Dominic Vance bukan sekadar CEO; dia adalah monster korporat yang menghancurkan perusahaan demi olahraga. Kejam, paranoid, dan tak tersentuh.
Hanya satu orang yang berani menatap matanya tanpa gemetar: Harper Sloane, sekretaris eksekutifnya yang berhati dingin. Harper membereskan kekacauan Dominic, memegang semua rahasia gelapnya, dan menjadi satu-satunya wanita yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Namun, saat Harper mengajukan pengunduran diri untuk membalas dendam masa lalunya, Dominic tidak memecatnya. Dia mengunci pintu. Baginya, Harper bukan sekadar aset. Dia adalah obsesi.
"Kau bisa lari ke ujung dunia, Harper. Tapi aku akan membeli tanah tempatmu berpijak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Kandidat 1 - Si Cantik Bodoh
"Masuk. Jangan injak karpet kalau sepatumu kotor."
Harper mendorong pintu kayu mahoni itu lebar-lebar, lalu memberi isyarat pada wanita di belakangnya untuk melangkah masuk. Wanita itu, Tiffany, melangkah dengan percaya diri yang luar biasa, seolah lantai kantor Vance Corp adalah panggung fashion week di Paris.
Bunyi tak-tak-tak dari sepatu hak tinggi dua belas sentimeter bergema nyaring, memecah kesunyian ruangan dingin itu.
"Ini kandidat pertama, Pak," Harper mengumumkan dengan nada datar, berdiri di samping pintu seperti wasit tinju yang siap membunyikan lonceng ronde pertama. "Tiffany. Lulusan manajemen bisnis, mantan finalis putri kecantikan tingkat provinsi, dan punya dua juta pengikut di media sosial."
Dominic tidak langsung menoleh. Dia masih sibuk menandatangani berkas di mejanya dengan gerakan cepat dan kasar.
"Dua juta pengikut?" gumam Dominic tanpa mengangkat wajah. "Bagus. Kita butuh tenaga pemasaran, bukan sekretaris. Suruh dia ke lantai tiga."
"Dia melamar jadi sekretaris pribadi Bapak. Sesuai kriteria di kontrak: Good looking, tinggi minimal 170 sentimeter, dan wangi." Harper menekankan kata 'wangi' dengan sedikit dendam, mengingat insiden kopi tadi pagi.
Dominic akhirnya mendongak. Matanya menyipit, memindai Tiffany dari ujung rambut blonde yang dicatok sempurna sampai ujung kaki. Tiffany, yang merasa diperhatikan, langsung memasang pose andalannya—tangan di pinggang, dagu diangkat, dan senyum lebar yang memamerkan gigi hasil veneer seharga mobil bekas.
"Hai, Pak Dom," sapa Tiffany dengan suara manja yang dibuat-buat, melambaikan tangan lentiknya. "Panggil aku Tiff aja. Teman-temanku bilang aku ini vibes-nya asik banget lho buat diajak kerja bareng."
Hening.
Dominic menjatuhkan pulpennya ke meja. Bunyinya cukup keras untuk membuat senyum Tiffany sedikit goyah.
"Harper," panggil Dominic pelan.
"Ya, Pak?"
"Kau ambil makhluk ini dari mana? Toko boneka?"
Wajah Tiffany memerah padam, sementara Harper berusaha keras menahan sudut bibirnya agar tidak terangkat.
"Dia kandidat dari agensi penyalur tenaga kerja profesional, Pak. Bapak bilang cari yang cepat. Dia yang paling cepat datang."
Dominic menghela napas panjang, seolah oksigen di ruangan itu baru saja tercemar. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Tiffany dengan tatapan menilai yang membuat siapa pun merasa kerdil.
"Duduk," perintah Dominic.
Tiffany buru-buru duduk di kursi di depan meja, menyilangkan kakinya dengan anggun. Rok mini yang dipakainya naik sedikit, memperlihatkan paha mulusnya. Dia mengedipkan mata genit.
"Jadi, Tiff," mulai Dominic, suaranya terdengar ramah tapi matanya dingin. "Harper bilang kau lulusan manajemen. Berarti kau paham dasar-dasar administrasi. Coba lihat laptop di depanmu."
Tiffany menoleh ke laptop yang menyala di meja. "Iya, Pak?"
"Buka Excel. Buat tabel pivot untuk menghitung rasio utang perusahaan terhadap ekuitas, lalu proyeksikan keuntungannya lima tahun ke depan dengan asumsi inflasi tiga persen. Waktumu dua menit."
Mata Tiffany membelalak. Dia menatap layar laptop itu seolah benda itu adalah pesawat alien. Jari-jarinya yang dihiasi kuku palsu panjang bermotif macan tutul itu melayang ragu di atas keyboard.
"Ehm... Pivot?" tanya Tiffany bingung. Dia menoleh ke Harper. "Itu... nama aplikasi edit foto ya, Kak?"
Harper memijat pelipisnya. Mati aku.
Dominic tertawa kecil. Tawa yang sangat tidak enak didengar.
"Bukan aplikasi foto, Nona Cantik. Itu dasar pekerjaan. Oke, ganti pertanyaan. Mungkin kau tipe visual. Kau lihat grafik saham di layar besar itu?" Dominic menunjuk dinding kaca yang menampilkan pergerakan saham global secara real-time.
