NovelToon NovelToon
The Mad Queen'S Secret

The Mad Queen'S Secret

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Mafia / Tamat
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.

Kini, Michael dipaksa menikahi Shaneen, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Shaneen adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.

Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketegangan yang Memuncak

Malam kembali menyelimuti kota, dan apartemen Shaneen menjadi tempat pelarian paling tenang bagi Michael setelah seharian bertarung dengan para investor Negara Tirai Bambu. Namun, ketenangan itu mendadak menjadi tantangan berat saat ia melihat Shaneen baru saja keluar dari kamar mandi, mengenakan gaun tidur sutra berwarna hitam yang kontras dengan kulit putih halusnya.

Aroma stroberi yang segar dan uap hangat yang mengikutinya seolah menjadi undangan yang sulit ditolak.

Michael, yang sedang duduk di tepi tempat tidur sambil melonggarkan dasinya, berhenti bergerak. Matanya yang tajam mengikuti setiap gerak-gerik Shaneen yang sedang menyisir rambut panjangnya yang berwarna black ash grey di depan cermin.

"Hari yang panjang?" Tanya Shaneen lembut, menatap pantulan Michael di cermin.

"Sangat panjang," jawab Michael serak. Ia berdiri, melangkah mendekati Shaneen dan melingkarkan lengannya di pinggang ramping dari belakang. Michael menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Shaneen, menghirup aroma yang sudah menjadi candunya. "Dan satu-satunya hal yang membuatku bertahan adalah bayangan untuk segera pulang ke sini."

Michael memutar tubuh Shaneen agar menghadapnya. Suasana kamar yang temaram dengan lampu warm white menciptakan atmosfer yang sangat intim. Michael menunduk, menciumi dahi, hidung, mata, bahkan ujung rambut yang wangi itu, hingga turun ke bibir Shaneen dengan sangat lembut namun penuh hasrat yang tertahan.

Ciuman itu perlahan menjadi lebih intens. Michael mulai kehilangan kendali, tangannya mengelus punggung Shaneen dengan posesif. Ia membawa Shaneen menuju tempat tidur, dengan gendongan berbentuk m-shape dan perlahan membaringkannya di atas sprei sutra yang dingin.

Saat napas keduanya sudah memburu dan Michael mulai mencium leher jenjangnya, sedangkan tangannya sibuk menelusuri bagian perut dan punggung Shaneen. Lalu, Shaneen secara tiba-tiba memegang tangan kekar Michael.

"Michael... tunggu," bisik Shaneen dengan suara yang sedikit bergetar.

Michael berhenti seketika. Ia mendongak, menatap mata sleepy eyes Shaneen yang kini terlihat sangat jernih namun penuh keraguan. "Ada apa, Sayang? Apa kau sakit lagi?" tanya Michael dengan nada cemas yang tulus.

Shaneen menggeleng pelan. Ia mengelus rahang tajam Michael dengan jemarinya yang lentik. "Aku tidak sakit. Hanya saja, aku ingin ini terjadi saat kita benar-benar sudah sah di mata hukum dan Tuhan. Saat tidak ada lagi kepura-puraan di antara kita."

Shaneen menelan ludah, wajahnya merona merah. "Bagiku, ini adalah yang pertama. Dan aku ingin melakukannya tanpa ada bayang-bayang ketakutan atau rahasia yang tersisa. Aku ingin memberikannya padamu saat aku benar-benar sudah menjadi milikmu sepenuhnya, bukan hanya karena kontrak atau keadaan."

Ruangan itu mendadak hening. Michael terpaku, menatap wajah Shaneen yang sangat jujur dan rapuh di bawahnya. Hasrat yang tadi membara di dalam dirinya seolah harus beradu dengan rasa hormat yang luar biasa besar pada wanita ini.

Michael menghela napas panjang, ia memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan detak jantungnya yang menggila. Perlahan, ia merebahkan tubuhnya di samping Shaneen, menarik gadis itu ke dalam pelukannya yang hangat.

"Kau tahu betapa sulitnya ini untukku, bukan?" Gumam Michael sambil mencium puncak kepala Shaneen dengan gemas.

Shaneen tersenyum tipis, ia menyandarkan kepalanya di dada Michael, mendengarkan detak jantung pria itu yang perlahan mulai stabil. "Aku tahu. Terima kasih sudah mendengarkanku dan menghargai keputusanku, Michael."

Michael mendengus kecil, meski wajahnya terlihat sedikit frustrasi (dan tentu saja, sedikit cemberut lagi), ia tetap mengeratkan pelukannya. "Aku adalah pria yang ambisius, Shaneen. Aku bisa menunggu bertahun-tahun untuk sebuah kesepakatan bisnis yang besar. Jadi, menunggu sampai hari pernikahan kita, aku rasa aku bisa melakukannya."

Michael menatap langit-langit kamar. "Tapi sebagai gantinya, kau harus berjanji satu hal."

"Apa?"

"Jangan pakai sabun stroberi dan parfum vanilla itu terlalu banyak, atau aku benar-benar akan kehilangan akal sehatku," keluh Michael yang disambut tawa renyah dari Shaneen.

