NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Para Dewi

Sistem Penakluk Para Dewi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Playboy
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Seorang siswa SMA miskin yang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya secara tak sengaja memperoleh sebuah kitab pusaka milik Santo Cinta—sebuah buku misterius yang menyimpan tak terhitung kemampuan luar biasa, khusus digunakan untuk menaklukkan hati para gadis. Sejak saat itu, hidupnya pun berubah drastis.
Tak hanya meraih keberhasilan dalam urusan asmara, ia juga mulai menapaki jalan kesuksesan dalam dunia bisnis. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan beragam perempuan menawan: teman sekelas yang cantik, putri seorang tokoh dunia bawah tanah, gadis super imut yang menggemaskan, hingga selebritas terkenal dengan pesona memikat.
Di antara cinta, kekuatan rahasia, dan perubahan nasib, kisahnya berkembang menjadi perjalanan penuh romansa, peluang, dan godaan yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Tiba-tiba, sebuah ide terlintas.

Ia memang tidak memiliki kemampuan terbang.

Namun ia memiliki teknik pelarian melalui tanah—kemampuan yang belum pernah ia gunakan sebelumnya "Seni Pelepasan Bumi".

Ini adalah saat yang tepat untuk mencobanya.

Zhang Yuze memejamkan mata sejenak.

Ia menenangkan napas, memusatkan pikirannya.

Dalam kesadaran terdalamnya, ia memanggil kemampuan itu.

Seketika, cahaya keemasan samar menyelubungi tubuhnya.

Dalam satu kilatan—

Sosok Zhang Yuze lenyap dari tempatnya berdiri.

Detik berikutnya, sepeda motor patroli berhenti di ujung gang.

Para anggota patroli turun dengan napas terengah.

Namun yang mereka lihat hanyalah gang kosong dan tembok tinggi yang tak mungkin dilompati manusia biasa.

“Ke mana anak itu pergi?” Kapten patroli mengerutkan dahi, wajahnya suram.

“Kapten… mungkin dia masih bersembunyi di sekitar sini,” ujar salah satu anggota dengan hati-hati. “Mari kita periksa lagi.”

Kapten itu menatap tembok di depan dengan tatapan tak percaya.

Angin berembus pelan melewati gang yang sunyi.

Tak seorang pun di antara mereka tahu—

Mangsa yang mereka kejar telah menghilang ke dalam bumi, meninggalkan mereka dalam kebingungan yang tak terjawab.

“Oke! Hubungi kepala keamanan umum di wilayah ini dan minta orang-orang mereka membantu. Selama aku masih di sini, aku tidak percaya anak itu bisa terbang begitu saja di depan mata kita!”

Kapten tim patroli itu menggertakkan gigi saat memberi perintah. Membayangkan betapa pongahnya bocah tadi—dan betapa sulitnya menjelaskan kegagalan ini kepada kepala kantor ketika kembali nanti—membuat wajahnya muram dan tak sedap dipandang. Harga dirinya sebagai aparat benar-benar terinjak.

Namun tentu saja, ia sama sekali tidak tahu bahwa pada saat yang sama, sekitar satu kilometer dari sana, sosok yang mereka kejar baru saja muncul… di atas tumpukan sampah.

Kilatan cahaya keemasan itu telah lenyap, menyisakan Zhang Yuze yang terhuyung-huyung keluar dari gundukan limbah rumah tangga yang berbau menyengat.

“Sialan! Jurus Pelarian Bumi ini malah membawaku ke tempat seperti ini. Nasibku benar-benar buruk!” gerutunya kesal.

Ia memandangi pakaiannya yang kotor, rambutnya yang kusut, dan tubuhnya yang berbau tak sedap. Penampilannya sekarang lebih mirip gelandangan yang baru diusir dari kolong jembatan daripada siswa SMA biasa. Dengan wajah mengernyit menahan jijik, ia menepuk-nepuk pakaiannya, tetapi sia-sia—kotoran tetap melekat.

Tak jauh dari sana, ia melihat sebuah rumah sederhana. Dengan langkah hati-hati, ia menghampiri dan mengetuk pintu, berniat meminjam sedikit air untuk membersihkan diri.

Pintu terbuka, menampakkan seorang wanita paruh baya.

Zhang Yuze bahkan belum sempat membuka mulut untuk berbicara.

Wanita itu memandangnya dari ujung kepala hingga kaki, lalu wajahnya berubah iba. “Tunggu sebentar,” katanya singkat.

Zhang Yuze tertegun.

Aku belum mengatakan apa-apa! Bagaimana dia tahu aku mau apa?

Tak lama kemudian, wanita itu kembali. Di tangannya ada sebuah mangkuk dan sepasang sumpit.

“Oh, ini sisa makan siangku. Ambillah.”

Setelah berkata demikian, ia menyerahkan mangkuk itu kepada Zhang Yuze dan menutup pintu.

Zhang Yuze berdiri mematung, memandangi mangkuk di tangannya.

“….”

Jadi… dia mengira aku pengemis?

