NovelToon NovelToon
Its Always Been You, Fraya

Its Always Been You, Fraya

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Juno Bug

Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.

Sampai Fraya Alexandrea datang.

Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.

Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.

Rindu. Candu. Obsesi.

Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

An Arrival I Never Prayed For

"Fraya, sudahlah. Jangan dilihatin terus. Papa takut kamu jadi beneran stres."

​Suara Papa yang masih terbata-bata saat mengucapkan deret kalimat berbahasa Indonesia tadi langsung memecah mendung yang sejak tadi menggantung di mata Fraya.

Angka 60 di lembar kertas ujiannya masih jadi perhatian khusus yang sudah menyita seluruh emosi Fraya sejak pulang sekolah tadi.

Ingin sekali Fraya hapus angka itu, namun dia tahu sikap konyolnya ini karena dia sudah mulai frustasi dengan ujian kuis Hörverstehen tadi.

​"Gimana mau dapet early admission interview dari Oxford kalau buat lolos mata pelajaran Jerman aja ternyata bakal sesulit ini, Pa." keluh Fraya.

Ia menyerah sambil menjatuhkan kepalanya ke atas meja dapur dengan bunyi duk pelan. Bibirnya mengerucut, kepalanya kini mulai pusing. Sejak tadi, dunianya cuma berputar di sekitar kegagalan Bahasa Jerman nya saja.

​Papa Fraya, Eric Moore, berjalan mendekat. Tangannya yang besar meremas kedua bahu Fraya, berusaha menyalurkan kekuatan supaya putri semata wayangnya itu berhenti merutuki diri sendiri. Kali ini dicoba tenangkannya Fraya dalam bahasa Inggris,

"Kan ujiannya nggak cuma sampai di sini saja. Ini kan kata kamu juga cuma kuis dadakan, jadi jangan dijadikan momok dari kegagalan kamu, sweetheart."

​Tidak jauh dari mereka berdua, Mama tengah sibuk dalam dunianya sendiri. Tangannya sedang mengaduk adonan daging di dalam mangkok besar. Saking semangatnya, Mama yang biasanya paling sigap jadi tempat curhat kalau Fraya lagi galau begini, sampai belum merespons apa-apa.

​Mama hari ini benar-benar semangat sekali masak bakso. Sejak seminggu yang lalu dia sudah sibuk berburu food processor untuk ia gunakan menggiling daging agar adonan baksonya bisa seenak bakso langganan Mama di Jakarta.

Semenjak pindah ke London, keluarga ini memang merana soal urusan lidah. Makanan Inggris yang terkenal minim rasa itu sukses bikin Mama maupun Fraya jadi rindu masakan Indonesia. Mereka rindu rendang, sambal goreng hati, dan pastinya, bakso. Semua makanan yang kaya akan bumbu dan rempah-rempah.

​Waktu Papa cerita kalau Mama habis beli alat masak baru, Mama senangnya bukan main. Papa sih, tipikal suami yang bakal melahap apa saja yang tersaji di meja, jadi ikut semangat juga. Walaupun kalau sudah diminta ikut bantu didapur, Papa paling cuma jago cuci piring.

​Papa berdesit, mencoba mencuri perhatian istrinya. "Ssst... Ma, ini bagaimana anak Mama? Masa galaunya ngalahin seperti baru diputusin pacar."

​Mama akhirnya menoleh. Wanita bertubuh gempal dengan rambut ikal sebahu yang diikat asal itu terkekeh sambil berkacak pinggang sebelah. Ditatapnya sang anak semata wayang yang masih nempel di meja dapur seperti perangko.

​"Sayang, sudahlah. Lagian, hari ini kan kita udah mau makan makanan kesukaan kamu. Mending kalau kamu nggak mau bantuin Mama, kamu nonton sepak bola saja gih temenin Papa. Papa juga, ngapain tumben di dapur! Biasanya Papa paling anti ke sini kalau makanannya belum siap!"

​Papa Fraya adalah sosok yang dari luar tampak begitu keras. Tidak jarang ia disebut mirip sekali dengan aktor Gerard Butler karena postur tubuh serta struktur wajahnya yang banyak orang bilang seperti hasil copy-paste saja.

