Karya ini telah terpilih sebagai pemenang YAAW 2026 periode 1 kategori 2 juara 3🥳 🎉 🎉
Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.
Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.
Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Omar menoleh ke belakang.
“Tuan…” panggil Omar kepada Syakil yang masih menatap keluar jendela.
“Ya?”
“Saya baru menerima informasi.”
Nada suara Omar berubah sedikit lebih serius, yang mana itu membuat Syakil langsung menangkap perbedaan itu. Ia mengalihkan pandangannya dari jendela dan menatap ke depan.
“Ada apa?”
Untuk sepersekian detik Omar terlihat ragu sebelum menjawab pertanyaan syakil.
“Ini tentang Nona Arsy.”
Nama itu membuat tubuh Syakil menegang tanpa sadar.
“Kenapa dengan dia?” tanya Syakil yang membuat Omar menelan ludah dengan pelan.
“Ayah nona Arsy, Pak Rahman… saat ini sedang dirawat di rumah sakit.”
Untuk sesaat Syakil merasakan detak jantungnya mendadak berhenti.
“Dirawat?” ulang Syakil dengan tajam.
“Ya, Tuan. Menurut laporan, beliau mengalami serangan jantung. Dan saat ini kondisinya tengah kritis.”
Kata terakhir itu menggantung berat di udara. Ekspresi Syakil berubah drastis. Senyum tipis yang tadi sempat muncul lenyap seketika. Sorot matanya yang hangat berubah tajam dan tegang.
“Rumah sakit mana?” tanyanya cepat dan membuat Omar menyebutkan nama rumah sakit dan lokasinya.
Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Syakil mencondongkan tubuhnya ke depan.
“Putar arah sekarang.”
Sopir yang mendengar perintah itu melalui kaca pembatas langsung menoleh sedikit.
“Maaf, Pak? Tapi kita hampir tiba di hotel.”
“Aku tidak peduli, cepat ke rumah sakit itu, sekarang!!!” perintah syakil dengan tegas dan tak terbantahkan yang membuat sopir itu tak berani menentang permintaan Syakil.
“Baik, Pak.”
Mobil segera mengambil jalur keluar terdekat. Kecepatan sedikit ditambah. Lampu-lampu kota kembali berlari di sisi jendela. Di kursi belakang, tangan Syakil mengepal pelan.
Arsy.
Di mana pun perempuan itu berada sekarang, ia pasti sendirian menghadapi semuanya. Ia mengenal Arsy. Perempuan itu selalu berusaha terlihat kuat di depan orang lain, padahal hatinya lembut dan mudah terluka. Bayangan Arsy yang menangis di lorong rumah sakit tiba-tiba muncul di benak Syakil meski ia belum melihatnya. Dadanya terasa sesak. Ia baru saja kembali dengan niat menyatakan perasaannya kepada Arsy sekaligus ingin melamarnya untuk menjadi istrinya. Namun kini rencana itu terpaksa harus ditunda karena keadaannya yang tidak memungkinkan.
Mobil melaju cepat membelah jalanan kota Jakarta yang mulai lengang menjelang tengah malam. Lampu-lampu kota memantul di kaca mobil, menciptakan kilatan-kilatan cahaya yang silih berganti menerangi wajah Syakil yang kini tampak jauh berbeda dari beberapa menit lalu. Tak ada lagi senyum di bibirnya. Rahangnya mengeras. Tatapannya tajam dan fokus lurus ke depan. Tangannya mengepal di atas paha, urat-uratnya terlihat tegang.
Ia tahu Arsy sangat mencintai ayahnya. Pak Rahman adalah satu-satunya keluarga yang benar-benar ia miliki. Jika sesuatu terjadi pada pria itu, entah apa yang akan terjadi pada Arsy. Syakil menutup matanya sebentar, mencoba mengendalikan pikirannya yang mulai dipenuhi bayangan buruk.
“Berapa lama lagi kita sampai di rumah sakit?” tanya Syakil tanpa mengalihkan pandangannya.
“Sekitar lima belas menit lagi, Tuan, kalau jalan tetap lancar,” jawab sopir dari depan.
“Tambah lagi kecepatannya, aku ingin segera sampai di rumah sakit itu segera.”
