NovelToon NovelToon
Sabar Berujung Bahagia

Sabar Berujung Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Wanita Karir / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Janda
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: Sherly

Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.

Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.

Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.

Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Bulan dalam Sepi

Pernikahanku baru berjalan sekitar enam bulan saat aku mengetahui bahwa aku tengah mengandung. Kini, usia kandunganku sudah menginjak dua bulan enam belas hari. Di awal kehamilan, semuanya terasa biasa saja, namun begitu memasuki bulan ketiga, fisikku mulai goyah. Aku sering mengalami mual dan muntah yang hebat, tubuhku terserang demam, bahkan tekanan darahku menurun drastis.

Awalnya, saat kondisiku mulai memburuk, suamiku masih menunjukkan sikap baik dan perhatian. Namun sayangnya, kehangatan itu tidak bertahan lama seperti yang aku harapkan.

Kini, setiap kali aku mual dan muntah, dia hanya bersikap acuh tak acuh, seolah tak lagi peduli dengan rasa sakit yang kupikul. Begitu pula dengan bapak mertuaku; beliau sering kali lewat begitu saja di hadapanku tanpa sedikit pun bertanya apakah aku baik-baik saja. Di tengah perjuangan fisik menjaga buah hati kami, aku justru merasa asing dan sendirian di rumah sendiri.

Luka di Balik Pintu Mertua

"Kenapa sih semua orang di rumah ini tidak ada yang peduli? Bertanya kabar menantunya kek, atau setidaknya suamiku memijatku sebentar. Ini malah diam semua, hanya melihat saja," rutukku dalam hati. Rasa kesal menyelimuti benakku setiap kali melihat sikap dingin orang-orang di rumah mertua. Jika kalian berada di posisiku, apa yang akan kalian lakukan? Apakah kalian akan memilih pulang ke rumah orang tua sendiri, atau tetap bertahan di rumah mertua?

Beberapa bulan berlalu setelah masa-masa mual dan muntah yang hebat itu terlewati. Di saat kandunganku semakin membesar, suamiku mulai menunjukkan sifat aslinya. Dia yang seharusnya menjadi pelindung, kini jarang sekali pulang. Kalaupun pulang, penampilannya berantakan dengan rambut acak-acakan dan aroma alkohol yang menyengat dari mulutnya.

Suatu malam, saat dia masuk ke kamar, aku terdiam sejenak mencoba menata hati. Dengan suara bergetar namun tetap berusaha hati-hati, aku bertanya, "Kamu dari mana? Minum dengan siapa? Dan... kenapa ada bekas lipstik merah di pipimu?"

Bukannya merasa bersalah atau menjawab pertanyaanku, dia malah tersenyum sendiri tanpa arti. Meski dadaku terasa sesak, aku tetap diam dan bersabar, menunggu sebuah jawaban yang entah kapan akan ia berikan.

Kejujuran yang Menghancurkan

"Aku minum sama teman-teman, terus ada cewek juga yang dikasih temenku. Tapi entah kenapa, pas aku telepon sekarang nggak diangkat. Eh, apa dia mabuk juga ya kaya aku? Hehe," ucapnya meracau tanpa beban.

Mendengar pengakuan itu, dadaku terasa meledak. Sungguh, ada amarah yang begitu hebat hingga aku merasa ingin sekali menghabisinya saat itu juga. Jika saja tidak ada hukum, mungkin aku sudah kehilangan kendali karena sakit hati yang tak tertahankan.

Aku terkejut sekaligus hancur. Dia begitu berani berterus terang di hadapanku, bahkan dengan teganya mencoba menelepon wanita itu tepat di depan mataku. Hatiku rasanya dicabik-cabik; aku hanya bisa menangis sesenggukan dengan napas yang sesak tanpa sanggup mengeluarkan suara.

Malam itu aku merasa sangat tertekan. Ingin sekali aku pergi dan pulang ke rumah orang tuaku saat itu juga, meninggalkan segalanya dan tak lagi memedulikannya. Pedih sekali rasanya ya Allah, terlebih karena aku tahu bahwa dalam kondisi mabuk, seseorang biasanya justru mengatakan kejujuran yang paling jujur.