Malam itu, tidak ada penyatuan fisik, namun ada sesuatu yang lebih dalam yang terbangun, kepercayaan. Michael Miguel, sang singa yang tak terkendali, malam itu takluk bukan karena senjata, tapi karena cinta dan rasa hormat pada wanita yang berhasil mencuri hatinya.

"Tidurlah, sayang. Sebelum aku berubah pikiran," bisik Michael seraya mematikan lampu.

-Retaknya Aliansi Berdarah-

Di sebuah vila tersembunyi di pinggiran kota, atmosfer terasa panas bukan karena suhu, melainkan karena amarah yang meluap. Clara berdiri di tengah ruangan, wajah cantiknya memerah karena murka. Ia baru saja mendengar kabar bahwa Michael menginap di apartemen Shaneen semalam.

"Semua ini gara-gara kau, Paman Don!" teriak Clara sambil membanting tas branded-nya ke meja. "Rencana konyolmu setahun lalu di gedung tua itu... kau bilang kau akan melenyapkan Michael agar aku bisa muncul sebagai penyelamatnya. Tapi apa?! Kau malah membuat Michael terjebak dalam obsesi mencari 'wanita misterius' itu, dan sekarang dia benar-benar jatuh ke pelukan si manja Shaneen!"

Don, yang sedang duduk itu—matanya yang dingin menatap Clara seperti melihat seekor serangga yang mengganggu.

"Diamlah, perempuan bodoh!" Bentak Don, suaranya menggelegar hingga membuat nyali Clara menciut. "Kau pikir aku peduli dengan urusan asmaramu yang dangkal? Aku kehilangan tim terbaikku semalam! Seseorang sedang memburu orang-orangku satu per satu, dan kau masih merengek soal Michael?"

Don berdiri, mendekati Clara dengan aura predator. "Kau itu tidak tahu apa-apa. Kau hanya pion yang aku pasang agar aku bisa masuk ke lingkaran Miguel. Jika kau tidak becus menarik perhatian Michael, itu karena kau memang tidak punya otak, bukan karena rencanaku yang salah!"

Sebelum Clara sempat membalas, pintu ruangan terbuka dengan kasar. Ayah Clara, yang wajahnya tampak sangat kusut, masuk dengan napas memburu.

"Cukup, Clara! Berhenti mempermalukan dirimu sendiri!" Bentak Ayahnya tanpa basa-basi.

Clara tertegun. "Ayah? Kenapa kau membela pria ini?"

"Aku tidak membelanya, aku muak dengan ketidakbergunaanmu!" Ayah Clara mendekat, menatap putrinya dengan kecewa yang mendalam. "Aku sudah memberimu segalanya—galeri seni, koneksi, pakaian mahal—hanya agar kau bisa menjadi Nyonya Miguel. Tapi kau membiarkan gadis Tizon itu merebut semuanya tepat di depan matamu. Kau benar-benar anak yang tidak berguna!"

Clara terisak, tidak menyangka ayahnya sendiri akan merendahkannya demi kepentingan bisnis. Lalu segera pergi dan menyisakan dua manusia itu.

Don kembali duduk, beralih menatap Ayah Clara. "Bagaimana dengan proyek properti Tizon di pesisir? Kau sudah menahannya?"

Ayah Clara mengangguk kaku. "Sudah. Aku menggunakan koneksiku di dinas perizinan untuk memblokir amdal proyek mereka. Tapi kita tidak bisa menahannya lama, Damian bukan orang sembarangan. Dia sangat teliti."

Don menyeringai tipis. Alasan mereka menentang proyek Shaneen bukan hanya soal persaingan bisnis. "Pesisir itu adalah jalur utama logistik 'gelap' milikku. Jika Tizon membangun resort atau properti di sana, mereka akan memasang ribuan kamera sensor dan sistem keamanan Tizon Tech yang terkenal itu. Itu akan menutup 'jalur tikus' tempatku memasok barang-barang ilegal ke luar negeri."

"Jadi," Don menatap Ayah Clara dengan tajam. "Hancurkan proyek itu dengan cara apapun. Jika perizinan gagal, buat kekacauan di lokasi konstruksi. Aku tidak peduli jika harus membakar tempat itu. Jalur pesisir itu tidak boleh jatuh ke tangan Shaneen Tizon."

Ayah Clara hanya bisa menunduk patuh. Baginya, melawan Don adalah bunuh diri, meskipun ia harus menghancurkan karier atau bahkan nyawa orang lain demi mengamankan posisinya sendiri.

Sementara itu, jauh dari keributan itu, Michael baru saja memastikan Shaneen tertidur pulas dalam pelukannya. Ia tidak tahu bahwa esok hari, "perang" baru di sektor properti akan dimulai. Namun bagi Michael, selama Shaneen ada di pelukannya, ia siap meratakan siapa pun yang berani menyentuh garis batas istrinya.

Michael mencium puncak kepala Shaneen, bergumam pelan sebelum ia sendiri terlelap. "Tidurlah, Sayang. Biarkan singamu yang akan mencabik-cabik mereka besok pagi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!