Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.
Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.
Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.
Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.
"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."
Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.
Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29. OPERASI PENYERGAPAN
Bangunan itu tersembunyi di balik lorong batu berlapis ilusi sederhana, cukup untuk mengelabui mata awam, tapi tidak cukup untuk menipu orang-orang yang memang tahu ke mana harus melangkah.
Alaric berdiri di depan pintu besi besar dengan topeng hitam keperakan menutupi separuh wajahnya. Jubah bangsawan gelap terjatuh rapi di bahunya, kainnya mahal, sulamannya halus, tampilan yang sempurna bagi seseorang yang datang bukan untuk menyelamatkan, melainkan membeli.
Di sampingnya, Duke Arram Oberyn tampak sama dinginnya. Topeng emas pucat menutupi ekspresinya, hanya mata birunya yang terlihat, tajam, penuh perhitungan. Aura sombong seorang bangsawan terpancar alami darinya, seolah tempat ini memang layak menjadi panggungnya.
Tak seorang pun akan menyangka bahwa dua pria yang melangkah masuk ke sarang busuk ini adalah algojo yang datang membawa akhir.
Pintu dibuka.
Suara riuh rendah langsung menyambut.
Ruang lelang itu luas, berbentuk setengah lingkaran. Kursi-kursi bertingkat menghadap ke sebuah panggung batu di tengah, diterangi cahaya kristal sihir yang dingin. Di sekeliling ruangan berdiri penjaga bersenjata, mata mereka tajam, gerak-gerik waspada.
Bau logam, parfum mahal, keringat, dan sesuatu yang lebih amis bercampur menjadi satu.
Alaric duduk tenang, menyilangkan kaki, satu tangan bertopang santai di sandaran kursi. Dari luar, ia tampak seperti bangsawan malas yang bosan. Namun di balik topeng itu, matanya bergerak cepat, mencatat setiap detail, jumlah penjaga, posisi pintu darurat, jalur pelarian tersembunyi.
Arram bersandar malas, seolah tak tertarik, padahal pendengarannya fokus penuh pada setiap kata yang diucapkan pelelang.
Di titik-titik lain yang telah ditentukan, Gideon dan para kesatria Ravens menunggu. Dua orang kepercayaan Arram juga sudah bersiap. Mereka tersebar, di lorong bawah tanah, di atap, di ruang penyimpanan, menunggu satu sinyal.
Pelelang naik ke panggung.
"Selamat datang," suara pelelang melengking licin, "para tamu terhormat."
Beberapa tawa rendah terdengar.
Lelang dimulai.
Perhiasan pertama dipamerkan, kalung batu sihir yang berkilau redup. Penawaran naik cepat.
Alaric menatapnya tanpa minat.
Senjata berikutnya, pedang terkutuk, busur dengan racun sihir, tombak dari tulang monster.
Lalu benda-benda terlarang.
Racun langka. Artefak yang dilarang gereja. Gulungan sihir hitam.
Dan akhirnya ...
"Selanjutnya," kata pelelang dengan nada yang berubah, lebih licin, lebih penuh gairah, "komoditas yang paling diminati."
Tirai ditarik.
Seorang manusia didorong ke panggung.
Rantai membelit pergelangan tangan dan lehernya. Tubuhnya kurus, penuh bekas luka. Matanya kosong, menatap lantai.
Tawa kecil terdengar di antara para tamu.
Alaric mendecih pelan. "Menjijikkan."
Arram mengangguk setuju, suaranya rendah. "Aku tidak pernah mengerti bangsawan yang membeli manusia. Benda, mungkin masih bisa diterima. Tapi manusia dan monster? Itu gila. Mereka bahkan tidak berpikir bagaimana rasanya berada di posisi itu."
Alaric mendengus. "Mereka tidak punya otak untuk berpikir sejauh itu. Manusia justru lebih menyeramkan dari pada monster."
Lelang berlanjut.
Satu demi satu budak dinaikkan.
Lalu ...
Arram membeku.
Tubuhnya menegang, napasnya tertahan sesaat.
"Dia," gumam Arram. "Dia yang kucari."
Alaric mengikuti arah pandangan kawannya itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan ini, ekspresi Arram berubah.
Di atas panggung berdiri seorang pria muda. Rambut pirang kusut jatuh ke dahi. Mata birunya, biru yang sama seperti Arram, menatap lurus ke depan, bukan kosong, melainkan penuh perlawanan yang lelah.
Rantai membelit tubuhnya. Bahunya penuh luka lama.
Alaric menoleh pelan ke arah Arram.
Di balik topeng, wajah Duke selatan itu berubah sendu. Rahangnya mengeras, matanya berkilat, bukan amarah, melainkan sesuatu yang lebih dalam. Lebih personal.
Saat itulah Alaric tahu.
Waktunya sudah tiba.
