Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.
Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:
• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.
Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.
Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Storm of Valerion
Istana Araluen — pagi hari
Terompet kekaisaran menggema panjang.
Para bangsawan berhenti berbincang. Pelayan bergegas membuka gerbang utama istana Araluen.
“Utusan dari Kekaisaran Valerion telah tiba!”
Jane—Anthenia—yang berdiri di sisi Duke Blackwood, langsung menegang.
Valerion…
Dalam novel, Valerion bukan sekadar tetangga. Mereka adalah kekaisaran yang tidak pernah bergerak tanpa tujuan.
Gerbang terbuka perlahan.
Seorang pria melangkah masuk paling depan.
Rambut perak gelapnya diikat rendah, matanya biru keabu-abuan seperti langit sebelum badai. Tubuhnya tinggi, posturnya santai—terlalu santai untuk seorang pangeran.
Ia tersenyum.
Senyuman orang yang tahu semua mata tertuju padanya.
“Aku, Kaelum Stormrage,” ucapnya lantang,
“Putra kedua Kaisar Valerion. Datang membawa salam… dan kerja sama.”
Jane membeku.
Tidak.
Ini terlalu cepat.
Dalam cerita aslinya, Kaelum muncul jauh setelah konflik internal kekaisaran memuncak.
Namun kini—
dia berdiri di Araluen.
William, yang duduk di singgasananya, menyipitkan mata.
“Kerja sama seperti apa?” tanyanya datar.
Kaelum menoleh perlahan…
lalu matanya berhenti pada Anthenia.
Bukan sekilas.
Bukan sopan.
Ia menatapnya seolah sedang menemukan sesuatu yang lama ia cari.
“Sesuatu yang menguntungkan,” jawab Kaelum akhirnya.
“Terutama… jika melibatkan Blackwood.”
Ruangan langsung hening.
Duke Kaelen Blackwood mengernyit tajam.
“Putriku bukan alat diplomasi,” katanya tegas.
Kaelum tertawa ringan. “Aku tidak mengatakan alat, Duke.”
Tatapannya kembali pada Anthenia.
“Aku lebih suka menyebutnya… pusat badai.”
William mengepalkan jarinya di sandaran singgasana.
Dia menatapnya terlalu lama.
—
Aula perjamuan — siang hari
Perjamuan diadakan atas nama kehormatan Valerion.
Jane duduk tenang, wajahnya lembut seperti Anthenia yang dikenal semua orang. Namun pikirannya berlari cepat.
Kaelum Stormrage…
Dalam novel, dia adalah tokoh abu-abu. Tidak sepenuhnya musuh. Tidak pernah benar-benar sekutu.
Dan yang paling berbahaya—
Dia menyadari Jane bukan gadis biasa.
“Lady Anthenia,” suara Kaelum muncul di sampingnya.
Jane menoleh.
“Yang Mulia,” jawabnya sopan.
Kaelum menyandarkan siku santai di kursi. “Kau tahu? Di Valerion, badai selalu datang tanpa peringatan.”
Jane tersenyum tipis. “Dan selalu meninggalkan kerusakan.”
“Atau perubahan,” balas Kaelum cepat.
“Kadang… dunia memang perlu diguncang.”
Tatapan mereka bertemu.
Untuk sepersekian detik—
Jane yakin.
Dia tahu.
“Sayang sekali,” lanjut Kaelum pelan,
“wanita sepertimu terikat pada satu kekaisaran saja.”
Udara langsung menegang.
William berdiri.
Suara kursinya bergeser cukup keras untuk menarik perhatian semua orang.
“Pangeran Kaelum,” ucap William dingin,
“tamu kami seharusnya menjaga sikap.”
Kaelum menoleh, senyum tipis tersungging.
“Ah,” katanya ringan,
“kecemburuan lebih cepat muncul daripada yang kuduga.”
Ruangan membeku.
Nelia menatap kakaknya cemas.
Para selir menahan napas.
William melangkah mendekat.
“Anthenia berada di bawah perlindungan kekaisaran ini,” katanya tegas.
“Dan—”
“Dan calonmu,” potong Kaelum santai.
“Tapi bukankah badai selalu lebih menarik… saat direbut?”
Jane menurunkan pandangannya, pura-pura tenang.
Namun di dalam—
Ini buruk.
Ini sangat buruk.
Karena dalam cerita—
Kaelum Stormrage tidak pernah tertarik pada Anthenia.
Artinya satu hal:
Ia tidak membaca novel.
Ia membaca Jane.
Dan William…
William menyadari itu.
Tatapan dinginnya bukan lagi tatapan panglima perang—
melainkan tatapan pria yang takut kehilangan sesuatu yang belum sepenuhnya ia miliki.
