NovelToon NovelToon
Sistem Peningkatan Kekayaan

Sistem Peningkatan Kekayaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Kaya Raya
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Gu Yanqing hidup miskin, tanpa latar belakang, tanpa peluang.
Hingga suatu hari, Sistem Peningkatan Kekayaan aktif—memberinya kesempatan untuk naik kelas, selama semua yang ia peroleh masuk akal dan sah.

Dari nol ke kaya, dari diremehkan ke dikelilingi orang-orang yang terlihat tulus.
Tapi di dunia uang dan status, kepercayaan punya harga.

Dan saat harga itu terlalu mahal, tidak semua orang sanggup membayarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 : Rekaman yang Terkubur

Gedung administrasi lama Dongkou Port berdiri terpisah dari terminal utama yang sibuk. Cat temboknya kusam, papan petunjuk berwarna biru pucat, dan lorong dalamnya berbau kertas tua serta pendingin ruangan yang jarang diservis.

Gu Yanqing berhenti di depan papan kecil bertuliskan: Unit Arsip Keselamatan Kerja.

Ia mengenakan kemeja polos dan membawa map dokumen tipis. Tidak ada ekspresi menantang di wajahnya. Hanya ketenangan yang terukur.

Ia mengetuk pintu terbuka.

Seorang perempuan sekitar empat puluh tahun duduk di balik meja besi dengan komputer lama. Rambutnya diikat rapi. Kacamata tipis bertengger di ujung hidungnya.

“Ya?” tanyanya tanpa senyum.

“Saya ingin mengajukan permintaan akses arsip keselamatan kerja tahun lalu,” kata Gu Yanqing.

Perempuan itu menatapnya sekilas. “Untuk keperluan internal?”

“Untuk keperluan perkara hukum.”

Tatapan itu berubah. Lebih hati-hati.

“Nama Anda?”

“Gu Yanqing.”

Perempuan itu mengetik beberapa detik. “Saya He Rong. Arsip lama tidak bisa diakses sembarangan.”

“Saya memahami prosedurnya.”

“Tahun berapa?”

Gu Yanqing menyebut tanggal kecelakaan ayahnya dengan tepat.

He Rong berhenti mengetik.

“Data periode itu sebagian besar sudah dipindahkan,” katanya. “Retensi sistem kamera tidak permanen. Banyak yang sudah dihapus sesuai kebijakan penyimpanan.”

“Sesuai kebijakan internal?” tanya Gu Yanqing.

“Sesuai prosedur.”

Jawaban formal.

Gu Yanqing mengeluarkan satu lembar dokumen dari mapnya dan meletakkannya di meja.

“Ini nomor perkara yang sudah terdaftar di pengadilan. Saya mengajukan permintaan ini sebagai bagian dari proses pembuktian.”

He Rong melihat sekilas nomor perkara itu. Jarinya tidak lagi bergerak di keyboard.

“Untuk akses arsip yang berkaitan dengan perkara hukum, Anda perlu surat resmi permintaan dari pengadilan,” katanya kaku. “Permintaan pribadi tidak cukup.”

“Saya sedang dalam proses mengajukan permintaan resmi itu,” jawab Gu Yanqing tenang. “Namun saya ingin memastikan terlebih dahulu apakah arsip tersebut masih ada secara fisik.”

He Rong menyandarkan tubuhnya sedikit. “Data kamera lama biasanya tersimpan di unit penyimpanan terpisah. Tapi saya tidak bisa menjamin keberadaannya.”

“Apakah dipindahkan ke gudang arsip lama?”

Perempuan itu menatapnya lebih tajam. “Anda tahu banyak.”

“Saya hanya mencoba memahami alur administrasi.”

Hening beberapa detik.

Suara printer di ruangan lain terdengar samar.

“Masalahnya,” lanjut He Rong, “arsip keselamatan kerja melewati beberapa lapis unit. Ada arsip digital pusat, ada penyimpanan internal departemen keselamatan, dan ada cadangan fisik.”

“Dan untuk periode tersebut?”

“Sebagian besar sudah tidak aktif di sistem pusat.”

“Artinya masih mungkin tersimpan di unit lain.”

He Rong tidak langsung menjawab.

Panel sistem muncul singkat di sudut pandang Gu Yanqing.

Petunjuk Lokasi Arsip Terdeteksi:

– Gudang arsip lama

– Unit penyimpanan keselamatan internal

Tidak ada detail tambahan. Tidak ada perintah.

Hanya petunjuk.

Rekaman belum sepenuhnya hilang.

Gu Yanqing menutup panel itu tanpa reaksi wajah.

