Hana, seorang anak yang tertukar pada saat dilahirkan, akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Namun, ia tak pernah menyangka, perasaan bahagia, kehidupan manis dengan orang tua, semuanya hanya harapan palsu semata. Ia diambil hanya untuk reputasi orang tua. Diabaikan, ditindas, bahkan mati pun tidak dipedulikan.
Jiwanya tidak menerima kematian, ia menoreh takdir pada langit, meminjam jiwa yang kuat.
Jiwa seorang Ratu hebat dari kerajaan Amerta, terpanggil untuk membalaskan dendam Hana. Jiwa leluhur yang terusik oleh derita sang penerus. Pewaris kehormatan dari kerajaan agung Amerta.
Nasib semua orang pun berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Brak!
"Anak durhaka!"
Pintu ruangan Liana dirawat dibuka dengan kasar. Hana yang sedang mengupas sebuah apel untuknya, tak bereaksi berlebihan. Berbeda dengan Liana yang terlonjak kaget di tempat tidurnya. Hana hanya memejamkan mata dengan jemari yang mencengkeram erat pisau buah. Menahan napas dari gejolak emosi yang memuncak.
"Kau lebih peduli pada pembantu dari pada Kakakmu sendiri?" bentak Tuan Haysa dengan emosi yang berada di ubun-ubun.
"Apa kau pikir nyawa pelayan ini lebih berharga daripada nyawa kakakmu, hah?" Dia semakin berapi-api, mata merahnya menatap Liana dengan tajam seolah-olah ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Nona ...." Tangan Liana bergetar, memegang selimut dengan erat. Ia sangat ketakutan.
Hana menepuk-nepuknya dengan lembut, mengangguk pelan memberinya ketenangan. Liana adalah salah seorang yang ingin Hana lindungi.
"Kurang ajar! Anak sialan!" Tuan Haysa mendekat, melayangkan tangan hendak memukul Hana.
Namun, dengan sigap Hana menangkap tangannya meski tak menoleh. Ia berpaling dengan jemari yang mencengkram erat pergelangan tangan ayahnya. Tatapan mata Hana mampu membunuh puluhan menteri pada persidangan istana.
Ia bangkit, memutar tangan ayahnya tanpa belas kasihan.
"Argh! K-kau ... ba-bagaimana ... mung-mungkin ... argh!" Ia menjerit saat Hana semakin menekan tulang jemarinya. Lalu ....
Bugh!
Hana menendang perut laki-laki paruh baya itu hingga terjungkal dan menabrak dinding ruangan.
"Nyawa anakmu sama sekali tidak berharga di mataku. Aku peduli pada mereka yang berbuat baik kepadaku. Lagi pula, bukankah dia sudah di rumah sakit? Apa lagi yang kau permasalahkan? Apa kau ingin melaporkan aku ke pihak berwajib? Tapi, kudengar kau menginginkan villa peninggalan nenek?" Hana tersenyum tipis, tapi sorot matanya tajam dan dingin.
Tuan Haysa dapat melihatnya dengan jelas, hanya ada kebencian di pancaran mata anaknya. Ia bangkit perlahan, tak lama yang lain pun datang berhamburan ke ruangan Liana.
Nyonya Haysa, Shopia, wanita tua, juga Evan. Tak tertinggal Alan yang menatap Hana penuh harap. Wanita itu mendengus, kembali ke tempat duduknya melanjutkan mengupas apel.
"Suamiku! Apa yang terjadi?" Nyonya Haysa mendekati suaminya, memeriksa seluruh tubuh.
"Aku tidak apa-apa. Kau tenang saja," sahut Tuan Haysa dengan napas tersengal.
"Hana! Kau baik-baik saja?" Alan berlari mendekati Hana. Ia hendak menggapai tangan adiknya itu, tapi Hana menepisnya.
"Jangan berpura-pura peduli kepadaku. Aku tidak perlu kau kasihani. Simpan saja rasa kasihmu itu untuk adikmu," ketus Hana tanpa menoleh kepada Alan.
"Hana, kali ini kau salah. Kenapa kau tiba-tiba memukuli Ethan di jalan? Itu menjatuhkan harga dirinya," ucap Alan pelan.
Hana mendengus, enggan menyahuti ucapan kakaknya.
"Hana, sudah cukup kau membuat kak Ethan terluka parah. Sekarang kau bahkan menyakiti ayah. Jika kau punya dendam kepadaku, datang saja kepadaku jangan pada yang lain," ucap Shopia sangat terlihat peduli kepada keluarganya.
