NovelToon NovelToon
Penjara Suci

Penjara Suci

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Perjodohan / Romansa pedesaan
Popularitas:29k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.

Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.

Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.

Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.

Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh Empat

Pegangan itu cukup kuat. Refleks, Hanin terkejut. Tubuhnya berbalik cepat. Matanya membesar ketika melihat siapa yang memegang tangannya.

“Fahmi?”

Lelaki itu berdiri di hadapannya dengan napas sedikit terengah. Tatapannya penuh sesuatu yang sulit diartikan antara rindu, penyesalan, atau mungkin sekadar kaget karena benar-benar bertemu setelah dua tahun tanpa kabar.

Hanin langsung menarik tangannya dengan paksa. “Lepaskan!”

Fahmi tidak melawan, tapi juga tidak mundur. “Hanin, tunggu dulu.”

Hanin tidak menjawab. Ia berbalik dan kembali berjalan masuk ke area terminal. Tas kecilnya digenggam lebih erat. Jantungnya berdegup tak karuan.

Kenapa harus sekarang? Kenapa harus di hari ketika ia sudah berusaha sekuat tenaga menenangkan diri?

Langkah Fahmi terdengar mengejar di belakangnya. “Hanin, kita harus bicara.”

Hanin berhenti. Beberapa orang di sekitar mereka berlalu-lalang, tak peduli pada dua orang yang berdiri dengan jarak setengah meter dan masa lalu sepanjang dua tahun.

Hanin menjawab tanpa menoleh. “Tak ada yang perlu dijelaskan lagi,” ucapnya datar. “Hubungan kita telah lama berakhir.”

Fahmi terdiam sesaat, lalu melangkah mendekat sedikit. “Aku ingin jelaskan semuanya.”

“Apa lagi yang mau dijelaskan?”

Kini Hanin menoleh. Tatapannya tenang, tapi dingin.

Fahmi menelan ludah. “Dua tahun lalu … aku bukan sengaja menghilang.”

Hanin tidak bereaksi.

“Orang tuaku tahu tentang hubungan kita,” lanjut Fahmi. “Mereka marah. Mereka menyita ponselku. Aku tidak bisa menghubungimu.”

Hanin menatap lurus ke matanya, tanpa emosi.

“Mereka juga mengirimku ke pondok milik Ustaz Hamid di Kota A. Aku tidak punya akses apa pun. Aku benar-benar tidak bisa menjelaskan.”

Angin terminal berhembus pelan. Suara kondektur memanggil tujuan kota terdengar samar.

Hanin menarik napas. “Sekali lagi aku katakan,” suaranya tetap stabil, “aku tak butuh penjelasan.”

Fahmi menggeleng cepat. “Tapi kamu harus tahu kebenarannya.”

“Apa pun kebenarannya, itu sudah lewat.”

Ia menatap Fahmi lebih dalam. “Anggap saja kita tak pernah bertemu.”

Kalimat itu seperti tamparan pelan. Fahmi terdiam.

“Aku mau kamu juga pura-pura tak mengenalku,” lanjut Hanin. “Aku tak mau nanti jadi fitnah.”

Alis Fahmi mengernyit. “Fitnah?”

“Hidupku sekarang berbeda,” jawab Hanin pelan. “Ghania sahabatku.”

Nama itu membuat Fahmi sedikit tersentak.

“Aku tak mau dia salah paham.”

Ada jeda panjang. Fahmi menatap Hanin dengan sorot mata yang sulit dibaca. “Aku tak ingin kamu berpikiran buruk mengenai aku yang menghilang dulu.”

Hanin tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata.

“Aku tak perlu berpikiran buruk tentangmu,” ucapnya. “Semua ini takdirku.”

Kalimat itu terasa dewasa. Terlalu dewasa untuk luka yang sebenarnya belum sembuh sepenuhnya.

“Jadi sekali lagi aku katakan,” Hanin menatapnya tegas, “jangan dekati aku. Kita harus saling asing.”

Saling asing. Dua kata yang sederhana, tapi berat. Fahmi ingin berkata sesuatu lagi, namun suara klakson bus memotong.

Bus tujuan kampung halaman Hanin sudah bersiap berangkat. Tanpa menunggu jawaban, Hanin berbalik.

