Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Ambisi.
Senin pagi tiba dengan ritme yang jauh berbeda bagi Nana. Tidak ada lagi rutinitas menunggu pesan singkat dari Tris untuk sekadar menanyakan sarapan, atau kesibukan menyiapkan kemeja orang lain. Nana berdiri di depan lift gedung Stellar Komik Studio dengan segelas kopi di tangan kiri dan tas berisi perlengkapan menggambar di bahu kanan. Ia mengenakan pakaian yang rapi namun santai, tipikal para pekerja kreatif, namun auranya jauh lebih tajam dari sebulan yang lalu.
Begitu memasuki ruang divisi Psychological Thriller, Nana langsung disambut oleh kesibukan yang intens. Suara gesekan pena digital di atas layar tablet dan gumaman para editor yang mendiskusikan storyboard memenuhi ruangan.
"Nana, selamat datang," sapa Hadi, Art Director yang mewawancarainya. Ia menunjuk sebuah meja di sudut yang sudah disiapkan. "Itu tempatmu. Di sebelahmu ada Gani, dia Colorist utama proyek ini. Lingkungan di sini sangat cepat. Kalau kau tidak bisa mengejar deadline bab pertama dalam tiga hari, kau tahu konsekuensinya."
Gani, pria berambut gondrong yang duduk di samping Nana, hanya melirik sekilas tanpa senyum. "Jangan harap aku akan membantumu kalau sketsamu berantakan. Aku tidak punya waktu untuk memperbaiki anatomi yang miring," ketusnya tanpa mengalihkan pandangan dari monitor.
Nana tidak tersinggung. Ia justru merasakan adrenalinnya bergejolak. "Aku akan pastikan sketsaku sempurna sampai kau tidak punya alasan untuk mengeluh," balas Nana tenang sembari menyalakan komputer kerjanya.
Hari itu, Nana tenggelam dalam garis-garis kelam. Ia menyalurkan segala sisa rasa pahitnya ke dalam karakter-karakter antagonis yang ia gambar. Ia tidak sadar bahwa beberapa kali Hadi lewat di belakangnya, mengangguk puas melihat progres Nana yang luar biasa cepat dan penuh emosi.
Sementara itu, di sebuah kafe tidak jauh dari kantor Tris, suasana hati pria itu sedang tidak karuan. Tris duduk di depan sepiring pasta yang rasanya entah kenapa terasa hambar. Di depannya, Elli sedang sibuk memoles lipstik merah marunnya.
"Kau masih memikirkan cincin itu?" tanya Elli santai, melihat Tris yang sedari tadi menekuk wajah.
"Nana cuma bermain trik," gerutu Tris sambil melempar garpunya. "Dia pikir dengan mengembalikan cincin di depan Ibu, aku akan memohon padanya? Dia paling cuma bertahan seminggu dengan drama 'wanita mandiri'-nya itu."
Tris sangat yakin. Baginya, Nana adalah miliknya. Seorang gadis yang tidak punya siapa-siapa dan tidak bisa melakukan apa-apa. Namun, ada satu hal yang mengusik pikirannya, kehadiran Aska di samping Nana. Tris pikir Aska baik ke Nana cuman karena gadis itu adalah tunangan adiknya, mereka bahkan baru saling mengenal ketika acara pertunangan Tris dan Nana.
Selama ini Tris tidak terusik oleh kedekatan mereka, karena ia sering mendengar bahwa Aska menganggap Nana sebagai adik perempuan yang bodoh. Tusi juga dulu pernah bilang, waktu ia hamil, Aska berharap Tris adalah perempuan. Artinya, Aska menginginkan adik perempuan. Itulah kenapa Tris membiarkan saja, dan tidak meminta Nana untuk menjauhi Aska.
"Sialan," gumam Tris kecil.
"Tris," Elli menutup cermin kecilnya, matanya berbinar dengan rasa ingin tahu yang aneh. "Abangmu itu ... Aska. Kenapa aku baru melihatnya sekarang? Kita berteman sejak kecil, tapi kau hampir tidak pernah menyebutnya."
Tris mendengus. "Dia itu aneh. Waktu kecil dia tinggal dengan Nenek di desa karena Ayah sedang kesulitan ekonomi. Dia mandiri secara ekstrim. Waktu SMP sampai kuliah pun dia pilih tinggal di kost murah, bekerja serambutan sambil belajar. Dia tipe orang yang tidak butuh bantuan siapa pun."
