Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.
Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.
Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.
Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
“Cinta tidak selalu datang dengan tiba-tiba, nak.” lanjut Pak Rahman. “Terkadang cinta itu tumbuh dengan pelan seiring berjalannya waktu dan kebersamaan yang kalian lakukan.”
Arsy menggeleng kecil.
“Arsy sudah terlalu capek, Yah…”
“Ayah tahu,” sahut Pak Rahman lembut. “Justru karena itu Ayah tidak ingin kamu menutup hatimu selamanya.”
Arsy mengangkat wajahnya. Air matanya jatuh satu per satu.
“Ayah takut kamu akan mengurung dirimu sendiri,” lanjut Pak Rahman dengan suara yang kian melemah. “Takut mencintai lagi hanya karena pernah disakiti.”
Nama Radit tidak disebut, tapi Arsy tahu itu yang dimaksud.
“Radit memilih mengkhianatimu,” kata Pak Rahman perlahan. “Tapi itu bukan alasan untuk menghukum dirimu sendiri seumur hidup.”
Tangis Arsy pecah, Ia menggeleng keras.
“Arsy belum siap, Yah,” isaknya. “Arsy bahkan nggak tahu bagaimana caranya untuk percaya lagi.”
Pak Rahman tersenyum kecil, lalu mengusap punggung tangan Arsy dengan ibu jarinya.
“Tidak apa-apa,” katanya lembut. “Tidak ada yang meminta kamu untuk siap sekarang.”
Arsy menatap ayahnya dengan matanya yang merah dan basah.
“Yang Ayah minta hanya satu,” lanjut Pak Rahman. “Jangan tutup pintu hatimu untuk Syakil.” Arsy terdiam. “Jangan mengusir seseorang yang datang dengan niat baik hanya karena orang sebelumnya datang dengan niat buruk,” tambah Pak Rahman pelan.
Kata-kata itu menusuk jauh ke dalam dada Arsy.
“Syakil mencintaimu tanpa menuntut,” lanjut Pak Rahman. “Tanpa memaksa. Tanpa menyakiti. Dan ayah melihat itu dengan jelas.”
Arsy menggeleng pelan, bukan karena menolak sepenuhnya, tapi karena hatinya terlalu takut untuk percaya kepada seseorang.
“Arsy takut, Yah…” bisiknya. “Takut memilih orang yang salah lagi.”
Pak Rahman menatap putrinya dengan penuh kasih.
“Takut itu wajar,” kata pak Rahman. “Tapi hidup tidak pernah berhenti hanya karena kamu takut.” Suasana hening kembali menyelimuti mereka. Hanya suara mesin monitor jantung yang berdetak pelan. “Ayah tidak meminta janji,” lanjut Pak Rahman akhirnya. “Ayah hanya ingin kamu mengingat kata-kata Ayah hari ini.”
Arsy mengangguk pelan, air mata menetes ke punggung tangan ayahnya.
“Kalau suatu hari kamu merasa siap,” lanjut Pak Rahman, “dan Syakil masih berdiri di tempat yang sama, Ayah ingin kamu memberinya kesempatan.”
Arsy tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan ayahnya lebih erat, seolah takut kehilangan detik-detik ini. Sementara Pak Rahman tersenyum tipis.
“Cinta yang baik tidak akan memaksa,” katanya pelan. “Dan Ayah percaya, Syakil mencintaimu dengan cara itu, nak.”
Arsy menutup matanya dan membiarkan air matanya jatuh tanpa suara.
Pagi itu, Radit melangkah masuk ke area rumah sakit dengan setelan jas rapi seperti biasanya. Rambutnya tertata sempurna, jam tangan pemberian Arsy melingkar di pergelangan tangannya, dan langkahnya terlihat mantap—langkah seseorang yang merasa hidupnya baik-baik saja. Bahkan lebih dari baik. Kariernya sedang naik, reputasinya bagus, dan dalam pikirannya, semua yang ia lakukan selama ini berjalan sesuai rencana.
Namun ada sesuatu yang terasa janggal. Begitu Radit melintasi pintu utama, ia langsung menangkap tatapan-tatapan aneh yang mengarah kepadanya. Bukan tatapan kagum seperti biasanya. Bukan senyum ramah. Melainkan lirikan cepat yang segera dialihkan, bisikan-bisikan kecil yang terhenti begitu ia menoleh, dan ekspresi wajah orang orang yang sulit ia artikan.
Seorang perawat perempuan yang sedang berdiri di dekat meja resepsionis tampak membeku sesaat ketika melihatnya, lalu buru-buru menunduk. Dua dokter muda yang sedang mengobrol di sudut lorong mendadak terdiam, saling pandang, lalu berjalan menjauh. Membuat Radit mengernyit tipis.
