NovelToon NovelToon
CIREMAI: THE LAST SURVIVAL

CIREMAI: THE LAST SURVIVAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Epik Petualangan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.

Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Rabu, 22 Mei Pukul 00.15 WIB

Polsek Cigugur, Kuningan

Hendra belum pernah membuat laporan polisi sebelumnya.

Laporan SAR, laporan evakuasi, laporan kondisi medan semua itu sudah biasa baginya. Tapi laporan polisi dengan format berbeda, pertanyaan-pertanyaan yang tajam, dan petugas yang wajahnya berganti-ganti antara percaya dan tidak percaya… ini pertama kalinya.

Petugas yang menangani malam itu bernama Pak Budi. Kumis tipis, kaos polos di balik jaket karena dipanggil dari rumah pada jam yang tidak enak. Pak Budi mendengarkan laporan Hendra dengan wajah netral yang sudah terlatih bertahun-tahun sampai bagian saat Hendra menggambarkan kondisi Fajar.

Wajah netral itu sedikit retak.

“Bapak bilang kulitnya…”

“Berubah warna. Ada sesuatu di bawahnya yang kelihatan dari luar,” kata Hendra. Ia sudah menceritakan ini tiga kali hari ini, dan setiap kali tetap sulit menemukan kata-kata yang tepat. “Matanya hitam pekat. Dan cara dia bergerak… bukan seperti orang yang hipotermia atau kelelahan. Saya sudah pernah melihat semua kondisi itu di lapangan. Ini berbeda.”

Pak Budi mengetuk-ngetukkan pena ke meja. “Dan dia menggigit Pak Rudi.”

“Iya.”

“Pak Rudi sekarang di rumah sakit.”

“Iya.”

“Dan kondisi Pak Rudi juga mulai…?”

“Dokter jaga yang bisa jelaskan lebih detail. Tapi iya.”

Pak Budi meletakkan penanya. Ia berdiri tanpa kata, lalu keluar ruangan.

Hendra menunggu di kursi plastik yang satu kakinya lebih pendek dari yang lain. Udara ruangan terasa pengap, bercampur bau kopi dingin dan kertas lama.

Dua belas menit kemudian, Pak Budi kembali. Wajahnya sudah berbeda wajah seseorang yang baru menerima telepon yang tidak ingin diterima, tapi tidak bisa ditolak.

“Kita perlu bicara dengan Kapolres malam ini juga.”

“Kenapa?”

“Bapak bukan yang pertama melaporkan kondisi seperti ini dari Ciremai.” Pak Budi mengambil jaketnya. “Ada satu laporan lagi yang masuk dua hari lalu. Jalur berbeda. Kondisi hampir sama.”

Hendra menatapnya tajam.

“Berapa orang yang masih di atas gunung sekarang?” tanya Pak Budi.

“Yang saya tahu ada satu rombongan lima orang. Remaja. Jalur Linggarjati.”

Pak Budi mengancingkan jaketnya. “Kita harus gerak cepat.”

Rabu, 22 Mei Pukul 01.30 WIB

Barak Batalyon Infanteri 305, Majalengka

Lettu Satria tidak tidur.

Malam-malam seperti ini memang kadang datang malam di mana tidur terasa seperti pilihan yang tidak tersedia, di mana pikiran terus berputar tanpa bisa dihentikan. Biasanya ia isi dengan membersihkan senjata, memeriksa perlengkapan, atau duduk di luar barak sambil menatap langit yang tidak pernah benar-benar gelap karena lampu jalan.

Malam ini ia duduk di meja kecil kamarnya, membaca laporan yang dikirim Mayor Handoko sore tadi. Bahasa resminya dipilih sangat hati-hati agar tidak terlalu spesifik, tapi tetap menyampaikan sesuatu yang cukup serius.

Anomali biologis. Zona terisolasi. Potensi bahaya penularan.

Satria sudah membaca baris-baris itu lima kali.

Ponselnya bergetar.

Mayor Handoko.

“Siap, Pak.”

“Satria. Situasinya berubah.” Suara Mayor Handoko langsung tegas, tanpa basa-basi. “Polres Kuningan baru memasukkan laporan formal. Ada dua korban yang sudah dikonfirmasi. Satu pendaki dengan kondisi… tidak standar. Satu anggota SAR yang kena gigitan dan sekarang sudah menunjukkan gejala awal yang sama.”

“Berapa orang yang masih di atas?”

“Satu rombongan pendaki aktif yang terkonfirmasi. Lima orang. Remaja, baru lulus SMA. Masuk tadi pagi lewat Jalur Linggarjati.”

Satria menghitung dalam kepala. Jalur Linggarjati. Jarak dari kaki gunung ke camp di kilometer tujuh. Kondisi malam, kabut tebal. Waktu yang dibutuhkan untuk naik dengan perlengkapan taktis.

“Mereka tahu ada apa di sana?”

“Tidak.”

“Dan kita tidak bisa menghubungi mereka?”

“Sinyal di atas sangat terbatas. Tim SAR sudah coba frekuensi radio tidak ada respons. Kemungkinan besar mereka sudah di tenda dan tidak memantau radio.”

Satria berdiri dari kursinya. Ponsel tetap diapit di antara bahu dan telinga sementara tangannya membuka loker perlengkapan. “Zona isolasi sudah ditetapkan?”

