Di dunia di mana Peringkat Bakat adalah hukum tertinggi, Lu Chen hanyalah sebutir debu. Saat Upacara Penentuan Takdir, dia dipermalukan di depan seluruh sekte karena hanya memiliki bakat F-Rank dengan afinitas spiritual nol. Dunia mencapnya sebagai sampah, namun mereka tidak tahu bahwa Lu Chen menyembunyikan sistem SSS+ "Omnipotence Mask" yang mampu menutupi keberadaan aslinya dari mata dewa sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Rahasia Peta Makam Naga
Setelah badai pengkhianatan di Istana Salju mereda, keheningan yang berbeda menyelimuti Kota Kristal. Pangeran Zhao dan para anteknya dari Sekte Es Hitam telah diseret ke penjara bawah tanah terdalam, menunggu pengadilan dari kaisar yang baru saja bangkit dari kematian. Namun, bagi Lu Chen, kemenangan politik ini hanyalah debu di bawah kakinya.
Di dalam ruang belajar pribadi Kaisar, yang terbuat dari es transparan dan kayu cendana kuno, hanya ada tiga sosok: Kaisar Yue Jian yang masih pucat namun berwibawa, Putri Yue Bing yang setia, dan Lu Chen.
Kaisar Yue Jian menatap Lu Chen dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara rasa syukur yang mendalam dan ketakutan yang tertahan. Sebagai seorang praktisi tingkat tinggi, ia tahu bahwa pemuda di depannya ini bukanlah pedagang biasa. Energi yang ia rasakan saat ritual penyembuhan tadi bukanlah energi manusia, melainkan sesuatu yang jauh lebih purba.
"Tuan Lu... atau haruskah aku memanggilmu dengan gelar lain?" Kaisar Yue Jian memulai pembicaraan, suaranya kini lebih stabil.
Lu Chen, yang kini telah melepaskan penyamaran wajah "Lin Feng" dan kembali ke wujud aslinya yang tajam dan tenang, hanya duduk dengan santai. "Nama hanyalah label, Kaisar. Aku memenuhi janjiku pada putrimu. Sekarang, giliranmu memenuhi bagianmu dari kesepakatan ini."
Kaisar mengangguk pelan. Ia bangkit dari kursi gioknya, berjalan menuju sebuah lukisan dinding yang menggambarkan pertempuran naga di atas gunung salju. Dengan tetesan darahnya sendiri, ia mengaktifkan mekanisme rahasia. Dinding es itu bergeser, menyingkapkan sebuah kotak perak yang terbungkus oleh rantai segel spiritual.
"Selama ribuan tahun, keluarga Yue telah menjaga rahasia ini," Kaisar mengambil kotak itu dengan tangan gemetar. "Banyak yang mengira kami berkuasa karena kekuatan es kami, namun sebenarnya, kami berkuasa karena kami adalah penjaga gerbang menuju tempat yang seharusnya tidak pernah dibuka lagi."
Ia membuka kotak itu, mengeluarkan sebuah perkamen kulit tua yang tampaknya terbuat dari kulit sayap naga. Begitu perkamen itu diletakkan di meja, Ignis—yang tadinya tenang di bahu Lu Chen—langsung berdiri tegak. Sisik birunya berpendar hebat, dan sepasang mata merahnya menatap perkamen itu tanpa berkedip.
"Lu Chen... ini dia," suara Ignis bergema berat. "Aku bisa merasakan denyut nadi saudaraku di dalamnya. Ini bukan sekadar peta... ini adalah bagian dari kunci jiwa."
Lu Chen mendekat. Di atas perkamen tersebut, garis-garis emas mulai muncul, membentuk topografi sebuah lembah tersembunyi yang terletak di ujung terjauh Benua Tengah—Lembah Tanpa Nama, tempat di mana Makam Naga Kuno berada.
[Ding! Analisis Peta Dimulai.]
[Data Diterima: 50% dari Peta Makam Naga Kuno.]
