NovelToon NovelToon
Rewind: Side B

Rewind: Side B

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Teen Angst / Teen School/College / Romantis / Fantasi / TimeTravel
Popularitas:345
Nilai: 5
Nama Author: Vorlagh

17 Agustus 1996.
Bagi Julian "Lian" Pratama, hari ini seharusnya menjadi titik akhir. Di balik senyum sempurna sang Ketua OSIS, jiwanya telah lama kosong. Ia menaiki rooftop sekolah, siap untuk pergi selamanya.

Namun, alih-alih keheningan, yang terdengar hanya bunyi "KLIK" dari sebuah Walkman tua.

Lian terbangun kembali di pagi yang sama. Upacara yang sama. Kebosanan yang sama. Terjebak dalam loop waktu yang tak berujung, dunia Lian perlahan memudar menjadi hitam-putih. Hingga ia menemukan satu anomali: Kara Anjani.

Gadis pecinta musik grunge itu adalah satu-satunya yang tetap berwarna di mata Lian. Anehnya, setiap kali hari berulang, ada detail kecil pada Kara yang tidak ikut terhapus.

Apa hubungan Kara dengan putaran waktu ini? Dan jika Lian berhasil menekan tombol Stop pada kaset misterius itu, apakah ia akan bebas... atau justru kehilangan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vorlagh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang Tamu yang Dingin

Senin, Pukul 14:00 WIB.

Perjalanan pulang dari sekolah di dalam mobil sedan Toyota Great Corolla milik ayahnya terasa seperti perjalanan menuju pemakaman.

Hening. Mutlak.

AC mobil mendesis pelan, tapi tidak mampu mendinginkan suasana yang membara.

Lian duduk di kursi depan, menatap aspal yang bergerak mundur lewat jendela. Tangannya memegang lutut yang diperban asal-asalan. Seragam putihnya kotor, ada noda darah kering dan debu lapangan.

Ayahnya menyetir dengan rahang mengeras. Tangannya mencengkeram setir begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia tidak menyalakan radio Prambors kesukaannya. Dia tidak merokok. Dia hanya menatap lurus ke depan dengan mata yang memancarkan emosi paling menyakitkan bagi seorang anak: Kekecewaan.

Mereka sampai di rumah.

Pagar besi didorong terbuka.

"Turun," perintah Ayah singkat. Nadanya dingin, mematikan.

Lian turun. Kakinya pincang.

Dia melihat Ibunya sudah berdiri di ambang pintu rumah. Wajah Ibu sembab, matanya bengkak. Dinda, adiknya, mengintip dari balik gorden jendela kamar dengan wajah ketakutan, seolah kakaknya baru saja pulang dari medan perang sebagai penjahat.

...----------------...

Ruang Tamu.

Lian duduk di sofa tunggal.

Ayah dan Ibu duduk di sofa panjang di hadapannya.

Seperti sidang pengadilan.

Di meja kaca di antara mereka, tergeletak surat panggilan sekolah. Logo SMA Merah Putih di kop surat itu terlihat seperti vonis hakim.

"Coba jelaskan," kata Ayah. Suaranya rendah tapi bergetar menahan amarah. "Apa yang ada di otak kamu, Julian?"

Lian menunduk, menatap lantai keramik.

"Lian... Lian nggak tau, Yah."

"NGGAK TAU?!"

Bentakan Ayah menggelegar di ruang tamu. Vas bunga di meja ikut bergetar.

Lian tersentak kaget. Dia jarang melihat ayahnya semarah ini.

Ayah berdiri, mondar-mandir sambil mengusap wajahnya kasar.

"Ayah dapet telepon dari Pak Kepala Sekolah pas lagi rapat direksi! Kamu bayangin malunya Ayah! Anak kebanggaan, Ketua OSIS, siswa teladan... tiba-tiba ngamuk di tengah upacara kayak orang gila!"

Ayah menunjuk-nunjuk wajah Lian.

"Kamu lari-lari! Kamu teriak-teriak soal pintu! Kamu geret anak perempuan orang di depan ratusan murid! Kamu sadar nggak reputasi keluarga kita hancur hari ini?!"

Lian menggigit bibir bawahnya.

Reputasi. Selalu reputasi.

Bukan "Kamu kenapa, Nak?" atau "Apa kamu sakit?". Tapi "Reputasi".

