Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Aturan Baru
Arlan dan Adelia mencoba membangun ulang fondasi hubungan mereka dengan batasan-batasan baru.
Kembali ke apartemen terasa canggung sekaligus melegakan. Adelia menyeduh kopi 80 derajat, tapi kali ini ia meletakkannya di meja makan tanpa storyboard satu pun yang menghalangi. Arlan duduk di hadapannya, masih mengenakan kemeja kerja, namun tatapannya fokus sepenuhnya pada Adelia.
"Oke," ujar Arlan pelan, memecah keheningan. "Kita mulai dari awal. Aturan baru."
Adelia tersenyum tipis, menghargai usaha Arlan. "Pertama, tidak ada gadget atau bahas pekerjaan di meja makan. Ini area bebas film."
Arlan mengangguk kaku. "Kedua... kalau aku mulai lupa waktu dan bekerja sampai dini hari, kamu punya hak untuk mematikan Wi-Fi dan menyita laptopku."
Adelia tertawa lepas, tawa pertama yang ia keluarkan dalam minggu ini. "Setuju. Dan ketiga, kita harus punya satu hari libur total dalam seminggu. Tanpa email, tanpa telepon dari klien."
"Satu hari?" Arlan tampak ragu. "Bagaimana kalau ada revisi darurat?"
"Revisi darurat bisa menunggu dua puluh empat jam, Arlan. Dunia tidak akan kiamat," balas Adelia tegas.
Arlan menghela napas, lalu mengangguk menyerah. "Baiklah. Satu hari. Untuk kita."
Minggu pertama menerapkan aturan itu terasa sangat berat bagi Arlan. Ia berkali-kali melirik ponselnya yang ia simpan di dalam laci. Namun, ia melihat betapa bahagianya Adelia saat mereka akhirnya bisa makan malam santai tanpa gangguan.
Di studio, Arlan juga mulai berubah. Ia tidak lagi memaksakan timnya bekerja lembur.
"Pak Arlan, ini revisi dari klien baru," ujar asisten editor menyodorkan tablet.
Arlan melihat jam tangannya. Pukul lima sore. "Sudah sore. Simpan dulu. Kerjakan besok pagi jam sembilan. Tim perlu istirahat agar hasilnya maksimal."
Seluruh kru studio tertegun, lalu bersorak pelan setelah Arlan masuk ke ruangannya.
Perubahan itu membawa dampak positif pada hubungan Arlan dan Adelia. Mereka kembali menemukan kehangatan yang sempat hilang. Namun, kebahagiaan itu terusik saat Sandra kembali datang ke studio, kali ini dengan berita yang tak terduga.
"Arlan, proyek di Paris itu... investornya ganti orang. Dan mereka menuntut studiomu untuk membayar penalti karena kamu menolak pergi dulu," ujar Sandra dengan wajah pucat.
Arlan terkejut. "Tapi aku sudah punya perjanjian dengan investor lama!"
"Perjanjian itu hangus saat investor lama pailit. Sekarang, studimu terancam disita kalau kita tidak bisa membayar penaltinya dalam satu bulan."
Adelia, yang mendengar percakapan itu dari balik pintu, masuk dengan tenang. "Berapa jumlahnya?"
Saat Sandra menyebutkan nominalnya, jantung Adelia berdegup kencang. Itu jumlah yang sangat besar, hampir setara dengan seluruh aset A&A Pictures.
Arlan menatap Adelia, takut aturan baru mereka akan hancur karena masalah ini.
"Adel, aku..."
Adelia menggenggam tangan Arlan. "Kita atur ulang strateginya. Kita tidak akan membiarkan studio ini hancur. Tapi, kita tetap pakai aturan baru kita. Kita selesaikan ini dengan kepala dingin, bukan dengan panik."
Tekanan finansial memaksa Arlan dan Adelia mengambil keputusan terberat dalam karier mereka.
