Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.
Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.
Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.
Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.
“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”
Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Asrama Neraka dan Hukum Rimba
Matahari mulai terbenam di balik punggung Gunung Awan Hijau, melemparkan bayangan panjang yang menelan kompleks asrama murid luar.
Kompleks itu disebut "Paviliun Seribu Bambu", nama yang terdengar puitis. Namun kenyataannya jauh dari indah. Itu adalah kumpulan gubuk kayu bertingkat yang bobrok, berjejer padat seperti sarang lebah yang membusuk.
Bau keringat, arak murah, dan kaki yang tidak dicuci selama berminggu-minggu menyengat hidung begitu Lin Xuan dan Zhao Yun melangkah masuk ke halaman utama.
Seorang diaken berjubah abu-abu, dengan wajah bosan dan kantung mata hitam, berdiri di depan ratusan murid baru yang kelelahan.
"Dengar baik-baik!" suara diaken itu serak. "Sekte ini bukan panti asuhan. Kami menyediakan atap, tapi kenyamanan harus kalian rebut sendiri."
Dia menunjuk ke bangunan kayu di belakangnya.
"Ada 100 kamar di sini. Masing-masing kamar punya 4 tempat tidur kayu."
Murid-murid baru mulai berbisik. "100 kamar? Itu berarti 400 tempat tidur. Tapi kita ada 500 orang lebih!"
"Benar," seringai diaken itu, menampilkan gigi kuningnya. "Sisanya? Tidur di lantai koridor, di atap, atau di kandang babi di belakang dapur. Aku tidak peduli. Jika kalian ingin tempat tidur, rebut dari yang lain. Jika kalian ingin kamar sendiri, usir tiga orang lainnya."
"Di Sekte Awan Hijau, tinju adalah kunci kamar kalian. Bubar!"
Begitu kata "Bubar" terucap, kekacauan meledak.
Ratusan murid baru berlarian menyerbu pintu asrama seperti gerombolan belalang. Teriakan, makian, dan suara benturan tubuh terdengar di mana-mana.
"Sialan! Minggir!"
"Ini kamarku! Aku yang duluan!"
BUAGH!
Zhao Yun menyikut rusuk Lin Xuan. "Saudara Mu! Ayo cepat! Kita harus dapat kamar di lantai dua, jauh dari bau kakus!"
Lin Xuan tidak berlari. Dia berjalan cepat namun tenang, matanya memindai kerumunan. Dia melihat murid-murid senior yang gagal naik ke Murid Dalam tahun lalu sedang duduk-duduk di balkon, menertawakan murid baru yang saling injak.
"Kamar 204 kosong!" teriak Zhao Yun, menendang pintu kamar di ujung koridor lantai dua hingga terbuka.
Kamar itu kecil. Ada empat dipan kayu keras tanpa kasur. Debu tebal menyelimuti lantai. Tapi setidaknya ada jendela dan pintunya masih bisa dikunci.
"Berhasil!" Zhao Yun melempar buntelan barangnya ke dipan dekat jendela. "Saudara Mu, kau ambil yang di pojok itu. Posisinya strategis."
Lin Xuan baru saja akan meletakkan pedangnya, ketika sebuah bayangan besar menutupi ambang pintu.
"Oi, tikus-tikus baru."
Suara berat dan kasar menghentikan gerakan mereka.
Tiga orang berdiri di pintu.
Pemimpinnya adalah seorang pemuda kekar dengan bekas luka bakar (scar) memanjang di pipi kirinya. Otot lengannya menyembul dari balik jubah murid luar yang kekecilan. Auranya menekan Qi Condensation Lapisan 5.
Dua pengikut di belakangnya berada di Lapisan 4.
"Siapa yang mengizinkan kalian masuk ke kamar ini?" tanya Si Codet, melangkah masuk dengan santai. Dia menendang buntelan barang Zhao Yun hingga jatuh ke lantai.