"Bu Sri bilang kamu stress berat," sela Ibu sambil sesenggukan, menyeka hidungnya dengan tisu. "Kamu kenapa nggak cerita sama Ibu, Mas? Apa uang saku kurang? Apa kami terlalu ngekang kamu? Sampai kamu jadi... jadi kayak gini..."

Lian ingin berteriak. Dia ingin bilang: 'Bu, Lian barusan nyelametin satu sekolah dari time loop! Lian barusan ngalahin depresi Lian sendiri!'

Tapi kata-kata itu hanya akan membuatnya dikirim ke Rumah Sakit Jiwa di Cisarua.

"Maafin Lian, Bu. Lian cuma... capek," jawab Lian lemah. Itu jawaban paling aman. Paling jujur, tapi tidak lengkap.

"Capek bukan alesan buat bikin malu!" potong Ayah.

Ayah kembali duduk. Dia menatap Lian dengan tatapan yang membuat Lian merasa kecil sekali.

"Ayah sudah bicara sama Pak Kepala Sekolah. Kamu diskorsing tiga hari. Jabatan Ketua OSIS dicabut sementara."

Lian mengangkat wajah. Dicabut.

Satu-satunya hal yang mendefinisikan dirinya selama ini. Topeng sempurnanya. Hilang.

Ironisnya, Lian tidak merasa sedih. Dia merasa... sedikit lega.

"Dan satu lagi," lanjut Ayah.

Ayah mengeluarkan sesuatu dari tas kerjanya.

Kunci motor Lian.

"Motor disita. Uang saku distop. Kamu nggak boleh keluar rumah selain sekolah. Nggak ada main basket, nggak ada nongkrong sama si Riko yang badung itu."

Ayah mencondongkan badan.

"Dan jauhi perempuan itu. Siapa namanya? Kara?"

Jantung Lian berhenti berdetak sesaat.

"Yah... Kara nggak salah. Dia cuma korban."

"Korban apa?!" sentak Ayah. "Ibu BP bilang dia histeris di ruangan! Dia yang nyekokin kamu ide-ide gila ini kan? Ayah denger dia anak introvert yang aneh. Pasti dia yang bawa pengaruh buruk buat kamu!"

"Nggak, Yah!" Lian berdiri, emosinya terpancing. "Kara itu satu-satunya yang ngerti Lian! Ayah sama Ibu nggak pernah tanya Lian maunya apa!"

"DIAM!"

PLAK.

Tamparan itu mendarat di pipi kiri Lian.

Panas. Perih.

Kepala Lian tertoleh ke samping.

Ruangan hening seketika. Ibu menutup mulutnya kaget, tangisnya pecah makin keras.

Ayah berdiri dengan napas memburu, menatap telapak tangannya sendiri yang memerah. Dia tidak pernah memukul Lian sebelumnya. Tidak pernah.

Lian memegangi pipinya. Matanya panas, tapi dia menahan air mata sekuat tenaga.

Dia menatap Ayahnya.

Hubungan itu retak hari ini. Bukan retakan waktu, tapi retakan hati.

"Masuk kamar," perintah Ayah dengan suara serak. Dia tidak berani menatap mata Lian lagi. "Masuk kamar dan renungin kesalahan kamu. Jangan keluar sampai Ayah suruh."

Lian tidak menjawab.

Dia berbalik badan, berjalan menyeret kakinya yang sakit menuju tangga.

Setiap langkahnya diiringi tangisan Ibu yang menggema di rumah yang besar dan dingin itu.

...----------------...

Kamar Lian. Pukul 20:00 WIB.

Lian berbaring di kasurnya dalam gelap. Dia tidak menyalakan lampu.

Dia menatap langit-langit kamar yang kosong.

Flashback terlintas.

Biasanya jam segini, dia sedang belajar untuk ujian masuk universitas. Atau menyusun proker OSIS.

Sekarang? Kosong.

Kamar ini terasa seperti penjara.

"Ra..." bisiknya pada kegelapan.

Lian merogoh saku celana seragamnya yang digantung di balik pintu.

Mengambil kertas sobekan lusuh yang dikasih Kara tadi pagi.

Dia menyalakan lampu belajar kecil, membaca tulisan cakar ayam itu lagi.

...Jangan lupa sama Sisi B...