Mobil kembali menambah kecepatan. Di kursi depan, Omar terdiam. Ia tahu lebih baik tidak berkata apa-apa saat tuannya sedang seperti ini. Ia sudah lama mengenal Syakil. Di balik sikapnya yang tenang dan terkontrol, ada sisi protektif yang sangat kuat—terutama jika menyangkut satu nama itu. Sementara itu, di sebuah ruangan dengan dinding putih dan lampu neon yang terasa terlalu terang, Arsy akhirnya jatuh tertidur setelah sekian lama menangisi kondisi ayahnya.
Ia tak sadar kapan matanya terpejam. Setelah berjam-jam menangis, berdoa, dan menggenggam tangan ayahnya tanpa henti, tubuhnya yang lelah akhirnya menyerah. Ia masih duduk di kursi kecil di samping ranjang IGD, kepalanya bersandar di tepi kasur dekat tangan ayahnya yang masih ia genggam. Napasnya terdengar pelan, sesekali tersendat karena sisa tangis.
Wajahnya sembab. Jilbabnya sedikit berantakan. Tangan kanannya masih setia menggenggam tangan Pak Rahman, seolah takut jika dilepas maka pria itu akan pergi.
Bip… bip… bip…
Suara monitor jantung tetap berbunyi monoton.
Beberapa menit kemudian, pintu ruang IGD terbuka perlahan. Seorang perawat wanita masuk dengan langkah hati-hati. Ia melirik ke arah Pak Rahman, lalu pandangannya jatuh pada Arsy yang tertidur dalam posisi yang tidak nyaman. Perawat itu mendekat pelan.
“Mbak…” panggilnya pelan namun Arsy tidak langsung bangun.
Perawat itu menyentuh bahu Arsy dengan hati-hati.
“Mbak Arsy?”
Arsy tersentak kecil. Matanya terbuka perlahan, masih buram. Butuh beberapa detik baginya untuk mengingat di mana ia berada. Begitu pandangannya kembali fokus dan melihat ayahnya yang terbaring lemah, kesadaran Arsy pulih sepenuhnya.
“Ayah…” bisik Arsy dengan cepat sembari langsung menegakkan tubuhnya dan membuat perawat itu tersenyum tipis.
“Dokter meminta Mbak Arsy ke ruangannya. Beliau ingin membahas kondisi Pak Rahman lebih lanjut.”
Kalimat itu langsung membuat rasa kantuk Arsy lenyap.
“Sekarang, suster?” ulang Arsy dengan pelan, suaranya terdengar serak karena terlalu lama menangis.
“Iya, Mbak. Dokter sudah menunggu mbak Arsy di ruangannya.”
“Sebentar ya, Yah… Arsy mau ke dokter dulu.”
Arsy berdiri pelan. Kakinya sedikit pegal karena terlalu lama duduk tanpa bergerak. Ia mengusap wajahnya, mencoba merapikan jilbab dan menarik napas dalam-dalam.
“Mari saya antar.”
Arsy mengangguk. Dengan langkah yang masih terasa ringan dan kosong, ia meninggalkan ruang IGD dan membuat pintu itu kembali tertutup.
Beberapa menit setelah Arsy berjalan menyusuri lorong menuju ruang dokter, sebuah mobil hitam berhenti cukup tergesa-gesa di depan pintu masuk rumah sakit.
Sopir turun dengan cepat untuk membuka pintu belakang, membuat Syakil langsung keluar tanpa menunggu. Omar menyusul di belakangnya. Begitu kakinya menapak lantai rumah sakit, aroma antiseptik langsung menyergap indra penciumannya. Suara langkah kaki, roda brankar, dan percakapan lirih keluarga pasien terdengar di berbagai sudut. Syakil tidak ingin membuang-buang waktu. Dengan langkah panjang dan terburu-buru—sesuatu yang jarang sekali ia lakukan di tempat umum, ia masuk ke dalam lobi rumah sakit.
Beberapa orang yang duduk di ruang tunggu sempat menoleh. Aura maskulin dan wajah tegas Syakil tetap mencuri perhatian, namun kali ini bukan karena pesona. Ada kegelisahan yang jelas terlihat di sorot matanya. Ia langsung menuju meja resepsionis.
“Selamat malam, Pak. Ada yang bisa dibantu?” tanya petugas wanita di balik meja resepsionisnya dengan senyum ramah.