Wajah Zhao Yun memerah. "Kami yang sampai duluan! Peraturan diaken tadi bilang siapa cepat dia dapat!"
Si Codet tertawa. Dua pengikutnya ikut tertawa, suara tawa yang mengejek dan merendahkan.
"Peraturan diaken?" Si Codet mendekatkan wajahnya ke wajah Zhao Yun. "Di blok ini, akulah peraturannya. Namaku Zhang Hu. Dan kamar ini... gudang penyimpanan arakku."
"Gudang?" Zhao Yun mengepal tangannya. "Kau mau memakai kamar ini hanya untuk gudang sementara kami harus tidur di luar?"
"Tepat sekali. Pintar juga kau," Zhang Hu menyeringai. "Sekarang, ambil sampah kalian dan pergi. Atau aku patahkan kaki kalian biar kalian bisa merangkak keluar."
Lin Xuan, yang sejak tadi diam di pojok, menghela napas pelan, pikirnya. Selalu ada idiot seperti ini di mana-mana.
Dia menghitung peluang. Zhang Hu di Lapisan 5. Zhao Yun di Lapisan 4 (tapi punya bakat elemen Angin). Lin Xuan sendiri menyembunyikan kekuatan di Lapisan 3 (aslinya Puncak Lapisan 4 Tulang Asura).
Jika Lin Xuan menggunakan kekuatan penuh, dia bisa membunuh ketiga orang ini dalam lima detik. Tapi itu akan membongkar penyamarannya di hari pertama.
"Kita pergi saja," kata Lin Xuan datar, memungut barangnya.
"Apa?!" Zhao Yun menoleh tak percaya. "Saudara Mu! Kita tidak bisa membiarkan penindasan ini! Kalau kita mundur sekarang, mereka akan menginjak kita selamanya!"
"Dia benar," cibir Zhang Hu. "Temanmu itu pengecut, tapi dia pintar. Jadilah seperti dia."
Kata "Pengecut" memicu sesuatu dalam diri Zhao Yun.
"Aku bukan pengecut!"
WUUUSH!
Zhao Yun bergerak. Tubuhnya dilapisi cahaya hijau tipis Qi elemen Angin.
Dia melancarkan pukulan ke arah dada Zhang Hu. Cepat. Sangat cepat untuk ukuran murid baru.
Zhang Hu terkejut. Dia tidak menyangka murid baru berani menyerang duluan. Dia menyilangkan tangan untuk menangkis.
BAM!
Zhang Hu terdorong mundur dua langkah.
"Elemen Angin? Lumayan juga," geram Zhang Hu, wajahnya berubah garang. "Tapi kau cuma Lapisan 4! Serang dia!"
Dua pengikutnya maju mengeroyok.
Perkelahian pecah di ruang sempit itu. Zhao Yun bertarung dengan gagah berani, menggunakan kelincahan angin untuk menghindari pukulan. Tapi ruangan itu terlalu sempit. Dia tidak punya ruang gerak.
BUKK!
Satu pukulan nyasar mengenai pipi Zhao Yun. Dia terhuyung.
Zhang Hu memanfaatkan celah itu. Tangannya yang dialiri Qi Tanah (berat) menghantam ulu hati Zhao Yun.
"Ukh!" Zhao Yun terbatuk, lututnya goyah.
"Mati kau, bocah!" Zhang Hu mengangkat tinjunya tinggi-tinggi, membidik kepala Zhao Yun untuk pukulan terakhir yang bisa membuat gegar otak.
Lin Xuan melihat itu dari sudut matanya.
Jika Zhao Yun kalah, aku juga harus tidur di luar. Dan lebih buruk lagi, aku akan kehilangan tameng manusia yang berguna ini.
Lin Xuan memutuskan untuk bertindak. Tapi harus halus.
Saat Zhang Hu mengayunkan tinjunya, Lin Xuan "pura-pura" ketakutan dan mundur, tapi kakinya "tidak sengaja" menendang kaki meja kayu tua di dekat Zhang Hu.