Langkahnya mantap. Tidak cepat. Tidak lambat. Ia naik ke dalam bus, menyerahkan tiket, lalu berjalan menyusuri lorong sempit mencari kursinya.

Di luar, Fahmi berdiri mematung. Pintu bus tertutup. Mesinnya telah menyala.

Perlahan kendaraan besar itu bergerak meninggalkan terminal. Hanin duduk di dekat jendela. Tangannya gemetar ketika menyentuh kaca.

Baru beberapa detik setelah bus menjauh, air matanya jatuh lagi. Ia menunduk. Bahunya bergetar pelan.

Kenapa setiap kali ia merasa sudah kuat, masa lalu selalu datang mengetuk? Dua tahun bukan waktu yang sebentar.

Dua tahun ia belajar mengikhlaskan seseorang yang pergi tanpa kabar. Dua tahun ia belajar menerima bahwa tidak semua cinta berakhir bersama.

Dan hari ini, ketika ia akhirnya mencoba benar-benar berdamai, lelaki itu muncul membawa penjelasan yang sudah tidak lagi ia butuhkan.

Hanin menyeka air matanya cepat.

“Ya Allah … kuatkan aku.”

Ia menoleh ke luar jendela. Kota perlahan berganti dengan hamparan sawah dan langit yang mulai terang sepenuhnya.

Sementara itu, Fahmi masih berdiri di terminal beberapa menit setelah bus menghilang dari pandangan. Tangannya mengepal di samping tubuh.

Ia datang pagi itu dengan niat sederhana, mengantar makanan dari ibunya untuk keluarga Ghania.

Ia tidak pernah menyangka akan melihat Hanin lagi. Dia tak berpikir Hanin akan menginap di rumah Ghania, tunangannya. Apalagi berbicara seperti tadi.

Fahmi menghela napas panjang. Lalu berjalan kembali menuju mobilnya. Mesin dinyalakan. Mobil melaju meninggalkan terminal. Tujuannya kini jelas, rumah Ustaz Hamid calon mertuanya.

Rumah yang juga menjadi tempat tinggal Ghania. Tunangan yang telah dipilihkan keluarganya. Dan ternyata perempuan itu sahabatnya adalah Hanin. Takdir benar-benar punya cara bercanda yang aneh.

Rumah Ustaz Hamid pagi itu cukup ramai oleh aktivitas biasa. Beberapa pekerja membersihkan halaman, suara sapu lidi terdengar berirama.

Ketika mobil Fahmi masuk ke halaman, seorang pekerja langsung membuka gerbang.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam, Mas Fahmi,” jawab salah satu pekerja dengan ramah.

Fahmi turun membawa dua kotak besar berisi makanan. Titipan dari mamanya.

Tak lama, Ghania keluar dari dalam rumah dengan wajah cerah. “Fahmi?”

Fahmi tersenyum sopan. “Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

Ghania mendekat. “Kamu datang pagi-pagi begini?”

“Iya. Mama kirim makanan.”

Tak lama, Ustaz Hamid juga keluar dari ruang dalam. “Fahmi,” sapa beliau hangat. “Masuk, Nak.”

Mereka duduk di ruang tamu. Salah satu pekerja perempuan ikut duduk tidak jauh dari mereka, sesuai kebiasaan rumah itu agar tidak terjadi khalwat.

Kotak makanan dibuka. Aroma masakan rumahan memenuhi ruangan. “Terima kasih untuk ibumu,” ujar Ustaz Hamid.

“Sama-sama, Abah,” jawab Fahmi sopan.

Mereka berbincang ringan. Tentang kegiatan pondok. Tentang rencana pernikahan yang mulai dibicarakan keluarga. Tentang cuaca yang akhir-akhir ini sering berubah.

Fahmi menjawab seperlunya. Wajahnya tenang. Namun, di dalam pikirannya, bayangan Hanin tadi di terminal masih jelas.

Tangis yang berusaha ia sembunyikan. Kata-kata “kita harus saling asing”.

Beberapa menit kemudian, Ustaz Hamid berdiri.

“Abah ada perlu sebentar ke belakang,” ucapnya. “Kalian ngobrol saja.”