[Peringatan: Peta ini bersifat fragmentaris. Diperlukan 'Fragmen Jiwa Naga Azure' (dimiliki Ignis) untuk mengaktifkan koordinat sebenarnya.]
"Makam ini bukan hanya tempat peristirahatan," Kaisar Yue Jian menjelaskan dengan nada serius. "Legenda mengatakan bahwa di dalamnya tersimpan Jantung Naga Langit, artefak yang mampu memberikan keabadian atau kehancuran total pada siapa pun yang memilikinya. Sekte-sekte besar di Benua Tengah, termasuk Sekte Pedang Suci, telah mencarinya selama berabad-abad."
Yue Bing menatap peta itu dengan ngeri. "Jika mereka tahu kita memilikinya, mereka akan meratakan Kekaisaran Utara dalam semalam."
"Karena itulah, peta ini harus pergi bersama orang yang bisa menjaganya," Kaisar mendorong perkamen itu ke arah Lu Chen. "Tuan Lu, aku tidak tahu apa tujuanmu yang sebenarnya. Tapi jika kau mencari kekuatan untuk menantang langit, tempat ini adalah awal dan akhir dari segalanya."
Lu Chen menyentuh permukaan perkamen. Seketika, sistemnya mengeluarkan notifikasi baru yang membuat matanya berkilat.
[Misi Utama Diperbarui: 'Kebangkitan Sang Penguasa Naga'.]
[Tujuan: Mencapai Makam Naga Kuno dan Menyerap Jantung Naga.]
[Hadiah: Transformasi ke Tahap Nascent Soul SSS+ dan Pembukaan Fungsi 'Dragon God Realm'.]
"Terima kasih, Kaisar," Lu Chen menggulung peta itu dan memasukkannya ke dalam dimensi sistemnya. "Kau telah membuat pilihan yang tepat. Dengan peta ini pergi darimu, Kekaisaran Utara tidak lagi menjadi target utama bagi mereka yang haus kekuasaan."
Lu Chen berdiri, siap untuk pergi. Namun, Yue Bing melangkah maju, wajahnya penuh tekad. "Tuan Lu! Izinkan aku ikut bersamamu. Aku tahu aku mungkin tidak sekuat dirimu, tapi aku mengenal wilayah perbatasan menuju Benua Tengah. Dan... aku ingin membayar hutang nyawaku."
Lu Chen menatap Yue Bing sejenak. Ia melihat api yang sama di mata gadis itu—api dari seseorang yang lelah menjadi lemah.
"Biarkan dia ikut, Lu Chen," saran Ignis. "Kita butuh 'pelayan' manusia untuk urusan sepele, dan energinya yang dingin bisa membantu menstabilkan suhu saat aku melakukan evolusi berikutnya."
"Baiklah," jawab Lu Chen pendek. "Bersiaplah dalam satu jam. Kita tidak akan pergi melalui jalur biasa. Kita akan menembus 'Hutan Kematian' untuk menghindari pengejaran Sekte Es Hitam yang tersisa."
Saat Lu Chen berjalan keluar dari ruang belajar, ia berhenti sejenak di depan pintu. "Kaisar, satu nasihat terakhir. Jangan pernah percaya pada mereka yang menawarkan kekuatan secara cuma-cuma. Di dunia ini, setiap inci kekuatan memiliki harga yang harus dibayar dengan darah."
Kaisar Yue Jian hanya bisa terdiam saat sosok pemuda misterius itu menghilang di balik kegelapan lorong. Ia tahu, mulai hari ini, sejarah dunia tidak akan lagi ditulis oleh sekte-sekte besar, melainkan oleh langkah kaki pemuda yang membawa seekor semut naga di bahunya.
Di luar, salju mulai turun kembali, namun kali ini terasa lebih ringan. Lu Chen menatap ke arah Benua Tengah yang jauh. Makam Naga Kuno sedang menantinya, dan di sana, ia akan melepaskan topeng terakhirnya untuk menjadi dewa di antara manusia.