NovelToon NovelToon
Bumi Dan Hal - Hal Yang Belum Usai

Bumi Dan Hal - Hal Yang Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Tentang Warna Mading dan Perasaan yang Tidak Bisa Di-layout

Sekolah di hari Rabu selalu terasa lebih panjang dari hari-hari lainnya. Mungkin karena Rabu berada tepat di tengah-tengah, seperti sebuah jembatan yang sangat panjang dan kita belum melihat ujungnya. Di hari Rabu pula, aura organisasi di sekolah ini meningkat drastis. Semua orang terlihat sibuk membawa kertas, membawa kamera, atau sekadar berlarian di koridor dengan wajah yang dibuat seserius mungkin agar terlihat seperti orang penting.

Termasuk Kayla. Sejak jam istirahat kedua tadi, dia sudah menghilang ke ruang redaksi mading di lantai dua. Saya sendiri masih setia duduk di bawah pohon beringin dekat lapangan basket, tempat yang saya sebut sebagai Markas Besar Bumi. Di sini udaranya lebih jujur. Tidak ada bau parfum mahal atau pembicaraan tentang anggaran proker. Yang ada cuma bau tanah dan suara teriakan anak-anak yang sedang berebut bola basket di lapangan.

Bumi! Ngapain di situ? Kayak penunggu pohon aja!

Itu suara Togar. Teman saya yang badannya besar tapi hatinya selembut kapas, terutama kalau sudah melihat gorengan panas. Dia menghampiri saya sambil mengelap keringat di dahinya dengan seragam.

Saya lagi meditasi, Gar. Biar pikiran saya tidak meledak melihat semua orang di sekolah ini mendadak jadi sibuk, jawab saya tanpa mengalihkan pandangan dari sekumpulan semut yang sedang bergotong-royong membawa bangkai belalang.

Togar duduk di sebelah saya, membuat tanah di bawah kami sedikit bergetar. Si Kayla lagi sibuk banget ya sama si anak baru itu? Siapa namanya? Arkananta ya?

Arkan, Gar. Namanya Arkan. Jangan ditambah-tambahin, nanti orangnya makin sombong, kata saya ketus.

Togar tertawa terbahak-bahak. Cemburu bilang, Mi. Gak usah pakai bawa-bawa nama. Tapi bener sih, gue denger-denger mading edisi depan ini bakal dibuat gede-gedean. Katanya mau pakai konsep baru yang dibawa sama si Arkan itu.

Konsep apa? Konsep pamer kemewahan?

Bukan, katanya konsep interaktif. Jadi nanti siswa bisa langsung nempel curhatan atau puisi mereka di sana. Seru juga sih menurut gue.

Saya terdiam. Interaktif. Itu berarti Kayla akan semakin banyak menghabiskan waktu di sana, mengurusi curhatan orang-orang yang mungkin tidak sepenting curhatan saya di dalam hati. Saya berdiri, menepuk-nepuk celana saya yang kena tanah.

Mau ke mana, Mi? tanya Togar.

Mau ke lantai dua. Mau lihat seberapa hebat konsep interaktif itu bisa mengubah dunia, kata saya sambil melenggang pergi.

Lantai dua sekolah ini sebenarnya bukan wilayah saya. Di sini adalah tempat anak-anak ekskul berkumpul. Suasananya lebih berisik dengan suara diskusi dan ketikan laptop. Saya berjalan menuju ruang mading yang pintunya sedikit terbuka. Dari luar, saya bisa melihat Kayla sedang duduk lesehan di lantai yang penuh dengan kertas karton, gunting, dan lem. Di depannya, Arkan sedang memegang laptop, menunjukkan sesuatu di layar sambil sesekali mendekatkan wajahnya ke arah Kayla untuk menjelaskan sesuatu.

Hati saya rasanya seperti disiram air cuka. Perih dan asam.

Jadi, layout-nya kita bagi tiga kolom saja, Kay. Kolom utama buat berita sekolah, kolom kiri buat puisi, dan kolom kanan yang paling besar itu buat rubrik Suara Hati. Kita kasih kantong kertas di bawahnya biar mereka bisa masukin amplop, suara Arkan terdengar sangat antusias.

Bagus banget, Kan! Aku gak kepikiran soal kantong kertas itu. Jadi kesan retro-nya makin dapet ya? Kayla menyahut dengan mata yang berbinar-binar.

Saya mengetuk pintu yang sudah terbuka itu. Tok. Tok. Tok.

