Kisah tentang cinta yang tak memandang usia, tentang keberanian menerima masa lalu seseorang, dan tentang dua hati yang memilih bersama meski dunia sempat meragukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Beberapa detik kemudian, Andreas berkata pelan,
“Kalau suatu hari aku terlihat terlalu protektif… atau terlalu curiga… ingatkan aku. Itu bukan karena kamu. Itu karena masa lalu.”
Dira mengangguk.
“Dan kalau aku terlihat ragu… itu bukan karena kamu. Tapi karena semuanya terjadi terlalu cepat.”
Untuk pertama kalinya malam itu, jarak di antara mereka mengecil.
Bukan karena cinta.
Tapi karena kejujuran.
Dan mungkin… dari dua luka yang berbeda, pelan-pelan bisa tumbuh sesuatu yang lebih kuat.
Malam itu mereka akhirnya tidur.
Bukan dengan jarak sejauh kemarin.
Bukan juga dengan kedekatan yang berlebihan.
Hanya… lebih tenang.
Dira tertidur lebih dulu. Andreas sempat menatap langit-langit kamar beberapa menit, pikirannya masih berat oleh masa lalu yang baru saja ia buka.
Tapi entah kenapa, beban itu terasa sedikit lebih ringan.
Karena kali ini… ia tidak menyimpannya sendirian.
Pagi hari.
Sinar matahari masuk lewat celah tirai.
Dira perlahan membuka mata.
Beberapa detik ia lupa di mana ia berada.
Lalu ia melihat lemari kayu asing, meja kerja kecil di sudut kamar, dan menyadari—ia sudah bukan di rumah Abah.
Ia menoleh ke samping.
Andreas masih tidur, wajahnya terlihat jauh lebih lembut saat tidak sadar.
Tanpa sengaja, Dira memperhatikan lebih lama.
“Dia kelihatan capek banget…” gumamnya pelan.
Semalam, untuk pertama kalinya, ia melihat sisi rapuh laki-laki itu.
Bukan suami yang terpaksa.
Bukan pria yang tenang tanpa luka.
Tapi seseorang yang pernah dikhianati.
Dira bangun pelan agar tidak membangunkannya.
Namun saat ia hendak turun dari kasur—
Tangan Andreas refleks bergerak, memegang pergelangan tangannya.
Dira kaget.
Andreas membuka mata perlahan.
“Kamu mau ke mana?”
Suaranya masih serak khas orang baru bangun.
“Mau ke dapur… bikin sarapan.”
Andreas menatapnya beberapa detik.
“Jam berapa?”
“Setengah tujuh.”
Andreas langsung duduk.
“Ya ampun. Aku kesiangan.”
Dira tersenyum kecil.
“Banyak kerjaan?”
Andreas mengusap wajahnya.
“Iya. Hari ini aku harus ke kantor.”
Ia bangkit, lalu berhenti sejenak.
“Dira.”
“Iya?”
“Terima kasih sudah masakin semalam”
Dira terdiam sesaat.
“Terima kasih juga sudah jujur”
Ada senyum kecil di antara mereka.
Bukan romantis berlebihan.
Bukan romantis berlebihan.
Tapi hangat.
Ia berniat membuat sarapan.
Ia memutar knop kompor.
Ctek.
Tidak menyala.
Ia coba lagi.
Ctek. Ctek.
Tetap tidak ada api.
Keningnya mulai berkerut.
“Kenapa sih…” gumamnya kesal.
Ia menekan lebih keras.
Ctek!
Masih mati.
Andreas keluar kamar dengan kemeja kerja yang belum sepenuhnya dikancing.
“Kenapa, Dir?”
“Ini kompornya rusak kayaknya.”
Andreas mendekat, memeriksa sebentar. Lalu wajahnya berubah sedikit canggung.
“Hmm… kayaknya bukan rusak.”
“Terus?”
“Gasnya habis.”
Dira menoleh perlahan.
“Habis?”
Andreas mengangguk kecil.
“Iya… aku belum sempat isi.”
Sunyi.
Dira melihat nasi yang sudah siap digoreng. Melihat irisan bawang. Melihat wajan.
Lalu ia menatap Andreas dengan tatapan datar.
“Kamu tahu aku bangun pagi buat ini?”
“Iya…”
“Dan kamu tahu kamu sudah tahu gasnya hampir habis?”
Andreas menggaruk tengkuknya.
“Aku lupa.”
Dira menghela napas panjang. Bukan marah meledak. Tapi benar-benar kesal.
“Semalam kamu bilang kita mulai dari nol. Tapi nolnya jangan mulai begini juga.”
Andreas terdiam.
Dira menutup wajan agak keras. Tidak dibanting, tapi cukup menunjukkan rasa kesalnya.
Andreas menatapnya lebih serius sekarang.
“Maaf. Aku memang nggak kepikiran hal beginian. Biasanya aku cuma keluar beli.”
Dira bersandar ke meja dapur.
“Ya itu dia. Sekarang kamu nggak sendiri.”
Kalimat itu membuat Andreas terdiam cukup lama.