Taman Istana Araluen — sore hari
Angin berembus lembut, membawa aroma bunga musim semi.
Anthenia berjalan perlahan di taman istana, ditemani satu pelayan—atas perintah Duke Blackwood. Namun beberapa langkah di belakang, langkah kaki lain terdengar.
“Tinggalkan kami.”
Suara itu santai, namun tak memberi ruang bantahan.
Pelayan menoleh ragu pada Anthenia.
Anthenia mengangguk kecil. “Tidak apa.”
Pelayan mundur dengan cepat.
Kini hanya mereka berdua.
Kaelum Stormrage berjalan sejajar dengannya, tangan di belakang punggung, ekspresi tenang seolah taman ini miliknya.
“Kau tahu,” katanya ringan, “William menatapku seperti ingin memenggal leherku.”
Anthenia tersenyum sopan. “Mungkin Yang Mulia terlalu percaya diri.”
Kaelum tertawa kecil. “Atau mungkin… dia tidak suka sesuatu yang tidak bisa dia kendalikan.”
Langkah Anthenia berhenti.
Ia menoleh, menatap Kaelum lurus. “Apa maksudmu?”
Kaelum ikut berhenti. Kali ini, tatapannya tajam—bukan genit, bukan bercanda.
“Di Valerion,” katanya pelan,
“kami belajar membaca orang dari cara mereka diam.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit. “Dan kau, Lady Blackwood… terlalu tenang untuk gadis delapan belas tahun.”
Dia menusuk tepat sasaran.
Anthenia menarik napas perlahan. “Mungkin aku hanya dibesarkan dengan baik.”
“Tidak,” jawab Kaelum lembut.
“Kau dibesarkan oleh seseorang yang tahu cara bertahan hidup.”
Ia tersenyum. “Itu jauh lebih menarik.”
—
Balkon istana — dari kejauhan
William berdiri memandangi taman.
Nelia berdiri di sampingnya, menggenggam lengan sang kakak.
“Kakak… kau marah?” tanyanya lirih.
William tidak menjawab segera.
Tangannya mengepal, lalu mengendur.
“Aku tidak marah,” katanya akhirnya.
“Aku… waspada.”
Nelia mengikuti arah pandangnya.
Ia melihat Kaelum berbicara dengan Anthenia—terlalu dekat.
“Kau cemburu?” tanya Nelia polos.
William menoleh.
Untuk sepersekian detik, ekspresinya retak.
“Hanya orang bodoh yang tidak cemburu,” jawabnya pelan.
“Ketika sesuatu yang penting… mulai diperebutkan.”
—
Kembali ke taman
Kaelum melangkah satu langkah mendekat.
“Anthenia,” panggilnya—tanpa gelar.
Anthenia menegang. “Yang Mulia seharusnya—”
“Di Valerion,” potong Kaelum,
“kami tidak berpura-pura saat tertarik.”
Ia menatapnya dalam-dalam.
“Aku tidak datang ke Araluen hanya untuk kerja sama.”
Jantung Anthenia berdetak lebih cepat—bukan karena gugup, tapi karena peringatan.
“Lalu untuk apa?” tanyanya dingin.
Kaelum tersenyum.
“Untuk memastikan… siapa yang pantas berada di pusat badai berikutnya.”
Anthenia menatapnya balik, senyum lembut terpasang sempurna.
Namun di dalam pikirannya—
Kaelum Stormrage adalah variabel berbahaya.
Dan William… bukan satu-satunya yang menginginkanku sekarang.
Ia melangkah mundur satu langkah, menjaga jarak.
“Yang Mulia,” katanya sopan,
“aku hanya seorang putri duke.”
Kaelum tertawa pelan.
“Dan badai selalu menyamar sebagai angin sepoi.”
—
Malam hari — ruang pribadi William
William berdiri sendiri.
Pedangnya bersandar di dinding, belum dilepas.
“Ash Calderon,” gumamnya.
“Kaelum Stormrage.”
Dua nama. Dua ancaman.
Dan di tengahnya—
Anthenia Blackwood.
William menutup mata.
“Jika kau adalah takdir,” bisiknya,
“maka aku akan merebutmu… bukan menyerahkannya pada badai lain.”
Api lilin bergetar.
Di luar, awan mulai menutup bulan.
Badai Valerion baru saja mengangkat jangkar.
Ruang Audiensi Istana Araluen — malam
Langit sudah gelap saat pertemuan mendadak dipanggil.
Kaisar Whiston duduk di singgasananya, wajahnya tegas. Permaisuri Lunara berada di sisinya, tenang namun awas. Para bangsawan berdiri berjajar.