Teman-teman sekolah Fraya di Jakarta bahkan dulu juga sering gemetaran waktu bertemu Papa pertama kali setiap mereka sedang main kerumah Fraya.

Tapi begitu sudah kenal, Papanya ini bisa lebih lucu dari pelawak mana pun yang sering mondar-mandir di televisi.

​Sedangkan Mamanya adalah sosok paling menyenangkan sekaligus mengerikan kalau sudah marah.

Andreanna Yuliastuti adalah tipikal ibu yang nyaris tidak pernah menuntut Fraya atau mendikte apapun keinginan dan mimpi Fraya dimasa depan. Tapi kalau sudah marah, Mama bisa lebih galak dari preman di pasar. Papa sendiri kalau sudah bikin Mama geram, Papa akan lebih bijak untuk menyingkir dulu sebelum taring Mama mampu mencabik-cabik Papa.

"Jadi, kamu mau tetap di sini merenungi nasib nilai bahasa Jerman 60 kamu ini sampai tahun depan, atau kamu mau ikut Papa nonton bola saja?" Papa yang tadi hendak melangkah ke ruang TV, kembali berhenti dan berputar menghadap putrinya yang belum bergerak juga dari kursi makan.

​Sambil mengangkat wajah dengan ogah-ogahan, Fraya menatap Papanya dengan malas.

"Aku mau bantuin Mama saja bikin bakso! Kalau nonton bola sama Papa, berisik. Papa suka teriak-teriak nggak jelas soalnya!"

​Papanya meringis mendengar sindiran maut sang putri. Tapi dengan cuek Papa melenggang kembali ke ruang TV untuk menonton pertandingan bola yang sudah akan dimulai.

​"Ma, Mama punya korek, nggak?" Kali ini Fraya melempar bisikan ke Mamanya dalam bahasa Indonesia. Membuat sang Mama yang kini tengah sibuk membulat-bulatkan adonan bakso kedalam panci langsung mengernyit bingung sambil balik badan.

​"Heh, buat apa?" Mama Fraya malah balik bertanya dengan bahasa yang sama.

​Fraya berdecak, masih sambil bisik-bisik. "Fraya mau bakar kertas ujian Fraya ini. Fraya udah niat banget dari pas tadi di sekolah."

​Mama melotot kaget seketika, tapi sedetik kemudian tawa langsung meledak sampai dirinya terbatuk-batuk.

​"Ih, Mama kok malah ngetawain, sih! Ini Fraya serius mintanya!" Fraya jadi sebal sendiri melihat Mamanya sampai kesusahan napas gara-gara tawanya yang berlebihan.

​"Kamu tuh ya," Mama menaruh sendok dan melepas sarung tangan, lalu menghampiri Fraya seraya menarik lembar kertas ujian bahasa Jerman itu dari tangan putrinya.

​Sambil mengacungkan lembar jawaban terkutuk itu, Mama berkata, "Daripada kamu bakar, ini mau Mama simpan. Mau Mama pajang di ruang tengah, tepat di sebelah rak lemari di dekat TV. Anggap saja ini pajangan."

​Fraya mendengus sebal sambil bersedekap. Mamanya ini memang unik sekali. Unik bin aneh. Tidak seperti ibu-ibu lain yang biasanya akan murka kalau anaknya dapat nilai jelek, Mama Fraya justru lebih sering meledeknya seperti ini.

​"Maksudnya apa Mama mau pajang begitu? Kayanya bukan buat motivasi Fraya supaya belajar lebih giat, kan? Karena mustahil Mama jadi ibu versi begitu."

​Mama terkekeh, namun tatapannya menghangat seperti senyum di bibirnya.

"Biar kamu tahu kalau nilai ini manusiawi, sayang. Biar kamu tahu kalau kamu itu manusiawi. Yang kamu kerjakan di sekolah itu nggak melulu soal nilai bagus. Nilai ini adalah simbol manusiawi dari diri kamu, supaya kamu punya rem untuk bisa melakukan hal lain selain belaja. Mama sih, tetap bangga sama anak Mama walaupun nilai Bahasa Jermannya dapat 60. Nulisnya tebel banget lagi nih pake spidol merah."