Krisis Finansial
Nominal yang disebutkan Sandra masih terngiang-ngiang di kepala Adelia seperti sirine bahaya. Angka itu bukan sekadar deretan nol, melainkan ancaman nyata yang bisa merampas semua yang telah ia dan Arlan bangun dari nol. A&A Pictures bukan hanya perusahaan; itu adalah simbol kebebasan mereka dari bayang-bayang masa lalu sang ayah, dan saksi bisu tumbuh suburnya cinta mereka.
Malam itu, studio independen mereka terasa sunyi, kontras dengan kepanikan yang melanda hati mereka. Arlan duduk di meja kerja utama, menatap layar komputer yang menampilkan laporan keuangan studio.
Angkanya merah, sangat merah. Di sampingnya, Adelia menyeduh dua cangkir kopi, mengabaikan aturan baru yang mereka tetapkan sendiri—darurat memaksa mereka melanggar janji.
"Kita bisa jual peralatan syuting kamera kita," ujar Arlan akhirnya, suaranya parau, memecah keheningan. "Kamera sinema kita harganya mahal. Mungkin itu bisa menutup separuh penalti."
Adelia duduk di samping Arlan, meletakkan cangkir kopi di meja. "Dan apa yang kita gunakan untuk syuting proyek berikutnya, Arlan? Kita tidak bisa menyewa terus-menerus, itu akan membunuh arus kas kita dalam dua bulan."
Arlan mengusap wajahnya dengan kasar. Rasa frustrasi menyelimuti dirinya. Ia merasa gagal. Pria yang dulunya disanjung sebagai jenius di agensi besar, kini berada di ambang kebangkrutan di studionya sendiri. "Lalu apa, Adel? Kita tidak punya waktu satu bulan. Investor baru itu gila. Mereka ingin dana itu dalam dua minggu, atau mereka akan mengajukan sita jaminan."
Adelia terdiam, otaknya bekerja keras. Ia mengingat kembali rekaman suara dan bukti-bukti hukum yang pernah mereka gunakan untuk menjatuhkan ayah Arlan.
"Arlan, investor baru ini... bukankah mereka juga punya hubungan dengan firma hukum yang dulu membantu kita?"
Arlan menoleh, mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?"
"Kita harus mencari tahu siapa sebenarnya di balik investor baru ini. Seseorang yang tahu tentang kontrak lama Sandra pasti tahu cara menjatuhkan kita," tutur Adelia dengan nada analitis. "Tapi itu butuh waktu. Sementara itu, kita butuh dana tunai sekarang."
Arlan berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangan sempit itu. "Kita tidak bisa meminta pinjaman bank, reputasi kita sedang dipertanyakan. Sandra juga tidak bisa membantu, studionya sendiri masih pemulihan."
Adelia menarik napas dalam-dalam, mengambil keputusan yang berisiko. "Kita jual saham mayoritas studio ini."
Arlan berhenti melangkah, menatap Adelia dengan tidak percaya. "Apa? Dijual? Itu berarti kita tidak lagi memiliki kontrol penuh! Arlan akan menjadi sutradara sewaan lagi di studionya sendiri!"
"Hanya sampai kita bisa membelinya kembali, Arlan!" balas Adelia dengan tegas, mencoba menenangkan kekasihnya. "Ini satu-satunya cara. Kita cari investor yang paham seni, bukan yang hanya peduli pada keuntungan cepat. Aku akan menghubungi beberapa rekan lama dari agensi besar yang dulu menghargai kerjaku."
Arlan menatap Adelia, melihat tekad baja di mata gadis itu. Ia sadar, Adelia benar. Ego Arlan harus dikesampingkan demi kelangsungan hidup A&A Pictures dan, yang lebih penting, demi masa depan mereka.
Namun, rasa takut kehilangan kendali atas karyanya sendiri adalah mimpi buruk bagi seorang sutradara perfeksionis seperti dia.