Tangannya bergerak pelan, menekan kristal kecil tersembunyi di balik sarung tangannya.
Sinyal dikirim.
Detik berikutnyan ....
Ledakan suara.
Pintu-pintu samping jebol. Kesatria Ravens menerobos masuk dengan pedang terhunus. Dari atas, pasukan lain melompat turun. Dua orang milik Arram bergerak cepat, melumpuhkan penjaga dalam hitungan detik.
Kepanikan pecah.
Bangsawan-bangsawan berdiri, berteriak. Beberapa mencoba melarikan diri. Para penyelenggara lelang panik, berusaha membakar dokumen, mengambil barang, melawan mati-matian.
"Serang!" suara Alaric menggema.
Alaric melompat ke arena, pedangnya terhunus, gerakannya tajam dan efisien. Setiap ayunan menjatuhkan lawan. Tidak ada keraguan.
Arram berlari lurus ke panggung. Ia memotong rantai budak remaja itu dan menariknya ke belakang Arram, melindunginya dengan tubuhnya sendiri.
"Tenang," kata Arram cepat. "Aku di sini."
Budak itu menatapnya, mata birunya membelalak. "Kau?"
"Nanti bicaranya," Arram berbisik. "Aku akan membawamu pulang."
Alaric berteriak memberi perintah. "Tutup semua jalur! Tidak ada yang lolos! Jangan biarkan kabar ini keluar malam ini!"
Kesatria menjawab serempak.
Dalam waktu singkat, lelang berubah menjadi medan perang.
Namun ini perang sepihak.
Para bangsawan ditangkap. Para pedagang diseret. Barang sitaan dikumpulkan. Budak-budak dibebaskan, digiring keluar dengan penjagaan.
Alaric berdiri di tengah kekacauan, memberi instruksi tanpa henti. Suaranya tenang, penuh kendali.
Dan saat ia berbalik ...
TAP!
Sebuah anak panah melesat dari kegelapan.
Terlambat.
Anak panah itu menancap tepat di dadanya.
Tubuh Alaric terhuyung.
Darah mulai merembes membasahi jubah hitamnya.
Suara dunia seolah menjauh.
"YANG MULIA!" Gideon berteriak.
Arram menoleh, matanya membelalak.
Alaric jatuh berlutut ...
Waktu seolah terhenti.
Tubuh Alaric Ravens terhuyung ke depan, satu lutut menghantam lantai batu dengan bunyi berat. Anak panah itu masih menancap di dadanya, miring sedikit ke kiri, tepat di bawah tulang selangka.
Darah mengalir.
Merah pekat, hangat, dan terlalu cepat.
"Yang mulia?!"
Suara Gideon pecah, keras, parau, kehilangan kendali untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di wilayah timur.
Kristal komunikasi terjatuh dari kantung Alaric dan berderak di lantai.
Arram membeku.
"Tidak," gumam Arram pelan, nyaris tidak terdengar. "Tidak sekarang, Alaric."
Colton bergerak lebih dulu.
Pemimpin kesatria itu melompat ke depan Alaric, pedangnya terangkat tinggi, matanya menyapu ruangan dengan kewaspadaan ekstrem.
"FORMASI!" teriak Colton. "LINDUNGI YANG MULIA!"
Kesatria Ravens bergerak serempak.
Dalam hitungan detik, lingkaran pelindung terbentuk di sekitar Alaric. Tidak ada yang peduli lagi pada bangsawan yang berteriak ketakutan atau penyelenggara lelang yang merangkak mencari jalan kabur.
Fokus mereka satu.
Duke mereka.
Gideon sudah berlutut di hadapan Alaric.
Tangannya yang biasanya stabil kini gemetar saat menyentuh bahu majikan sekaligus temannya itu. "Yang Mulia, Jangan tutup matamu."
Alaric mengangkat wajahnya perlahan.
Matanya masih tajam, terlalu tajam untuk seseorang yang baru saja tertembak di dada.
"Hah," Alaric menghela napas pendek, lalu terkekeh pelan. "Sial, bidikannya bagus."
"Diam!" Gideon membentak, suaranya pecah. "Kau tidak boleh bercanda sekarang."
Arram akhirnya bergerak.
Ia menyerahkan budak muda yang dilindunginya kepada salah satu orangnya, lalu melangkah cepat mendekat. Wajahnya mengeras saat melihat posisi anak panah itu.
"Panah jarak jauh," kata Arram dingin. "Penembak profesional."
Colton menggeram. "Pengecut. Menyerang dari bayangan."
"Cari penembaknya!" teriak Gideon ke arah kesatria lain. "Sekarang!"
Beberapa kesatria langsung memisahkan diri, berlari ke lorong atas dan balkon, mata mereka menyapu kegelapan.
Alaric batuk pelan.
Darah menyembur dari bibirnya.