Di tengah aula, Kaelum Stormrage berdiri santai—terlalu santai untuk orang yang akan membuat permintaan besar.
“Aku harap Yang Mulia tidak keberatan dengan audiensi mendadak ini,” ucap Kaelum.
“Katakan maksudmu,” jawab Kaisar singkat.
Kaelum menoleh sedikit, matanya melirik ke arah Anthenia—yang berdiri di sisi Duke Blackwood.
“Sederhana,” katanya.
“Kekaisaran Valerion ingin mempererat hubungan dengan Araluen.”
Beberapa bangsawan mengangguk—itu terdengar wajar.
“Melalui perdagangan?” tanya Kaisar.
“Melalui ikatan,” jawab Kaelum.
Hening.
Duke Blackwood langsung menegang.
“Maksud Pangeran?” tanya Kaisar hati-hati.
Kaelum tersenyum.
“Aku ingin mengajukan ketertarikan resmi… pada Lady Anthenia Blackwood.”
Suara bisik langsung memenuhi aula.
Nelia terkejut, tangannya refleks menggenggam lengan William.
William berdiri diam.
Wajahnya tenang. Terlalu tenang.
Jane menunduk sopan, menyembunyikan ekspresi sebenarnya.
Dia benar-benar melakukannya.
“Kau lancang,” kata Duke Blackwood dingin.
“Putriku berada di bawah pertimbangan kekaisaran ini.”
Kaelum mengangguk hormat. “Justru karena itu aku meminta secara terbuka.”
Semua mata beralih pada William.
Putra Mahkota Araluen.
Panglima perang.
Calon yang tidak pernah diucapkan secara resmi—namun semua orang tahu.
William melangkah maju.
“Valerion datang sebagai tamu,” katanya datar.
“Bukan untuk merebut sesuatu yang bukan miliknya.”
Kaelum menoleh, senyum tipis masih terpasang.
“Apakah sudah menjadi milikmu?” tanyanya ringan.
Udara menegang tajam.
William menatapnya lurus.
“Belum.”
Jane menahan napas.
“Tapi juga bukan milikmu,” lanjut William.
“Dan kau melangkahi batas.”
Kaelum tertawa pelan. “Batas hanya ada untuk orang yang takut menyeberang.”
William melangkah satu langkah lagi—cukup dekat.
“Dan badai,” katanya rendah,
“sering tenggelam saat bertabrakan dengan tembok.”
Permaisuri Lunara akhirnya bicara.
“Cukup,” ucapnya tegas.
Aula kembali sunyi.
“Permintaan ini akan dipertimbangkan,” lanjut Lunara.
“Lady Anthenia bukan pion.”
Jane mengangkat kepala, menatap Permaisuri—dan mendapati tatapan lembut yang penuh perlindungan.
Kaelum membungkuk hormat.
“Aku menunggu jawabannya.”
Namun sebelum mundur, ia berkata pelan—cukup untuk didengar Jane:
“Aku tidak terburu-buru. Badai selalu sabar.”
—
Koridor samping istana — sesaat kemudian
William berjalan cepat.
Jane mengejarnya.
“Yang Mulia,” panggilnya.
William berhenti—namun tidak menoleh.
“Apa aku melakukan kesalahan?” tanya Jane lembut.
William akhirnya berbalik.
Tatapannya dingin… tapi ada sesuatu yang retak di baliknya.
“Kesalahanmu,” katanya pelan,
“adalah membuat orang lain melihatmu.”
Jane terdiam.
“Kaelum Stormrage bukan pria yang bertindak karena ketertarikan biasa,” lanjut William.
“Jika dia menginginkanmu… itu berarti ada sesuatu yang lebih besar.”
Jane mengangguk kecil. “Aku tahu.”
William menatapnya lama.
“Kalau begitu,” katanya akhirnya,
“jangan berjalan sendirian lagi.”
Nada itu bukan perintah.
Itu kekhawatiran.
Jane menunduk hormat. “Aku mengerti.”
William melangkah pergi.
Namun di langkah ketiganya—
tangannya mengepal.
Karena untuk pertama kalinya sejak ia memegang pedang—
ia merasa akan kehilangan sesuatu,
bukan karena perang…
melainkan karena badai yang datang dengan senyum.
—
Kediaman Valerion — malam
Kaelum berdiri di balkon.
Angin malam menerpa jubahnya.
“Menarik,” gumamnya.
“Putra Mahkota Araluen mencintai dengan cara bertahan.”
Ia tersenyum samar.
“Dan Lady Blackwood…”
Matanya menyipit.
“Kau bukan bagian dari cerita ini, bukan?”
Badai bergerak perlahan.
Dan Kaelum Stormrage—
baru saja menancapkan kakinya di pusatnya.