"Baik," bisik Arlan pelan, menyerah pada logika Adelia. "Tapi kamu yang pegang negosiasinya. Aku... aku tidak bisa menghadapi orang-orang yang dulu meremehkanku."
"Aku akan melakukannya," ujar Adelia, menggenggam tangan Arlan erat. "Dan Arlan, ingat aturan baru kita. Kita hadapi ini bersama, tapi kita tidak boleh membiarkan ini menghancurkan kita."
Keesokan harinya, studio berubah menjadi medan perang dokumen. Adelia bekerja layaknya mesin, menghubungi berbagai pihak, menyusun ulang proyeksi keuangan, dan mengatur pertemuan. Sementara itu, Arlan harus tetap profesional menyelesaikan syuting iklan produk skincare yang kontraknya sudah ditandatangani.
Kru studio tidak menyadari ketegangan yang terjadi. Mereka melihat Arlan bekerja dengan fokus tinggi, meski tatapannya terkadang kosong. Adelia pun tetap ramah dan efisien, menyembunyikan kepanikan yang menggerogoti hatinya.
Pada sore hari, saat syuting baru saja selesai, Sandra datang ke studio dengan wajah pucat. Ia membawa kabar buruk lainnya.
"Arlan, perusahaan hukum investor baru... mereka adalah mantan pengacara ayahmu," ujar Sandra, suaranya bergetar.
Arlan dan Adelia saling pandang. Ternyata, ini bukan sekadar masalah bisnis. Ini adalah serangan balas dendam dari orang-orang yang dulu bekerja untuk ayahnya, yang masih memiliki dendam kesumat.
"Mereka ingin menghancurkan Arlan secara total," tambah Sandra. "Mereka tidak hanya ingin uangnya, mereka ingin Arlan sujud memohon di depan mereka."
Arlan mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih. Amarah yang sudah lama ia redam mulai membara kembali. Ia ingin mendatangi kantor mereka dan menghancurkan segalanya.
"Arlan, jangan," cegah Adelia, menahan lengan Arlan. "Itu yang mereka inginkan. Kalau kamu pakai emosi, kita kalah."
"Tapi mereka menyerang kita, Adel! Apa lagi yang harus kita tunggu?!"
"Kita tunggu jawaban dari pertemuan saham malam ini," Adelia menatap Arlan dengan tatapan yang memaksa Arlan untuk tenang.
"Percaya padaku."
Pertemuan malam itu diadakan di sebuah restoran mewah. Adelia bertemu dengan perwakilan dari sebuah perusahaan investasi yang terkenal netral. Negosiasi berjalan alot. Mereka tahu kondisi A&A Pictures sedang terpojok, sehingga mereka menawar harga saham dengan sangat rendah.
Adelia, dengan keahlian negosiasinya yang tajam, berhasil meyakinkan mereka bahwa A&A Pictures memiliki aset tak berwujud yang berharga: nama besar Arlan dan visi artistiknya yang unik. Ia berargumen bahwa penalti itu hanyalah batu sandungan sementara.
"Kami setuju untuk menyuntikkan dana, namun dengan syarat, kami menempatkan salah satu direksi kami di studio kalian," ujar perwakilan investor.
"Tentu," jawab Adelia tanpa ragu. "Asalkan direksi tersebut tidak ikut campur dalam visi kreatif film."
Setelah negosiasi selama empat jam yang melelahkan, kesepakatan tercapai. Dana akan cair dalam dua hari. Mereka bernapas lega, namun menyadari bahwa kebebasan mereka kini berkurang.
Saat kembali ke studio, Adelia menemukan Arlan tertidur di kursi editor, masih mengenakan pakaian kerja. Adelia tersenyum lelah, mengusap rambut Arlan. Mereka berhasil melewati satu hari lagi. Namun, ia tahu, pertempuran yang sesungguhnya baru saja dimulai. Perjuangan untuk mendapatkan kembali kebebasan mereka akan menjadi kisah terbesar yang pernah mereka tulis.