“Ada apa ini? Kenapa semua orang kelihatan aneh pagi ini?” gumam Radit dalam hatinya.
Ia melanjutkan langkahnya, berusaha mengabaikan semua kejanggalan itu. Mungkin mereka sedang membicarakan kasus pasien. Mungkin sedang membahas gosip lain. Tidak ada alasan bagi mereka untuk membicarakan dirinya. Namun semakin jauh ia berjalan, semakin terasa tekanan tak kasatmata itu. Bisikan demi bisikan semakin terdengar jelas.
“Dokter Radit ya?”
“Iya… katanya sih—”
“Pantesan…”
Radit mengepalkan tangannya sesaat, lalu memaksa dirinya untuk tetap tenang. Ia mengangkat dagunya sedikit, memperbaiki posisi jasnya, dan berjalan lebih tegap. Ia adalah dokter spesialis. Ia punya nama. Ia punya reputasi. Tidak ada alasan baginya untuk merasa kecil hanya karena bisikan tak jelas.
“Fokus saja pada pekerjaan mu Radit, jangan pedulikan omongan mereka yang sama sekali tidak penting.” kata Radit pada dirinya sendiri.
Lorong menuju ruangannya terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap langkah seolah diiringi mata-mata yang mengawasinya. Radit berhenti sejenak di depan pintu ruangannya, merogoh saku jasnya untuk mengambil kartu akses. Namun sebelum kartu itu sempat menempel di sensor, sebuah suara memanggilnya.
“Dok, Dokter Radit.”
Radit menoleh. Seorang perawat laki-laki berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wajahnya terlihat tegang, bahkan sedikit ragu.
“Ada apa?” tanya Radit, nadanya datar tapi penuh wibawa.
“Dokter diminta untuk segera menghadap ke ruang direktur,” ucap perawat itu. “Sekarang.”
Radit mengangkat alisnya sedikit.
“Sekarang?” ulang Radit dengan bingung.
“Iya, Dok,” jawab perawat itu cepat. “Direktur sedang menunggu.”
Radit terdiam sesaat. Lalu senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
“Baik,” katanya singkat.
Di dalam kepalanya, sebuah kemungkinan langsung terlintas. Mungkin evaluasi kinerja. Mungkin penghargaan. Bahkan—bonus. Ia tahu angka keberhasilannya tinggi. Ia tahu pasien-pasiennya merasa puas. Tidak ada satu pun catatan buruk yang pernah ia dengar tentang dirinya. Ia menoleh sekali lagi ke pintu ruangannya, lalu mengikuti langkah perawat itu tanpa curiga sedikit pun.
Langkah mereka bergema di lorong yang kini terasa sunyi. Biasanya Radit akan menyapa orang-orang yang ia lewati. Hari ini, tak satu pun yang menyapanya lebih dulu. Dan anehnya, ia memilih untuk tidak peduli. Ruang direktur berada di lantai atas rumah sakit, di area yang lebih tenang. Begitu mereka tiba, perawat itu berhenti di depan pintu besar berwarna cokelat tua.
“Silakan masuk, Dok,” ucapnya pelan.
Radit mengangguk kecil, lalu merapikan jasnya sekali lagi sebelum mengetuk pintu.
“Masuk,” terdengar suara dari dalam.
Radit membuka pintu dan melangkah masuk dengan percaya diri. Namun begitu pintu tertutup di belakangnya, sesuatu langsung terasa salah. Direktur rumah sakit duduk di balik meja kerjanya. Wajahnya tidak menunjukkan senyum hangat seperti biasanya. Di hadapannya, ada beberapa map cokelat tersusun rapi.
“Silakan duduk, Dokter Radit,” ucap direktur itu singkat.
Radit menuruti, meski alisnya sedikit berkerut. Ia duduk dan menyilangkan kakinya dengan santai.
“Ada apa ya, Pak?” tanya Radit, nada suaranya masih penuh keyakinan.
Direktur itu tidak langsung menjawab. Ia membuka salah satu map di hadapannya, menarik selembar kertas, lalu menyerahkannya ke arah Radit di atas meja.
“Silakan dibaca,” katanya.
Radit menatap kertas itu sekilas, lalu mengambilnya. Namun begitu matanya menangkap tulisan di bagian atas, dadanya langsung terasa menghantam keras.
dpsng alat monitor jantung, aku yg bntu jaga di rs tiap mlm/Pray//Cry/
Lihat anakmu pak😭
Kami lah nyalahin si Radit