Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peringatan yang Tak Terucap
Lauren membanting pintu kamarnya hingga debu-debu halus berterbangan di udara. Napasnya memburu, paru-parunya terasa seperti baru saja menghirup kabut belerang yang mencekik. Ia tidak memedulikan teriakan Maria di lantai bawah yang menanyakan mengapa ia pulang dengan wajah sepucat mayat. Lauren mengunci pintu, menyandarkan punggungnya pada kayu yang keras, dan perlahan merosot hingga terduduk di lantai.
"Kamu hampir mati, Lauren! Kamu benar-benar gila!" Suara Herza menggelegar di dalam ruangan yang sunyi itu.
Arwah remaja itu muncul di depan Lauren dengan pendar perak yang berkedip liar, hampir menyerupai kilatan listrik yang tidak stabil. Wajah Herza yang biasanya tenang kini dipenuhi guratan kemarahan yang amat sangat. Ia melayang rendah, menatap tajam ke arah Lauren yang masih memegangi dadanya.
"Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja, Herza! Bayangan itu... mereka mengejarnya!" balas Lauren dengan suara serak.
"Lalu apa bedanya denganmu? Kamu juga diburu! Tapi kamu malah dengan sengaja menyodorkan lehermu ke arah pemuda itu!" Herza memutar tubuhnya di udara, gerakan yang menunjukkan kegelisahan yang luar biasa.
"Tidakkah kamu mengerti? Bayangan yang kamu lihat di sekolah tadi bukan hanya pengintai. Mereka sedang memicu ledakan. Mereka menggunakan kehadiranmu untuk membangunkan apa yang ada di dalam diri Banyu!"
Lauren mengepalkan tangannya di atas ubin dingin.
"Banyu juga manusia, Herza. Dia punya hak untuk diselamatkan. Dia tidak memilih untuk membawa kutukan itu!"
"Dia bukan manusia biasa lagi, Lauren! Berhenti bersikap naif!" Herza mendarat di depan Lauren, tatapannya kini berubah menjadi sangat dingin hingga Lauren bisa merasakan hawa es menusuk tulang keringnya.
"Banyu bukan hanya korban. Dalam rencana besar Sang Arsitek, dia adalah 'pintu'. Sebuah portal biologis yang dirancang khusus melalui garis keturunan Danuarta."
Lauren tertegun. Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya seperti racun.
"Pintu? Maksudmu... dia yang akan membuka jalan bagi mereka?"
"Lebih buruk dari itu," bisik Herza.
"Dia adalah lubang kunci, dan kamu adalah kuncinya. Jika kamu terus mendekatinya, energi murnimu akan melumasi mekanisme gerbang itu. Begitu kalian bersentuhan dalam kondisi ritual yang tepat, tidak akan ada lagi yang bisa menutupnya. Banyu akan hancur, jiwanya akan dikonsumsi untuk menjadi jembatan bagi entitas purba itu masuk ke dunia kita."
Lauren bangkit berdiri dengan kaki yang masih gemetar. Ia berjalan menuju jendela, menatap ke arah luar di mana kegelapan malam mulai merayap naik. Pikirannya melayang pada Banyu. Ia teringat bagaimana pemuda itu melindunginya di perpustakaan, bagaimana matanya yang gelap tampak begitu rapuh saat ia menceritakan tentang ayahnya.
Apa ini semua hanya sandiwara? Lauren membatin.
Ataukah Banyu benar-benar tidak tahu bahwa dirinya adalah bom waktu?
"Aku melihatnya, Herza," kata Lauren pelan, suaranya bergetar oleh emosi.
"Saat aku bersentuhan dengannya, aku tidak hanya merasakan kegelapan. Aku merasakan kesepian yang sama dengan yang kurasakan selama belasan tahun ini. Dia takut. Dia sendirian di sana."
"Kesepian adalah umpan yang paling disukai iblis, Lauren," sahut Herza pahit.
"Aku sudah hidup lebih lama darimu di dunia ini, meski sebagai arwah. Aku sudah melihat bagaimana perasaan-perasaan seperti itu digunakan untuk menjerat orang-orang sepertimu. Cinta, empati, ketertarikan... itu semua adalah jaring yang mereka pasang agar kamu tidak lari."
"Kamu bicara seolah-olah Banyu adalah monster!" Lauren berbalik, matanya berkilat karena amarah yang bercampur dengan kepedihan.
"Dia baru tujuh belas tahun, Herza! Sama sepertiku!"
"Tujuh belas tahun yang mematikan!" Herza melesat mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Lauren.
"Sepuluh tahun lalu, seluruh keluarganya mati untuk menjaganya tetap 'murni' sebagai wadah. Kamu pikir itu kebetulan? Kamu pikir ayahnya pindah ke sini karena ingin melupakan masa lalu? Tidak! Mereka ditarik ke sini karena kamu ada di sini!"
Lauren terengah, air mata mulai menggenang di sudut matanya. Setiap kata yang diucapkan Herza terasa seperti palu yang menghancurkan secercah harapan yang baru saja ia bangun. Ia mulai membayangkan Banyu—pemuda yang diam-diam mulai ia sukai—sebagai sesosok monster yang akan menelannya bulat-bulat.