“Saya tidak meminta akses ilegal,” katanya pelan. “Saya hanya ingin mengetahui apakah tanggal tersebut masih memiliki rekaman cadangan.”

He Rong menghela napas kecil. “Anda harus mengerti posisi saya. Kasus yang melibatkan perusahaan besar sensitif. Setiap akses akan tercatat.”

“Biarkan tercatat.”

Jawaban itu membuat He Rong terdiam sebentar.

“Jika ada rekaman,” lanjut Gu Yanqing, “itu akan diverifikasi secara resmi melalui pengadilan. Jika tidak ada, ketiadaannya juga akan menjadi bagian dari catatan.”

Perempuan itu memandangnya beberapa detik lebih lama. Ia tampak menimbang antara prosedur dan risiko pribadi.

“Akses langsung ke sistem pusat tidak memungkinkan,” katanya akhirnya. “Tapi saya bisa cek apakah indeks penyimpanan lama masih mencatat nomor arsip untuk tanggal tersebut.”

“Itu cukup.”

He Rong berdiri, berjalan ke lemari besi arsip kecil di sudut ruangan. Ia mengeluarkan map tebal berisi daftar indeks lama—bukan rekaman, hanya daftar kode penyimpanan.

Ia membuka halaman demi halaman, jarinya bergerak cepat di atas baris tanggal.

Ruangan terasa lebih sunyi.

Gu Yanqing berdiri diam, tidak mendesak.

He Rong berhenti di satu baris.

“Ada kode penyimpanan untuk unit kamera zona timur,” katanya pelan. “Status: dipindahkan ke gudang arsip lama.”

Tanggalnya sesuai.

“Apakah gudang itu masih aktif?” tanya Gu Yanqing.

“Masih. Tapi aksesnya terbatas dan harus didampingi.”

“Saya siap mengikuti prosedur.”

He Rong menutup map indeks itu perlahan.

“Saya tidak menjanjikan apa pun,” katanya tegas. “Bisa saja rekamannya sudah rusak atau tidak terbaca.”

“Saya hanya perlu memastikan.”

Tatapan mereka bertemu.

Di balik jawaban formal dan sikap defensif, ada satu fakta sederhana:

Rekaman itu belum sepenuhnya menghilang.

Dan jika ia memang masih ada di gudang arsip lama, maka pertarungan ini akan memasuki tahap baru—bukan lagi asumsi, melainkan bukti visual yang berpotensi mengguncang laporan resmi.

He Rong meraih kartu akses dari laci.

“Saya hanya bisa memberi Anda waktu terbatas,” katanya. “Dan semua yang Anda lihat tidak boleh disalin tanpa izin resmi.”

Gu Yanqing mengangguk.

Ia tidak membutuhkan penyalinan saat ini.

Ia hanya perlu melihat.

Karena jika arsip itu masih ada, maka seseorang pernah memilih untuk tidak menunjukkannya.

...

Gudang arsip lama berada di sisi belakang kompleks administrasi, terpisah dari gedung utama oleh lorong sempit dan pagar besi berkarat. Lampu neon di langit-langit menyala redup, sebagian berkedip pelan.

He Rong membuka pintu logam dengan kartu aksesnya. Bunyi klik terdengar keras di ruang sunyi.

“Waktu Anda maksimal tiga puluh menit,” katanya. “Saya harus tetap di dalam.”

“Saya mengerti.”

Di dalam, rak-rak logam berjajar rapat. Kardus arsip diberi label tahun dan zona kerja. Debu tipis menempel di sudut-sudut kotak. Udara terasa lebih berat.

He Rong berjalan ke rak bagian belakang. “Zona timur, tahun itu… seharusnya di sini.”

Ia menarik satu kardus besar dan meletakkannya di meja logam panjang. Di atasnya tertulis kode yang sama dengan indeks tadi.

Gu Yanqing membuka tutupnya perlahan.

Di dalam terdapat beberapa hard disk lama dan cakram penyimpanan dengan label tangan: Kamera ZT-03, ZT-04, ZT-05.

Tanggal tertera di sisi label.

Tangannya berhenti pada satu cakram dengan tanggal persis hari kecelakaan.

“Ini,” katanya pelan.

He Rong tidak berkomentar. Ia hanya menunjuk ke komputer lama di sudut ruangan. “Jika masih bisa dibaca, Anda bisa lihat di sana. Tidak ada akses jaringan luar.”

Gu Yanqing memasukkan cakram itu. Komputer berderit pelan saat membaca data.

Beberapa detik terasa lebih panjang dari biasanya.

Folder terbuka.

Rekaman kamera zona timur, pukul 13.00–16.00.

