Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03
Di sebuah motel yang sepi, Axlyn menuntun Kay ke sofa, memberinya air, membuka jendela. Ia berusaha menjaga jarak aman dengan Kay sebelum reaksi obat itu dimulai sepenuhnya.
Namun obat itu bekerja cepat seperti api di bawah kulit dimana kehangatan yang merambat, tatapan yang menjadi terlalu jujur. Ketika Axlyn berlutut untuk memastikan napasnya teratur, tangan Kay tiba-tiba menyentuh pipinya. Jemarinya gemetar, tapi tatapannya jelas dan penuh rasa yang tak pernah benar-benar pergi.
“Aku aman kalau bersamamu, bukan?” katanya.
Axlyn menutup mata, menahan badai yang bangkit dari ingatan dan rasa bersalah. “Dengarkan aku,” bisiknya. “Aku di sini untuk melindungimu. Dan sudah pasti kau akan aman bersamaku.”
“Kalau begitu… jangan menjauh,” jawabnya, mendekat. Kehangatan itu membakar batas-batas yang Kay bangun dengan susah payah. Nafas mereka bertaut, dunia menyempit menjadi jarak setipis janji yang tertunda. “Bantu aku… aku tidak bisa menahannya lagi.”
Malam itu berjalan lambat dan cepat sekaligus. Ada sentuhan yang ditarik kembali, ada ciuman yang terlalu lama untuk disebut kebetulan. Ada deru napas pendek yang gugup, dan keheningan yang sarat makna. Api obat itu menyala, menggairahkan, namun di antara gelombangnya ia tetap menggenggam kendali dan memastikan setiap langkah dipilih, bukan terjatuh.
...****************...
Ketika fajar merayap masuk, cahaya pucat menyapu ruangan. Panas itu mereda menjadi sisa-sisa kelelahan dan detak jantung yang tenang. Axlyn menatap wajah lelap Kay dalam diam, berdekatan tanpa kata, seolah semalam telah mengatakan cukup untuk melepaskan semua kerinduannya selama ini.
Axlyn terus menatap wajah yang akhirnya tertidur, garis-garisnya lembut. Mungkin ingatan itu belum kembali. Mungkin nanti ada pertanyaan. Tapi satu hal ia tahu bahwa ia telah menyelamatkannya dari pesta, dari jebakan, dan dari malam yang bisa mencuri lebih dari yang seharusnya.
Di antara cahaya pagi, Axlyn berjanji pada dirinya sendiri. Apa pun yang tersisa dari malam panas itu, ia akan menanganinya sendiri. Memastikan Kay tidak pernah tahu siapa wanita yang telah menghabiskan malam panas itu dengannya. Begitu pagi tiba, Axlyn pergi begitu saja meninggalkan Kay yang masih terlelap dalam tidurnya.
“Terima kasih untuk malam yang indah ini, Kay! Aku harap kau selalu bahagia dimana pun dirimu berada, bersama siapapun yang menjadi pilihanmu,” ucap Axlyn menatap cukup lama, sebelum dirinya benar-benar pergi dari sana.
...****************...
Pagi merayap masuk melalui celah tirai motel yang sudah memudar warnanya. Cahaya pucat itu jatuh tepat di wajahnya, memaksanya terbangun dengan dengusan pelan. Langit-langit kamar berwarna krem kusam menyambut tatapannya. Retakan halus di sudut dinding, noda air yang tak sepenuhnya kering. Bukan kamar yang dikenalnya. Bukan tempat yang seharusnya ia bangun.
Kay duduk perlahan, selimut tipis melorot dari bahunya. Tubuhnya terasa pegal dengan cara yang asing namun terlalu jelas untuk disangkal. Udara kamar masih menyimpan sisa-sisa malam yang hangat, pengap, dan samar beraroma parfum yang bukan miliknya.
Ingatan itu datang berderap, tak tertib. Sentuhan di kulit. Napas yang menyatu. Desahan yang ditelan kegelapan. Panas… malam itu panas, membakar nalar dan kendali dirinya. Ia mengingat suara pelan, suara wanita itu, cara jemarinya menarik tanpa ragu… tetapi wajahnya kosong. Seperti potongan foto yang sengaja dirobek. Tidak ada mata, tidak ada senyum. Hanya bayangan tanpa identitas.
