NovelToon NovelToon
Under The Purple Pine Blossoms

Under The Purple Pine Blossoms

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kelahiran kembali menjadi kuat / Budidaya dan Peningkatan / Perperangan / Penyelamat
Popularitas:834
Nilai: 5
Nama Author: Made Budiarsa

Chen Li, pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, sebenarnya bukan anak miskin pada umumnya. Terpelajar dan cerdas, ia mengelola pabrik teh besar untuk Tuan Sun, sambil memahami kehidupan keras orang miskin. Ayahnya, seorang pemimpin pemberontakan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan Chen Li dengan pelajaran hidup tentang keadilan, kemiskinan, dan batas-batas yang harus ia terima. Di sisi lain, ada Yun Xiao, gadis pemberani yang menentang ketidakadilan. Ia membenci mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lemah, dan tindakannya yang berani membuat para pejabat kekaisaran terus memperhatikannya. Suatu hari, puisi yang ditulis Yun Xiao diterbangkan angin hingga menarik perhatian putri bungsu kekaisaran. Putri itu langsung datang untuk menahannya, tapi Chen Li menghadangnya dengan berdebat hingga akhirnya Membuatnya di bawah ke istana, memaksanya memahami kekuasaan dan permainan politik yang rumit, penuh tipu muslihat bak catur hidup dan mati untuk hidup, tentang ayahny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seperti iblis

Siang itu di Sumur desa, daun-daun mapel hijau berjatuhan dan ada beberapa yang jatuh ke dalam sumur tua.

Yun Xiao dengan wajah lesu mengambil air dari dalamnya dan pikirannya melayang-layang. Apa yang terjadi jika dia melakukan ini seumur hidupnya? Apa dia bisa mengubah kehidupannya yang miskin seperti ini?

Menurut ibunya, seorang gadis adalah potongan bunga dandelion ketika remaja, di terbangkan angin lalu akhirnya mendarat di suatu tempat. Di sanalah tanaman baru akan tumbuh.

Yun Xiao tidak setuju, “Itu namanya menerima takdir, ibu. Aku tak suka seperti itu. Biarkan aku yang menentukan hidupku sendiri.”

“Anakku, apa kamu bisa melawan angin? Bagaimana bisa kamu meniupnya bahkan tidak punya mulut untuk melakukannya?”

Yun Xiao terdiam.

Waktu itu ibunya sedang duduk di bawah pohon alpokat tua di dekat rumah mereka, sedang mempersiapkan lampion menyambut tahun baru.

Lampion di tangannya tidak lama kemudian menyala dan Yun Xiao berkomentar, “Mengikat hidup pada benda mati tidak ada gunanya.”

Ibunya sedikit tergerak menatapnya. “Maksudmu?”

“Tidak ada.”

“Kamu dipengaruhi Chen Li dalam berkata-kata. Jangan terlalu mengikutinya, itu akan membuat lidahmu terluka.”

“Aku tidak mengikutinya.”

“Kamu berbohong.”

“Aku tidak berbohong dan lagi pula, aku orang miskin, untuk apa aku harus berbohong.”

“Memangnya hanya orang kaya yang berhak berbohong?”

“Ya. Mereka punya kemampuan untuk itu, dan kita tidak.”

“Berbohong itu tidak baik.”

“Siapa bilang?”

Ibu lalu berjalan mendekati rumah. Mengambil kursi dan menggantungkan lampion itu di sudut rumah. Dia sedikit tersenyum kemudian turun.

“Ibu yang berkata.”

“Bagiku tidak. Berbohong itu netral.”

“Kamu demam, lebih baik diam saja sekarang.”

Yun Xiao ingin berkata lagi, tapi setelah dipikir-pikir dia lalu setuju dengan ibunya dan terdiam.

*****

Yun Xiao masih ingat tentang berbohong dan bunga dandelion itu. Dia memikirkannya selama mengambil dua ember air dari sumur. Hanya beberapa menit saja, dia sudah memikirkan banyak hal. Itu membuatnya berpikir, betapa cepat otaknya melakukannya.

Dia mengangkat airnya ketika Chen Li datang.

“Kamu tidak melihat gadis cantik lagi? Pembohong.”

“Aku ketahuan,” katanya lemas.

“Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”

Yun Xiao mulai berjalan dan air di embernya bergejolak. Chen Li menatapnya dan berkata, “aku bisa membantumu.”

“Aku merasa senang.”

Dengan begitu, Yun Xiao membaginya.

Mereka masing-masing membawa satu ember.

“Gadis cantik itu indah,” kata Chen Li. “Tapi bagi yang tahu. Aku suka gadis penyendiri di bawah pohon itu, yang sering menulis. Dia sangat cantik.”

“Maksudmu putri kepala desa? Jangan terlalu berharap, dia akan di kirim ke ibukota untuk mengikuti seleksi pemilihan tunangan pangeran mahkota.”

“Jika pun dia berhasil.”

“Aku rasa dia akan berhasil. Selain cantik, dia juga berbakat. Dan seperti katamu, orang miskin tidak pantas memilih sebelum mereka bisa memegang pena dan kertas.”

“Apa kamu benar-benar memikirkannya? Aku hanya asal berbicara.”

“Aku tahu, tapi bahkan seorang pelukis pun sering asal membuat karya, tapi itu sangat bernilai tinggi.”

“Aku rasa kamu bodoh.”

“Aku rasa kamu juga.”

Mereka terus berjalan dan orang-orang lalu lalang di sekitarnya dan tidak mempedulikan mereka.

Setelah beberapa saat mereka mencapai sebuah gang.

Gang yang mereka lewati kumuh dan ada beberapa temboknya yang berlubang.

