Kehidupan Jasmine sebagai pemimpin tunggal wilayah Alistair berubah drastis saat dia menyadari keganjilan pada pertumbuhan putra kembarnya, Lucian dan Leo. Di balik wajah mungil mereka, tersimpan kekuatan dan insting yang tidak manusiawi.
Tabir rahasia akhirnya tersingkap saat Nyonya Kimberly mengungkap jati dirinya yang sebenarnya, sebuah garis keturunan manusia serigala yang selama ini bersembunyi di balik gelar bangsawan.
Di tengah pergolakan batin Jasmine menerima kenyataan tersebut, sebuah harapan sekaligus luka baru muncul, fakta bahwa Lucas Alistair ternyata masih hidup dan tengah berada di tangan musuh.
Jasmine harus berdiri tegak di atas dua pilihan sulit, menyembunyikan rahasia darah putra-putranya dari kejaran para pemburu, atau mempertaruhkan segalanya untuk menjemput kembali sang suami.
"Darah Alistair tidak pernah benar-benar padam, dan kini sang Alpha telah terbangun untuk menuntut balas."
Akankah perjuangan ini berakhir dengan kebahagiaan abadi sebagai garis finis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PRAJURIT GABUNGAN
Pagi itu, udara di halaman belakang kediaman Alistair terasa begitu menggigit, namun panas dari semangat yang membara di sana seolah mampu mencairkan salju yang turun.
Di satu sisi, sepuluh ksatria Serigala Hitam berdiri dengan barisan yang sangat rapi, baju zirah mereka berkilat terkena cahaya matahari pagi yang pucat.
Di sisi lain, ada Mark, Peter dan Ketty, mereka bertiga berdiri dengan santai, mengenakan pakaian kulit mereka yang liar, seolah-olah dinginnya salju tidak berpengaruh pada kulit mereka yang tebal.
Jasmine berdiri di tengah-tengah, mengenakan pakaian latihan yang praktis, di sampingnya, ada Lucian dan Leo berdiri tegak, mata mereka mengikuti setiap gerak-gerik Mark dengan penuh kagum.
"Hari ini, kalian tidak akan berlatih sebagai dua kelompok yang berbeda! Di medan perang nanti, tidak ada ksatria manusia atau ksatria serigala" Yang ada hanya satu unit pembantai!" ucap Jasmine tegas, suara nya menggema di lapangan yang sunyi.
"Mark, tunjukkan pada mereka apa yang dimaksud dengan kecepatan tanpa suara!" perintah Jasmine menoleh ke arah Mark.
Wush
Tanpa aba-aba, Mark langsung menghilang dari pandangan manusia biasa, dan dalam sekejap, dia sudah berada di belakang Ethan, menempelkan telapak tangannya di tengkuk ksatria terbaik itu.
Ethan tertegun, dia bahkan tidak sempat menarik pedangnya.
"Jika aku musuh, kepalamu sudah menggelinding, Ksatria," ucap Mark dengan seringai tipis.
"Sial, cepat sekali!" gumam Ethan sambil menyeka keringat dingin.
Mata Leo dan Lucian menatap binar kekaguman dengan kecepatan yang di miliki oleh paman raksasa mereka itu.
"Strateginya sederhana, ksatria adalah perisai, dan Serigala adalah taring," perintah Jasmine, tegas.
Jasmine mulai membagi mereka ke dalam tim-tim kecil.
Setiap ksatria Serigala Hitam dipasangkan dengan satu anggota klan serigala.
"Ksatria menarik perhatian musuh dengan pertahanan zirah dan teknik pedang, sementara Serigala menyelinap di sudut buta untuk memberikan serangan fatal," ucap Jasmine, mulai menjelaskan cara main mereka nanti.
Leo dan Lucian tidak hanya menonton, tapi mereka berdua ikut masuk ke dalam formasi, karena memang kekuatan mereka berdua yang sangat di butuhkan dalam misi penyelamatan Duke Lucas.
"Lucian, gunakan pendengaranmu untuk memberi tahu tim di mana posisi musuh yang bergerak di balik kabut buatan ini!" perintah Jasmine, menatap Lucian dingin.
Lucian memejamkan mata, di tengah kebisingan langkah kaki, dia menunjuk ke arah semak-semak.
"Paman Ethan, di kananmu! Paman Mark, dia akan melompat dari atas!" teriak Lucian, memfokuskan indra pendengaran nya.
BHUK
Berkat arahan Lucian, Ethan berhasil menangkis serangan simulasi, sementara Mark menyambar target kayu dengan kuku tajamnya, membuat kerjasama itu terlihat sangat mematikan.
"Bagus!" ucap Jasmine, mengangguk puas.
"Leo, sekarang giliranmu!" perintah Jasmine, tegas.
"Jangan bakar temanmu! Fokuskan panasmu pada ujung senjata para ksatria!" lanjut Jasmine, memberikan arahan.
Leo berlari kecil di antara barisan ksatria, tangan kecil nya menyentuh pedang-pedang perak para ksatria Serigala Hitam.
