Sinopsis Bab
Kedatangan Alexey Liebert ke kampus elite Icheon langsung mengguncang keseimbangan yang selama ini mapan. Sosoknya yang dingin, tertutup, dan mencolok dengan aura berbahaya segera menarik perhatian, sekaligus memicu bisik-bisik kagum dan rasa terusik di kalangan mahasiswa. Namun di balik statusnya sebagai mahasiswa baru rekomendasi internasional, Alexey menyimpan masa lalu kelam: putra pewaris dunia bayangan yang kembali ke Icheon bukan semata untuk kuliah, melainkan untuk tujuan tersembunyi yang berakar pada kematian ibunya delapan tahun lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Veronica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria yang Tak Bisa dibaca
Alexey tak langsung menuju parkiran. Ia menaiki tangga darurat menuju ruang arsip lama yang seharusnya terkunci rapat. Alexey berhenti sejenak di balik tiang, memastikan tak ada kamera.
“Sepertinya ini ruangannya.”
Di depan pintu berdiri seorang satpam paruh baya yang sudah meraih gagang tongkat listrik di pinggang begitu melihat Alexey mendekat.
“Siapa kamu?” tanya satpam itu curiga. “Dan kenapa seorang mahasiswa ada di tempat seperti ini?”
Alexey tak menjawab. Dalam satu gerakan mulus memberikan pukulan presisi yang mematikan aliran darah ke otak tanpa suara berlebih. Tubuh satpam ambruk ke lantai. Alexey menyeretnya ke sudut gelap di balik pintu.
“Tidur dulu sebentar,” gumam Alexey dingin. “Kalau urusanku selesai, baru kamu boleh bangun.”
Ia membuka pintu dengan kartu akses milik satpam. Sedangkan di balik tembok koridor, Haerim menyelinap pelan. Ia sudah mengikuti Alexey sejak keluar kelas.
“Kenapa pria itu ada di tempat ini…?” gumamnya penasaran. “Apa yang sebenarnya dia cari?”
Alexey membuka arsip digital tahun 2018, rekaman CCTV dari berbagai sudut kampus, tapi fokusnya pada video berjalan. Seoyon Liebert, ibu Alexey, berdiri di koridor keberangkatan bersama seorang wanita.
“Ini Mama dan siapa dia?” gumam Alexey, tercekik oleh kenangan. “Kenapa Mama bicara dengannya tepat sebelum semuanya terjadi?”
Ia tak bergerak lama, dengan cepat memasukkan memori card ke port USB dan mulai menyalin seluruh folder terkait.
“Sepertinya wanita ini bisa jadi kunci menemukan pembunuhnya,” katanya dingin.
Tiba-tiba pintu terbuka lagi, pelan, tapi cukup untuk membuat Alexey berbalik cepat.
“Alexey,” panggil Haerim yang berdiri di ambang pintu menatapnya tajam. “Apa yang sedang kamu lakukan di sini?”
Alexey tak terkejut. Ia hanya memasukkan memori ke saku dalam jaketnya. Lalu dalam sekejap ia sudah berada di depan Haerim, tubuhnya mendesak gadis itu ke tembok.
“Kau sendiri,” katanya datar, “apa yang sedang kamu lakukan di sini, Nona?”
Haerim tak gentar, meski jantungnya berdegup kencang. “Karena sejak di kelas, kamu terlalu mencurigakan,” jawabnya tegas meski sedang terpojok.
“Masuk tanpa basa-basi, sikapmu dingin kayak orang yang biasa sembunyi sesuatu. Wajar kalau aku curiga.”
Ia menatap balik, tak berkedip. “Jadi iya, aku mengikutimu.”
Alexey mendekatkan wajahnya. “Santai saja, jangan menatapku begitu,” katanya pelan. “Dompetku hilang. Mungkin ada CCTV, siapa tahu ketemu?”
Haerim mendengus kecil, tapi matanya tak sengaja menyapu garis rahang Alexey yang begitu anggun.
“Gila… Yubin bener juga,” gumamnya dalam hati, panas tipis naik ke pipinya. “Dia memang tampan, saking tampannya malah bikin waspada.”
Namun ia buru-buru menggeleng kecil, mengusir pikiran itu. Alexey memperhatikan gerakan itu, tapi tak berkomentar. Ia melepaskan Haerim dengan pelan.
“Sekarang kita keluar dari sini,” ajaknya santai, seolah tak terjadi apa pun. “Aku tidak merusak apa pun di sini ataupun melanggar peraturan kampus.”
Haerim mendengus keras, ia sangat jengkel. “Nggak melanggar hukum? Serius?” katanya sinis, merapikan blazer yang sedikit kusut.