Ini adalah jalan menuju rumah mereka yang selalu terlihat suram, bahkan di pagi hari.

Tidak lama yun Xiao berhenti dan memandang rumah yang dipenuhi semak belukar dan sebagian atapnya hancur.

Dia teringat jika tetangganya yang baik hati harus di penjara karena diduga menjelek-jelekkan pejabat kekaisaran. Dia kemudian berkata, “Apa pejabat itu seorang dewa, bahkan mulut pun tidak boleh mengungkapkan kekesalannya? Aku benci dengan mereka yang sok suci, Padahal mereka hanya seorang pemandu. Pemandu yang terkadang memiliki otak kosong.”

“Apa yang kamu katakan?” ujar Chen Li. “Menurut guru besar desa, kita tidak boleh berkata seperti itu. Anggap saja mereka yang di atas itu seorang dewa, maka hidupmu jauh lebih aman. Aku pernah dengar orang berkata, ‘lebih baik mencibir air hitam di depan muka dari pada langsung menyendok dan membuangnya.”

“Aku benci.” Bentak Yun Xiao lalu menatap air di embernya. “Tetanggaku baik sekali, tapi mengapa hanya sekedar kesalahan, mereka harus di tangkap seperti itu layaknya seorang pembunuh saja.”

“Kamu tidak tahu, mulut itu seperti pisau bagi telinga yang sensitif. Kamu juga akan membunuh nyamuk yang berbunyi saat telingamu menangkapnya daripada membiarkannya.”

“Kamu benar juga. Tetapi... Apa Jika aku menjadi peri abadi atau pejabat kekaisaran, semuanya akan jauh lebih baik?”

“Aku rasa begitu. Lihat peri abadi Yan, tidak ada yang berani bermasalah dengannya. Lihat yang mulia Maharani, tidak ada orang yang berani menatapnya lama-lama. Mereka adalah orang-orang yang punya kekuasaan dan dengan itu mereka membuat dinding pelindung untuk mereka sendiri.”

“ya, kamu benar adanya.”

Mereka mulai berjalan lagi dan tibalah di rumah Yun Xiao.

Di halamannya ada beberapa daun-daun kering dan seorang wanita yang sedang menyapu. Dia ibunya dan segera menghampiri mereka berdua.

“Ibu, aku kembali,” Kata Yun Xiao dan segera mengambil ember di tangan Chen Li lalu berterima kasih.

Ibunya menyuruhnya mampir, tapi Chen Li menolak dengan sopan kemudian pergi dari sana.

*****

Rumahnya berada di ujung dan berdiri sendiri di antara reruntuhan bangunan di sekitarnya.

Lima tahun yang lalu, pasukan pemberontak kekaisaran banyak yang tinggal di sana dan karena itu, hujan api menghanguskan atap-atap rumah di sana, bahkan rumah Chen Li turut menjadi korban.

Dia juga mendengar, ayahnya juga memberontak dan melarikan diri. Karena dia dan ibunya di cap sebagai keluarga pemberontak, pihak kekaisaran menginterogasinya, tapi mereka benar-benar tidak tahu di mana ayahnya waktu itu. Dan setelah menerima lima puluh cambukan, mereka akhirnya di bebaskan.

Chen Li tidak terima peristiwa itu dan karenanya, dia tumbuh menjadi orang yang pendendam dan memiliki ambisi yang menyeramkan. Dia pernah berpikir akan membunuh jendral Chu atas apa yang di terimanya. Dia tidak kuat melihat ibunya menderita dan semenjak itu menghapus senyuman di wajahnya.

Chen Li tiba dan ibunya tidak di rumah. Ekspresi ramah di wajahnya berangsur-angsur serius. Dia lebih tepatnya memiliki wajah seorang pembunuh.

Membuka pintu dan melihat lukisan ayahnya yang menguning dia berkata, “Dunia itu aneh. Keindahan tidak pernah abadi. Sebab itu, akulah seorang pemetik bunga.”

Dia masuk ke kamarnya dan mengambil pedang di bawah kasurnya.

Saat menariknya, terlihat bilah pedang itu sangat tajam dan bersih seolah-olah sudah di persiapkan untuk membunuh.

Ketika dia ingin memasukkannya kembali, dia mendengar suara langkah kaki di luar dan segera menjadi waspada.

****

Di luar seorang wanita bergaun merah berdiri dan berkata, “apa kamu benar-benar akan melakukannya sekarang?”

“Apa aku harus menerima persetujuanmu?” suara Chen Li lebih gelap.

Wanita itu sedikit mengerutkan keningnya lalu tersenyum. “Tidak, aku hanya ingin memastikannya.”

“Benarkah? Aku juga sebenarnya ingin memastikan sesuatu.”

Wanita itu menjadi penasaran dan bertanya, “Apa yang ingin kamu pastikan? Uang, imbalan atau yang lainnya?”

“Tidak, tapi nyawamu.”

Angin tiba-tiba berhembus!!

Aura hitam dari enam arah mengalir masuk ke dalam gubuk sederhana Chen Li.

Wanita itu tiba-tiba merasa jantungnya berdetak lebih kencang. Pembuluh darahnya mengalir lebih deras. Dia juga tanpa sadar bernafas jauh lebih banyak dengan ekspresi yang dipenuhi ketakutan.

Perlahan-lahan goresan-goresan mulai muncul di tangan dan kakinya yang halus, mengeluarkan darah yang kontras dengan kulitnya.

Dia tidak berani bergerak dan diam begitu saja.

Tidak lama pintu di buka dan Chen Li, pemuda berpakaian putih muncul. Rambut panjangnya di terbangkan angin, berdiri memegang pedang panjang dengan mata merah menyala seperti iblis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!