NovelToon NovelToon
Warisan Saudara Kembar

Warisan Saudara Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Janda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Lorong rumah sakit kelas VIP itu selalu terasa lebih dingin dari tempat mana pun bagi Jasmine Aurora. Bau antiseptik yang tajam seolah menusuk hingga ke relung paru-parunya, mengingatkannya setiap detik bahwa hidupnya yang sempurna sedang berada di ambang kehancuran.

Jasmine, perempuan berusia 25 tahun itu, mengusap perutnya yang masih tampak rata namun mulai mengeras. Di dalam sana, ada kehidupan berusia empat bulan—buah cinta yang ia rajut bersama Hero. Seharusnya ini menjadi masa-masa mereka berburu perlengkapan bayi, bukan berburu jadwal kemoterapi.

Di dalam kamar 402, sosok pria dengan wajah pucat namun tetap meneduhkan sedang bersandar pada tumpukan bantal. Hero, suami Jasmine, tetap terlihat tampan meski tubuhnya kini lebih ringkih. Saat melihat Jasmine masuk, matanya yang sayu langsung berbinar.

"Sini, Sayang," panggil Hero dengan suara lembut yang selalu berhasil membuat pertahanan Jasmine runtuh.

Jasmine mendekat, duduk di sisi ranjang, dan membiarkan tangan Hero yang dingin mengusap pipinya. "Kamu sudah makan? Jangan sampai telat, kasihan anak kita kalau bundanya lemas," bisik Hero penuh perhatian.

"Aku sudah makan tadi sama Kak Awan di kantin sebentar. Kamu sendiri? Kenapa buburnya masih utuh?" Jasmine mencoba mengalihkan pembicaraan agar tidak terdengar cengeng.

Hero hanya tersenyum tipis. Ia tahu waktunya mungkin tidak banyak lagi. Penyakit sialan ini menggerogotinya lebih cepat dari yang diperkirakan dokter.

Pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan kasar. Seorang pria dengan setelan jas hitam yang sangat rapi masuk tanpa mengetuk. Wajahnya identik dengan Hero, namun aura yang terpancar sangatlah berbeda. Jika Hero adalah sinar matahari pagi yang hangat, maka pria ini—Awan—adalah badai salju di tengah malam.

Awan berdiri di ujung ranjang dengan tangan masuk ke saku celana. Wajahnya datar, matanya tajam dan tidak bersahabat. Di belakangnya, mengekor seorang perempuan cantik dengan gaun mini ketat bermerek ternama dan tas branded yang menggantung di sikunya. Itu Celine, kekasih Awan yang dikenal semua orang sebagai perempuan manja dan haus akan kemewahan.

"Aduh, bau rumah sakit bikin pusing banget sih, Sayang," keluh Celine sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidung. "Awan, kita nggak bisa lama-lama kan? Aku ada janji facial jam dua, terus kamu janji mau temenin aku beli tas yang limited edition itu."

Awan tidak menyahut. Ia hanya menatap kembarannya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Gue datang buat jenguk, bukan dengerin keluhan lo, Celine," ucap Awan dingin tanpa menoleh pada pacarnya.

Jasmine hanya bisa menunduk. Ia sudah terbiasa dengan sikap Awan yang judes dan ketus. Sejak dulu, Awan memang pribadi yang kaku, sangat berbanding terbalik dengan Hero yang selalu bisa mencairkan suasana. Mereka berdua memang sudah sukses memimpin perusahaan warisan mendiang ayah mereka di usia 27 tahun, tapi secara kepribadian, mereka bagai bumi dan langit.

Titipan yang Berat

"Wan," panggil Hero pelan. Ia memberi kode agar Jasmine dan Celine keluar sebentar.

Celine dengan senang hati langsung melenggang keluar menuju lobi, sementara Jasmine ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya mengangguk setelah Hero menggenggam tangannya meyakinkan.

Kini tinggal dua pria itu di dalam ruangan. Awan mendekat ke sisi ranjang, wajahnya tetap sedatar papan cucian.

"Mau ngomong apa? Jangan lama-lama, gue banyak urusan di kantor," ketus Awan.

Hero terkekeh lemah. "Lo selalu sibuk, Wan. Padahal harta nggak bakal dibawa mati."

"Nggak usah sok bijak. Lo sakit karena lo lemah," balas Awan telak. Namun, jika ada yang memperhatikan lebih dekat, ada sedikit getaran di mata Awan saat melihat selang infus yang menusuk kulit kembarannya.