“Kamu nggak baca peraturan kampus, ya? Memukul satpam sampai pingsan itu pelanggaran berat, bisa kena skors, bahkan dikeluarkan!”
Mereka berdua keluar dari ruangan, pintu tertutup pelan di belakang meninggalkan satpam yang masih pingsan.
“Terus gimana sama satpamnya?”
“Biarkan saja dia,” kata Alexey tegas. “Dia cuma tidur sebentar.”
Mereka mulai turun tangga. Alexey berjalan di depan, Haerim mengikuti dengan langkah cepat.
“Kalau kita tidak buru-buru pergi dari sini,” kata Alexey tiba-tiba, “dan sampai ketahuan kamu ada di tempat ini bersama aku, kira-kira masih bisa dipercaya? Citramu sebagai ‘gadis baik’ yang selalu patuh aturan?”
Haerim berhenti sejenak menatapnya tajam. “Dasar gila…” desisnya pelan. “Masuk tempat terlarang, jatuhin satpam, terus ngancem pake citra orang.”
Ia menggigit bibir bawah sejenak menyadari kebodohannya. “Aku juga goblok,” gumamnya. “Ngapain juga ngikutin kamu sampe ke sini.”
Alexey tak menjawab. Ia hanya melanjutkan turun, diikuti Haerim di belakangnya yang sedang mengomel.
Di apartemen mewah Alexey di pinggiran Icheon, sebuah unit penthouse yang jarang ditempati, Alexey menggerakkan mouse dengan presisi bedah. File-file yang baru disalin dari memori card tersebar di desktop: foto-foto arsip, rekaman CCTV buram, dokumen scan yang sebagian besar sudah usang.
“Siapa sebenarnya wanita… itu?” gumamnya, suaranya serak oleh rasa letih dan pertanyaan yang delapan tahun tak terjawab.
Ia membeku sejenak saat foto ibunya muncul di layar. Seoyon Liebert, masih muda, berdiri di podium kampus sebagai dosen Hukum Internasional sekaligus pengacara hak asasi manusia yang vokal.
Ia membuka video CCTV lagi. Gambar dari Bandara Incheon, tahun 2018. Seoyon berjalan cepat di koridor keberangkatan, wanita misterius itu muncul dari sisi kanan, berbicara singkat.
“Lambang apa ini…?” gumam Alexey pelan, alisnya mengerut dalam. “Aku seperti pernah melihat ini…”
Ingatan melintas cepat: ruang administrasi kampus pagi tadi. Rektor Minsook menyambutnya dengan senyum palsu, tangan terulur, dan di kerah jasnya, bros yang sama.
“Sama,” desis Alexey, nadanya berubah dingin. “Itu lambang yang ada di bros Minsook.”
“Kalau sampai Minsook terlibat…” Alexey berhenti sejenak, suaranya turun menjadi bisikan rendah yang berbahaya. “Akan kucincang pria tua itu sendiri. Perlahan. Sampai dia menyesal pernah lahir.”
Ia menutup laptop dengan gerakan pelan tapi tegas. Ruangan kembali gelap, hanya cahaya lampu kota yang menyusup lewat celah tirai tipis. Alexey meraih kotak rokok di samping laptop. Api kecil menyala, menerangi wajahnya sesaat: dingin, lelah, tapi penuh amarah yang terkubur dalam.
Sementara itu, di kamar tidur Haerim di rumah keluarga Kang, buku teks Hukum Konstitusi terbuka di depannya, tapi matanya tak benar-benar membaca.
“Aaargh!” Ia mengacak rambutnya sendiri dengan kedua tangan. “Kenapa aku nggak bisa fokus?!”
Ia menghela napas panjang, penuh kegelisahan, lalu menyandarkan dahi di telapak tangan. Pikirannya kembali ke lantai atas kampus, tubuh Alexey yang mendesaknya ke tembok, napas dekat, mata dingin yang seolah bisa membaca isi kepalanya.
“Satpam itu… udah bangun belum, ya? Kalo beneran mati gimana dong? Amit-amit kalo sampe aku terlibat…”
Haerim menggigit bibir bawah, jantungnya berdegup tak karuan. “Alexey Liebert…” gumamnya pelan, “Siapa sih sebenarnya kamu…?”
Belum pernah ada pria yang mampu merusak konsentrasinya seperti ini. Bahkan cowok-cowok kaya dan nomor satu di kampus, yang biasa mendekatinya dengan senyum manis dan mobil mewah, tak pernah membuatnya kehilangan fokus hanya untuk mengerjakan tugas kuliah biasa.