“Iya, Bah,” jawab Ghania.

Seperti biasa, salah satu pekerja tetap duduk menemani di ruang itu. Begitu langkah Ustaz Hamid menjauh, suasana berubah sedikit lebih sunyi.

Ghania tersenyum ringan. “Kamu kelihatan capek.”

Fahmi menatapnya sekilas. “Tidak juga.”

“Kamu habis dari mana?”

Pertanyaan itu sederhana, tapi mampu membuatnya terkejut.

Fahmi terdiam sepersekian detik sebelum menjawab, "Dari rumah, memang sengaja mengantar makanan dari mama. Cuma tadi sempat mampir ke suatu tempat.

Ghania tertawa kecil. “Pantas terlihat sedikit lelah, Mas.”

Fahmi tidak ikut tertawa. Tatapannya berubah lebih serius.

“Ghania.”

“Iya?”

Ia menoleh penuh perhatian. Fahmi menarik napas pelan.

"Sejak kapan kamu dan Hanin bersahabat?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja. Tiba-tiba. Tanpa pengantar. Tanpa konteks.

Dahi Ghania langsung berkerut. “Hanin?”

Nada suaranya jelas terkejut. “Kenapa tiba-tiba tanya tentang Hanin?”

Fahmi tidak langsung menjawab. Tatapannya meneliti wajah Ghania, seolah mencoba membaca sesuatu di sana.

Sementara Ghania mulai merasa ada yang aneh. Kenapa Fahmi tiba-tiba menyebut nama itu?

Pertanyaan itu berputar cepat di kepalanya. Ruang tamu yang tadi terasa hangat kini berubah menjadi penuh tanda tanya.

Fahmi masih menunggu jawaban. Ghania masih mencoba mencerna.

Dan di antara mereka, nama Hanin menggantung di udara seperti rahasia yang belum terungkap.

1
Eka ELissa
kmu pasti bisaa nin jalanin smua nya...kmrin aj kmu bisa kan msk kmu kli ini GK mampu.... semngat nin....ada Arsen gantinya Fahmi 😄🤭
Soraya
lanjut mam
Apriyanti
lanjut thor 🙏
ken darsihk
pleaseee Hanin lupakan Fahmi dia bukan jodoh mu , dan demi persahabatan mu dngn Ghania kamu harus melupakan Fahmi
💪💪 Hanin
Teh Euis Tea
udah ya hanin km harus semangat, lupakan si fahmi dia udah mau nikah dgn sahabat km ghania, semoga km dpt penganti yg lebih dari si fahmi
Patrick Khan
udah ahhhh jgn sedih trs 😖😖😖waktunya Hanin bahagia dan ada air mata lg😭😭😭
Ilfa Yarni
tumben cerita mama Reni ini mengandung bawang nangis trus dibuatnya
Supryatin 123
jujur lebih baik Fahmi daripada jadi lelaki pecundang lnjut thor 💪💪
Radya Arynda
alhamdulillah hanin tidak sama pecundang seperti fahmi,,,semogah kamu mendapat kan yang ter baik hanin.....
Eka ELissa
aduh knpaa pke nanya cih Fahmi....
jadi pnsaran kan tu gnia 🤦
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Soraya
lanjut thor
Teh Euis Tea
alhamdulilah aku baca marathon thor
cerita othor kelewat aku baca 🙏
Mama Reni: 😍😍😍😍😍😍
total 1 replies
Teh Euis Tea
sabar ya hanin si fahmi bkn jodohmu, lupakan dia semoga km bertemu jodoh yg sayang sm km
ken darsihk
Fahmi akan berkata jujur kah tentang Hanin ??
Akan dia cerita kan kedekatan mereka dulu ??
Oma Gavin
kenapa fahmi malah nyebut hanin sudah dibilang anggap asing malah cari perkara fahmi
Supryatin 123
jadi curiga kan si ghania.dasar si Fahmi rada bego lnjut thor 💪💪
Naufal Affiq
lanjut kak
Radya Arynda
mantap hanin,,buang lah sampah yang tidak menghargai,dan tidak membela mu,,,kalau tau kenyataanya tentang hidup hanin setelah kamu buat masalah,menyesal kamu,,,keluargamu sombong dan egois...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!