Aluza, seorang Office girl cantik di Bandara, terjebak dalam kenangan Ivan mantan kekasihnya yang sudah lama meninggal.
Namun di hari pertama Aluza bekerja ia di pertemukan kembali dengan seorang pilot bernama Bara yang wajahnya sangat mirip sekali dengan Ivan
Tapi Bara yang mirip Ivan itu ternyata memiliki kepribadian yang sangat berbeda. Dia kasar, angkuh, dan tidak peduli dengan perasaan orang lain.
Aluza terjebak dalam dilema, apakah dia bisa melupakan Ivan dan jatuh cinta dengan Bara, atau justru Bara akan menjadi racun yang menghancurkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elzaluza2549, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bantuan Di Tolak
Bara berjalan mengikuti Aluza dari belakang melewati koridor rumah sakit bahkan keduanya tidak berbicara satu sama lain.
Bara merasa iba sambil memperhatikan pergelangan kaki Aluza yang masih terbalut perban serta jalannya sedikit pincang.
Kemudian Aluza sedikit berbalik .“Ini jalan keluar rumah sakit, bukan nya kamu bawa mobil, jadi kenapa harus mengikuti aku!”Kata Aluza sinis.
Bara merasa tersambar oleh kata-kata Aluza.“Asal kamu tau rumah sakit ini terkenal angker jika kamu berjalan ke arah sana sendirian maka kamu akan bertemu...”Bara tak melanjutkan kata-katanya.
“Bertemu apa..?!”Tanya Aluza tanpa sedikit rasa takut.
Bara tertawa pelan tapi langkah kaki mereka terus berjalan melewati koridor rumah sakit yang terasa mencekam.“Rumah sakit ini memang memiliki reputasi buruk terutama di malam hari.”
Mendengar hal itu entah kenapa seketika bulu kuduk Aluza meremang. Lantas ia pun berhenti melanjutkan perjalanan nya.“Kamu tidak perlu menakut-nakuti aku yah,”
“Saya tidak menakut-nakuti kamu, saya hanya ingin memastikan saja kamu mendapatkan taxi,ojek ataupun semacam nya tapi asal kamu tau di jam yang hampir menunjukkan pukul 11 dini hari tidak ada kendaraan yang akan mengantarkan kamu pulang, yah tanpa terkecuali kamu ikut saya”
“Hahaha tapi nyatanya orang seperti kamu itu lebih menyeramkan dari pada setan!”Kata Aliza dengan percaya diri. bahkan setelah ia mengatakan hal itu sebuah benda terjatuh dan membuat nya terkejut sampai-sampai aLuza tak sengaja melompat pada Bara.“Aargg...setan..!”Aluza berteriak.
Bara mengangkat salah satu Alisnya.“Apa yang kamu lakukan..?"Tanya Bara di saat aLuza melingkarkan kedua kakinya di pinggangnya.
Aluza merasa wajahnya memerah karena malu.Dia tidak sengaja melompat ke arah Bara dan sekarang dia berada dalam posisi yang sangat memalukan.“Aku..aku..tidak sengaja!” ujarnya yang perlahan turun dari tubuh Bara.
Tapi Bara menahan tubuh Aluza agar wanita itu tidak jadi turun.“Saya tau kamu sengaja iya kan, kamu sengaja cari kesempatan agar lebih bisa dekat dengan saya dengan cara seperti ini”
Aluza merasa wajahnya semakin memerah karena malu dan begitu terganggu dengan kata-kata Bara.“Tidak..aku tidak sengaja! Aku hanya terkejut saja!"kata Aluza yang mencoba melepaskan diri dari Bara.
Bara tersenyum miring sambil memandangi Aluza.“Katakan apakah ini cara mu menggoda saya agar saya menerima mu kembali bekerja di bandara..?"
“kamu terlalu percaya diri sekali yah sudah jelas-jelas aku terkejut karena ada suara benda jatuh. Lagi pula kamu tenang saja karena aku tidak Sudi lagi bekerja di bawah pengawasan kamu!"
Perlahan Bara menuruni Aluza dari tubuh nya.Bara kembali bersikap dingin.“Katakan di mana rumah mu! saya akan mengantarkan kamu pulang!”
“Sudah aku bilang kalau aku tidak mau di antarkan oleh kamu!”Aluza tetap kekeuh dengan pendirian Sehingga membuat Bara merasa kesal dan pergi meninggalkan Aluza begitu saja.
“Kamu itu keras kepala sekali yah! saya sudah baik-baik menawarkan kamu sebuah tumpangan gratis. Tapi kamu malah menolak. Tapi sudahlah jika kamu ingin pulang sendiri, maka pulang lah sendiri karena saya tidak akan perduli lagi!"