Rahang Kay seketika mengeras. Ini bukan kebetulan. Ia menoleh ke sisi ranjang. Kosong. Seprai kusut, tapi dingin. Wanita itu sudah pergi atau memang tak pernah berniat tinggal. Di meja kecil dekat ranjang, tidak ada pesan. Tidak ada petunjuk. Hanya ponselnya sendiri, tergeletak seolah mengejek.
Kay segera meraih ponsel itu dan langsung menekan satu nama tanpa ragu.
“Angkat,” katanya singkat begitu sambungan terhubung.
Suara Noah terdengar parau, masih setengah mengantuk. “Hmm, ada apa?”
“Kirim mobil sekarang, aku sudah mengirimkan lokasiku. Jangan tanya.” Ia menarik napas, menahan amarah yang mulai naik. “Dan satu lagi… mulai lakukan penyelidikan. Aku ingin tahu siapa yang menjebakku semalam. Semua rekaman, semua saksi, siapa pun yang terlibat.”
Spontan Noah berteriak, “WHAT? Apa yang terjadi padamu?”
Semalam Noah memang memutuskan untuk tidak menemani Kay menghadiri pesta tersebut, sebab tubuhnya yang tiba-tiba sedikit demam. Kay sendiri juga sudah setuju untuk pergi sendirian, karena ia pikir itu hanya pesta biasa yang sering ia hadiri. Tapi siapa sangka, sejak awal sudah ada yang berniat menjebaknya dengan cara menjijikan seperti ini.
Kay hanya mampu memejamkan mata, kembali pada potongan ingatan yang tak utuh itu. “Cari juga wanita itu,” ucapnya pelan, tapi berbahaya. “Wanita yang bersamaku semalam. Dia berhasil merebut malam pertamaku… dan tidak mungkin dia hanya kebetulan… ingin membantuku.”
“Waaah, siapa wanita hebat itu yang berani meniduri seorang Kayvaran Cano Xavier? Kalau keluarga besar Xavier mengetahui hal ini, pasti akan menjadi berita yang sangat meng hebohkan.” Noah malah salah fokus dengan topik pembicaraan mereka.
“Shut up!” bentak Kay, “Jika sampai ini terdengar oleh yang lainnya sebelum berhasil menemukan wanita itu, maka aku sendiri yang akan langsung menjahit mulutmu itu, Noah Mannix Martin.”
“Ck, galak sekali yang habis melakukan malam pertama. Baiklah, aku akan menutup mulutku untuk sementara waktu,” balasnya.
“Hentikan omong kosongmu itu dan cepat kemari!” perintah Kay yang semakin pening rasanya bicara dengan Noah.
“Dimengerti,” jawab Noah, kali ini lebih serius. “Aku ke sana sekarang. Ingat, kau berhutang penjelasan yang lebih detail padaku.”
Sambungan terputus. Ia meletakkan ponsel, lalu berdiri di tengah kamar motel yang sunyi itu. Di balik kesederhanaan dan keheningannya, ada satu kepastian yang berdenyut di kepalanya. Seseorang telah melangkah terlalu jauh. Dan siapa pun wanita tanpa wajah itu, ia bukan sekadar kenangan. Ia adalah awal dari sesuatu yang belum selesai.
"Siapapun dirimu, aku pasti akan secepatnya menemukanmu,” ujar Kay dengan amarah yang tertahan di hatinya.
Bersambung ….
𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬, 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢... 🤭😭
slalu menyimpulkan sendiri,,jgn sampai anak mu knp knp Baru kamu nangis nangis,dan bilang maafkan mamah yg tidak bisa menjaga kalian,, padahal dirimu yg slalu salah paham dan bisa di egois
malah si dispenser yang duluan nemuin siapa wanita yang selama ini di cari keluarga Xavier🤭🤭
𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢? 🤔
𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢..
𝘏𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 😌😌😌