Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 — Tangan yang Turun dari Singgasana
Lampu merah di atas ruang operasi masih menyala terang.
Detik demi detik terasa seperti siksaan. Di balik pintu besar itu, hidup Valeria sedang diperjuangkan di antara suara mesin, darah, dan keputusan-keputusan yang tak boleh salah sedikit pun.
Di dalam ruang operasi, suasana semakin tegang.
“Tekanan darah turun lagi!” seru salah satu dokter anestesi.
“Perdarahan belum terkontrol sepenuhnya. Organ dalamnya mulai melemah,” jawab dokter bedah dengan suara tertahan.
Semua tahu… mereka sedang berada di ujung batas.
Dan saat itulah pintu ruang observasi terbuka.
Semua kepala menoleh.
Seorang pria dengan aura tegas dan wibawa memasuki ruangan dengan langkah pasti. Rambutnya mulai memutih, tapi sorot matanya tajam dan penuh pengalaman.
Profesor Eduardo.
Selama ini ia dikenal sebagai legenda hidup di rumah sakit itu. Ahli bedah yang namanya tercatat dalam jurnal internasional, dosen yang melahirkan puluhan dokter hebat. Namun bertahun-tahun terakhir, ia jarang sekali turun langsung ke meja operasi. Ia lebih memilih mengembangkan jaringan bisnis medisnya dan menjadi investor utama beberapa fasilitas kesehatan besar.
Dan hari ini… ia datang.
“Apa kondisinya?” tanyanya singkat.
“Perdarahan internal belum stabil, Prof. Kami sudah melakukan ligasi di beberapa titik, tapi tekanan darah terus drop,” jawab salah satu dokter dengan suara hormat bercampur gugup.
Eduardo menatap monitor. Matanya menyipit.
“Pindahkan suction. Beri saya akses.”
Ruangan mendadak hening.
Beberapa dokter saling berpandangan. Jarang sekali… sangat jarang… Profesor Eduardo memakai sarung tangan operasi lagi.
Tanpa banyak bicara, ia mencuci tangan, mengenakan gaun steril, dan berdiri tepat di sisi meja operasi.
Valeria terbaring pucat. Tubuhnya yang kecil tampak rapuh di bawah lampu bedah yang menyilaukan.
Eduardo menatap wajah gadis itu sekilas.
“Gadis kecil… kau tidak boleh menyerah sekarang,” gumamnya lirih, hampir tak terdengar.
Tangannya bergerak cepat. Presisi. Tegas. Tenang.
“Clamp di sini.”
“Ya, Prof.”
“Tambahkan dua unit transfusi lagi. Kita stabilkan dulu sebelum lanjut.”
Ia menemukan sumber perdarahan yang sebelumnya terlewat karena posisi luka yang rumit akibat jalur peluru. Dengan teknik yang hanya dimiliki oleh tangan berpengalaman, ia menutup pembuluh itu satu per satu.
Waktu berjalan.
Satu jam.
Dua jam.
Di luar, keluarga dan orang-orang terkasih menunggu dengan doa yang tak putus.
Alexander duduk menunduk, kedua tangannya saling menggenggam erat. Vincenzo berdiri di sampingnya, sesekali menatap ke arah pintu operasi.
Tak jauh dari sana, Vincenzo berdiri dengan Daniel. Ada kekhawatiran yang tidak biasa di wajah pria yang selama ini dikenal kuat itu.
“Dia gadis yang luar biasa,” gumam Daniel pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Alexander mendengarnya.
Dan untuk pertama kalinya… ia tidak merasa iri.
Ia hanya ingin satu hal.
Valeria hidup.
Di sisi lain ruangan, Sofía memejamkan mata dalam doa. Isabella menggenggam tangannya erat, tanpa mereka sadari, dua ibu itu semakin terikat oleh perasaan yang tak terjelaskan.
Lampu operasi masih menyala.
Di dalam—
“Tekanan darah mulai stabil, Prof!” seru dokter anestesi.
Semua menoleh ke monitor.
Angkanya perlahan naik.
Eduardo menghembuskan napas panjang, tapi belum selesai.
“Kita belum menang. Pastikan tidak ada kebocoran lagi.”
Ia memeriksa kembali setiap jahitan, setiap sudut luka.
Akhirnya…
Setelah hampir lima jam, ia melepas sarung tangannya.
“Pendarahan terkontrol. Sekarang tinggal bagaimana tubuhnya bertahan.”
Kalimat itu bukan kemenangan. Tapi itu harapan.
Lampu merah di luar akhirnya mati.
Pintu ruang operasi terbuka perlahan.
Semua berdiri serentak.
Dokter keluar lebih dulu, lalu di belakangnya muncul Profesor Eduardo.
Wajahnya lelah, tapi matanya tidak menunjukkan kegagalan.
“Operasi berhasil mengendalikan pendarahan,” ucapnya tegas. “Tapi kondisinya masih kritis. 48 jam ke depan sangat menentukan.”
Tangis pecah.
Sofía menutup wajahnya. Miguel memeluk istrinya erat. Daniel memejamkan mata penuh syukur. Alexander terduduk lemas, seakan beban raksasa di dadanya sedikit terangkat.
Ayah Valeria menatap Eduardo dengan takjub.
Sudah lama ia tak melihat sahabat lamanya turun tangan seperti itu.
Vincenzo pun melangkah mendekat.
“Terima kasih,” ucapnya tulus.
Eduardo menatapnya sebentar.
“Gadis itu… berharga bagi banyak orang,” jawabnya singkat.
Namun jauh di dalam hatinya, ia sendiri tidak mengerti mengapa sejak pertama mendengar nama Valeria, ada sesuatu yang bergetar di dadanya.
Sesuatu yang terasa… terlalu dalam untuk sekadar simpati seorang profesor pada mahasiswinya.
"Datanglah ke ruangnku sekarang, aku menunggumu." temukan halus di pundak Vincenzo.
Di ruang ICU, Valeria kembali terbaring dengan selang dan mesin yang mengawasinya.
Sunyi.
Namun kali ini… bukan sunyi putus asa.
Melainkan sunyi penuh harapan.
Dan tanpa mereka sadari—
Takdir perlahan sedang membuka rahasia yang selama dua puluh tahun terkunci rapat.