Ia membuka file yang sesuai rentang waktu laporan.

Layar menampilkan sudut area kerja pelabuhan. Gambar agak buram, warna sedikit pudar, tetapi jelas cukup untuk mengidentifikasi posisi alat berat dan pekerja.

Gu Yanqing berdiri diam, kedua tangan di sisi tubuhnya.

Ia tidak ingin melewatkan detail.

Rekaman menunjukkan alat berat diparkir lebih dekat ke tepi platform daripada standar yang tertulis di manual keselamatan. Tidak ada garis pembatas terlihat jelas di lantai.

Ia mempercepat sedikit ke waktu sebelum kejadian.

Seorang pekerja—ayahnya—terlihat berjalan mendekati area tersebut.

Gu Yanqing tidak menunjukkan perubahan wajah.

Ia terus menonton.

Di sudut layar, tidak tampak pengawas keselamatan yang seharusnya tercatat bertugas pada jam itu menurut laporan resmi.

Ia memperlambat.

Pukul 14.18.

Alat berat bergerak sedikit—tanpa sinyal peringatan yang terlihat.

Dua pekerja lain menoleh, tetapi tidak ada figur berseragam pengawas yang mendekat.

Laporan resmi menyebut pengawas berada di lokasi dan telah melakukan pengecekan rutin sebelum kejadian.

Di rekaman ini, tidak terlihat.

Pukul 14.20.

Terjadi pergerakan mendadak. Kamera menangkap momen kacau beberapa detik—lalu pekerja berlarian.

Gu Yanqing menghentikan video.

Ia kembali ke awal segmen dan memutar ulang bagian sebelum kejadian.

Posisi alat berat.

Jarak ke tepi platform.

Ketiadaan pengawas di sekitar.

Ia mencatat waktu secara mental.

He Rong berdiri beberapa langkah di belakangnya, tidak berbicara.

“Apakah rekaman ini pernah diminta sebelumnya?” tanya Gu Yanqing tanpa menoleh.

“Tidak sejauh yang saya tahu,” jawab He Rong hati-hati.

“Apakah ada log akses untuk cakram ini?”

“Ada catatan pemindahan ke gudang. Tidak ada catatan penayangan ulang.”

Gu Yanqing memutar kembali ke bagian laporan menyebutkan bahwa pengawas telah melakukan pengecekan rutin pukul 14.00.

Ia melihat jam di sudut layar rekaman.

Pada pukul 14.00, tidak ada siapa pun yang mengenakan rompi pengawas di area itu.

Hanya pekerja biasa dan operator alat berat.

Ia menghentikan video sekali lagi.

Isi rekaman ini tidak menunjukkan keseluruhan kejadian secara detail, tetapi cukup untuk menciptakan pertanyaan serius terhadap laporan resmi.

Laporan menyebut:

– Pengawas hadir.

– Prosedur pengecekan dilakukan.

– Area aman sesuai standar.

Rekaman menunjukkan:

– Pengawas tidak terlihat pada waktu krusial.

– Alat berat berada di posisi yang meragukan.

– Tidak ada tanda visual prosedur pengecekan.

Gu Yanqing merasakan satu hal yang berbeda dari sebelumnya.

Bukan lagi kemungkinan.

Melainkan konfirmasi bahwa ada ketidaksesuaian nyata.

Ia mengeluarkan buku catatan kecil dan menulis waktu-waktu penting yang terlihat di layar.

“Saya akan mengajukan permintaan resmi agar rekaman ini diamankan sebagai bukti,” katanya.

He Rong mengangguk singkat. “Itu jalur yang benar.”

Gu Yanqing mengeluarkan cakram dari komputer dengan hati-hati dan mengembalikannya ke kardus.

Ia menutup kotak itu sendiri.

Lampu neon kembali berkedip pelan di atas mereka.

Di dalam ruangan arsip yang minim cahaya itu, kebenaran tidak berteriak. Ia hanya hadir dalam bentuk piksel buram dan jam digital di sudut layar.

Namun itu cukup.

Jika rekaman ini diajukan ke pengadilan, maka laporan resmi kecelakaan tidak bisa lagi berdiri tanpa pertanyaan.

Seseorang harus menjelaskan mengapa pengawas yang tercatat hadir tidak muncul di kamera.

Seseorang harus menjelaskan mengapa posisi alat berat berbeda dari deskripsi laporan.

Gu Yanqing berdiri tegak.

Ia tidak lagi mencari kemungkinan manipulasi.

Ia telah melihat jejak visualnya.

Dan jika ini dibawa ke ruang sidang, seseorang harus menjelaskan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!