Ia membuka laptop lagi, jari mengetik cepat “Alexey Liebert”.
Hasilnya? Hampir nol. Tak ada profil media sosial, tak ada artikel berita, tak ada foto lama. Hanya nama yang muncul di daftar mahasiswa baru Universitas London, dan itu pun minim detail.
“Gila… ini bukan sekadar privasi biasa,” gumamnya antara kagum dan curiga. “Ini kayak data agen rahasia.”
Ia mencoba variasi: “Liebert family London”, “Thomas Liebert son”, “Alexey Liebert Incheon”.
Sama saja. Hanya satu foto muncul: Thomas Liebert, pria paruh baya dengan wajah dingin dan jas mahal, berdiri di acara amal internasional beberapa tahun lalu. Tak ada kemiripan fisik yang jelas dengan Alexey.
“Aghh, sama aja nggak ada apa-apa,” gerutunya pelan, kesal. “Kayaknya kalo ini emang ayahnya, dia cuma anak konglomerat biasa.”
Haerim menutup laptop dengan gerakan kasar, lalu melempar tubuhnya ke kasur.
“Kenapa aku peduli?” bisiknya pada dirinya sendiri. “Dia bukan siapa-siapa, mending aku tidur?”
Di luar jendela, malam Icheon hening. Tapi di dalam kepala Haerim, dan di penthouse Alexey, pertanyaan yang sama bergema: siapa sebenarnya orang di balik nama itu?
Keesokan paginya, Alexey kembali ke kampus seperti biasa. Di kelas, Dosen Lisa berdiri di depan papan tulis digital.
“Baik, anak-anak, perhatian sebentar,” katanya. “Hari ini kita akan masuk ke dalam pembahasan sejarah. Siapkan catatan kalian masing-masing.”
Kelas berlangsung lancar, suara pena berderit di kertas, sesekali bisik-bisik kecil. Alexey duduk di baris belakang, dekat jendela, mata menatap lurus ke depan, tapi pikirannya jelas tak sepenuhnya di sana. Haerim, di baris depan, mencatat dengan cepat.
Waktu berlalu cepat.
“Baik, sepertinya waktu kita sudah hampir habis,” ujar Dosen Lisa sambil melirik jam dinding. “Sebelum kalian pergi, ada yang ingin bertanya seputar materi hari ini?”
Yubin langsung mengangkat tangan, semangat seperti biasa. “Dosen,” panggilnya, “Masih bingung nih, soal dampak Perang Icheon tahun 1950. Maksudnya, pengaruhnya ke masyarakat lokal tuh gimana sih?”
“Perang Icheon lagi,” gumam Haerim dalam hati, alisnya mengerut pelan. Ia sangat muak dengan segala sesuatu yang berbau perang.
Dosen Lisa tersenyum tipis. “Ada yang bisa membantu menjawab pertanyaan Yubin?” tawarnya sambil memandang ke seluruh kelas.
“Siapa yang merasa sudah memahami dampak Perang Icheon tahun 1950? Silakan berbagi pemahaman kalian.”
“Saya bisa menjawab, Dosen,” sela Haerim dengan nada memaksa tak mau ada yang mendahuluinya.
“Dampaknya jelas banget, Perang Icheon itu bikin Perang Korea kelar total.”
“Analisis yang bagus, nona Haerim,” puji Dosen Lisa dengan anggukan kecil, tapi matanya masih menyapu kelas.
“Tapi mari kita dengar perspektif lain. Ada yang ingin menambahkan atau mungkin punya sudut pandang berbeda tentang dampak perang tersebut?”
Alexey mengangkat tangan pelan, hampir tak terlihat. “Perang Icheon tahun 1950 sebenarnya lebih fokus untuk memotong garis suplai Korea Utara,” jelasnya dengan nada datar dan dingin.
“Bukan untuk mengakhiri perang secara keseluruhan. Itu hanya operasi taktis untuk melemahkan logistik musuh sebelum serangan utama di musim dingin.”
Kelas langsung sunyi. Beberapa mahasiswa saling pandang, Yubin membuka mulut tapi tak bicara. Haerim menegang di tempat duduknya.
“Menarik sekali tuan Libert,” tanggap Dosen Lisa tenang, anggukannya lebih dalam kali ini. “Pemahaman strategis seperti itu memang valid.”
Haerim merasa panas naik ke pipinya. Memalukan sekali. Di depan seluruh kelas, jawabannya yang penuh percaya diri tadi ternyata meleset. Tapi di balik rasa malu itu, muncul rasa penasaran yang mengganjal lebih dalam: bagaimana mungkin Alexey bisa menganalisis strategi militer sedetail itu.