Tiffany mengangguk antusias. "Iya! Warnanya merah sama hijau. Bagus banget, kayak lampu natal!"
Dominic tersenyum miring. "Merah artinya rugi. Hijau artinya untung. Sekarang pertanyaan simpel. Jika aku membeli opsi jual pada harga pelaksanaan seratus dolar saat volatilitas pasar sedang tinggi, menurut teori Black-Scholes, berapa probabilitas aku bangkrut jika harga aset dasarnya naik sepuluh persen?"
Mulut Tiffany terbuka lebar. Dia menatap Dominic, lalu menatap Harper, lalu kembali ke Dominic. Otaknya jelas sedang mengalami korsleting parah.
"Hah?" hanya itu yang keluar dari bibir merahnya.
"Jawab!" bentak Dominic tiba-tiba, membuat Tiffany terlompat kaget di kursinya. "Itu matematika dasar! Anak TK juga tahu! Kau mau mengatur jadwalku atau mau main rumah-rumahan?"
"T-tapi... Pak..." Bibir Tiffany mulai bergetar. Matanya berkaca-kaca. "Aku... aku nggak tahu... aku pikir jadi sekretaris itu cuma angkat telepon sama buatin kopi..."
"Kopi?" Dominic berdiri, menjulang tinggi di hadapan Tiffany. "Kopi buatanmu pasti rasanya seperti air comberan dicampur parfum murah. Keluar! Kau membuang oksigen di ruanganku!"
Pertahanan Tiffany runtuh. Air mata hitam—efek maskara yang tidak waterproof—mulai mengalir di pipinya. Dia berdiri, menghentakkan kakinya kesal.
"Bapak jahat banget! Dasar cowok red flag!" jerit Tiffany, lalu berlari keluar ruangan sambil menangis sesenggukan. Suara hak sepatunya terdengar panik menjauh di koridor.
Brak!
Pintu tertutup. Hening lagi.
Harper berdiri diam di tempatnya, menatap pintu yang baru saja tertutup, lalu beralih menatap bosnya.
"Bapak tahu itu pertanyaan jebakan," kata Harper dingin. "Tidak ada sekretaris di dunia ini yang hafal rumus Black-Scholes di luar kepala. Bapak sengaja membuatnya menangis."
Dominic kembali duduk, mengambil pulpennya dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.
"Dia bodoh, Harper. Kalau aku tanya di mana letak berkas pajak, dia mungkin malah menunjukkan letak toko kosmetik."
"Dia bisa diajari!" protes Harper. Dia berjalan mendekat ke meja. "Dia punya etika yang baik, dia sopan, dan dia lulusan universitas terakreditasi. Soal Excel bisa kursus. Soal saham itu urusan Bapak, bukan sekretaris!"
Harper meletakkan kedua tangannya di meja, mencondongkan tubuh menantang Dominic.
"Bapak menolaknya bukan karena dia bodoh. Bapak menolaknya karena Bapak tidak mau saya pergi, kan?"
Dominic mendongak. Jarak wajah mereka hanya tinggal sejengkal. Dia menatap mata Harper lekat-lekat, lalu pandangannya turun sedikit, menyapu wajah Harper yang polos tanpa makeup tebal, kontras sekali dengan Tiffany tadi.
Lalu Dominic menyeringai. Seringai yang membuat Harper ingin melempar asbak ke wajah tampan itu.
"Bukan," jawab Dominic enteng. "Alasannya sederhana."
"Apa?"
"Dia terlalu cantik."
Harper mengerutkan kening, bingung. "Hah? Bukannya Bapak suka wanita cantik? Mantan pacar Bapak semuanya model."
Dominic menggeleng pelan, wajahnya berubah serius—atau pura-pura serius.
"Justru itu masalahnya. Kalau sekretarisku secantik itu, nanti aku tidak bisa konsentrasi kerja. Mataku akan terus melihat ke arahnya, bukan ke laporan keuangan. Itu berbahaya bagi stabilitas perusahaan."
Dominic mengibaskan tangannya, mengusir Harper.
"Cari yang lain. Cari yang mukanya biasa saja. Yang tidak bikin mata sakit, tapi juga tidak bikin iman goyah. Yang standar. Seperti kau."
Mata Harper menyipit tajam. "Bapak baru saja bilang muka saya pas-pasan?"
"Aku bilang kau standar. Fungsional. Tahan banting. Sekarang pergi, bawa kandidat nomor dua sebelum aku berubah pikiran dan menyuruhmu mengepel lantai bekas air mata si badut tadi."
Harper menggeram tertahan. Dia memutar tubuhnya kasar dan melangkah keluar, membanting pintu lebih keras dari sebelumnya.
Lihat saja nanti, Tuan Vance. Kandidat berikutnya akan membuatmu menyesal sudah lahir.
Kalo emnk km tertarik dg Harper tggal ngomong baik2 gx perlu ngrendahin org lain ,,
Dominic kasih liburan dlu deh ,,
biar fresh jiwa dn raga ny ,,
gx usah jauh2 ,,
kirim k Amazon aj laa ,,
bikin rusuh trus soalny🤭🤭🤣🤣🤣