Kedua kepala itu menoleh ke arah saya. Kayla tersenyum lebar, sementara Arkan cuma tersenyum sopan yang—jujur saja—mulai membuat saya bosan melihatnya.

Bumi! Masuk sini. Tumben main ke atas? ajak Kayla.

Saya masuk dengan tangan di saku celana, mencoba terlihat seperti inspektur yang sedang melakukan sidak mendadak. Saya melihat-lihat tumpukan karton di lantai. Bagus juga berantakannya. Sudah kayak kapal pecah yang baru saja ditabrak paus, kata saya.

Ini namanya proses kreatif, Bumi, Arkan menimpali. Kalau mau bagus, ya memang harus berani kotor dulu.

Oh, saya kira ini tadi tempat penampungan sampah kertas, jawab saya asal.

Kayla menarik tangan saya, menyuruh saya duduk di sebelah dia. Bumi, mumpung kamu di sini, bantuin dong. Kamu kan jago nulis hal-hal yang puitis tapi aneh. Coba bikinin satu puisi pembuka buat rubrik Suara Hati ini. Biar orang-orang semangat buat curhat.

Saya menatap kertas karton kosong di depan saya. Lalu saya menatap Arkan yang sedang menatap saya dengan tatapan emangnya-kamu-bisa-nulis-puisi?.

Boleh. Mana spidolnya? tanya saya.

Kayla memberikan spidol warna hitam. Saya terdiam sejenak. Pikiran saya melayang ke kejadian kemarin sore saat saya melihat Kayla pulang bareng Arkan. Tentang bagaimana rasa sepi itu datang tiba-tiba di tengah keramaian. Saya mulai menulis di pojok karton itu dengan tulisan saya yang tidak terlalu rapi, tapi tegas.

Kepada Siapa Saja yang Merasa Sendiri,

Mungkin duniamu memang sedang berisik,

Tapi hatimu terasa sunyi.

Berceritalah pada kertas ini,

Karena kertas tidak akan pernah memotong bicaramu,

Apalagi pergi meninggalkanmu dengan motor yang lebih keren.

Selesai menulis, saya meletakkan spidol itu. Kayla membaca baris-baris puisi itu dengan saksama. Dia terdiam sejenak, lalu menatap saya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa bersalah di matanya, atau mungkin itu cuma perasaan saya saja.

Baris terakhirnya... unik banget, Mi, kata Kayla pelan.

Arkan ikut membaca. Dia tersenyum kecut. Bagus sih, cuma kayaknya yang baris terakhir itu terlalu personal ya? Apa tidak sebaiknya diganti dengan sesuatu yang lebih umum? Misalnya tentang jarak atau waktu?

Tidak. Itu sudah cukup umum bagi orang-orang yang tidak punya motor keren, jawab saya sambil berdiri. Sudah ya, tugas saya sudah selesai. Saya mau pulang, Si Kumbang sudah rindu saya.

Bumi, tunggu! Kayla mengejar saya sampai ke depan pintu. Kamu beneran mau pulang sekarang? Tadi katanya mau bareng ke toko buku lagi buat cari hiasan?

Toko bukunya gak akan lari, Kay. Tapi kalau saya di sini terus, saya takut saya yang bakal lari kenyataan, kata saya sambil mencoba tersenyum sekeren mungkin.

Kayla memegang lengan saya. Bumi, kamu jangan aneh-aneh deh. Arkan itu cuma rekan kerja di mading. Jangan dimasukin ke hati semua omongannya.

Saya tidak masukin ke hati, Kay. Saya cuma masukin ke dalam memori saja, biar saya ingat kalau dunia itu terus berputar, dan terkadang saya cuma jadi penontonnya, kata saya. Sudah sana, Arkan nungguin. Nanti layout-nya berantakan kalau ditinggal lama-lama.

Saya berjalan menuruni tangga dengan langkah yang berat. Setiap anak tangga yang saya injak rasanya seperti sedang menginjak perasaan saya sendiri. Saya tahu saya bersikap kekanak-kanakan. Saya tahu saya cemburu pada hal yang bahkan belum tentu ada. Tapi bukankah itu hak asasi setiap manusia yang sedang jatuh cinta tapi tidak punya status apa-apa?