"Jangan cabut panahnya," kata Alaric terputus. "Kalau masih mau aku hidup."
Gideon menelan ludah, menekan luka Alaric dengan kain jubahnya sendiri. "Aku tahu. Aku tidak bodoh."
Arram menatap Alaric dengan rahang mengeras. "Kau meremehkan wilayah ini."
Alaric tersenyum miring, meski wajahnya mulai pucat. "Ternyata lebih busuk dari dugaan."
Arram mendengus pelan, lalu berteriak ke arah orang-orangnya. "Amankan perimeter! Tidak ada yang keluar dari bangunan ini hidup-hidup jika mereka terlibat!"
Suasana berubah.
Panik berubah menjadi ketakutan murni.
Beberapa bangsawan jatuh terduduk, wajah mereka memucat saat menyadari siapa yang baru saja diserang.
"Duke Ravens?" gumam seseorang dengan suara gemetar.
"Dia dipanah."
"Ini ... ini bisa memicu perang."
"Kaisar akan murka."
Para bangsawan ketakutan.
Colton berlutut di sisi lain Alaric. "Yang Mulia, bertahanlah. Tabib kita sudah dipanggil."
Alaric mengangguk pelan.
Namun pandangannya mulai kabur.
Dalam kabut kesadarannya, sebuah wajah muncul.
Rambut merah. Mata hangat. Senyum yang selalu tampak terlalu lembut untuk dunia sekejam ini.
Liora.
Alaric mengerjap keras.
Tidak.
Bukan sekarang.
"Gideon," ucap Alaric.
Gideon langsung menunduk lebih dekat. "Aku di sini."
"Kalau, kalau aku pingsan-" napas Alaric tersendat, "-kau pimpin. Jangan hentikan operasi."
Gideon menatapnya tajam. "Berhenti bicara seolah kau akan mati."
Alaric terkekeh lemah. "Kau terlalu emosional untuk seorang tangan kanan."
"Dan kau terlalu keras kepala untuk seorang Duke yang baru kena panah!" Gideon membentak, matanya memerah.
Arram menoleh tajam ke arah Gideon. "Tenang. Panahnya tidak mengenai jantung. Sudutnya menyimpang. Kau terlalu dramatis Ravens. Berhenti membuat ajudanmu takut," katanya.
Alaric tertawa pelan, lalu terbatuk lagi. "Aku harus berterima kasih ... bidikan buruk. Tapi racunnya lumayan."
Colton berdiri, pedangnya masih terhunus. "Yang Mulia, penembak ditemukan."
Semua menoleh.
"Di balkon barat. Dia bunuh diri sebelum tertangkap," lapor Colton.
Arram mengumpat pelan. "Disuruh."
Alaric mengangguk lemah. "Pasti, bukan kerjaan bangsawan kecil."
"Wilayah timur," Gideon menggeram. "Mereka sudah tahu kita akan datang."
"Bagus," gumam Alaric. "Berarti ... kita menekan saraf mereka."
Gideon menatapnya dengan campuran marah dan lega. "Kau benar-benar sinting, Yang Mulia."
Langkah kaki tergesa terdengar.
Seorang tabib lapangan berlutut cepat, wajahnya tegang saat melihat posisi panah. "Yang Mulia, saya harus memeriksanya sekarang."
"Lakukan," kata Gideon tajam. "Jika dia mati, aku yang akan membunuhmu."
Tabib menelan ludah. "Saya akan melakukan yang terbaik."
Arram berdiri tegak, menatap kekacauan yang mulai terkendali. Para kesatria sudah mengamankan seluruh ruangan. Tawanan dikumpulkan. Tidak ada lagi perlawanan berarti.
Namun matanya kembali tertuju pada Alaric.
Alaric tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. "Kalau aku mati ... pastikan istriku tidak tahu dengan cara yang sedih."
Gideon langsung menoleh tajam. "Akan kuberitahu agar Nyonya Duchess menarikmu kembali dari neraka."
Namun Alaric sudah menutup matanya.
Napasnya berat.
"Ambil alih sampai aku bisa menetralisir racun di panah ini, Gideon," perintah Alaric pelan.
Gideon menggenggam tangan Alaric erat.
"Kau berutang padaku," gumam Gideon.
Arram memalingkan wajah.
Dan semua orang yang berdiri di sana tahu, perburuan ini baru saja berubah menjadi perang pribadi.
btw aku ngebayangin, kalo seandainya di masa Alaric udah ada HP, lagi perang sambi live streaming : hay guys kita lagi siapp² mau perang nih, kita mau musnahin moster, nanti aku kasih tau yaa monster nya itu seperti apa
🤣🤣🤣
hbs nangis ketawa ngakak saat baca
Pipi gembul kesayangan Alaric... menghilang. 🤣🤣🤣