​Fraya kembali berdecak. "Tapi Fraya kan lagi ngejar Oxford, Ma. Kalau Fraya nggak persiapin dari sekarang supaya bisa lulus nilai akumulatif Bahasa Jerman, bisa nggak dapat surat rekomendasi Fraya dari Milford."

​Mama menghela napas sambil menatap putrinya seolah ingin sekali ia jitak saat ini juga.

"Fraya, Oxford itu nggak cuma menilai dari nilai Bahasa Jerman kamu saja, sayang. Ini cuma salah satu indikator saja, bukan utama. Kamu juga masih punya waktu buat memperbaiki ini semua. Jadi, take a chill pill, okay? Kalaupun yang terburuknya, tahun ini kamu gagal masuk Oxford, kamu masih bisa coba tahun depan. Usia kamu ini sebenarnya kan masih duduk dikelas Sophomore. Tapi dengan kamu bisa masuk Akselerasi saja dan masuk ke level Senior year, itu bakal jadi pertimbangan untuk Oxford ngasih jalan untuk kamu, Fay."

Fraya terdiam cukup lama. Ucapan Mama nya ada benarnya juga. Tapi ada satu hal terbesit dipikirannya, yang membuatnya ingin mengatakan alasan mengapa ia begitu ingin cepat-cepat bisa masuk ke Oxford.

"Fraya pengen Mama lihat Fraya masuk ke Oxford, Ma." ujar Fraya begitu lirih, membuat Mama nya tertegun sejenak.

Tangan Mama terangkat untuk mengusap sisi rambut Fraya dengan sayang. Hatinya terenyuh mendengar anak semata wayangnya berujar demikian.

"And i will be," kata Mama Fraya dengan nada meyakinkan. Ditepuknya punggung tangan Fraya selali mengusap bahu Fraya, "We're still have a lot of time. Don't worry about it."

Fraya menggigit bagian dalam pipinya kuat-kuat tanpa Mama nya tahu, menahan diri agar dirinya tidak mulai terisak didepan Mama.

Mama berjalan melenggang kembali ke tungku kompor listriknya sambil menempel lembar ujian Fraya di pintu kulkas, bikin Fraya jadi terkekeh waktu Mama menempel pin kulkas kuat-kuat, seolah tengah mengejek sekaligus menantang angka 60 merah didepannya itu.

Sambil kembali berkutat, Mama melempar tanya, "Lagian, kamu kenapa nggak minta pendalaman materi saja sih ke tutor Bahasa Jerman kamu? Dia sudah tahu belum sama nilai ujian kamu ini?"

​Mendengar Mama menyebut kata "Tutor" itu secara ajaib menghapus kesedihan di kedua mata Fraya dalam sekejap. Kembali cewek itu melenguh panjang sambil menjatuhkan kepalanya lagi ke meja dapur.

Fraya sampai detik ini belum juga bercerita soal apa yang terjadi beberapa hari kemarin di sekolahnya, yang pada akhirnya bikin dia memutuskan untuk tidak mau lagi melanjutkan apa pun yang berkaitan dengan Damian Harding.

Tapi kalau dipikir-pikir sekarang, sepertinya ucapan Damian Harding ada betulnya juga. Sepertinya memang mustahil kalau Fraya sampai meminta ganti tutor ke Mrs. Crabtree sementara materi belajarnya dengan Damian sudah setengah jalan.

​Mama kali ini enggan berkomentar melihat putrinya masih sibuk rungsing di meja dapur. Ia hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala.

"Sudah, ayo bantuin Mama. Biar ini kekejar buat makan malam."

​Fraya akhirnya mengangguk, walaupun pasrah. Biarlah apa pun yang terjadi ke depannya, semesta memang suka bercanda kalau sudah menyangkut urusan Fraya berencana.