"Kamu mulai takut padanya, kan?" tanya Herza, nada suaranya sedikit melunak namun tetap mengandung peringatan.
Lauren tidak menjawab. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang tadi sempat menyentuh lengan Banyu. Rasa hangat yang aneh itu masih tersisa, namun sekarang rasa itu terasa seperti luka bakar yang menjalar. Ia mulai membayangkan mata merah di punggung Banyu kembali terbuka dan menatapnya dengan penuh kemenangan.
"Iya," bisik Lauren akhirnya. Suaranya pecah.
"Aku takut padanya. Tapi aku juga takut untuk membiarkannya sendirian."
Herza memejamkan matanya, pendar tubuhnya meredup secara drastis. Ia tampak sangat letih, seolah perdebatan ini telah menguras seluruh sisa energinya. Ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara detak jam terdengar seperti hitungan mundur menuju kehancuran.
"Lauren," panggil Herza lirih.
Lauren menoleh. Ia melihat Herza menatapnya dengan pandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Bukan kemarahan, bukan otoritas seorang mentor, melainkan sebuah kesedihan yang begitu murni dan dalam.
"Aku pernah melihat ini sebelumnya," kata Herza, suaranya bergetar.
"Bertahun-tahun lalu, sebelum aku terjebak di sekolah itu. Ada seorang gadis indigo lain. Dia pikir dia bisa menyelamatkan 'pintu' miliknya dengan kekuatan cinta. Dia pikir takdir bisa dilawan dengan ketulusan."
"Lalu apa yang terjadi padanya?" tanya Lauren penasaran.
Herza menatap lantai, tangannya yang transparan mengepal kuat.
"Dia tidak hanya kehilangan nyawanya. Dia kehilangan jiwanya. Dia menjadi bagian dari kegelapan itu, selamanya terperangkap dalam penderitaan yang tidak memiliki akhir. Dan pemuda yang ia cintai? Pemuda itu menjadi orang pertama yang merobek jantungnya saat entitas purba itu mengambil alih tubuhnya."
Lauren merasakan bulu kuduknya berdiri tegak. Bayangan mengerikan itu melintas di benaknya, menggantikan imajinasi romantis tentang Banyu. Ia melihat dirinya sendiri bersimbah darah di bawah tatapan mata gelap Banyu yang sudah berubah menjadi merah bara.
"Aku tidak ingin itu terjadi padamu," bisik Herza.
Lauren melihat sesuatu yang mustahil. Dari sudut mata arwah remaja itu, sebuah tetesan pening tampak mengalir turun, bercahaya redup sebelum akhirnya menguap menjadi uap perak. Herza sedang menangis. Sesosok arwah yang sudah mati selama sepuluh tahun, yang seharusnya tidak lagi memiliki kelenjar air mata, kini sedang menangis di depan Lauren.
"Herza..." Lauren mencoba menjangkau, namun tangannya hanya menembus udara yang sangat dingin.
"Tolong, Lauren. Kali ini saja, dengarkan aku," isak Herza, suaranya pecah oleh trauma masa lalu yang kembali menghantuinya.
"Jangan biarkan sejarah berulang. Jangan buat aku harus melihat orang yang kusayangi hancur lagi di depan mataku sendiri. Aku tidak akan sanggup menanggungnya lagi."
Lauren terpaku melihat kerapuhan mentornya. Ketegaran yang selama ini ditunjukkan Herza runtuh sepenuhnya, memperlihatkan seorang remaja yang sebenarnya sangat ketakutan dan penuh penyesalan. Di tengah remang kamar itu, Lauren menyadari satu hal yang menyakitkan: ia tidak hanya harus memilih antara hidup normal dan takdirnya, tapi juga antara perasaannya sendiri dan keselamatan jiwa orang-orang di sekitarnya.
Lauren perlahan merangkul dirinya sendiri, menatap medali di mejanya yang kini berpendar merah kusam seolah sedang memperingatkannya akan bahaya yang semakin dekat. Di luar jendela, ia bisa melihat sebuah bayangan hitam tinggi sedang berdiri diam di dahan pohon mangga di depan rumahnya, menatap lurus ke arah jendela kamarnya dengan mata merah yang membara.
Ancaman itu nyata. Dan Banyu adalah pusat dari segalanya.
"Aku akan mencoba menjauh, Herza," bisik Lauren, meski hatinya terasa seperti diremas kuat.
"Aku janji."
Herza hanya mengangguk lemah, tubuhnya perlahan memudar meninggalkan Lauren dalam kesendirian yang menyesakkan. Namun, jauh di lubuk hatinya, Lauren tahu bahwa janji itu akan sangat sulit ditepati, terutama saat ia mendengar suara langkah kaki yang berat dari arah balkon luar—langkah kaki yang sangat ia kenali sebagai milik seseorang yang seharusnya tidak ada di sana malam ini.
Lauren menelan ludah, tangannya meraba mencari medali perunggu di atas meja. Jantungnya berdegup kencang saat ia melihat sesosok siluet berdiri di balik tirai jendela kamarnya yang terbuka sedikit.