia."
Senara tidak bergerak sedikit pun di bawah guyuran hujan. Air mengalir dari ujung tudungnya, membasahi wajahnya yang keras. Ia justru membetulkan letak tasnya, menatap Bima dengan sorot mata yang menantang, seolah hujan itu hanyalah gangguan kecil.
"Aku lebih suka basah kuyup daripada harus berutang budi pada orang sepertimu, Bima," sahut Senara dengan suara yang tegas. "Dan jangan panggil rumahku gubuk, jika kamu tidak tahu apa itu perjuangan."
Bima menatapnya dengan tatapan meremehkan, namun ada kilat rasa ingin tahu di sana. "Jangan terlalu percaya diri, Senara. Aku tidak menawarkan bantuan karena kasihan," balas Bima tajam. "Aku hanya tidak ingin lawan debatku pingsan karena flu. Itu kemenangan yang membosankan bagi seorang Wijaya."
"Kalau begitu, nikmati saja kebosananmu," jawab Senara dingin. Ia mulai melangkah lagi, membiarkan sepatunya semakin tenggelam dalam lumpur, mengabaikan SUV mewah yang terus mengikutinya dengan kecepatan rendah, seperti predator yang sedang menggiring mangsanya.
Bima kehilangan kesabarannya. "Masuk, atau aku akan terus mengikutimu sampai seluruh orang di Blok 4 ini tahu kalau kamu punya teman orang kaya. Apalagi... orang itu dari keluarga 'Wijaya'."
Langkah Senara terhenti, ia mengepalkan tangannya di balik bungkusan jurnal. Ia tahu persis apa arti ancaman itu. Di tempat seperti Blok 4 ini, dikaitkan dengan keluarga konglomerat seperti Wijaya bisa mendatangkan masalah besar, mulai dari desas-desus jahat hingga ancaman keamanan bagi ibunya. Bima sedang mengancam privasinya, menghancurkan satu-satunya tempat persembunyian yang ia miliki.
Dengan wajah ketus dan penuh kebencian, Senara akhirnya membuka pintu mobil. Ia duduk di kursi penumpang yang sangat mewah, namun ia tidak menunjukkan ekspresi kagum sedikit pun.
Tensi di dalam mobil itu jauh lebih dingin daripada air hujan di luar. Senara duduk tegak, punggungnya kaku. Ia memeluk tas dan jurnalnya dengan protektif di pangkuan, tidak membiarkan satu inci pun tubuhnya bersandar pada jok kulit yang lembut itu. Ia tidak ingin meninggalkan jejak dirinya di dalam dunia Bima.
"Sebenarnya apa maumu, Bima?" tanya Senara tanpa menoleh sedikit pun ke arah laki-laki di sampingnya.
"Aku hanya ingin tahu, sampai kapan kamu akan bermain peran sebagai gadis malang yang beruntung?" Bima menjalankan mobilnya pelan, bermanuver di antara gang-gang sempit yang hampir tidak muat untuk mobil sebesar itu. "Aku tahu ada sesuatu di Blok 4 ini, Senara. Sesuatu yang membuat sistemku kacau setiap kali aku mendekatimu."
Senara menoleh perlahan, bibirnya menyunggingkan senyum sinis yang belum pernah Bima lihat sebelumnya. "Mungkin itu peringatan dari alam, Bima. Bahwa orang sepertimu tidak seharusnya menginjakkan kaki di sini. Uangmu tidak punya nilai di jalanan ini. Alam punya cara sendiri untuk menolak parasit."
Bima tertawa pendek, suara tawa yang hambar dan penuh tantangan. Matanya tetap tajam, fokus pada jalanan di depannya namun seluruh indranya tertuju pada gadis di sampingnya. "Kita lihat saja nanti. Karena saat ujian akhir nanti, aku pastikan tidak akan ada keajaiban 'lagi' dari Blok 4 yang bisa membantumu. Tidak ada pelindung, tidak ada gangguan frekuensi. Hanya persaingan antara kamu dan aku di atas kertas."
"Dan di saat itulah, kamu akan sadar bahwa kekuasaan ayahmu tidak bisa membelikanmu otak yang lebih pintar dariku," sahut Senara telak, suaranya setenang permukaan air namun mengandung kekuatan yang menghancurkan.
Suasana kembali hening, hanya terdengar suara wiper yang menyapu air di kaca depan. Beberapa saat kemudian, mobil itu berhenti tepat di depan gang sempit menuju rumah Senara. Senara segera membuka pintu, bahkan sebelum mobil itu berhenti.
Senara turun tanpa mengucap terima kasih, tidak memberikan sedikit pun keramahan. Ia berjalan menembus hujan tanpa menoleh lagi, meninggalkan Bima yang diam di dalam mobilnya. Bima menatap punggung Senara yang menghilang di balik kegelapan gang dengan penuh ambisi yang berkobar. Baginya, perjalanan ini belum berakhir. Ia telah menyentuh batas luar benteng Senara, dan ia tidak akan berhenti sampai ia berhasil menghancurkan ketenangan gadis itu sepenuhnya.
Sesampainya di rumah, Senara segera menutup pintu kayu yang sudah mulai lapuk. Ia mengatur napasnya yang memburu, bukan karena kelelahan, tapi karena amarah. Ia meletakkan jurnalnya di atas meja, lalu berjalan menuju cermin retak yang menggantung di dinding.
Di samping cermin itu, sebuah gantungan kunci robot yang ia temukan di warnet Cyber-X tergeletak diam. Senara menyentuhnya sejenak, merasakan permukaan plastik yang dingin. Ia tidak tahu bahwa saat ia berada di dalam mobil Bima tadi, sensor internal robot kecil itu berdenyut dengan frekuensi yang sangat tinggi, bekerja keras melindungi data yang tersimpan di dalam tas Senara dari upaya peretasan nirkabel yang coba dilakukan sistem mobil Bima secara otomatis.
Senara menatap pantulan dirinya yang basah kuyup di cermin yang retak. "Kamu tidak akan pernah menang dariku, Bima. Aku akan tetap menjadi nomor satu dan aku akan selalu berdiri satu langkah didepanmu. Kali ini, uang ayahmu tidak akan berfungsi untuk membeli kecerdasanku."