Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Braja… apa kau merasakan sesuatu yang aneh?” tanya Jatisangkar dengan suara pelan namun serius.
“Ya… nyamuk itu begitu banyak. Tapi mereka tak menggigit kita,” jawab Braja tenang.
Jatisangkar mendengus.
“Heh, kau ini bodoh sekali. Mereka menggigit! Tapi kita tak merasakannya. Kau sadar tubuh kita dikerubuti nyamuk? Bukan karena mereka menyukai kita. Mereka sedang berusaha menembus kulit kita… tapi tak mampu!”
Laras segera menyela.
“Kau yang bodoh, Kakang. Mereka bukan menggigit… mereka menusuk.”
“Apa? Kau berani membantahku, Laras? Awas saja kalau nanti sudah dilepas. Ku pelintir mulutmu!” kecam Jatisangkar.
“Coba saja kalau berani! Huh!” balas Laras tak mau kalah.
“Shhhhtt! Berisik sekali kalian ini. Mengganggu Ayah tidur saja!” suara Ki Baraya tiba-tiba terdengar berat dari atas pohon. “Kalian ingin membangunkan penghuni hutan ini? Kalau para dedemit datang dan menyeret kalian, Ayah tak akan menolong!”
Ketiganya langsung terdiam sesaat.
“Laras duluan, Yah. Mulutnya memang songong,” lapor Jatisangkar cepat.
“Wih, kau itu yang bermulut culas!” balas Laras sengit.
Di tengah silang sengketa itu, Braja justru tertawa kecil.
“Setan alas! Kau malah tertawa, Braja? Lihat saja. Setelah Laras, kau pun akan kupelintir!” ancam Jatisangkar.
Braja tersenyum lembut.
“Habis… seru juga berada di antara kalian.”
“Diaaammm!!!”
Bentakan Ki Baraya menggema seperti petir membelah malam. Daun-daun di atas kepala mereka berguguran. Tanah bergetar halus. Bahkan dengung nyamuk mendadak lenyap.
Ketiga bocah itu langsung pucat dan membeku.
Ki Baraya berkelebat turun dari pohon. Sorot matanya tajam namun penuh kendali.
“Heran Ayah pada kalian. Tak bisakah kalian akur barang sebentar?”
Ia berdiri di hadapan mereka, lalu berkata dengan suara lebih tenang namun sarat wibawa:
“Apa yang kalian rasakan itu benar. Tenaga dalam kalian mulai terbangun. Tubuh kalian secara alami sudah mampu menangkal tusukan nyamuk. Itu tanda bahwa energi dalam diri kalian sedang membentuk lapisan pelindung.”
Mata Jatisangkar membulat. Laras menahan napas. Braja diam mendengarkan.
“Kalian kini berada di tahap awal pembentukan energi. Masih kasar. Masih kasat mata. Namun besok, bila kalian mampu bertahan hingga akhir tanpa tertidur… energi itu akan terungkap sepenuhnya.”
Ki Baraya menyipitkan mata.
“Asal kalian tidak lengah. Tidak tertidur. Paham?”
“Paham, Yah,” jawab mereka serempak, kali ini tanpa bantahan.
Malam kembali hening.
Namun kini bukan lagi malam penuh keluhan.
Melainkan malam penantian… menjelang kebangkitan yang sesungguhnya.
Pagi hampir tiba.
Kabut tebal menyelimuti tempat latihan itu. Uap putih menggantung rendah, menutup pandangan hingga beberapa langkah saja. Hawa dinginnya menusuk sampai ke tulang.
Laras dan Jatisangkar mulai menggigil hebat. Gigi mereka gemeretak. Napas keluar seperti asap tipis.
Namun anehnya…
Braja justru berkeringat.
Butiran keringat membasahi keningnya. Uap tipis bahkan mengepul dari tubuhnya yang kemerahan.
“Hiiih… dinginnya…” Jatisangkar bergidik. “Braja… mengapa kau malah berkeringat?”
Laras menoleh dengan wajah pucat. “Kabut ini tebal sekali, Kang. Apa kau tak kedinginan? Kau sama sekali tak terlihat menggigil…”
Braja menggeleng pelan, wajahnya merah seperti terbakar.