Hanya kertas ini yang meyakinkan Lian bahwa dia belum gila. Bahwa tamparan ayahnya itu nyata, bukan halusinasi loop.

Lian melirik jam dinding.

Kara pasti sedang disidang juga di rumahnya. Mungkin lebih parah. Orang tuanya terlihat lebih histeris di sekolah tadi.

Apakah Kara baik-baik saja? Apakah dia minum obat penenang itu lagi?

Lian harus tahu.

Rasa khawatirnya membakar dada, mengalahkan rasa takut pada Ayahnya.

Dia membuka pintu kamar pelan-pelan. Mengintip.

Lorong lantai dua sepi. Lampu ruang tengah sudah dimatikan.

Orang tuanya mungkin sudah tidur, atau berdebat di kamar dengan suara pelan.

Lian mengendap-endap keluar menuju meja telepon di ujung lorong lantai dua.

Telepon rumah berwarna krem dengan kabel spiral keriting.

Tangannya gemetar saat mengangkat gagang telepon.

Tuuuuut... Tuuuut... (Nada sambung).

Dia menekan nomor telepon rumah Kara yang dia hafal di luar kepala (karena pernah dia liat di formulir pendaftaran ekskul dulu saat dia iseng buka-buka data siswa di ruang OSIS).

Jari telunjuknya memutar angka di rotary dial (telepon putar jadul).

2 - 5 - 0 - 3...

Bunyi putaran balik krrek-kreekk terdengar nyaring di malam sunyi.

Lian berdoa dalam hati.

Angkat, Ra. Angkat sendiri. Plis.

Tuuuut..... Tuuuuut.....

Dering ketiga.

Telepon diangkat.

Klik.

"Halo?"

Suara pria. Berat. Galak.

Ayah Kara.

Jantung Lian mencelos. Dia langsung membeku. Keringat dingin mengalir di pelipis.

"Halo? Siapa ini malam-malam?!" bentak suara di seberang sana.

Di latar belakang, sayup-sayup Lian mendengar suara... teriakan? Atau suara barang pecah?

"H-halo..." Lian memberanikan diri, mengubah suaranya jadi sedikit lebih berat. "Maaf, Om. Bisa bicara dengan Kara? S-soal tugas sekolah."

"Tugas sekolah apa jam segini?! Kamu Julian kan?! Anak ketua OSIS brengsek itu?!"

Ayah Kara langsung tahu.

Rupanya nama Julian Pratama sudah jadi daftar hitam di rumah itu.

"Om, saya cuma mau tau Kara baik-baik aja atau engg—"

"Denger ya, anak muda! Jangan pernah hubungi anak saya lagi! Gara-gara kamu, anak saya jadi sakit! Dia stress! Dia ngomong ngelantur!"

Suara di seberang sana bergetar penuh emosi.

"Saya akan kirim dia ke rumah neneknya di kampung biar jauh dari pengaruh kamu! Jangan cari dia lagi!"

KLIK. TUUUUT. TUUUUT.

Telepon diputus sepihak.

Lian masih memegang gagang telepon yang kini menyuarakan nada sibuk yang monoton.

Rasanya seperti ditusuk.

Dikirim ke kampung?

Dijauhin?

Lian meletakkan gagang telepon itu pelan-pelan.

Kakinya lemas. Dia merosot duduk di lantai dingin di samping meja telepon.

Sistem loop yang magis mungkin sudah kalah.

Tapi sistem dunia nyata—Sistem Orang Tua, Sistem Sekolah, Sistem Masyarakat—jauh lebih kuat dan lebih kejam.

Mereka tidak memutar ulang waktu.

Mereka memisahkan ruang.

Lian memeluk lututnya, menyembunyikan wajah di antara lengan.

Malam ini, di rumahnya yang besar, Julian Pratama merasakan kesepian yang paling purba. Kesepian yang tidak bisa disembuhkan dengan memutar kaset.

"Ra... tunggu gue," isaknya pelan, tanpa suara. "Jangan lupa... tolong jangan lupa."

Dari celah jendela, bulan separuh bersinar pucat.

Malam panjang baru saja dimulai. Dan hari esok bukan lagi tanggal 17 Agustus.

Hari esok adalah hari tanpa Kara.

1
Adhiefhaz Fhatim
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!