NovelToon NovelToon
Bayangan Di Yalimo

Bayangan Di Yalimo

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Yohan, seorang pemuda urban, mewarisi rumah bobrok di Yalimo dan bertekad menjualnya. Rencananya terhalang oleh roh ibunya, Sumiati, yang terikat pada tanah itu oleh 'Janji Darah'. Dalam upaya investigasi yang membawanya jauh ke pedalaman Papua, Yohan harus mengorbankan identitas modernnya (Pertukaran Jiwa) demi membebaskan Sumiati. Setelah berhasil, ia secara tidak sengaja melepaskan Kutukan Primordial yang lebih tua—energi jahat yang sebelumnya ditahan Sumiati—dan dipaksa menjadi 'Penjaga Pusaka' sejati. Yohan memimpin komunitas melawan serangan hukum dan militer korporat, yang berpuncak pada kemenangan spiritual atas kekayaan. Perjalanannya berakhir ketika ia menyadari bahwa pengorbanan terbesar bukanlah aset, melainkan kemampuan untuk memimpin dengan kerendahan hati dan tanpa kepastian diri, mengubahnya dari pewaris sinis menjadi pemimpin spiritual yang utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman Balik

Keheningan pecah ketika Marta, dalam upaya putus asa untuk mengendalikan situasi, menarik kembali napas dan menembakkan tembakan verbal terakhir, nadanya menjadi tajam, keras, dan penuh hasutan.

“Dia GILA!” teriak Marta, menunjuk Yohan dengan tangan gemetar.

“Anak ini kembali ke Yalimo hanya untuk menabur kekacauan! Roh ibunya—seorang penyihir dari Jawa yang dia nikahi dan kami terima dengan baik—telah memanipulasi pikirannya. Lihat apa yang dia bawa! Benda aneh, simbol kuno yang kami takuti! Dia menggunakan roh gelap, Iblis Gunung, untuk membingungkan kita!”

Marta memanfaatkan rasa takut primordial warga terhadap ilmu spiritual asing, mengaitkan setiap gejala kegilaan Yosef dan ketidakstabilan Sumiati pada ‘kebodohan’ Yohan.

Yohan tahu. Bagi Marta, roh gentayangan lebih bisa diterima daripada mengakui kejahatan materialisme yang dia sembunyikan.

Waya, tetua yang paling lemah, mulai membantu Marta.

“Pulang, Yohan! Jangan usik Janji Darah yang menjaga desa kita. Apa kau ingin melihat Yalimo binasa karena ulah anak nakal yang membawa bencana?”

“Aku membawa Pusaka yang seharusnya melindungi kalian, bukan kutukan. Aku datang dengan niat Pemurnian,” balas Yohan tenang, mengabaikan Marta dan fokus pada warga.

“Janji Darah yang kalian pegang adalah racun. Jika Pusaka Batu ini tidak segera dimurnikan dengan ‘Pertukaran Jiwa’ yang benar, seluruh tanah ini akan melepaskan Kutukan Primordial yang telah tertidur karena Yosef mengorbankan Ibuku!”

Para warga menjerit kecil, mencerminkan ketakutan baru: Yohan berbicara terlalu spesifik mengenai kutukan elemental yang Ina katakan. Namun, takut akan Pusaka lebih kuat daripada takut pada Kepala Desa yang baru saja ditelanjangi. Mereka mulai mundur dari Balai Komunitas, mata mereka tidak lagi terfokus pada Marta, tetapi pada Yohan, sebagai potensi pemicu bencana baru.

Marta tersenyum menang dalam histeria pendeknya. Ia berhasil mengalihkan fokus warga. Yalimo mungkin tahu dia membunuh Yosef, tapi Yohan, sang pencerita kebenaran, kini menjadi musuh yang harus dijauhi.

“Pergilah, Anak muda. Jangan muncul lagi di Yalimo. Atau Yalimo akan mengirimmu untuk menemani orang tuamu di makam. Kali ini tanpa kecelakaan!” ancam Marta, kini di depan para warga, memulihkan wibawa liciknya dengan menggunakan kekuatan komunitas.

Yohan mengamati kerumunan yang bubar. Mereka tidak menoleh, tetapi dia tahu mereka semua takut padanya sekarang. Takut pada kebenaran spiritualnya.

Aku harus ingat instruksi Ina, pikir Yohan, Jimat Tulang Ina terasa menusuk pinggangnya melalui kain. Ancaman Marta adalah gema kepanikan. Masalah spiritual yang lebih besar ada di Pusaka, menunggu. Aku tidak bisa membuang waktu untuk mengurus gosip politik.