Meja itu bergeser sedikit.
Bukan serangan langsung. Tapi cukup untuk membuat lantai kayu berderit.
Pada saat yang sama, jari telunjuk Lin Xuan menjentikkan sebuah kerikil kecil yang dia ambil dari lantai tadi.
Tik.
Kerikil itu terbang dengan kecepatan peluru, dilapisi Qi tipis yang tak terlihat, menghantam tepat di titik Hegu (titik saraf di antara ibu jari dan telunjuk) di tangan kanan Zhang Hu yang sedang mengepal.
"ARGH!"
Tiba-tiba tangan Zhang Hu keram hebat. Tinjunya terbuka sendiri di tengah ayunan. Pukulannya kehilangan tenaga dan arah.
Zhao Yun, meski kesakitan, melihat celah itu. Insting bertarungnya mengambil alih.
"Hah!"
Zhao Yun mengirim tendangan memutar, menghantam rahang Zhang Hu yang terbuka lebar.
KRAK!
Zhang Hu terpelanting, menabrak dua anak buahnya. Mereka jatuh bertumpuk di pintu seperti karung beras.
Keheningan menyelimuti ruangan.
Zhang Hu memegangi rahangnya yang bergeser. Dia menatap tangannya sendiri dengan bingung. Kenapa tanganku tiba-tiba mati rasa?
Dia menatap Zhao Yun dengan ketakutan. Dia mengira Zhao Yun menggunakan teknik rahasia jarum angin atau semacamnya.
"Kau... kau tunggu pembalasanku!" ancam Zhang Hu dengan suara sengau, lalu bangkit dan lari terbirit-birit diikuti anak buahnya.
Zhao Yun berdiri terengah-engah, sudut bibirnya berdarah. Dia menatap tinjunya sendiri dengan takjub.
"Aku... aku menang?" Zhao Yun berbalik menatap Lin Xuan dengan mata berbinar. "Saudara Mu! Kau lihat itu?! Aku mengalahkan Lapisan 5!"
Lin Xuan, yang sudah kembali berdiri di pojok dengan wajah datar, mengangguk pelan.
"Kau beruntung dia terpeleset," kata Lin Xuan bohong.
"Terpeleset? Ah, mungkin teknikku terlalu cepat sampai dia pusing!" Zhao Yun tertawa, melupakan rasa sakitnya. "Nah, sekarang kamar ini resmi milik kita!"
Zhao Yun menjatuhkan diri ke tempat tidur, menyeka darah di bibirnya.
"Kau harus lebih berani, Saudara Mu. Di dunia ini, keadilan harus diperjuangkan dengan darah!" ceramah Zhao Yun berapi-api.
Lin Xuan tidak menjawab. Dia membereskan tempat tidurnya sendiri dalam diam.
Keadilan? batin Lin Xuan sinis. Keadilanmu tadi diselamatkan oleh kerikil seukuran kacang hijau.
"Tapi..." tambah Zhao Yun, suaranya melembut. "Terima kasih sudah tidak lari. Setidaknya kau tetap di sini."
Lin Xuan berhenti sejenak, lalu melanjutkan kegiatannya.
Malam itu, saat Zhao Yun mendengkur keras karena kelelahan, Lin Xuan duduk bersila di tempat tidurnya.
Dia mengeluarkan Cincin Samsara Darah. Dalam kegelapan, cincin itu bersinar merah redup, seperti mata iblis yang mengawasi tidur Zhao Yun.
"Satu teman bodoh," kata Gu Tianxie di kepalanya. "Dia akan mati cepat atau lambat dengan sikap sok pahlawan itu."
"Biarkan dia hidup sedikit lebih lama," jawab Lin Xuan dalam hati. "Dia menarik perhatian orang. Selama orang melihat cahayanya, mereka tidak akan melihat bayangan di belakangnya."
Lin Xuan memejamkan mata, mulai menyerap Qi malam untuk memperbaiki meridiannya.