Tanpa sedikit pun rasa bersalah atau niat untuk meminta maaf, dia justru membentakku karena melihatku menangis.

"Heeeh! Kenapa kamu nangis? Berisik amat sih! Syuuuut, diam!" ucapnya kasar sambil menempelkan jari telunjuk di bibirnya, menyuruhku bungkam di tengah luka yang dia buat sendiri.

Hinaan di Atas Luka

Bagaimana mungkin aku bisa diam? Rasa sakit di hatiku begitu hebat hingga air mata yang coba kutahan terus mengalir deras tanpa kendali. Namun, bukannya luluh melihat kesedihanku, dia justru semakin menjadi-jadi.

"Heh, asal kamu tahu ya? Kamu itu orangnya susah diajak komunikasi. Kamu itu gobl*k! Hahaha..." ejeknya dengan tawa yang menyakitkan. Tidak berhenti di situ, dia mulai menyerang keluargaku. "Asal kamu tahu, kakakmu itu pencuri! Dia mencuri uang lalu kabur dari kandang bebek. Orang yang jaga kandang itu lapor ke aku, tahu! Haha!"

Mendengar itu, tangisku pecah sejadi-jadinya. Aku tidak habis pikir, apa salah keluargaku? Padahal mereka selama ini begitu baik kepadanya, namun justru diolok-olok dengan begitu rendah oleh menantunya sendiri.

Seharusnya, seorang suami hadir untuk mengayomi, mendidik, dan melindungi istrinya. Namun, semua itu hanyalah mimpi bagiku. Alih-alih perlindungan, yang kudapatkan hanyalah hinaan, cacian, dan harga diri yang diinjak-injak demi wanita lain yang ia temui di luar sana.

Luka yang Membekas

"Ya Allah, sehina itukah keluargaku di matanya?" batinku teriris. Aku tak henti-hentinya menangis, merutuki kebodohanku karena telah memilih suami yang ternyata seorang munafik. Di depan orang tuaku ia bersikap manis, namun di belakang, ia menghina mereka dengan begitu rendah.

Aku tetap terdiam, dipaksa mendengarkan racauan busuk yang keluar dari mulut laki-laki itu.

"Dan satu lagi... eh, kenapa kamu menangis, goblok? Hahaha! Aku kan ada di sini," sambungnya. Dia menghentikan bicaranya sejenak, hanya untuk menatap wajahku yang sembab dengan pandangan meremehkan.

"Tidak usah hiraukan aku! Ayo lanjutkan apa yang mau kamu katakan! Teruskan!" tantangku dengan sisa keberanian yang ada. Bukannya sadar, dia justru melempar senyum sinis yang mengerikan.

"Oke! Kamu itu memang goblok! Apa kamu tuli, hah?! Bisa diam tidak?!" bentaknya kasar. Detik itu juga, dia melayangkan pukulan ke arahku. Itulah pertama kalinya dia bermain tangan, meninggalkan bekas merah yang berdenyut di jidatku.

Aku segera berlari menghindar saat dia mulai mengamuk. Satu-satunya tempat yang bisa kujadikan perlindungan hanyalah kamar mandi. Di sana, aku mengunci diri, berusaha menenangkan badai di dadaku.

"Tuhan, aku tidak tahu harus bagaimana. Pernikahan ini baru seumur jagung, tapi suamiku sudah sekasar ini," gumamku lirih di sela doa dalam tangis.

"Tapi aku yakin, kakakku tidak seperti itu. Keluargaku tidak ada yang pencuri. Aku percaya pada kakak. Ahmad pasti hanya mendapat hasutan dari teman kakak yang iri," ucapku menguatkan hati sendiri. Namun, air mata tetap saja mengalir deras. Rasa sakit yang kuterima malam ini terasa berlipat ganda; dikhianati, dihina, dipukul, dan keluargaku pun diolok-olok tanpa ampun.