***

Sepanjang siang itu, Yohan melakukan persiapan akhir Pertukaran Jiwa Total.

Dia berusaha fokus pada langkah-langkah spiritual—mantra Ina, penggunaan Jimat Tulang sebagai ‘Pengalih Jiwa’ yang murni—namun bayangan sketsa Ayahnya dan wajah marah Marta terus menghantui pikirannya.

Dia perlu kepastian moral, sebuah bukti penguat bahwa apa yang dia lakukan ini bukanlah hanya penebusan keluarga, tetapi menegakkan keadilan dari pembunuhan ganda.

Saat matahari terbenam, ia memutuskan untuk mencari informasi dari sumber yang paling bisa dipercaya dan berani. Dia hanya tahu satu orang yang cukup dekat dengan masa lalu Yosef sebelum kejatuhannya: mandor kebun tua Yosef.

Yohan menunggu hingga tengah malam. Dengan Pusaka terikat erat di ranselnya, ia menyelinap keluar, menggunakan bayangan malam. Yalimo sangat sunyi; hanya suara jangkrik yang menemani langkahnya.

Ia menemukan kediaman Mandor Yunus, di gubuk kecil dekat lumbung padi yang jauh dari Balai Desa.

Yohan mengetuk pelan, tiga kali.

Pintu terbuka sedikit, dan Mandor Yunus mengintip, matanya melebar panik saat melihat Yohan.

“Yohan! Kau tidak boleh di sini!” Yunus berbisik histeris, membuka pintu sedikit untuk Yohan masuk.

Yohan masuk ke dalam, bau rokok kretek dan kayu lapuk memenuhi hidungnya.

“Aku tahu ini berbahaya, Yunus. Tapi aku datang bukan sebagai putra Yosef. Aku datang sebagai orang yang ingin menukar jiwa Ayah dan Ibu untuk keadilan Yalimo. Aku hanya butuh kebenaran tentang ‘kecelakaan’ Ayah,” pinta Yohan, matanya memancarkan ketulusan baru.

Yunus gemetar. Dia menghisap rokoknya dalam-dalam. “Kau tahu terlalu banyak, Yohan. Kami dengar Marta mengatakan kau mengikat diri pada roh jahat.”

“Aku hanya ingin tahu. Saat Ayah jatuh di perbatasan hutan itu, apakah benar-benar kecelakaan?” Yohan langsung ke inti.

Yunus menghembuskan asap, ekspresinya memburuk, sarat dengan beban rahasia lama.

“Tidak, nak. Bukan kecelakaan,” bisik Yunus, matanya terpaku pada tanah.

“Yosef bukan pria yang sembarangan jatuh, meskipun dia pemabuk dalam kesedihan setelah Ibumu...” Yunus terdiam sejenak.

“...Yosef tewas di Batu Persembahan. Malam setelah istrinya menghilang. Marta dan lima sesepuh yang bersamanya datang menemuinya, berdebat tentang Pusaka dan perusahaan tambang. Yosef menolak mentah-mentah kompromi setelah Ibumu sudah terikat. Mereka marah.”

Jantung Yohan mencelos. Jadi, sketsa Ayahnya adalah benar, bahkan pengakuan bahwa Yosef diburu.

“Bagaimana kamu tahu?” tanya Yohan, suaranya tercekat.

“Aku berada di dekatnya. Aku seharusnya menolongnya…” Yunus menatap tangannya.

“Mereka memukulnya dengan sepotong kayu besar, benda tumpul di kepalanya. Kami tahu. Tapi Marta, Kepala Desa, mendatangi kami semua, satu per satu, dan mengatakan kalau kita tidak mau keluarganya dicap pemberontak di kota dan dilempar dari Yalimo, kita harus bilang kalau dia jatuh. Kami... kami tidak bisa melawan Marta.”

“Jadi kalian memalsukan alibi bunuh diri Ibu saya, dan kecelakaan bagi Ayah saya, demi tambang?” desak Yohan, nada marahnya terkontrol sempurna.

Yunus mengangguk pelan, kepalanya tertunduk.

“Ya, Nak. Ayahmu seorang martir sejati, terbunuh karena melindungi warisan ini. Pusaka tidak akan mau disentuh tangan kotor dari perusahaan.”

Sekarang, Yohan mengerti keseluruhan dilema itu: Janji Darah berfungsi, dan itu terlalu berbahaya bagi Marta dan para sesepuh yang ingin mendapatkan untung dari Pusaka yang terlindungi oleh ritual darah. Jadi, mereka membunuh Yosef dan mengubur semua jejak, menciptakan alibi yang damai demi kontrol dan keuntungan.