Aluza menatap Bara yang pergi dengan mata yang menyala “Yasudah sana pergi lagian aku tidak butuh bantuan dari orang seperti kamu! jahat,Angkuh!"Teriak Aluza
****************
Bara dan team lainnya akan melakukan penerbangan ke bandung pagi ini dengan pesawat jenis Airbus A30. Bara memeriksa sistem pesawat sebelum lepas landas, memastikan semuanya dalam kondisi prima.
"Siap untuk berangkat," katanya kepada co-pilot.
Co-pilot membalas, "Pesawat siap, Kapten. IATA clearance sudah diterima."
Bara mengangguk, "Baik, mulai prosedur lepas landas." Pesawat mulai bergerak, melaju di landasan, lalu meluncur ke angkasa, meninggalkan Jakarta menuju Bandung.
Menjelang ketinggian, Bara menyalakan autopilot dan melepaskan sabuk pengaman. "Penerbangan lancar, kita akan tiba di Bandung dalam waktu sekitar 1 jam," katanya kepada co-pilot yang bernama Irwan.
Irwan membalas, "Baik, Kapten Bara. Saya akan memantau sistem pesawat."
Bara mengangguk dan berdiri, "Saya akan ke kabin untuk memeriksa penumpang." Dia berjalan keluar dari kokpit, namun pada saat Bara di ruang penumpang Bara kembali bertemu dengan Diva.
Diva menghampiri Bara untuk yang kesekian kalinya.Dia menanyakan kenapa Bara tak melakukan penerbangan semalam.
“Bara Co-Pilot Irwan mengatakan kamu tidak melakukan penerbangan semalam. kamu kemana saja memangnya”
Bara berbisik tepat di telinga Diva.“Tolong jangan bahas masalah pribadi di sini!" ujarnya datar dan berlalu pergi.
Diva tersenyum kecut memandangi Bara dari belakang.Namun ia tak akan menyerah begitu saja sampai ia bisa mendapatkan hati Bara.
Satu jam berlalu dan pada akhirnya Bara memimpin proses pendaratan dengan lancar, dan pesawat mendarat dengan mulus di bandara Husein Sastranegara, Bandung. Dia menyalakan sistem pengumuman, "Selama perjalanan ini, kami telah tiba di Bandung. Terima kasih atas kepercayaan Anda.
Penumpang mulai berdiri, mengambil barang bawaan mereka, dan bersiap untuk keluar dari pesawat. Bara dan kru lainnya mulai prosedur turun, memastikan semua berjalan lancar. Diva, yang duduk di dekat pintu keluar, tersenyum kepada Bara saat dia melewatinya.
Bara hanya mengangguk singkat, tidak membalas senyum Diva, dan melanjutkan ke arah pintu keluar untuk mengantar penumpang turun. Diva merasa kecewa tapi dia tidak menyerah.
Diva memutuskan untuk menunggu Bara di lobby kedatangan, berharap bisa berbicara dengannya secara langsung. Dia mengatur napas, lalu berjalan keluar dari pesawat, mata yang terus memantau keberadaan Bara.
Bara muncul di lobby, dikelilingi oleh penumpang lain yang sedang mengambil bagasi. Diva segera mendekatinya, mencoba menarik perhatiannya. "Bara, tunggu!" diva memanggil, suaranya terdengar manis.
Bara berhenti sejenak, membalikkan badan, dan menatap Diva dengan ekspresi yang tidak terbaca. "Ada apa, Diva?" dia tanya, suaranya netral.
Diva tersenyum, mencoba membaca ekspresi Bara. "Aku hanya ingin tahu, kapan kamu punya waktu luang? Aku ingin mengajakmu makan malam."
tiba-tiba co-pilot irwan datang menghampiri Bara juga mendengar kalau Diva mengajak Bara untuk makan malam.“Co-pilot Irwan tersenyum lebar, "Wah, ada rencana makan malam nih? Aku juga diajak dong, Diva!" Dia menepuk bahu Bara, "Kamu sibuk lagi kan, aku aja yang gantiin kamu."
“Silakan kalau co-Pilot Irwan tidak keberatan,lagi pula aku juga punya kesibukan malam ini”Jawab Bara dingin.
Irwan tersenyum lebar, "Tidak masalah, Bara! Aku gantiin kamu, makan malam berdua dengan Diva padahal aku hanya bercanda loh tidak bermaksud mengganggu”
“Aku juga serius co pilot Irwan”Bara hanya mengangguk dan pergi meninggalkan Diva dan Irwan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
W