NovelToon NovelToon
Universe Network

Universe Network

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Zombie / Fantasi
Popularitas:637
Nilai: 5
Nama Author: Candra S

Beberapa bulan setelah Leon lulus dari SMA, gurunya menawarkan Leon untuk bekerja di villa sang guru. Setahun setelah itu, Leon berhasil menembus tahap pemurnian qi level satu, dan secara resmi dijadikan murid oleh sang guru. Pada malam peresmian murid, gurunya memberikan sebuah bola hitam misterius kepada Leon. Keesokan harinya, kehidupan Leon mulai berubah secara drastis!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peresmian Murid

Layar ponsel menandakan pukul enam pagi, bersamaan dengan dering alarm yang menyalakan kehidupan dalam ruang kamar redup.

"Ughhh, kepalaku pusing."

Kilasan kejadian tadi malam terpantik dalam ingatan Leon sesaat setelah dia mematikan alarm.

"Benda apa yang guru berikan padaku?"

Kemarin, guru Leon, Robert, mengangkat Leon sebagai murid. Walaupun sudah bertahun-tahun sejak Leon menerima bimbingan pribadi dari Robert, dan menganggapnya sebagai guru secara sepihak, akhirnya dia secara resmi dijadikan murid setelah dirinya berhasil merasakan mana.

Ingatannya membara ke kejadian tadi malam.

Tidak ada upacara spesial yang diperuntukkan kepada Leon dalam peresmian tersebut. Sang guru hanya membawanya ke halaman belakang dalam malam bertabur cahaya bulan dan bintang.

"Atas nama Fin, dengan ini aku menjadikanmu, Leon Gerald, sebagai murid keduaku."

Dalam suasana yang sedikit khusyuk itu, Leon tidak dapat mempertanyakan gurunya. Apa Fin? Bukankah nama guru adalah Robert?

Kemudian, gurunya memberikan sebuah bola hitam pekat berukuran bola basket kepada Leon sebagai hadiah. Sesaat setelah Leon menyentuh bola tersebut, rasa menyengat menguasai telapak tangan Leon. Dia melihat bola hitam itu tersedot secara perlahan ke dalam tangannya, bersamaan dengan tubuhnya yang memanas dan sakit kepala yang menusuk. Sebuah rasa sakit yang tak pernah dia alami dan berharap tidak akan pernah dia alami lagi kedepannya.

"Sepertinya aku pingsan dan guru membawaku ke kamar."

Ada suatu hal aneh muncul di sudut pandangan Leon, yang dia abaikan karena itu tidak menggangu bidang pandangannya. Setelah memeriksa ponselnya beberapa saat, dia bergegas keluar dari kamar bersiap untuk memulai pekerjaan hari baru.

Aktivitas pagi dimulai dengan memanggang beberapa keping roti yang dilengkapi telur dan sayuran. Biasanya, master Robert hanya memakan dua set roti panggang. Sedangkan porsi Leon, lima roti panggang dengan masing-masing dua keping roti, telur, dan sayuran. Diakhiri dua buah apel yang langsung disantap tanpa mengupas kulit, serta segelas susu. Sebelum meninggalkan meja makan, tidak lupa dia mengiris apel untuk sang guru agar mempermudah sarapannya.

"Aku berangkat master!"

Tanpa menunggu balasan master Robert, kemungkinan besar masih tertidur di kamar, Leon berangkat tepat pada pukul tujuh pagi dengan pakaian training serta sebuah ransel.

Udara segar pegunungan menembus paru-paru Leon. Dia berlari ringan sambil menjaga pola pernapasannya menuju sebuah pasar yang cukup jauh dari villa sang master. Bahkan tanpa berhenti berlari, dia tetap tiba di tujuan pada pukul sembilan pagi.

"Leon, mau daging sapi segar hari?"

"Aku lihat yang lain dulu paman."

"Halo Leon, ayo sini, sini, lihat daganganku."

Para pedagang sudah akrab dengan keberadaan Leon yang selalu muncul setiap pagi. Karena hari ini ada kiriman berbagai jenis ikan dan makanan laut segar dari pelabuhan, Leon memutuskan untuk membuat hidangan seafood sebagai menu makanan hari ini.

Tiba di sudut pasar, Leon menurunkan tas ransel besar dan melihat ke dalam. Masih ada cukup banyak ruang di atas kotak box pendingin. Jadi, dia membeli berbagai macam makanan ringan pasar seperti gorengan dan kue basah.