Dosen Lisa mengakhiri kelas dengan anggukan sopan, lalu keluar ruangan, pintu tertutup pelan di belakangnya.
Tak lama, Haerim bangkit dari kursinya. Langkahnya cepat, langsung menghampiri bangku Alexey. Tanpa basa-basi, ia meraih lengan jaket Alexey.
“Ikut aku,” perintahnya singkat. “Ada yang ingin kubicarakan sekarang.”
“Haerim hei,” goda Yubin dari samping dengan nada jahil. “Kamu mau bawa Alexey ke mana tuh?”
Haerim tak menjawab. Ia hanya menarik Alexey keluar kelas, tangannya masih mencengkeram lengan pria itu. Alexey tak melawan, hanya mengikuti dengan langkah panjang, ekspresi tetap datar.
Mereka naik ke rooftop melalui tangga darurat. Angin siang menerpa wajah, atap kampus terbuka luas, hanya ada pagar besi rendah dan beberapa tangki air di sudut.
“Kenapa?” tanya Alexey dengan nada datar dan dingin, tanpa menunjukkan ketertarikan sedikit pun.
“Kamu sengaja, kan?” tuduh Haerim dengan nada kesal. “Sengaja nunggu sampai aku salah jawab baru kamu angkat bicara. Kamu mau mempermalukanku di depan kelas, begitu?”
Alexey menggeleng pelan. “Tidak,” bantahnya santai. “Bukankah kamu sendiri yang terburu-buru menjawab tanpa berpikir lebih dulu?”
“Ye… bukan gitu,” bela Haerim dengan nada sedikit defensif. “Aku emang nggak terlalu suka pelajaran sejarah militer. Topik kayak gitu tuh bosenin.”
Alexey melangkah maju, siap pergi. “Minggir,” perintahnya datar tanpa basa-basi. “Aku mau pergi.”
“Tunggu dulu,” cegah Haerim sambil menghalangi jalan Alexey. “Aku belum kelar ngomong. Masih ada yang pengen aku tanyain.”
“Cepat,” desak Alexey dengan nada dingin dan minim kesabaran.
Haerim menarik napas dalam. “Sebenarnya kamu tuh siapa?” tanyanya dengan nada penuh selidik dan curiga. “Mahasiswa biasa mana yang bisa ngulik strategi militer sedetail itu?”
Alexey tak langsung menjawab. Matanya menatap Haerim lama, lalu dengan gerakan cepat tapi terkendali, tangan kanannya meraih pinggang gadis itu. Ia menyudutkannya ke tembok beton rooftop, tubuhnya menutup ruang gerak Haerim.
“Kenapa kamu begitu terobsesi dengan identitasku?” tanya Alexey dengan nada mengintimidasi. “Apa urusannya denganmu?”
“Memangnya nggak boleh nanya identitas temen sekelas sendiri?” balas Haerim berusaha nutupin rasa tersinggung dan jantung yang berdegup kencang.
“Aku cuma penasaran, kenapa malah jadi masalah gede?”
Alexey melepaskan tatapannya sejenak, lalu menjawab datar. “Namaku Alexey Liebert. Ayahku Thomas Liebert. Itulah identitasku.”
“Lalu ibumu?” tanya Haerim penasaran, nada bicaranya sedikit lebih hati-hati kali ini.
“Ibuku sudah meninggal,” ucap Alexey datar, tanpa emosi.
Haerim langsung tersentak. Matanya melebar. “Maaf, aku nggak bermaksud,” katanya terburu-buru, nadanya berubah panik. “Aku nggak tahu kalau… maafkan aku.”
Tanpa sadar, tangan Haerim terangkat, jari-jarinya menyentuh pipi Alexey pelan, gerakan lembut yang tak direncanakan, seolah ingin menghapus sesuatu yang tak terlihat.
Alexey tak bergerak. Matanya menatap Haerim, dan untuk sesaat, sesuatu melintas di pikirannya.
“Dia terlihat cantik kalau tidak sedang mengamuk-ngamuk,” gumamnya dalam hati. Melihat ekspresi Haerim yang biasanya tajam kini berubah lembut karena rasa bersalah.
“Tidak perlu dipikirkan,” ujar Alexey. Ia melepaskan Haerim dengan pelan, tangannya lalu mundur satu langkah.
Ia berbalik, melangkah menuju pintu rooftop tanpa kata lagi. Punggungnya tegak, langkahnya tenang. Haerim berdiri di sana, tangan masih menyentuh pipi sendiri, tempat jari-jarinya tadi menyentuh Alexey.