Beberapa detik kemudian, ia hanya bisa tertawa pahit. Hari ini benar-benar hari sialnya.

Dengan kondisi yang masih cukup memprihatinkan, Zhang Yuze akhirnya tiba di rumah. Syukurlah tidak ada siapa pun di dalam. Kalau saja ibunya melihat keadaannya tadi, mungkin ia akan mengira putranya baru saja dirampok atau terlibat tawuran berdarah.

Ia segera mandi, mengguyur tubuhnya berulang kali seakan ingin menghapus seluruh kesialan hari ini bersama air yang mengalir. Setelah selesai, ia merasa jauh lebih segar—meskipun perutnya kini mulai memberontak.

Ia membuka lemari dapur, berharap menemukan sesuatu untuk dimakan. Namun dapur kosong melompong.

Istri pandai pun tak bisa memasak tanpa beras.

Dengan terpaksa, ia memutuskan keluar mencari makan. Baru saja ia menuruni tangga menuju lantai bawah, suara khas sepatu hak tinggi terdengar berirama.

Ia mendongak.

Guo Xiaolu—Sister Xiaolu—sedang menaiki tangga sambil membawa sebuah tas.

Begitu melihat Zhang Yuze, wajahnya langsung berseri. “Yuze! Kebetulan sekali! Mau ke mana?”

Hari itu, Guo Xiaolu mengenakan gaun kerja hitam yang sangat profesional. Roknya sepanjang lutut, bagian dada dihiasi pita kecil yang anggun. Penampilannya jelas menunjukkan ia baru saja menghadiri suatu acara resmi.

Berbeda dari biasanya yang ceria dan lugu, kali ini ia memancarkan pesona dewasa yang matang. Aura feminin yang lembut namun berwibawa membuat Zhang Yuze sejenak terpaku.

“Sister Xiaolu… tidak ada orang di rumah yang memasak. Aku terpaksa keluar mencari makan,” katanya sambil memegangi perut, pura-pura tampak menyedihkan.

Reaksinya sesuai harapan.

Guo Xiaolu memandangnya lembut. “Kasihan sekali. Kebetulan aku juga belum makan. Kalau begitu, bagaimana kalau kita makan bersama saja?”

Hati Zhang Yuze langsung bersorak.

Namun, alih-alih pergi keluar, setelah didesak dengan berbagai alasan, ia berhasil membuat Sister Xiaolu setuju untuk memasak di rumah.

Kini, ia duduk di ruang tamu, sementara dari dapur terdengar suara wajan dan aroma harum mulai menguar. Bau masakan itu begitu menggoda hingga ia hampir menelan ludahnya sendiri.

Untuk mengalihkan perhatian dari rasa lapar, ia menyalakan televisi. Ia memang gemar menonton berita lokal, terutama kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar kota.

Awalnya, ia tertarik pada segmen mengenai pencarian “pahlawan tanpa nama” yang menolong korban penjambretan.

Namun semakin lama ia menonton, semakin aneh perasaannya.

Di layar, tampak rekaman CCTV: seorang pemuda melompat dan menendang sepeda motor hingga terjungkal, lalu dengan cekatan melumpuhkan dua pelaku penjambretan.

Zhang Yuze terbelalak.

“Bukankah itu aku?”

Ia melihat sosok dalam rekaman itu—gerakan tendangan melayangnya, rangkaian kuncian yang rapi dan bersih—semuanya terlihat begitu keren. Bahkan lebih keren daripada yang ia rasakan saat melakukannya.

“Jadi ternyata aku setampan ini? Dunia benar-benar merugi karena baru menyadarinya sekarang,” gumamnya sambil mengelus dagu dengan ekspresi serius.

Untungnya, kualitas gambar CCTV itu buram. Wajahnya tidak terlalu jelas. Ia menghela napas lega. Jika sampai dikenali, ia akan berada dalam masalah besar—terlebih ia masih diburu terkait insiden perkelahian di bus.

Namun ketenangannya tak bertahan lama.

Berita berikutnya justru membahas insiden perkelahian di Bus Nomor 9.

Kasus yang semula ia anggap kecil kini dibingkai sebagai insiden ketertiban umum yang serius. Media menyorotnya dengan nada keras, bahkan menyerukan masyarakat untuk memberikan informasi tentang pelaku.

Zhang Yuze terdiam.

Beberapa menit lalu ia dipuji sebagai pahlawan. Kini ia diburu sebagai biang kerusuhan.

Perubahan citra itu terlalu cepat.

Ia tersenyum getir. Jika para wartawan itu tahu bahwa pahlawan dan “penjahat” yang mereka bicarakan adalah orang yang sama, mungkin wajah mereka akan lebih menarik untuk ditonton daripada berita itu sendiri.

Untungnya, tidak ada rekaman jelas tentang perkelahian di bus. Jika ada, ia pasti sudah terseret ke kantor polisi.

“Yuze, makanan sudah siap!”

Suara Guo Xiaolu memanggilnya dari dapur.

Ia bergegas ke meja makan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!