Sudah lebih dari satu tahun Leon tinggal bersama gurunya. Dia cukup enggan menanyakan latar belakang sang guru ataupun pekerjaannya. Yang dia tahu, master Robert adalah orang yang sangat kaya!

Pertemuan pertamanya dengan sang guru adalah sekitar sepuluh tahun yang lalu disaat dia berada di kelas lima sekolah dasar. Ketika dia diculik dan disandera ke suatu tempat terpencil, seorang pria tua berhasil melumpuhkan belasan penculik dengan tangan kosong. Bahkan, timah panas yang dilontarkan para penculik gagal menggores kulit pria tua tersebut. Kemudian diketahui para penculik itu merupakan orang-orang suruhan pesaing bisnis ayahnya. Di hari-hari selanjutnya, Leon kecil berhasil menemukan tempat tinggal pria tua tersebut yang merupakan sebuah villa dua lantai, cukup dekat dengan bangunan tempat dia diculik sebelumnya.

Sejak saat itu, Leon kecil berulang kali mengunjungi pria tua tersebut pada hari libur untuk mempelajari kekuatan yang ditunjukkannya. Bagaimana tidak, di bumi modern ini, baru kali itu Leon melihat secara langsung seseorang yang dapat dikatakan sebagai manusia super!

"Aku pulang master!"

Keringat membasahi seluruh pakaian olahraga yang dia kenakan. Selain tambahan beban yang harus dia bawa dalam perjalanan pulang, sinar mentari membuat suhu lebih tinggi dibandingkan beberapa jam sebelumnya, meski tidak separah di daerah perkotaan.

Setelah mengeluarkan bahan makanan di dapur, Leon membawa piring dan bungkusan kue-kue ringan untuk meletakkannya di atas meja. Namun ada hal yang aneh, kenapa sarapan sang guru masih utuh?

Melihat ponsel, waktu sudah mendekati pukul dua belas siang. Apakah ada yang salah dengan sang guru?

Leon bergegas menuju kamar guru dan mengetuk pintu.

"Master, apa kamu di dalam?"

Mengingat perawakan gurunya yang terlihat sangat tua dengan rambut dipenuhi uban, Leon khawatir jika sang guru sakit tanpa dia sadari. Karena itu, dia membuka pintu tanpa balasan sang guru dan melihat ke dalam.

Ruangan itu kosong tanpa kehadiran gurunya. Leon mengecek kamar mandi, sebelum menuju balkon tempat gurunya biasa duduk menikmati pemandangan dari lantai dua. Namun tidak ada tanda-tanda keberadaan gurunya. Dengan perasaan aneh, Leon berbaik untuk meninggalkan kamar. Namun sebelum pergi, dia melihat sebuah amplop coklat di atas meja tempat gurunya biasa bersantai. Di atas amplop coklat tersebut ada sebuah kertas dengan tulisan tangan sang guru.

'Untuk Leon. Guru baik-baik saja, jangan khawatir. Karena sudah lama menetap, aku ingin keliling dunia untuk melihat suasana baru. Tidak yakin kapan aku akan kembali. Karena itu, villanya kubiarkan dalam perawatanmu. Nah, sebagai muridku yang baru, aku sudah menetapkan jalan pelatihan untukmu. Aku yakin kamu sudah melihat sesuatu yang aneh di sudut pandanganmu sejak pagi ini. Segala sesuatu yang berhubungan dengan itu ada di dalam amplop, jadi bacalah dengan teliti.'

"Keliling dunia?"

Leon tersenyum kecut. Bahkan di umur gurunya yang sudah tua itu masih tidak bisa beristirahat dengan tenang. Selain itu, jadi garis aneh di sudut penglihatannya ini bukan imajinasinya sejak pagi tadi?

"Kalau begitu ayo lihat isi amplop ini!"

Karena tidak terburu-buru untuk memasak makan siang, Leon menikmati kue pasar di meja makan sambil membaca lembaran-lembaran kertas di dalam amplop. Mengikuti berbagai pengaturan dan arahan yang tertulis di atas kertas, secara garis besar Leon telah mempelajari apa yang telah terjadi.