Tris menyesap minumannya dengan kasar. "Setelah dia jadi pengacara sukses dan kaya raya, dia membelikan rumah mewah yang sekarang aku dan Ibu tempati. Tapi dia sendiri? Dia tidak mau tinggal bersama kami. Dia lebih memilih apartemen mewahnya sendiri. Dia merasa dirinya terlalu hebat untuk berkumpul dengan keluarga biasa seperti kami."
Elli mendengarkan dengan saksama. Informasi itu justru membuat jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Pria mandiri, kaya, berkuasa, dan memiliki tatapan sedingin es. Jauh berbeda dengan Tris yang terkadang masih bergantung pada uang jatah dari Ibunya atau bantuan diam-diam dari kakaknya.
Sejak malam di rumah Ibu Tusi, Elli sebenarnya tidak bisa berhenti memikirkan Aska. Ia menyukai cara Aska mengintimidasi ruangan hanya dengan keberadaannya.
"Jadi, dia cukup dengan dengan Nana?" tanya Elli lagi, mencoba memancing.
"Iya. Aku tidak tahu kenapa Bang Aska mau repot-repot mengurusi gadis bodoh itu. Mungkin dia cuma kasihan," sahut Tris, diam-diam mengepalkan tangan. Kalau dipikirkan, kedekatan mereka ternyata agak menyebalkan.
Elli tersenyum tipis di balik cangkir kopinya. Kasihan atau tidak, Nana tidak pantas bersanding dengan pria seperti Aska, batinnya. Jika Nana yang "lemah" saja bisa mendapatkan perhatian pria sekelas Aska, maka Elli merasa dirinya yang jauh lebih cerdas dan cantik harusnya bisa mendapatkan lebih.
Hubungan Elli dengan Tris memang tidak pernah murni sekadar teman. Ia menikmati bagaimana Tris memujanya, bagaimana Tris selalu menjadikannya prioritas di atas Nana. Baginya, Tris adalah peliharaan yang setia. Namun, setelah melihat Aska, Elli merasa selera standarnya tiba-tiba naik berkali-kali lipat.
"Mungkin aku harus mampir ke kantornya suatu hari nanti, memberikan hadiah kecil sebagai ucapan terima kasih karena sudah menjaga 'tunangan' sahabatku," ujar Elli dengan nada bercanda yang menyembunyikan niat sebenarnya.
Tris tertawa, tidak menyadari bahwa wanita di depannya sedang merencanakan sesuatu yang jauh dari sekadar sapaan. Begitu suci Elli di matanya.
"Jangan repot-repot, El. Dia bisa menggigitmu kalau kau mengganggunya saat bekerja."
Elli hanya tersenyum misterius. Ia menyukai tantangan, dan Aska adalah tantangan terbesar yang pernah ia lihat. Jika ia bisa mendapat Aska, maka ia akan bermanja dengan kemewahan. Ia tidak perlu lagi menabung berbulan-bulan berhemat, demi membeli barang luxury.
Setelah diantar Tris pulang, Elli bergegas mencari tahu sosial media Aska. Tapi yang ia temui hanyalah akun penggemar Aska, atau postingan foto kendit yang diambil tampa izin.
"Apa dia tidak punya akun sosial media?" Elli tersenyum penuh minat. Menurutnya Aska semakin keren.
Ia mulai menyimpan foto-foto Aska yang bertebaran di sosial media, melihatnya lama seperti seorang penguntit. Lalu beberapa potret membuatnya merengut, yaitu keberadaan Nana yang tidak menjadi pertanyaan bagi netizen.
Dia membaca kolom komentar.
>Nana sangat imut, aku ingin menculiknya.
>Gadis selucu itu, bersebelahan dengan pengacara yang tidak punya hati nurani.
—Siapa yang tidak punya hati nurani? Di sini aku hanya melihat kau yang tidak punya otak!
Komentar masih banyak, tapi Elli tidak ingin membacanya lagi. "Apa-apaan! Kenapa di sini Nana di sanjung netizen!" Elli melemparkan ponselmu ke bantal. Setelah itu, dengan langkah kuat, dia pergi ke kamar mandi untuk mendinginkan kepala.
Bersambung....