“Saya mencari pasien atas nama Pak Rahman Syahira,” ucap Syakil tanpa basa-basi. Suaranya rendah tapi tegas.
Petugas itu mengetik cepat di komputer.
“Sebentar ya, Pak…”
Beberapa menit terasa lama. Syakil menahan diri untuk tidak terlihat terlalu gelisah, tapi jarinya tanpa sadar mengetuk pelan permukaan meja.
“Pasien berada di ruang IGD, Pak,” jawab petugas itu akhirnya. “Lantai satu, lurus lalu belok kanan.”
“Terima kasih.”
memang paling g enak klo qta merasa jd beban bagi orang lain,,apalagi orang tersebut sangat amat baik terhadap qta...
y Allah,,aq jd keinget bapa aq yg udh ninggalin aq /Sob/
d saat ayah Rahman menghembuskan napas nya yg terakhir, Arsy udh ada yg melindungi biarpun pernikahan nya benar2 mendadak dn mendesak..hanya dengan menikahkan Arsy, ayah Rahman bisa pergi dengan tenang..karena sejati nya cinta seorang ayah akan selalu mengutamakan kebahagiaan anak nya....
jujur baru d cerita ini aq nemuin nikah dadakan tanpa riweuh cari penghulu dn sebagai nya...d cerita2 yg pernah aq baca, rata2 d saat napas udh berada d ujung kerongkongan..orang2 sibuk cari penghulu dn nyari bwt mahar,,d sini cukup dengan seorang ayah yg langsung menikahkan anak nya d tengah2 kondisi sang ayah d ujung napas 😢
aq bisa merasakan kesedihan Arsy yg begitu dalam,,d saat permasalahan nya belum terselesaikan..kini d tambah permintaan ayah Rahman yg mungkin ini permintaan terakhir sebelum beliau pergi menemui Sang Khalik..
ini benar2 dilema bagi Arsy, d satu sisi dia begitu menyayangi ayah nya..d sisi yg lain luka itu belum tersembuhkan utk menerima pria lain,,tp situasi yg tidak memungkin bagi Arsy utk menolak permintaan terakhir ayah nya..karena klo menolak, bisa jd penyesalan seumur hidup Arsy...
hhaaa,,smoga keputusan Arsy awal dr kebahagiaan nya 😢
kamu punya dendam apa terhadap Arsy, Dìit?? kamu segitu benci nya terhadap Arsy, padahal dia yg sedikit nya ikut menjadikan mu seorang dokter seperti skarang ini..kamu g sepantas nya marah terhadap Arsy hanya gara2 kamu mo d pecat dr RS,,mesti nya kamu introspeksi diri bukan nya menyimpan dendam terhadap Arsy ckckck
kamu yg bikin salah, tp kamu yg merasa tersakiti..klo Arsy dendam, wajarlah karena kamu menyakiti hati nya begitu rupaa....😤
benar apa yg d katakan pa Rahman..bahwa cinta yg baik tidak akan menyakiti ato pun memaksakan kehendak nya..cinta yg baik akan selalu melindungi orang yg d cintai nya tanpa pamrih dn tanpa syarat!!!
setelah tau kronologis nya, kamu harus balaskan sakit hati nya Arsy dn pa Rahman, Syak..karena gara s Radit pa Rahman kena serangan jantung, dn Arsy hampir kehilangan ayah nya..terlebih lebih sakit yg d terima Arsy begitu dalam torehan nya Syak..jd kamu harus jd pelindung Arsy!!
qta terkadang g terima dengan cobaan yg menghampiri qta, tp qta g tau seindah apa balasan yg qta terima..ketika qta dengan ikhlas menerima cobaan yg d berikan-Nya...
ayoo Syakiiill sembuhkan hati Arsy yg tengah terluka, aq yakin cinta mu benar2 tulus!!
heey kampreeet!! ayah nya Arsy g bakalan kena serangan jantung klo kamu g nyakitin anak nyaaa,,apalagi beliau denger secara langsung kamu mo mutusin hari pernikahan kamu ama Arsy,,emg kamu pria terbrengseeek 😤
udh jelas2 ayah nya Arsy serangan jantung gara2 kamu...hhadeuuuh dengan tak tau malu nya kamu ninggalin Arsy dn ayah nya 🤦♀️