“Terima kasih, Yunus,” Yohan bangkit. Dia tidak meminta Yunus bersaksi. Tugas ini harus dilakukannya sendirian, karena bersaksi secara fisik di depan pengadilan manusia sama tidak efektifnya dengan mencoba membakar rumahnya sendiri. Pemurnian ritual adalah bukti sejati yang abadi.

Yohan kembali menyelinap keluar. Ia kembali ke rumah. Fajar hampir tiba. Kurang dari dua jam sebelum dia harus memulai Pertukaran Jiwa Total di Batu Persembahan.

Dia sekarang memikul kebenaran moral mutlak. Tugas Pertukaran Jiwa-nya bukan lagi tentang keluarga; itu adalah keadilan komunal yang harus ditegakkan sebelum dia mengklaim perannya sebagai Penjaga Pusaka.

Sisa jam yang ada ia gunakan untuk menyisir setiap laci Ayahnya. Dia ingat sketsa Ayahnya menunjuk ke laporan tersembunyi. Yosef yang obsesif tidak mungkin meninggalkan hal sepeka ini tanpa jejak kertas hukum, jika saja ia punya kesempatan.

Ia mencari kunci. Di bawah sebuah tikar kusam yang selalu ada di bawah tempat tidur Ayahnya, ia menemukan kunci kecil berkarat—kunci lama kantor catatan sipil kecil yang digunakan desa.

Dengan Pusaka di punggungnya, Jimat Ina di tangan, dan kunci kecil Ayahnya yang berkarat di saku, Yohan sekali lagi menyelinap keluar rumah. Yalimo semakin dingin saat fajar menyingsing.

Ia berjalan cepat, tidak ke hutan, tetapi ke kantor desa kecil. Kantong Marta dan para sesepuh. Semua terkunci, kecuali satu ruang kecil di belakang lemari dokumen usang. Yohan memasukkan kunci Ayahnya. Kunci itu berdentang dan gemboknya terbuka perlahan, bau lembab menyeruak keluar.

Yohan menyalakan senter ponsel lamanya dan menyasar berkas-berkas debu. Ia mencari tahun kematian Yosef: 1999.

Seketika ia menemukan satu amplop tipis bertanda “KECELAKAAN TANPA SAKSI: KEMATIAN PEWARIS YOSEF (TANAH WARISAN) - RESUME POLISI”.

Jantung Yohan berdegup kencang, menyaingi dingi Pusaka yang menusuk punggungnya. Inilah jejak hukum dari kejahatan yang memenjarakan ibunya dan merenggut ayahnya.

Yohan mengeluarkan dokumen itu dari amplop. Kertas itu kuning dan rapuh. Di tengah tumpukan data logistik kosong dan formalitas yang membosankan, hanya ada satu paragraf deskriptif tentang insiden itu:

"Pada 16 September 1999, telah dilaporkan dan diverifikasi jenazah sdr. Yosef, Pewaris Sah Yalimo, di sekitar hutan perbatasan. Diduga kuat kecelakaan tunggal; almarhum tewas karena trauma kepala yang hebat akibat terjatuh dari ketinggian tebing (2.7 m) ke area batuan. Tidak ada pihak yang dicurigai terlibat. Kasus ditutup per 17 September 1999, atas persetujuan instansi terkait di Yalimo (ttd: Kepala Desa & Lima Tokoh Masyarakat)."

Darah Yohan mendidih.

Semua yang dituduhkan Yunus, semua yang digambar Yosef dalam sketsa mengerikan itu—semua tercantum rapi di bawah tumpukan dokumen yang sudah dimanipulasi secara legal oleh Marta. Bukan hanya pembunuhan, ini adalah penggunaan birokrasi dan legalitas sebagai perisai.

Hanya satu hari untuk investigasi? Trauma kepala akibat kejatuhan batuan—atau pukulan dari kayu keras Mandor Yunus? Semua diakhiri oleh persetujuan Marta.

Yohan melipat dokumen itu ke dalam saku. Kekejaman mereka nyata. Kebebasan Sumiati telah dibayar dengan Pertukaran Jiwa Yohan. Sekarang, dia akan mengakhiri utang terakhir, menggunakan kekalahan manusia Marta untuk memulai kebangkitan Pusaka yang bersih. Waktunya Pertukaran Jiwa di Batu Persembahan telah tiba.

"Mereka terlalu takut aku berhasil, Marta," gumam Yohan di depan kegelapan kantor yang sunyi itu, yang diselimuti bau debu manipulasi yang menusuk hidungnya.

Ini bukan hanya konflik spiritual, atau sekadar hukum. Ini adalah pertarungan moral. Ia siap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!