Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.
Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.
Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Kedatangan Petaka
Pagi itu, butik Nadya’s Exclusive Couture yang terletak di kawasan elit Jakarta Selatan tampak begitu tenang. Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui dinding-dinding kaca setinggi tiga meter, memantulkan kilau pada deretan gaun-gaun sutra yang tergantung rapi. Di tengah ruangan, Nadya—sang pemilik—sedang menata sebuah manekin dengan sangat telaten.
Nadya adalah wanita yang tampak seolah waktu berhenti berputar baginya. Di usianya yang ke-25, ia memiliki wajah baby face yang sangat polos dan menggemaskan. Kulit putihnya yang selembut porselen tampak bersinar di bawah lampu kristal butik. Meski wajahnya terlihat begitu innocent, Nadya dianugerahi tubuh yang sangat luar biasa; dadanya besar dan bulat sempurna, kontras dengan perutnya yang rata dan pinggangnya yang kecil. Rambut hitamnya yang panjang dan halus jatuh tergerai menutupi sebagian punggungnya yang tegap. Ia adalah perpaduan antara kecantikan malaikat dan keseksian yang alami.
Namun, di balik kesempurnaan fisiknya, Nadya memiliki hati yang terlalu lembut—mungkin terlalu lembut untuk dunia bisnis yang kejam. Sifatnya yang penyayang, penyabar, dan selalu berprasangka baik pada orang lain seringkali membuatnya mudah dimanfaatkan.
"Mbak Nadya, ini data affiliate yang kita cari," ujar asistennya, membuyarkan lamunan Nadya.
Nadya menerima tablet itu dan matanya tertuju pada sebuah profil dengan nama Stefani. Di sana terlihat foto-foto seorang gadis berusia 21 tahun yang sangat berani. Stefani memiliki kecantikan yang provokatif: bibir merah, tatapan mata yang seolah selalu mengundang, dan gaya berpakaian yang sangat minim.
"Dia memiliki jutaan pengikut, Mbak. Kalau dia yang mempromosikan koleksi lingerie dan gaun malam kita, saya yakin stok kita akan habis dalam hitungan jam," lanjut sang asisten.
Nadya mengangguk pelan. "Baiklah, hubungi dia. Aku ingin bertemu siang ini."
Tepat jam satu siang, pintu butik berdenting. Seorang wanita masuk dengan langkah yang dibuat-buat, setiap ayunan langkahnya sengaja menonjolkan bentuk pantatnya yang besar dan bulat di balik celana legging yang sangat ketat. Itu adalah Stefani. Ia mengenakan atasan yang sangat tipis, memperlihatkan bra berwarna kontras yang membungkus dadanya yang besar. Rambut cokelatnya yang agak bergelombang tampak berkilau, memberikan kesan liar namun mahal.
"Haiii! Kamu pasti Mbak Nadya ya? Aduh, aslinya imut banget sih, kayak boneka!" seru Stefani dengan suara manja yang melengking. Ia langsung menghambur dan memeluk Nadya, sebuah gerakan yang sangat akrab padahal mereka baru pertama kali bertemu.
Nadya, yang selalu menghargai orang lain, membalas pelukan itu dengan hangat. "Halo, Stefani. Senang sekali kamu bisa datang."
Stefani melepaskan pelukannya, namun matanya tidak berhenti menjelajahi ruangan—dan juga tubuh Nadya. Ada secercah rasa iri yang menyambar di dalam dada Stefani saat melihat kemewahan butik itu dan kecantikan alami Nadya yang tidak butuh banyak riasan. Stefani adalah tipe wanita yang harus berjuang keras dengan kosmetik dan rayuan untuk mendapatkan apa yang ia mau, sementara wanita di depannya seolah mendapatkan segalanya hanya dengan bernapas.
"Mbak, koleksinya keren-keren banget. Tapi jujur ya, buat pasar sekarang, Mbak butuh sentuhan 'berani' kayak aku. Biar para pria di luar sana nggak cuma liat baju, tapi liat siapa yang pakai," ujar Stefani sambil mengedipkan sebelah matanya dengan nakal.
Nadya hanya tersenyum sopan. "Itu alasan aku mengontrak kamu, Stefani. Aku ingin citra butik ini tetap eksklusif tapi juga menggoda pasar yang lebih luas."
Pertemuan itu berakhir dengan kesepakatan kerjasama besar. Karena jadwal live streaming pertama harus dilakukan malam ini dan butuh banyak persiapan teknis, Nadya dengan segala kebaikannya menawarkan sesuatu yang akan ia sesali seumur hidup.
"Stef, daripada kamu bolak-balik ke kantor agensi, gimana kalau malam ini kamu menginap di rumahku saja? Kebetulan di rumah ada studio mini yang bisa kita pakai, dan besok pagi kita bisa langsung lanjut bikin video promosi," tawar Nadya.
Mata Stefani berkilat. Ia sudah tahu siapa suami Nadya. Erian. Eksekutif muda sukses yang fotonya sering muncul di majalah bisnis. Pria tampan, gagah, dan kaya raya. "Wah, Mbak Nadya baik banget sih! Boleh banget Mbak, aku jadi nggak enak kalau nolak," jawab Stefani dengan seringai tersembunyi.