Dengan kontrol yang baru dia pelajari, pedang-pedang itu mulai berpendar merah dan mengeluarkan hawa panas yang luar biasa, sebuah teknik Pedang Api yang bisa menembus pelindung sihir musuh.
"Wah, pedangku jadi panas tapi tidak meleleh!" seru salah satu ksatria dengan takjub.
"Terima kasih, Tuan Muda Leo!" teriak mereka serempak.
Leo nyengir lebar, bangga bisa membantu paman-paman ksatria yang dulu sering menjaganya.
"Ibu, Leo berhasil! Teriak Leo, berlari kembali ke arah Jasmine.
Jasmine menarik garis senyum tipis nya, walaupun wajah nya masih terlihat datar, karena dia harus menjaga wibawa nya, ini masih area latihan.
Di akhir sesi latihan yang melelahkan itu, Mark menghampiri Jasmine,
Pria raksasa itu menatap para ksatria manusia yang kini sedang duduk beristirahat sambil berbagi air dengan Ketty dan Peter.
"Saya harus mengakuinya, Yang Mulia," ucap Mark sambil mengatur napasnya.
"Saya terlalu meremehkan manusia-manusia ini, ternyata disiplin mereka jika digabungkan dengan insting kami, kita akan menjadi badai yang tak terhentikan," ucap Mark, sedikit lunak.
Jasmine menganggukkan kepalanya, menatap kedua putranya yang kini sedang duduk di pangkuan Mark, meminta diajari cara menajamkan kuku serigala.
"Ini baru permulaan, Mark," jawab Jasmine dengan tatapan tajam ke arah utara.
"Setelah ini, aku akan memperkenalkan kalian pada senjata buatanku, dan saat itulah kalian akan benar-benar mengerti mengapa aku berani menantang benteng hitam itu," lanjut Jasmine, seringai tipis muncul di wajah nya.
"Apapun perintahmu, Pelatih, kami siap menjadi iblis demi membawa pulang Duke," ucap Mark tertawa rendah, sebuah suara yang kini penuh dengan rasa hormat.
Jasmine tidak memberikan waktu bagi pasukannya untuk melonggarkan otot terlalu lama.
Saat ini Jasmine berdiri di depan sebuah peti kayu besar yang sejak pagi tadi dijaga ketat oleh dua ksatria Serigala Hitam.
"Kalian sudah melihat bagaimana kekuatan fisik dan insting bekerja," ucap Jasmine, suaranya tenang namun mematikan.
"Sekarang, aku akan menunjukkan kepada kalian mengapa gelar 'Duchess' yang kalian kenal akan segera digantikan dengan sebutan Malaikat Maut bagi musuh kita," lanjut Jasmine membuka peti itu.
Di dalam peti kayu itu di dalamnya berjejer botol-botol kaca gelap yang disumbat rapat, serta beberapa bola logam seukuran genggaman tangan yang permukaannya diukir dengan simbol-simbol aneh, bukan simbol sihir, melainkan rumus kimia yang hanya dimengerti oleh Jasmine.
Mark, Ketty, dan Peter mendekat dengan rasa penasaran yang besar.
Sebagai serigala, hidung mereka menangkap aroma yang sangat asing, yaitu bau belerang yang tajam, aroma logam yang menyengat, dan sesuatu yang terasa dingin sekaligus membakar.
"Ini bukan sihir?" tanya Mark, mencoba menyentuh salah satu bola logam itu.
"Jangan sentuh tanpa sarung tangan, Mark," cegat Jasmine cepat.
"Itu berisi campuran perak cair yang sudah kuberi aktivator kimia, begitu bola ini pecah, cairan di dalamnya akan menguap menjadi gas korosif yang akan membakar paru-paru siapa pun yang menghirupnya, terutama mereka yang memiliki energi sihir hitam," ucap Jasmine, mulai menjelaskan senjata yang akan di bawa nanti untuk melawan musuh nya.
"Dan ini adalah cairan yang paling mematikan, Jika Leo memberikan sedikit saja percikan apinya pada cairan ini, api yang dihasilkan tidak akan bisa dipadamkan oleh air. Api ini akan terus membakar sampai benda yang disentuhnya menjadi abu," ucap Jasmine mengambil satu botol kecil berisi cairan bening
Mendengar itu, para ksatria Serigala Hitam saling berpandangan dengan ngeri, mereka tahu Duchess mereka cerdas, tapi mereka tidak menyangka dia bisa menciptakan senjata pemusnah masal dari bahan-bahan yang selama ini dianggap hanya bahan dasar obat atau parfum.
"Aku ingin melakukan uji coba," ucap Jasmine, menunjuk ke arah sebuah barikade batu besar di ujung lapangan yang biasanya digunakan untuk latihan sasaran berat.
"Semua orang, mundur dua puluh langkah! Ethan, pasang perisai depan!" perintah Jasmine tegas.
Leo dan Lucian berdiri di belakang ibunya, mata kedua nya sama-sama berbinar penuh antisipasi.