Mau menyimpan bangkai serapat apa pun, pada akhirnya akan tercium juga.
Niat hati memberi kejutan untuk suami tercinta di tahun ke 2 pernikahan. Nyatanya aku, yang di beri kejutan yang menjadi awal runtuhnya kepercayaan dan hancurnya hati ku. Hingga perpisahan gak lagi bisa ku hindari. Dari pada hidup bersama pria yang sudah menghianati.
Di balik ruang kebesaran Joseph.
"Pelan pelan, sayang!"
"Gak bisa, mas! Aku udah gak sabar pengen piton kamu!"
"Kamu ini, selalu saja pandai memu4skan ku! Kamu agresif, inisiatif, aku suka itu!"
"Siapa dulu dong, Karin! Kekasih mu! Karena aku, kamu bisa berada di posisi ini! Ingat itu! Aku pahlawan mu, mas!"
"Dan sayangnya aku harus berkorban menikahi si Jenny. Wanita bodoh, manja, menyusahkan, dan gak bisa apa apa!" gerutu Joseph.
Ceklek.
"Je- Jenny, ka- kamu ngapain ke sini?"
Hingga aku di pertemukan kembali, dengan bocah yang mampu mengusik hidup ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
...🌻🌻🌻🌻🌻...
“Bujuk dah, lagi nanya apa lagi wawancara kerja, pah?” kekeh Alan.
Rayan mendengus dengan wajah serius nya, tanpa berniat menghentikan larinya, “Papa serius, Lan!”
“Aku tau, pah! Aku pulang masih di batas wajar, pah! Aku bahkan bertemu dengan om Jaya, dan papa tau! Hanya menyebut nama papa dan mama. Om Jaya memberi kan lampu hijau, untuk Alan mendekati mbak cantik!”
Rayan mengerutkan keningnya dalam, ‘Jaya bisa menerima keberadaan Alan? Semudah itu? Apa mungkin Jaya sudah mengetahui jati diri Alan yang sebenarnya?
Seorang ayah, pasti gak akan bisa dengan mudah menerima pria asing masuk ke dalam kehidupan putrinya! Aku rasa Jaya sudah mengetahui jati diri Alan.’
“Apa itu saran dari om Rendra? Menyebut langsung nama papa dan mama mu?” tanya Rayan berusaha terlihat biasa, meski hatinya begitu kalut.
“Iya siapa lagi kalo bukan om Rendra, pah! Dan om Rendra juga memberi tahu Alan, kalo mbak cantik ada di rumah orang tuanya.” jelas Alan.
Rayan terkekeh, “Jadi, kamu langsung menemui pujaan hati mu itu? Bagaimana tanggapan nya? Kamu pasti langsung di tolak!”
Bukannya marah, Alan justru terkekeh, “Bukan cuma di tolak, pah! Mbak cantik terang terangan mengusir ku! Menyuruh ku pulang!
Tapi tidak dengan om Jaya, ia sama seperti papa. Merangkul Alan, entah kenapa Alan merasa kehangatan di tengah keluarga mereka. Kami makan bersama, di sana mbak cantik terlihat sekali gak menyukai Alan, pah!”
“Wanita baik baik, butuh waktu untuk dekat dengan orang baru, Lan! Terlebih, Jenny masih terikat pernikahan dengan pria lain. Apa ada syarat dari om Jaya, untuk kamu mendekati putrinya, Jenny?” cecar Rayan penuh selidik.
Alan menyunggingkan senyum nya, “Alan ngerti, pah! Alan juga gak akan mak5a mbak Jen untuk terima Alan. Kami kan bisa berteman dulu. Penjajakan sembari menunggu jandanya, mbak cantik!”
“Om Jaya cuma minta Alan untuk lebih bersabar ngadepin mbak cantik yang judesnya naudzu billah, pah! Belum lagi aku harus selesaikan sekolah dan pendidikan ku lebih dulu.” imbuh Alan.
“Dia ingin kamu memantaskan diri untuk putri nya, Lan! Kamu itu pria, calon imam untuk putrinya. Harus lebih pengertian, lebih peka, lebih bijak, lebih segala galanya terhadap istri mu!” jelas Rayan, secara gak langsung mendukung keputusan Jaya.
“Iya, pah! Alan pasti akan belajar lebih giat! Siapa tau Alan bisa loncat kelas. Bisa cepat menyelesaikan pendidikan. Papa benar setuju dengan hubungan Alan dan mbak Jen kan? Papa gak akan berubah pikiran seperti mama kan?” tanya Alan, memastikan.