Sujud di Keheningan Subuh

Setelah berjam-jam mengurung diri dalam kamar mandi, aku memutuskan untuk mandi. Jam menunjukkan pukul 03:55, sesaat lagi azan subuh berkumandang. Aku membasuh diri, menggosok gigi, lalu mengambil air wudhu. Begitu aku melangkah keluar dari kamar mandi, suara azan subuh mulai menggema dari musala dekat rumah, memecah kesunyian pagi.

"Loh Nak, jam segini sudah mandi? Tumben," suara ibu mertuaku tiba-tiba terdengar dari balik pintu belakang yang berdekatan dengan kamar mandi. Aku menoleh dengan perasaan terkejut yang luar biasa.

"Iya, Mak. Tadi habis mencuci baju, sekalian mandi karena bajunya basah semua," jawabku berbohong. Aku terpaksa berdusta hanya agar beliau tidak bertanya lebih jauh dan melihat guratan luka serta kesedihan di wajahku.

Aku segera masuk ke kamar untuk mengambil pakaian bersih, lalu kembali lagi ke kamar mandi. Beruntung ibu mertua belum masuk, sehingga aku bisa berganti baju dengan tenang. Setelah itu, aku kembali ke kamar, mengunci pintu rapat-rapat, lalu membentangkan sajadah. Aku mengenakan mukena dan bersiap menghadap Yang Maha Kuasa.

Di atas sajadah itu, aku menumpahkan segala sesak yang tersisa. "Ya Allah, aku yakin kakakku tidak seperti apa yang suamiku katakan. Keluargaku tidak seburuk apa yang ada di pikiran suamiku. Ya Allah, jika boleh aku memohon, tolong berikan hidayah-Mu untuk suamiku."

Aku bersujud begitu lama. Dalam diamnya sujud itu, air mataku mengalir deras tak henti-hentinya, membasahi kain sajadah. Hanya kepada-Nya aku mampu mengadu, saat dunia di sekitarku terasa begitu menjepit dan menyakitkan.

Kebenaran yang Terbungkam

Sebenarnya, apa yang dituduhkan kepada kakakku hanyalah kesalahpahaman besar dan fitnah keji dari seorang mandor di kandang bebek.

Fakta yang sebenarnya adalah mandor itulah yang mencuri uang tersebut. Ia beraksi saat kakakku sedang dalam perjalanan mengirim daging bebek ke Surabaya.

Di tengah perjalanan itu, kakakku mengalami musibah. Beliau tidak sengaja menabrak seseorang yang sedang mabuk hingga tewas. Sebagai orang yang jujur, kakakku bertanggung jawab sepenuhnya.

Namun, karena saat itu yang memegang kemudi adalah kakakku sementara ia tidak membawa SIM—hanya temannya yang punya—masalah itu berbuntut panjang hingga urusan kepolisian.

Mandor perempuan yang dendam karena sebelumnya pernah ketahuan mencuri oleh kakakku, memanfaatkan momen kecelakaan ini. Ia mengirim pesan kepada seluruh keluargaku—kepada adikku, ayahku, termasuk aku—meminta uang sebesar dua juta rupiah dengan alasan biaya kecelakaan.

Aku tidak tinggal diam dan langsung menghubungi kakakku untuk mengonfirmasi. Ternyata benar, mandor itulah yang mengirim pesan palsu tersebut.

Dia adalah orang yang sudah dipecat karena terbukti mencuri, dan kakakku adalah saksi kuncinya. Karena dendam itulah, ia mencoba menghancurkan nama baik kakakku.

Kebetulan sekali, mandor bernama Dewi itu juga mengenal suamiku, Ahmad. Dari sanalah suamiku mendapatkan cerita yang sudah diputarbalikkan dan menjadikannya senjata untuk menghina keluargaku.

Bersambung....

1
WinnyLiam
👍🏻
Melsha: terimakasih
total 1 replies
Efan Taga
aku mampirrrr
Melsha: terimakasih udah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!