​Fraya baru akan turun dari kursi makan tinggi di meja dapur untuk bergegas membantu Mamanya masak, ketika ia teringat akan sesuatu yang sudah sejak kemarin ingin ia tanyakan.

​"Oh iya, jadwal kemoterapi Mama kapan lagi?"

Suara bel pintu tiba-tiba saja berdenting sebelum Mama nya menjawab. Dan sebelum Fraya turun dari kursi makannya yang tinggi untuk membukakan pintu, Papa sudah lebih dulu muncul sambil melirik Mama nya takut-takut.

"Dont yell at me, tapi Papa sebenarnya sejak tadi ada pesan Pizza."

Mama Fraya langsung mendelik tajam dan nyaris melempar adonan bakso ditangannya, "Papa gimana, sih! Kok baru kasih tahu sekarang?!

Bunyi bel pintu kembali berdenting beberapa kali. Sambil berjalan tergopoh-gopoh demi menghindari amukan Mama Fraya, Papa berseru seraya mengeluarkan lembaran poundsterling dari dompetnya,

"Papa sebenarnya sudah lapar daritadi, dan pengen pizza. Tapi Papa janji nanti bakso nya tetap Papa makan. Pasti bakso bikinan Mama enak sekali."

Sebelum Mama nya mengoceh panjang lebar, Papa sudah kabur ke ruang depan untuk menerima pesanan Pizza nya.

Walaupun Mama nya kesal, tapi sebenarnya Fraya tahu Mama bisa memaklumi saja. Dengan tubuh sebesar Papa Fraya, memang tidak ayal kalau porsi makan Papa ini sangat banyak.

Fraya barusaja turun dari kursi makan, niatnya ingin mulai membantu Mama nya membuat bakso, ketika sayup-sayup Fraya mendengar suara yang begitu familier dari arah pintu rumah yang dengan sukses membuat kakinya berhenti melangkah menghampiri Mama.

"Pa?" seru Fraya penasaran, dan sejujurnya perasaannya mulai tidak enak karena suara itu seperti sengatan lebah yang Fraya ingin hindari.

Memutuskan untuk mengintip sebentar, Fraya melangkah ke depan ruang tamu untuk memastikan yang didepan rumahnya memang pengantar Pizza.

"Pa, pizza nya sudah data--"

Suara Fraya tercekat di tenggorokan saat yang ditemuinya didepan pintu rumahnya bukan si pengantar Pizza.

Melainkan Damian Harding.

1
Ris Andika Pujiono
aku baca cerita ini seperti ninton film
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
Ris Andika Pujiono: asyik bisa ditungguin dong. sampai tamat 😎🥰🫰
total 4 replies
Ris Andika Pujiono
kaan Alana keluar 😔😎
Ris Andika Pujiono
kini aku punya hobby baru
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
Ris Andika Pujiono
omG sepertinya akan banyak masalah diantara mereka 😔😔😔😔😔
terima kaaih kak udah upp
Ris Andika Pujiono
kasian Damian 🥲
Ris Andika Pujiono
awas lu Damian sampe nyakitin Fraya 😎
Ris Andika Pujiono
yg baca senyum2 sendri thor
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
Ris Andika Pujiono
semoga semoga kalian baik2 saja Fraya & Damian
Ris Andika Pujiono
seruuuuuuu aku suka ceritamu kak
up terus ya tiap hari sampai tamat
janji 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Ris Andika Pujiono
Frayaaaa 🥲
Ris Andika Pujiono
cetita bagus begini g ada yg like sih🥲
Ris Andika Pujiono
Damiaaaan jatuh cintaaa
baca sambil ngabuburit
Ris Andika Pujiono
ehemmmm
Ris Andika Pujiono
🥰🥰🥰🙏
Ris Andika Pujiono
Fraya?????
Ris Andika Pujiono
semoga happy ending
Ris Andika Pujiono
awesome💪💪💪💪💪
Ris Andika Pujiono
kok baru nemu sih. jgn sampai hiatus yaa aku tungguin sampai tamat🥰
Ris Andika Pujiono
wow i like it ... 💪
Ris Andika Pujiono
cie cie cieeeeee 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!