Rayan menarik nafasnya dalam, seakan sesak di dada untuk mengatakannya, “Papa akan mendukung kamu dengan wanita yang benar benar kamu cintai. Jangan pernah kamu sakiti, siapa pun wanita yang akan menjadi pendamping mu, semisal wanita itu bukan lah Jenny.”
‘Jangan seperti papa, gak bisa mempertahan kan wanita yang papa cintai. Hanya semata ketidak berdayaan, ketidak punyaan. Papa gak akan membiarkan mu merasakan seperti apa yang papa rasakan, Lan!’ jerit batin Rayan.
Alan menarik nafas dalam, menghembuskan nya dengan perlahan. Lalu menatap serius Rayan.
“Mungkin terdengar gila, tapi hati Alan udah kecantol sama mbak cantik, pah! Dan Alan hanya ingin dan akan mempertahan kan mbak cantik. Apa pun rintangan yang menghadang, pasti bakal Alan ba5mi.”
“Jangan sampai perasaan cinta mu itu menjadi obsesi, Lan! Bahaya!” jelas Rayan dengan tegas.
Hingga tanpa terasa mereka sudah memutari 5 kali halaman rumah. Langkah keduanya kini berakhir di teras rumah.
“Alan ngerti, pah! Makasih ya udah ingetin Alan!” uajr Alan dengan tulus.
Rayan menepuk bahu Alan, “Sudah kewajiban papa untuk mengingatkan mu, nak! Kita sudahi larinya. Kamu langsung mandi, siap siap. Kita ketemu di meja makan ya!”
“Siap, pah!” Alan memperlihatkan jempolnya pada Rayan.
Sementara di salah satu perumahan, matahari bah kan belum memperlihatkan cahayanya. Namun Joseph sudah membuat kegaduhan di depan rumah istri barunya, wanita yang ia nikah dari hasil penggerebekan. Siapa lagi kalo bukan Karin.
Dugh dugh dugh.
Joseph menggedor pintu dengan keras.
“Buka pintunya, Rin!” teriak Joseph di sisa kesadarannya.
Dugh dugh dugh.
Joseph kembali menggedor pintu.
“Buka Rin! Dasar wanita gak guna! Buka woy!” teriak Joseph, ia menyandarkan tubuhnya pada salah satu daun pintu. Dengan kedua kaki yang lunglai.
“Karin! Istri baru ku! Aku pulang!” racau Joseph lagi.
Sekian menit Joseph berteriak, menggedor pintu. Akhirnya terdengar sahutan dari suara Karin dari dalam rumah. Wanita itu jelas baru bangun.
“Iya iya, tunggu sebentar!” timpal Karin.
Kreeek.
Karin menarik daun pintu, yang tepat di jadi kan sandaran untuk Joseph berdiri. Yang membuat tubuh Joseph langsung terhuyung ke depan menubruk Karin yang berada di depannya.
Brugh.
“Akkkhhh! Mas! Astagaaa, kamu mabuk?” pekik Karin.
Wanita muda itu berusaha menghindari wajah Joseph. Aroma alkohol yang menyengat dari tubuh Joseph begitu terasa. Sementara kedua tangan Karin, berusaha menjaga keseimbangan tubuh sang suami untuk tetap berdiri.
“Eegghh bawel kamu! Cepat bantu aku ke kamar! Aku ngantuk!” protes Joseph dengan wajah merah padam.
Karin memapah Joseph dengan susah payah. Ia berhasil membawa suaminya itu masuk ke dalam rumah.
“Kamu kenapa jadi kaya gini sih, mas? Kamu juga blokir nomor aku! Semalaman kamu minum? Jangan bilang kamu gak menemukan Jenny? Wanita penghasut itu!” cecar Karin penuh selidik.
Tangan Joseph mengudara ke sembarang arah. Seakan hendak memukul Karin yang terus mengoceh. Suara Karin bak suara nyamuk yang mendengung di telinganya, begitu mengganggu.
“Akkkhh berisik! Bisa diam gak sih! Sakit nih kepala ku!”
“Kamu payah bangat sih, mas! Masa cari seorang wanita aja gak bisa! Benar benar payah kamu, mas! Percuma kamu hidup dengannya 2 tahun, masih gak tau juga apa yang ia lakukan kalo lagi marah!” gerutu Karin gak mau kalah.
Nafas Joseph kian memburu kesal, “Akkkhh berisik kamu, Rin!”
Brugh.
“Akkhhhh!”
Bersambung…