Hero menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. "Wan, gue serius. Kondisi gue makin nggak menentu. Gue nggak tahu sampai kapan bisa nemenin Jasmine dan calon anak gue."

Awan mengernyitkan dahi. "Maksud lo?"

"Gue titip Jasmine ya, Wan. Cuma lo yang bisa gue percaya buat jagain dia sama calon anak gue kalau gue udah nggak ada. Lo tahu dia nggak punya siapa-siapa lagi selain kita," ucap Hero dengan nada memohon yang sangat dalam.

Mendengar itu, rahang Awan mengeras. Ia merasa muak dengan nada putus asa kembarannya. Bagi Awan, menyerah adalah dosa besar.

"Lo ngomong apa sih nggak usah lebay!" bentak Awan, meski suaranya tertahan agar tidak terdengar keluar. "Jasmine bakal sama lo sampe lo sehat. Makanya makan yang banyak jangan nyusahin orang! Gitu aja pake nitip-nitip segala, kayak mau pergi jauh aja lo!"

Awan membuang muka, tidak sanggup menatap mata Hero yang penuh pengharapan. Ia benci perasaan lemah seperti ini. Ia benci melihat kembarannya, orang yang tumbuh bersamanya sejak dalam kandungan, kini tampak seperti lilin yang hampir padam.

Di koridor, Celine sedang asyik memeriksa katalog ponselnya sementara Jasmine duduk terdiam di kursi tunggu, mengusap perutnya yang mulai berdenyut kecil.

"Eh, Jasmine," panggil Celine tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Suami lo itu kalau beneran 'lewat', lo dapet warisan banyak kan? Enak ya, masih muda udah jadi janda kaya."

Jasmine tersentak. Jantungnya berdegup kencang karena amarah yang tertahan. "Jaga bicara kamu, Celine. Hero bakal sembuh."

Celine tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat merendahkan. "Aduh, jangan naif deh. Liat tuh badannya tinggal tulang. Mending lo pikirin sekarang, gimana caranya supaya Awan nggak terus-terusan biayain pengobatan Hero yang mahal itu. Gue butuh dana buat shopping, bukan buat nyumbang rumah sakit."

Tepat saat itu, pintu kamar terbuka. Awan keluar dengan wajah yang lebih mendung dari sebelumnya. Ia melihat Jasmine yang tampak gemetar dan Celine yang sedang memasang wajah tidak berdosa.

"Awan! Akhirnya keluar juga. Yuk, ke mal!" Celine langsung menggelayuti lengan Awan.

Awan melepaskan tangan Celine dengan kasar. "Gue balik ke kantor. Lo pulang naik taksi," ucapnya pendek.

"Lho? Tapi janji beli tasnya?" Celine merengek, wajah matrenya langsung terlihat jelas.

"Bisa diem nggak? Gue pusing!" Awan membentak, membuat Celine terdiam seketika.

Sebelum melangkah pergi, Awan melirik Jasmine sejenak. Tatapannya masih dingin, namun ada sorot mata yang sulit dibaca saat melihat tangan Jasmine yang masih mendekap perutnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun—bahkan tanpa kata penyemangat—Awan melenggang pergi meninggalkan aroma parfum maskulin yang mahal namun terasa asing bagi Jasmine.

Jasmine masuk kembali ke kamar dengan perasaan campur aduk. Di sana, Hero tersenyum, seolah pembicaraan berat dengan Awan tadi tidak pernah terjadi.

"Dia bilang apa, Mas?" tanya Jasmine lembut.

Hero mengusap rambut istrinya. "Awan cuma bilang... dia bakal selalu ada. Kamu tahu kan, dia memang judes, tapi dia orang baik."

Jasmine hanya diam. Ia tahu betul Awan bukan orang yang mudah dipahami. Dan ia tidak tahu, bahwa di balik sikap kasar dan judesnya tadi, Awan sebenarnya sedang mencengkeram kunci mobilnya di parkiran dengan sangat erat, mencoba menahan sesak yang tidak sanggup ia ungkapkan dengan kata-kata manis seperti Hero.

Pertemuan ini hanyalah awal dari perubahan besar yang akan menjungkirbalikkan hidup mereka bertiga.

1
pdm
semangat lanjutkan💪
Reni Anjarwani
lanjutt thorrr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut trs thor makin seru ceritanya
Reni Anjarwani
lanjut thorr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
Siti Dede
Ungkapin aja atuh Waaan...daripada senewen nggak keruan
pdm
aduh ini potongan bwg merahny bikin mata berair/Cry//Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!