“Jangankan kalian… aku pun heran. Tubuhku terasa… panas. Seperti ada bara menyala di dalam dada.”
Kabut makin menebal. Angin pagi berembus tajam.
Laras dan Jatisangkar semakin menggigil. Wajah mereka memucat kebiruan. Sementara Braja justru seperti berada di tengah perapian. Napasnya berat, dadanya naik turun cepat.
Di atas pohon, Ki Baraya menyipitkan mata.
“Hmmm… energi Braja telah bangkit,” gumamnya dalam hati.
Tak lama kemudian, matahari perlahan muncul dari balik perbukitan. Sinar keemasannya menembus kabut. Nyi Lestari datang membawa makanan dan minuman hangat. Setelah memastikan keadaan mereka, ia kembali pulang dengan langkah berat.
Matahari semakin naik.
Panas mulai menyengat kulit.
Kini keadaan berbalik.
Braja dan Jatisangkar mulai kepanasan. Keringat mengucur deras di wajah dan leher mereka.
Namun Laras…
Justru tubuhnya menggigil hebat.
Wajahnya pucat. Bibirnya sedikit membiru. Tidak setetes pun keringat terlihat di kulitnya.
“Ini lagi manusia aneh,” gumam Jatisangkar. “Kenapa kau menggigil, Laras? Wajahmu pucat, dan sama sekali tak berkeringat. Ini panas, Laras! Bukan hujan!”
Laras menelan ludah, suaranya bergetar.
“Aku juga tak mengerti, Kakang… hiiiih… rasanya seperti diguyur hujan deras. Dingin sekali… sampai ke dalam tulang…”
Braja menoleh dengan cemas.
“Kau baik-baik saja, Laras?”
Laras mengangguk lemah, meski tubuhnya terus gemetar.
Di atas pohon, Ki Baraya memejamkan mata sesaat.
“Api telah menyala dalam diri Braja… dan dingin bulan mulai bangkit dalam diri Laras,” bisiknya pelan. “Menarik…”
Sinar matahari kian terik.
Dan tanpa mereka sadari, masing-masing sedang ditempa oleh unsur yang berbeda.
Tinggal Jatisangkar.
Sejak pagi hingga menjelang sore, tak tampak sesuatu yang ganjil pada dirinya. Ia tetap mengeluh saat panas datang, tetap terdiam saat dingin menusuk. Tidak ada bara seperti Braja. Tidak ada hawa beku seperti Laras.
Seolah-olah… tak terjadi apa-apa.
Namun ketika matahari mulai condong ke barat, angin sore berembus kencang.
Daun-daun beterbangan. Ranting kecil berderak. Baju dan rambut Laras serta Braja berkibar tertiup angin.
Namun tidak pada Jatisangkar.
Ia berdiri tegak.
Diam.
Rambutnya tak bergerak. Bajunya tak berkibar. Bahkan ujung kainnya tak terangkat sedikit pun.
Aneh.
Angin yang melintas seperti terbelah sebelum menyentuh tubuhnya… lalu berputar menghindar, mengalir ke samping seakan ada dinding tak kasat mata di sekelilingnya.
Braja menyipitkan mata.
“Kakang… kau merasakannya?”
Jatisangkar mengerutkan kening. “Merasa apa? Angin ini biasa saja.”
Laras menatap takjub, lalu terkekeh kecil.
“Hahaha… nah sekarang kau masuk kumpulan orang-orang aneh juga, Kakang Jatisangkar.”
Jatisangkar mendengus.
“Omong kosong. Kalian saja yang berlebihan.”
Namun tepat saat ia merasakan seauatu yang ganjil dikakinya, tanah di bawahnya bergetar halus.
Sangat halus.
Seperti bumi menyambut pijakannya.
Di atas pohon, Ki Baraya membuka mata perlahan.
“Bukan api… bukan pula hawa dingin…” gumamnya lirih.
“Dia… unsur penahan. Inti yang tak tergoyahkan.”
Angin sore kembali bertiup kencang.
Namun tetap saja… tak satu helai rambut Jatisangkar bergerak.
Seolah dunia yang menyesuaikan diri padanya.