Brak!
Hana meletakkan pisau dengan kuat di atas meja kecil samping ranjang. Liana tersentak, menatap cemas pada semua orang. Hana bangkit dan melangkah pelan mendekati Shopia. Gadis itu ketakutan, mundur ke belakang ayahnya mencari perlindungan.
"A-apa yang ingin kau lakukan?" tanyanya terbata-bata.
Hana tertawa kecil, menatap remeh pada saudari angkatnya itu.
"Bukankah kau yang memintanya? Memintaku untuk membuat perhitungan denganmu. Sekarang, kau terlihat ketakutan. Apa aku sebegitu menakutkan bagimu?" ujar Hana seraya menarik tangan Shopia dengan cepat.
Bahkan, Tuan Haysa yang berada di antara mereka pun tak melihat gerakan Hana.
Plak!
Plak!
Dua tamparan sekaligus ia berikan kepada Shopia, membuat semua orang tercengang. Wanita tua di sana geram, menarik tangan Shopia dengan cepat.
"Hana!"
"Nenek!" Ia merengek, memperlihatkan bekas tangan Hana di wajahnya.
"Perilakumu sangat kasar. Kau tidak pantas menyandang nama keluarga ini. Aku tidak memiliki keturunan sepertimu!" sengit wanita tua itu tanpa perasaan.
"Ugh! Benarkah? Kau pikir aku peduli pada nama besar keluarga ini? Oh, tentu saja. Berkat nama besar Haysa kau menjadi terkenal di kota Eldoria. Siapa yang tidak mengenal nyonya tua dari keluarga Haysa ini, yang katanya sering datang ke club malam dan menyewa banyak gigolo," ujar Hana diakhiri tawa renyah yang menyakitkan.
"Kau ...!" Tak ada kata yang keluar dari bibir keriput itu.
Wajahnya pucat, tangan dan kakinya bergetar. Ia gugup dengan tatapan semua orang yang mengarah kepadanya.
"Ibu ... kau ...?" Nyonya Haysa menatap ibunya penuh tanya.
"Tidak! Jangan dengarkan omong kosongnya! Mana mungkin aku melakukan hal yang memalukan seperti itu!" kilahnya dengan wajah gugup yang tak terkendali.
Bagaimana dia tahu semua ini? Aku sudah menyembunyikannya dengan baik selama ini. Tidak! Dia tidak mungkin tahu. Itu hanya untuk menjebak ku saja. Ya, dia tidak mungkin tahu.
Wanita tua itu bertarung dengan hatinya. Nurani menolak bahwa Hana mengetahui rahasianya itu. Meyakinkan diri bahwa Hana hanya mengarang cerita.
Hana kembali tertawa, menarik perhatian semua orang. Lalu, tatapan matanya kembali mengarah pada wanita tua itu.
"Kau tidak menyangka aku mengetahui rahasiamu itu, bukan? Kau pasti bertanya-tanya dari mana aku mendapatkan cerita itu? Kau tenang saja, aku akan menyimpannya sendiri. Kecuali ...." Hana menggantung kalimat, menatap penuh selidik pada sosok yang wajahnya pucat pasi itu.
"Apa yang kau katakan, Hana! Dia itu nenekmu, kau jangan mengatakan yang tidak-tidak!" bentak sang ibu sengit.
"Aku tidak menyangka, di usiaku yang sudah tidak muda lagi, cucuku sendiri memfitnahku. Oh, ini keji sekali!" rengek wanita tua itu berpura-pura menangis.
Hana mendengus sambil berkata, "Baru ingat aku cucumu."
"Hana, jangan keterlaluan!" tekan Alan dengan wajah geram, "sekarang minta maaf kepada Nenek agar karma buruk tidak mengikutimu!" lanjutnya bijaksana.
Hana menoleh, menatap dingin pada kakaknya itu.
"Minta maaf? Dia pantas?" Hana menuding wanita tua itu.
"Cukup, Hana! Jika kau terlalu jauh maka aku tidak akan bisa membelamu," ancam Alan geram.
"Kau pikir aku membutuhkanmu? Simpan saja perasaanmu untuk adikmu itu!" sengit Hana menunjuk dada Alan cukup keras.
"Jika tidak ada urusan, bawa keluarga bodohmu pergi. Liana harus beristirahat," usir Hana seraya kembali ke tempat duduknya.
"Tapi, Hana. Masalah villa ...."
"PERGI!"
*****
Selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang menjalankan. Semoga keberkahan menyertai kita. Aamiin.
hai jalang gk tau diri lo