Akhirnya, tanpa banyak bicara, ia mengambil roti tawar dan meletakkannya di meja.
Beberapa menit kemudian mereka duduk berhadapan.
Roti tawar.
Selai.
Kopi sachet.
Tidak ada yang berbicara selama beberapa suapan pertama.
Suasana terasa canggung lagi.
Andreas akhirnya angkat bicara.
“Aku akan isi gas hari ini juga.”
Dira tidak langsung menjawab.
Lalu ia berkata pelan,
“Bukan cuma soal gas, Andreas.”
Andreas menatapnya.
“Kalau kita mau serius jalanin ini… hal kecil juga harus dipikirin. Aku nggak mau merasa sendirian di rumah ini.”
Kalimat itu bukan marah.
Itu jujur.
Andreas mengangguk pelan.
“Iya. Aku salah.”
Dira menatap roti di tangannya.
Kesalnya perlahan turun, tapi belum hilang sepenuhnya.
Ini bukan cuma tentang kompor.
Ini tentang adaptasi.
Tentang tanggung jawab.
Tentang dua orang yang sama-sama belum siap tapi harus belajar cepat.
Sebelum berangkat kerja, Andreas berdiri di depan pintu.
“Dir.”
Dira menoleh.
“Aku benar-benar minta maaf. Nanti sore kita beli tabung gas bareng.”
Dira menatapnya beberapa detik.
Lalu mengangguk kecil.
“Iya.”
Tidak ada senyum manis pagi itu.
Sebelum berangkat, Andreas mengambil tas kerjanya.
Ia berdiri di depan pintu, sedikit ragu.
“Dira.”
“Iya?”
“Kalau kamu butuh apa-apa, telepon aku. Jangan sungkan.”
Dira mengangguk.
Andreas sempat ingin berkata sesuatu lagi… tapi urung.
Akhirnya ia hanya berkata,
“Aku pulang nggak terlalu malam.”
Pintu tertutup.
Kalinya sebagai istri di rumah itu.
Ia menarik napas panjang.
“Baiklah… kita mulai pelan-pelan.”
Tapi ia belum tahu—
Hari itu akan membawa sesuatu yang tak ia duga.
Rumah kembali sunyi.
Satu jam setelah Andreas berangkat kerja, rumah kembali sunyi.
Dira sedang membereskan meja ruang tamu. Emosinya tadi pagi masih terasa. Ia mencoba menenangkan diri dengan menyibukkan tangan.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan pintu.
Ia berhenti.
Tidak mungkin Andreas. Baru satu jam.
Tok. Tok. Tok.
Lebih keras.
Dira melangkah pelan ke pintu dan mengintip dari jendela kecil.
Seorang perempuan berdiri di luar.
Cantik. Berpenampilan rapi. Tatapannya yakin… seperti orang yang sudah sering datang ke rumah itu.
Perempuan itu mengetuk lagi.
“Andreas?”
Nama itu disebut dengan nada yang familiar.
Dira menarik napas, lalu membuka pintu sedikit.
“Cari siapa?”
Perempuan itu menoleh.
Wajahnya berubah saat melihat Dira.
“Maaf… ini rumah Andreas, kan?”
“Iya.”
Perempuan itu menatap Dira beberapa detik.
“Kamu siapa?”
Nada suaranya terdengar lebih seperti tuntutan daripada pertanyaan.
Dira mengangkat dagu.
“Saya istrinya.”
Sunyi.
Perempuan itu membeku.
“Apa?”
“Saya istrinya.”
Tatapan perempuan itu berubah. Tidak percaya. Lalu perlahan… getir.
“Istrinya?”
Dira menahan rasa tidak nyaman.
“Ada perlu apa?”
Perempuan itu tertawa kecil. Tapi tawa itu terdengar pahit.
“Jadi dia nggak bilang apa-apa ya…”
“Bilang apa?”
Perempuan itu menatap lurus ke mata Dira.
“Saya mantan istrinya.”
Udara terasa berat.
Dira tidak bergerak.
Perempuan itu melanjutkan, suaranya lebih tenang sekarang.
“Kami memang sudah cerai. Tapi kami masih urus beberapa hal. Rumah ini… dulu saya juga tinggal di sini.”
Kalimat itu seperti membuat dinding rumah terasa berbeda.
Tiba-tiba ruang tamu yang rapi itu bukan lagi sekadar rumah lajang.
Perempuan itu melangkah sedikit mendekat.
“Kapan kalian menikah?”
“Kemarin,” jawab Dira pelan.
Wajah perempuan itu berubah drastis.
“Kemarin?”
Ia tertawa singkat, tidak percaya.
“Cepat sekali.”
Dira teringat cerita Andreas semalam.
“Aku pernah menikah tapi gagal karena perempuan itu selingkuh dengan teman dekatku.”
Sekarang mantan istrinya berdiri di depan pintu.
Tenang.
Rapi.
Dan terlihat tidak seperti seseorang yang hancur.
Perempuan itu menatap Dira lagi.
“Dia bilang apa tentang saya?”
Pertanyaan itu membuat jantung Dira berdetak lebih cepat.
Ia sadar…