Di malam sebelumnya, ketika dia secara resmi dijadikan sebagai murid, dia menerima sebuah  bola hitam pekat sebagai hadiah dari sang guru. Dikatakan hal tersebut merupakan sebuah alat berteknologi canggih atau dapat dikatakan sebuah mesin, yang terhubung dengan struktur jaringan informasi yang menyelimuti seluruh alam semesta, dinamakan sebagai universe network. Bola hitam itu kini telah masuk ke dalam tubuhnya dan berasimilasi dengan jiwa Leon. Berkat itu, sekarang Leon dapat terhubung secara langsung dengan universe network melalui menu yang dapat diakses dari bidang pandangannya!

"Jadi ada banyak kehidupan di luar sana selain bumi ya? Yah, itu wajar karena seluruh ruang luas akan sia-sia jika kehidupan hanya ada di bumi dengan peradaban yang kecil ini."

Sambil melihat-lihat dokumen di dalam amplop dan menggulir layar menu dalam bidang pandangannya, Leon telah mempelajari berbagai hal.

"Kenapa guru tidak meninggalkan uang di dalamnya? Banyak hal yang tidak bisa diakses tanpa uang di sini." Keluhan kecil Leon keluar setelah menghabiskan air di dalam cangkir.

Uang yang dia maksud bukanlah dalam mata uang rupiah yang sehari-hari mereka gunakan, atau bahkan mata uang negara lain yang ada di bumi. Melainkan mata uang dalam transaksi universe network yang dinamakan koin bintang.

Jika tidak, banyak sekali barang menarik yang tidak ada di bumi yang bisa dia beli melalui universe network.

"Yang satu ini benar-benar bermanfaat. Ini mirip seperti inventory di dalam sebuah game! Tunggu, tidak mung-"

Dia terkejut ketika layar inventory terpampang dalam pandangannya. Tertulis dalam dokumen, inventory menyerupai sebuah gudang penyimpanan dengan ukuran satu kilometer kubik. Karena waktu di dalamnya membeku, makhluk hidup tidak dapat disimpan di sana. Selain dari tempat penyimpanan, inventory juga digunakan sebagai lokasi penerimaan dan pengiriman barang yang dibeli atau dijual melalui universe network secara langsung.

Namun pada layar bagian paling atas, terdapat sebuah tanda kurung di samping tulisan inventory. INVENTORY (1%).

Berdasarkan apa yang telah dia pelajari melalui dokumen, hal itu berarti ruang penyimpanannya sudah terisi 1%, yang menyisakan 99% ruang kosong dari total satu kilometer kubik.

"Sebagian besar isinya adalah bahan makanan."

Ketika dokumen mencapai kertas terakhir, Leon langsung tersadar. Guru telah mengatur segalanya sejak awal!

Cross check langsung pada menu, memang terdapat menu portal penghubung ke sebuah planet bernama planet xra-11791-ze300. Tentu nama tersebut tidak ditentukan oleh orang-orang yang tinggal di sana, melainkan oleh universe network. Peradaban di sana pada umumnya menyebut planet tersebut dengan nama planet galea. Sama seperti planet bumi atau earth, yang jika dilihat melalui universe network menggunakan campuran kode huruf dan angka yang mirip dengan planet galea.

"Peradaban dunia apokaliptik?"

Kertas terakhir menjelaskan sebuah peradaban kiamat yang cukup klasik dimana zombie tersebar di seluruh penjuru dunia. Populasi manusia yang awalnya berjumlah delapan miliar, kini hanya berkisar di atas seratus juta.

Dijelaskan bahwa di dalam tubuh zombie, tertanam sebuah kristal mana, nama lain dari koin bintang, yang dapat digunakan sebagai mata uang di dalam universe network.

"Jadi satu-satunya cara aku memperoleh koin bintang adalah pergi ke sana? Hmm, tapi dunia yang dipenuhi zombie..."

Mengusir perasaan takut dengan gelengan keras, Leon memantapkan diri untuk membuka portal. Jika situasi dibalik portal mengancam nyawanya, setidaknya dia akan langsung berbalik kembali ke bumi sebelum portal menutup.

Mengaktifkan menu portal, sebuah gerbang lingkaran yang cukup besar muncul sekitar tiga meter di hadapannya. Area di dalam lingkaran dipenuhi dengan kegelapan cair yang seolah mengalir, menyerupai sebuah lubang hitam di luar angkasa.

"Kalau begitu ayo lihat seperti apa kehidupan di planet lain ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!