Di parkiran, saya melihat Si Kumbang yang sedang kepanasan karena terpapar sinar matahari sore. Saya duduk di atasnya, tapi tidak langsung menyalakan mesin. Saya mengambil ponsel dari saku, melihat galeri foto saya. Hampir semuanya adalah foto Kayla. Foto Kayla sedang makan bakso dengan pipi kembung, foto Kayla sedang tidur di perpustakaan, foto Kayla yang sedang tertawa sampai matanya hilang.

Dulu, foto-foto ini adalah harta karun saya. Sekarang, melihatnya justru membuat saya merasa seperti seorang kolektor barang antik yang sedang melihat barangnya pelan-pelan diambil orang lain karena saya tidak sanggup membayar pajaknya.

Kumbang, kita pulang ya. Besok kita coba lagi jadi Bumi yang lebih kuat, bisik saya pada stang motor.

Saat saya baru saja mau menyalakan motor, sebuah mobil sedan putih berhenti di samping saya. Kaca mobilnya turun. Itu Dara, siswi yang saya temui di perpustakaan kemarin.

Belum pulang, Bumi? tanyanya datar seperti biasa.

Baru mau, Dara. Kenapa? Mau nebeng Si Kumbang? Tapi resikonya besar, rambutmu bisa berubah jadi gaya sarang burung karena anginnya tidak santai, kata saya mencoba bercanda.

Dara tidak tertawa. Dia malah menyerahkan sebuah buku kecil bersampul cokelat lewat jendela mobilnya. Baca ini kalau kamu sedang merasa dunia tidak adil. Ini kumpulan esai tentang astronomi. Kamu akan sadar kalau Bumi itu cuma titik kecil di alam semesta, dan masalahmu... mungkin lebih kecil lagi dari itu.

Saya menerima buku itu. Terima kasih, Dara. Kamu hobi banget ya ngasih saya pencerahan?

Bukan pencerahan. Saya cuma tidak suka melihat orang pintar bersikap bodoh karena satu orang perempuan, katanya, lalu kaca mobilnya naik kembali dan mobil itu melesat pergi.

Saya menatap buku di tangan saya. Titik Kecil di Alam Semesta. Benar juga kata Dara. Tapi masalahnya, bagi titik kecil bernama Bumi ini, titik kecil lain bernama Kayla adalah pusat gravitasinya. Kalau pusat gravitasinya hilang, ya titik kecil ini bakal terlempar ke ruang hampa yang gelap dan dingin.

Saya menyalakan mesin Si Kumbang. Suaranya masih sama, batuk-batuk tapi setia. Saya memacu motor saya keluar dari gerbang sekolah. Di jalanan, saya melihat Kayla dan Arkan sedang berjalan menuju parkiran motor sport itu. Mereka terlihat serasi. Yang satu rapi, yang satu manis. Seperti sampul majalah remaja yang sering saya lihat di lapak koran.

Saya mengalihkan pandangan ke depan. Fokus ke aspal yang berlubang.

Sore itu, Bandung terasa lebih dingin dari biasanya. Saya memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah. Saya pergi ke sebuah bukit kecil di pinggiran kota, tempat di mana saya bisa melihat lampu-lampu kota mulai menyala. Saya duduk di sana sendirian, ditemani buku pemberian Dara dan perasaan yang masih tidak menentu.

Saya menyadari bahwa mencintai dalam diam itu seperti memegang es batu. Awalnya dingin, lalu mulai mati rasa, dan akhirnya yang tersisa cuma rasa sakit karena terlalu lama menahan sesuatu yang sebenarnya pelan-pelan mencair dan hilang.

Kay, bisik saya ke arah lampu-lampu kota di bawah sana. Kalau nanti kamu sudah benar-benar berpindah ke bumi yang lain, tolong jangan lupa kalau di sini pernah ada seseorang yang rela jadi tempatmu berpijak tanpa pernah mengeluh sekalipun.

Malam itu, saya belajar satu hal lagi: Menjadi Bumi itu memang berat, tapi yang lebih berat adalah menjadi Bumi yang sedang merasa kehilangan gravitasinya. Saya membuka buku dari Dara, mencoba membaca tentang bintang-bintang, berharap bisa menemukan jawaban kenapa hati manusia harus diciptakan serumit ini.

1
nickm
cerita ini layak dibuat film
nickm
cerita yang luar biasa, aku akan menunggu metamorfosis bumi kedepannya
nickm
semakin menarik ceritanya
nickm
bagus sekali ceritanya, bahasa yang runtut, alur mengalir pasti
nickm
bagus sekali, paragraf pertama yang membuatku masuk ke dimensi cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!