"Jawab jujur pertanyaan saya, apa kamu orang yang tidur dikamar hotel saya?" tanya Kaivandra Sanzio Artamevia.
Seana Xaviera Levannia menatap mata pria berbahaya itu, sebelum akhirnya perlahan&amp melangkah mundur. "B-bukan saya kok Pak--"
..
Kaivandra Sanzio Artamevia, seorang pria yang paling dikenal di kota ini. Di pria kejam dan haus darah dengan kecenderungan menggunakan metode brutal, dan tidak menusiawi. Tidak ada wanita yang berani mendambakannya, meskipun Zio diberkahi dengan penampilan yang tampan.
Tanpa diduga, seorang wanita berhasil tidur dengannya ketika dia sedang dalam keadaan mabuk! Ketika Zio mengacak-acak seluruh dunia hanya untuk mencari wanita misterius itu, dia baru menyadari bahwa tubuh sekretarisnya semakin berisi.
Apakah kebenaran yang selama ini ditutup rapat-rapat, akan terbongkar lewat kecurigaan Zio?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Gloretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Seana mengernyitkan dahinya, lalu bertanya. "Gimana kalau aku ngga mau nikah sama Pak Zio?." Neneknya pernah bilang, bahwa tidak akan bahagia sebuah pernikahan jika diri sendiri tidak mencintai prianya.
Meskipun ini hanya pura-pura, dia tidak ingin berbohong terus-menerus.
Ekspresi Mike yang tadinya tanpa kegembiraan berubah menjadi semakin dingin. "Kamu tadi denger perkataan Pak Zio, kan? Kalau kamu menolak, hanya akan ada satu pilihan, kamu harus pergi dari kota ini."
Seana ingin mengatakan lebih banyak kata, tetapi tatapan tajamnya mengingatkannya akan kesulitan yang dihadapinya. Dia terjebak dan tidak punya pilihan.
Ketika Mike menyadari bahwa Seana tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan, ia langsung bertanya." Dokumen kamu ada dirumah atau di apartemen karyawan?."
"Dokumennya ada di rumah, Pak."
"Kamu boleh pulang sekarang, dan ambil dokumen kamu di rumah. Jadi, besok pagi, kamu tinggal laporan ke Pak Zio."
Akhirnya Seana merasakan bagaimana rasa pernikahan paksa. Ia selalu membayangkan pernikahan sebagai acara suci dengan penuh cinta. Kedua keluarga saling berkumpul untuk membahas pernikahan yang sakral.
Meminta dokumen ibunya untuk menjadi wali, bukanlah sesuatu yang pernah ia duga. Terlepas dari ancaman yang membayangi dirinya, yang bisa ia lakukan hanyalah mengangguk.
"Berapa lama aku harus pura-pura jadi istri Pak Zio?."
Mike mengangkat sebelah alisnya. "Apa maksudnya berapa lama?."
"Bukannya mas Mike tadi bilang kalau ini cuma pernikahan palsu?." Seana yang sudah sadar, tahu tidak ada jalan keluar. Yang bisa ia lakukan hanyalah meminta mereka untuk memperjelas persyaratannya.
Mike mengernyitkan dahinya. "Kamu harusnya tanya langsung ke Pak Zio." yang Mike tahu hanyalah ia harus membuat Seana menyerah. Dia juga tidak tahu berapa lama Seana dan Sanzio harus terus berpura-pura.
Ekspresi Seana berubah sedih. Dia tidak mampu mengumpulkan keberanian untuk bertanya langsung kepada Sanzio dan keluar dari ruangan Mike dengan linglung. Wajahnya pucat.
....
Sementara itu, Sanzio sedang memeriksa berkas dikantornya ketika ia melihat sekilas Seana yang sedang berkemas dan seperti hendak pergi. Melihat raut wajah murung Seana, membuat Sanzio sedikit tidak senang.
Bersamaan dengan itu, Mike masuk ke kantor Sanzio.
"Apa semuanya udah jelas?." Tanya Sanzio pada Mike.
Mike mengangguk. "Seharusnya bapak yang menyampaikan ini pada Seana. Ini tentang pernikahan dan saya sulit menjelaskannya."
Sanzio justru mengancam Seana begitu dia membuka mulut. Bagaimana jika Seana kabur karena ketakutan? Memang ada banyak wanita yang langsung setuju untuk menikah dengannya di kota besar ini, tetapi tidak mudah menemukan yang tepat.
Keheningan terasa ketika Sanzio menyadari kesalahannya. Jelas sekali keengganan Seana telah menganggu pikirannya.
"Saya bilang kalau Seana boleh pulang lebih dulu untuk mengambil dokumen identitasnya untuk persyaratan pernikahan." Kata Mike.
Sanzio hanya bergumam sebagai jawaban, Mike juga berpikir tidak masuk akal baginya jika terus bertanya pada Sanzio tentang masalah ini. Lagipula, ini hanyalah pernikahan demi kepentingan. Tidak perlu terlalu memikirkan etika pernikahan yang semestinya.
Di sisi lain, Seana tidak langsung pulang. Ia malah mengirim pesan pada Velia dan saat ini ia duduk didekat taman bunga, tak jauh dari gedung perusahaan. Menunggu Velia.
Velia segera bersiap-siap, setelah muncul, dia langsung duduk didekat Seana. Napasnya terengah-engah.
Seana memberikan sebotol minuman dan Velia segera meneguknya.