“Lagi proses. Tapi ada komplikasi.” Suara Mayor Handoko turun sedikit. “Informasi dari dokter yang menangani korban SAR. Dia bilang pola penyebaran ini tidak ada di literatur medis yang dikenal. Gigitan tampaknya jadi mekanisme penularan utama, tapi dia belum bisa konfirmasi apakah ada mekanisme lain.”

Satria berhenti sejenak di depan loker.

“Artinya kita tidak tahu seberapa mudah ini menyebar.”

“Artinya kita semua tidak tahu.”

Satria menutup mata selama dua detik, lalu membukanya lagi.

“Saya butuh tim medis lapangan. Bukan hanya P3K standar. Orang yang bisa membaca situasi medis di luar prosedur biasa.”

“Sudah saya pikirkan. Ada dokter di RSUD Cidugal yang sudah menangani dua kasus ini dari awal. Dia yang paling paham kondisinya. Saya sudah minta koordinasi.”

“Namanya?”

“Dr. Sakira.”

Satria menutup telepon. Ia menatap loker perlengkapannya yang sudah terbuka.

Di balik pintu loker, di antara rompi taktis, tali rappelling, dan peralatan lain yang sudah menjadi bagian hidupnya bertahun-tahun, ada foto kecil yang ditempel dengan selotip. Foto dirinya bersama ibunya di sawah kampung halaman.

Satria melihat foto itu sebentar.

Lalu mulai mengeluarkan perlengkapannya satu per satu. Gerakan otomatis, yang tidak perlu dipikirkan lagi karena tangan sudah hafal.

Pintu kamar terbuka tanpa diketuk.

Tio muncul di ambang pintu. Rambut acak-acakan, masih memakai sandal jepit dan baju tidur yang belum diganti. Tapi matanya sudah sepenuhnya terjaga cara bangun yang hanya bisa dicapai orang yang sudah lama terlatih bangun dalam hitungan detik.

“Saya dengar percakapan Anda dengan Nandan,” kata Tio.

“Kembali tidur.”

“Kita berangkat kapan?”

Satria menatapnya sebentar, lalu kembali ke loker. “Subuh. Jam empat.”

“Lokasi?”

“Ciremai. Zona barat-laut.”

Tio diam sejenak. Lalu, dengan nada yang berbeda dari biasanya bukan keluhan, bukan sindiran ia bertanya, “Serius kali ini ya?”

“Iya.”

Tio mengangguk. Tanpa komentar tambahan.

“Saya siapkan tim Anda,” katanya akhirnya, lalu pergi sebelum Satria sempat menjawab.

Satria menarik napas panjang. Ia menatap perlengkapan yang sudah tertata rapi di atas tempat tidur.

Di luar jendela, langit masih gelap pekat. Masih berjam-jam sebelum subuh.

Tapi di suatu tempat di atas sana, di ketinggian yang tidak bisa dijangkau cahaya lampu barak ini, lima orang sedang terjaga dalam kegelapan, menunggu pagi yang belum tentu membawa apa yang mereka harapkan.

Dan di antara pohon-pohon yang tidak tercantum nama di peta mana pun, sesuatu yang sudah menunggu lebih lama dari semua yang ada dalam cerita ini terus berdiri. Terus bergerak. Terus menjalankan tugasnya dengan kesabaran yang tidak mengenal batas.

1
Kustri
lanjutkan!!!
Kustri
oalah zidan... zidan orang terbirit" kamu malah nyantai😂
Kustri
semangat buat lanjutin karyamu ini
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
Kustri
hlaa py to, saya jg sdh siap melanjutkan, koq malah mentok😩
Kustri
kamu salah 1 dr mrk, tubuhmu ada zat yg sama dgn mrk zidaaaan... 😁bener gk sih thor🤭
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
Kustri
mayan di swalayan stok makanan & minuman aman👌🤭
Kustri
☕tak sogok biar crazy up🤭😁
Kustri
weh zidan 🎷🎼ada apa dgnmu...
Kustri
ngeyel BGT👊👊👊wae
Kustri
qu msh capek, dok masa iya baru nyampe bawah, istirahat jg blm masak suruh naik lagi😫😫😫
Kustri
ky'a satria gk nyebut zidan, koq sakira tau yg terpapar itu zidan🤔ampe qu ulang baca'a🤭
NR: wkwk, terimakasih kak.
total 1 replies
Kustri
diminumin air kelapa ijo x yaa🤭
Kustri
memukul jgn hanya pukul
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
Kustri
wah zidan ky'a terpapar dr serbuk nih, melihat kondisi'a
Kustri
eumm... dr jamur yg fajar makan waktu kelaparan itu yaa
Kustri
kira" apa obat penyembuh'a ya🤔
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
t-rex
suka banget upnya langsung banyak gini. btw Thor, perkiraan end dibab berapa? wkwk. mau nabung bab😭😭🤭
NR: Up banyak kalo lagi ada ide aja kak wkwk, kalo up nya cuman 1 bab itu lagi stuck alur ceritanya mao dibawa kemana yak ini wkwk,
total 1 replies
Kustri
qu koq deg"an klu zidan terpapar😫
lanjut lagii
Kustri
lanjuuut 👉👉👉
Kustri
bisa gk thor kalimat"nya diperhalus, perasaan dipart" awal kalimat'a enak dibaca
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪
NR: oke kak, terimakasih saran nya, 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!