NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan, Selamanya

Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Dunia Masa Depan
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cincin yang Terpaksa

Malam itu, kediaman keluarga Anora tampak begitu megah, namun bagi Kalaluna Anora, atmosfer di dalam ruangan tersebut terasa mencekik. Ia berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya yang mengenakan gaun sutra berwarna hijau pucat. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai indah, kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Namun, binar di matanya redup, tertutup oleh bayang-bayang masa lalu yang baru saja dipaksa hadir kembali ke hadapannya.

Di ruang tengah, suara tawa pria terdengar mendominasi. Luna menarik napas panjang sebelum melangkah keluar. Di sana, duduk seorang pria dengan kemeja putih dan suspender hitam yang memberikan kesan maskulin sekaligus angkuh. Isaac Waren. Mantan kekasih yang pernah mematahkan hatinya, kini duduk di sana sebagai calon suaminya akibat perjodohan bisnis antar keluarga.

Isaac menoleh saat menyadari kehadiran Luna. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai tipis yang selalu berhasil membuat Luna naik pitam.

"Lihat siapa yang datang," ujar Isaac dengan nada santai, matanya menyapu penampilan Luna dari atas ke bawah. "Kau tampak seperti seseorang yang baru saja kehilangan kucing kesayangannya, Luna. Di mana senyum manismu yang dulu selalu kau pamerkan itu?"

Luna mengepalkan tangannya di samping tubuh, berusaha menjaga martabatnya di depan kedua orang tua mereka. Ia duduk di kursi yang berseberangan dengan Isaac, menjaga jarak sejauh mungkin.

"Aku hanya tidak menyangka bahwa takdir seburuk ini hingga harus mempertemukan kita lagi dalam situasi yang konyol seperti ini, Isaac," jawab Luna dengan nada yang lembut namun sarat akan ketidaksukaan.

Isaac terkekeh, ia memajukan tubuhnya, menatap Luna dengan tatapan tajam yang sulit diartikan. "Buruk? Aku justru berpikir ini adalah kesempatan emas. Kau tahu, aku sangat merindukan saat-saat di mana aku bisa membuatmu kesal setiap hari."

"Kau benar-benar tidak berubah. Masih sombong dan menyebalkan," desis Luna.

"Dan kau juga tidak berubah," balas Isaac cepat, suaranya merendah namun terdengar sangat jelas di telinga Luna. "Masih mudah sekali terpancing. Kau harus membiasakan diri, karena setelah ini, kau akan melihat wajahku setiap kali kau bangun tidur."

Luna memalingkan wajah, tidak ingin Isaac melihat rona merah yang muncul di pipinya—bukan karena jatuh cinta, melainkan karena amarah yang bercampur dengan debaran aneh yang belum sempat ia padamkan sepenuhnya sejak perpisahan mereka bertahun-tahun lalu.

Malam itu, di bawah saksi kedua keluarga, janji perjodohan itu diresmikan. Sebuah cincin dilingkarkan di jari manis Luna. Dingin logam itu seolah menjadi pengingat bahwa kebebasannya telah berakhir, dan babak baru bersama sang mantan kekasih baru saja dimulai.

Seminggu setelah pertemuan keluarga yang menyesakkan itu, Luna mendapati dirinya berdiri di depan sebuah gedung apartemen mewah di pusat kota. Sesuai kesepakatan kedua orang tua mereka, Luna dan Isaac harus mulai tinggal bersama sebelum hari pernikahan tiba. Katanya, agar mereka bisa "membangun kembali chemistry". Luna mendengus geli mengingat alasan itu; satu-satunya hal yang mereka bangun selama ini hanyalah tembok pertahanan yang tinggi.

Pintu unit apartemen terbuka otomatis setelah Luna memasukkan kode akses yang diberikan ayahnya. Aroma maskulin yang khas—campuran kayu cendana dan sedikit aroma jeruk—langsung menyambut indra penciumannya. Itu adalah aroma yang sangat ia kenali. Aroma Isaac.

"Kau terlambat sepuluh menit, Luna," suara bariton itu terdengar dari arah dapur.

Isaac muncul dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, menampakkan urat-urat tangannya yang kokoh. Ia memegang sebuah gelas kristal berisi air mineral, menatap Luna dengan tatapan yang seolah sedang menilai barang dagangan.

"Aku terjebak macet, dan aku tidak merasa perlu terburu-buru untuk menemuimu," balas Luna ketus sembari meletakkan koper besarnya di ruang tamu.

Isaac melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara mereka hingga Luna bisa merasakan panas tubuh pria itu. "Benarkah? Padahal aku sudah menyiapkan kamar terbaik untukmu. Tapi melihat wajahmu yang cemberut seperti itu, aku jadi berpikir untuk membiarkanmu tidur di sofa saja."

Luna mendongak, menatap mata tajam Isaac dengan berani. "Aku tidak butuh belas kasihanmu. Aku bisa tidur di mana saja asalkan kau tidak berada dalam radius satu meter dariku."

Isaac terkekeh pelan, tawa yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Luna. "Sayang sekali, Luna. Apartemen ini tidak sebesar itu untuk membuatku menjauh satu meter darimu setiap saat. Kita harus berbagi dapur, ruang tamu, dan..." Ia menjeda kalimatnya, sengaja menggantungkan kata-katanya sembari mencondongkan wajah ke arah telinga Luna. "...dan kenangan lama yang mungkin belum sempat kau buang ke tempat sampah."

Luna mendorong dada Isaac dengan telapak tangannya, berusaha menciptakan jarak. "Jangan pernah mengungkit masa lalu, Isaac. Kita di sini hanya karena paksaan. Kau tahu itu, dan aku tahu itu."

"Tentu saja," ujar Isaac kembali tegak, senyum sinisnya tidak memudar. "Tapi bukankah akan lebih menarik jika kita menjalani sandiwara ini dengan sedikit drama? Kau berperan sebagai istri yang patuh, dan aku sebagai suami yang… yah, setidaknya aku akan mencoba untuk tidak mengejekmu setiap lima menit."

"Itu mustahil bagimu," sindir Luna.

"Kau benar. Mengejekmu adalah hobi favoritku sejak kita masih remaja," balas Isaac santai sembari berbalik menuju kamarnya. "Masuklah ke kamarmu. Aku sudah memesan makan malam. Jangan sampai kau pingsan karena kelaparan dan membuatku harus menggendongmu. Aku tidak mau pinggangku sakit karena beban yang berat."

Luna menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal. "Isaac! Aku tidak seberat itu!"

"Terserah kau saja, Luna," sahut Isaac dari balik pintu kamar, menyisakan Luna yang berdiri sendirian di tengah ruangan dengan perasaan campur aduk.

Malam pertama di bawah atap yang sama terasa begitu panjang. Di balik sikap dingin dan ejekan mereka, ada getaran yang tak terucap. Bagi Luna, Isaac tetaplah api yang bisa membakarnya kapan saja, sementara bagi Isaac, Luna adalah satu-satunya teka-teki yang tak pernah benar-benar ingin ia pecahkan, karena ia takut akan menemukan jawabannya: bahwa ia masih sangat mencintai wanita itu.

1
Nhi Nguyễn
😄
anggita
ikut dukung like👍, iklan☝aja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!