"Ada berita penting apa?." Tanya Velia setelah selesai minum.
"Besok aku nikah."
Velia menyemburkan minumannya sebagai respon reflek nya. Dia menatap Seana dengan kedua mata terbelalak. "Apa, lo barusan ngomong apa? Kayaknya gue salah denger. Lo ngga mungkin nikah duluan, kan? Katanya lo mau nabung dulu, dan masih ada banyak alasan supaya lo ngga nikah dulu."
Seana menundukkan kepalanya. "Aku bakal nikah sama Pak Zio."
"Bentar, lo ngga lagi bercanda? Ini seriusan gitu?." Velia bingung.
Mike telah menjelaskan bahwa ini adalah pernikahan pura-pura dan tidak akan diumumkan. Tetapi Seana tidak ingin menyembunyikannya dari sahabatnya. Bagaimana mungkin? Dia menceritakan semua yang telah terjadi dari awal hingga akhir.
Mulut Velia ternganga ketika mendengar Seana akhirnya menceritakan semua yang terjadi padanya.
"Apa mereka tau kalau cewek itu sebenarnya lo?." Tanya Velia, lalu terdiam sejenak.
Seana menggelengkan kepalanya. "Mereka belum tahu apa-apa. Tapi mulai sekarang, aku harus bilang kalau aku istrinya Pak Zio kalau ada orang yang tanya."
Velia masih kebingungan. Lelucon macam apa ini? Jadi, Sanzio masih belum mengetahui bahwa wanita itu adalah Seana. Tetapi Sanzio harus menikah dan meminta Seana berpura-pura menjadi wanita dari malam itu. Mengapa harus repot-repot melakukan ini? Apakah ini untuk menggagalkan semacam rencana jahat dari awal?
Butuh beberapa saat bagi Velia untuk menyusun detailnya di dalam pikirannya. Dan menghela napas tak percaya. "Jangan-jangan lo sama Pak Zio sebenarnya adalah jodoh yang ditakdirkan bersama?."
Tetapi jika Sanzio mengetahui bahwa Seana lah, wanita itu. Maka konsekuensinya akan jauh berbeda dari apa yang terjadi sekarang.
"Lo harus setuju?."
"Kalau aku tolak, aku diusir dari kota ini." Jawab Seana
"Kita udah sejauh ini berusaha supaya rahasia itu ngga terbongkar. Kita ngga punya pilihan selain terus nyembuyiin masalah ini."
Keheningan Seana, membuat Velia bertanya. "Keputusan lo gimana?."
"Aku nanti mau pulang ke rumah dan ambil dokumen identitasku." Jawab Seana.
Velia memberikan kunci mobilnya pada Seana, setelah mendengar bahwa Seana akan pulang ke rumah. "Ini, lo bisa pake mobil gue."
"Ngga." Seana menggelengkan kepalanya. "Aku lagi males nyetir mobil sendiri."
Pulang ke rumahnya yang berada dipinggiran kota, dengan mengemudikan mobil bmw milik Velia akan terlihat sangat mencolok.
"Kalau gitu, gue anterin lo ke stasiun."
Seana kembali menggelengkan kepalanya. "Ngga perlu kok. Sebelum pulang nanti aku masih harus mampir ke mall. Bawain oleh-oleh buat orang rumah."
Meskipun mereka tinggal dikota yang sama, Seana jarang mengunjungi rumah karena khawatir akan membuat kakak perempuannya dalam posisi sulit. Tetapi, ketika berkunjung, Seana selalu membawakan hadiah untuk keponakannya agar kakak iparnya tidak bisa menghinanya.
"Terserah lo mau mampir ke mana dulu, yang penting gue pengen nganterin lo." Velia kehilangan kesabarannya ketika Seana terus menolak tawarannya...
Seana tersenyum dan memeluk sahabatnya. "Kamu yang terbaik, Velia Natasya."
Velia selalu menunjukkan kebaikannya pada Seana sejak awal mereka berteman.
Ketika mereka pertama kali bertemu. Masa sma adalah masa utama bagi anak-anak untuk membentuk pandangan mereka tentang dunia. Banyak teman sekelasnya yang menunjukkan rasa jijik pada Seana karena kemiskinannya. Hanya Velia, anak orang kaya dimata banyak orang, yang mau bermain dengan Seana.
Velia sangat senang mendengar kata-kata Seana. Sebagian besar tekanan karena rasa takut ketahuan pun hilang. "Baru tau ya kalau gue yang terbaik?"
...
Setelah masuk kedalam mobil Velia, Seana menghubungi kakaknya. Dia ingin bertanya berapa ukuran baju untuk keponakannya. Tetapi kakak perempuannya justru terdengar nada cemas. "Kamu ngga perlu repot-repot, Seana. Keponakan kamu udah punya banyak baju. Kamu seharusnya lebih merhatiin diri kamu sendiri sekarang. Kalau ada uang lebih sebaiknya ditabung."
Seana merasakan kehangatan menjalar di tubuhnya karena kepedulian kakaknya. Dia tahu betapa hematnya kakaknya itu. Pakaian anak-anak sekarang jauh lebih berkualitas, dan butuh waktu lama untuk rusak. Namun, Seana melihat pakaian keponakan yang semakin pendek setiap kali dia berkunjung! Keponakannya memang memiliki banyak pakaian, tetapi itu hanya karena kakaknya tidak tega membuangnya. Kakaknya tidak pernah berusaha keras untuk membeli pakaian baru.