Sore harinya, mobil mewah Nadya memasuki pelataran rumah megah bergaya modern minimalis. Erian sudah ada di sana, baru saja pulang dari kantor. Pria berusia 28 tahun itu sedang berdiri di teras sambil menerima telepon, kemeja kerjanya sedikit terbuka di bagian kerah, memperlihatkan lehernya yang kuat dan gagah.
"Mas, aku pulang! Kenalkan, ini Stefani," panggil Nadya sambil menggandeng tangan suaminya dengan penuh cinta.
Erian menoleh dan sesaat, nafasnya seolah tertahan. Di depannya berdiri seorang gadis muda yang auranya sangat berbeda dengan istrinya. Jika Nadya adalah air yang menenangkan, wanita di depannya adalah api yang membakar. Stefani menatap Erian dari bawah ke atas dengan pandangan yang sangat lapar.
"Malam, Mas Erian... panggil saja Stefani. Ternyata Mbak Nadya nggak bohong ya, suaminya ganteng banget," ucap Stefani sambil mengulurkan tangan. Saat bersalaman, Stefani sengaja menggunakan jari telunjuknya untuk mengelus telapak tangan Erian dengan sangat halus, sebuah kode rahasia yang hanya dirasakan oleh mereka berdua.
Erian berdehem, mencoba melepaskan tangannya namun ada sesuatu yang menahan egonya. Gairah besarnya yang selama ini terpendam di balik sikap formal sebagai pengusaha sukses tiba-tiba bergejolak. "Iya, selamat datang di rumah kami."
Malam pun tiba. Setelah makan malam yang penuh dengan obrolan manis nan palsu dari mulut Stefani, mereka mulai bersiap untuk sesi live. Nadya sibuk di belakang kamera mengatur cahaya, sementara Stefani masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian pertama.
Ketika Stefani keluar, suasana ruangan mendadak berubah. Ia mengenakan salah satu gaun tidur koleksi terbaru Nadya; sebuah silk slip dress berwarna merah membara yang sangat tipis dan pendek. Gaun itu menempel sempurna di tubuhnya, menonjolkan setiap inci lekuk tubuhnya.
Erian, yang duduk di sofa sambil berpura-pura membaca dokumen, tidak bisa memalingkan wajahnya. Dari posisi duduknya, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana dress itu hampir tidak menutupi bagian bawah tubuh Stefani saat gadis itu sengaja membungkuk untuk membetulkan tripod kamera.
"Mbak Nadya, ini nggak terlalu terbuka kan?" tanya Stefani, pura-pura malu, padahal ia sengaja memposisikan dirinya agar Erian bisa melihat belahan dadanya yang putih dari arah sofa.
"Bagus kok, Stef. Kamu terlihat sangat cantik," puji Nadya tulus dari balik kamera.
Stefani mulai beraksi di depan kamera live. Suaranya berubah menjadi sangat manja dan sensual, menggoda ribuan penonton pria yang mulai membanjiri kolom komentar dengan pujian nakal. Setiap kali ia berganti pose, ia selalu memastikan matanya melirik ke arah Erian, memberikan pertunjukan pribadi yang hanya boleh dinikmati oleh suami sahabat barunya itu.
Erian merasa tenggorokannya kering. Ia bangkit berdiri untuk mengambil minum di dapur, mencoba melarikan diri dari pemandangan yang menyiksa gairahnya itu. Namun, baru saja ia menuangkan air, ia mendengar langkah kaki di belakangnya.
Itu Stefani. Ia menyusul ke dapur dengan alasan ingin minum, padahal sesi live belum sepenuhnya selesai karena jeda iklan atau kendala teknis singkat yang sengaja ia buat.
"Mas Erian... haus ya? Sama, aku juga haus banget nih," bisik Stefani. Ia berdiri sangat dekat di belakang Erian, hingga Erian bisa merasakan panas tubuh gadis itu.
Erian berbalik dan mendapati Stefani hanya berjarak beberapa centimeter darinya. Gaun tipis itu tidak menyembunyikan apapun di bawah cahaya lampu dapur yang remang-remang.
"Stefani, sebaiknya kamu kembali ke sana. Nadya sedang menunggu," suara Erian terdengar berat dan parau.
"Mbak Nadya sibuk sama komentarnya, Mas. Dia nggak akan tahu kalau kita cuma ngobrol sebentar di sini," jawab Stefani sambil melingkarkan tangannya di pinggang Erian, membiarkan dadanya yang kenyal menekan dada bidang Erian.
Erian tahu ini adalah ambang kehancuran. Ia menatap ke arah ruang tengah di mana istrinya yang suci dan baik hati sedang bekerja keras demi masa depan mereka, lalu ia menatap kembali ke mata iblis cantik di depannya yang menawarkan kenikmatan sesaat yang luar biasa.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki Nadya mendekat ke arah dapur. "Mas? Stef? Kalian di mana? Kok lama banget?"
Erian terperanjat, jantungnya berdegup kencang seolah mau copot. Namun, bukannya menjauh, Stefani justru melakukan sesuatu yang gila. Ia menarik kerah baju Erian dan membungkam bibir pria itu dengan ciuman yang sangat dalam dan penuh nafsu, tepat satu detik sebelum bayangan Nadya muncul di ambang pintu dapur.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