Ziva Putri Willson, putri bungsu keluarga Willson, adalah perpaduan sempurna antara kecantikan, kecerdasan, dan kepercayaan diri setinggi langit. Di usianya yang masih muda, dia telah menjadi desainer ternama yg namanya menggema hingga ke mancanegara.
Damian Alexander, CEO muda yang dikenal kejam dan dingin. Baginya, hidup hanyalah deretan angka dan nilai saham. Dia sangat anti pada wanita karena menganggap mereka makhluk paling merepotkan di dunia.
"Dengar, Tuan CEO, kamu mungkin bisa membeli saham dunia, tapi kamu tidak bisa membeli hak untuk mengatur kapan aku harus bernapas. Jadi, simpan wajah sok kuasamu itu untuk rapat, bukan untukku." -Ziva.
"Aku sudah menghadapi ribuan musuh bisnis yang licin, tapi menghadapi satu wanita bermulut tajam seperti dia jauh lebih menguras energi daripada akuisisi perusahaan. Tapi justru itu yang membuatnya berbeda." — Damian.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Si Tuan Dingin yang mulai kehilangan akal sehatnya, atau Nona cerewet berwajah manis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENJEMPUT ZIVA
"Saya sudah mendapatkan lokasi koordinat dari pengawal keluarga Willson. Nona Ziva saat ini sedang berada di sebuah kafe di pusat kota, bersama sahabat-sahabat nya," ucap Riko menjelaskan dengan sigap, sambil melihat layar tablet nya.
"Hem"
Damian hanya bergumam pendek, kemudian dia kembali menatap layar monitornya, mencoba fokus pada grafik saham, namun bayangan wajah kesal Ziva saat membanting pintu mobilnya tadi malam terus terbayang.
"Riko," panggil Damian lagi sebelum asistennya keluar.
"Ya, Tuan?"
"Apakah wanita selalu seheboh itu?" tanya Damian datar, teringat bagaimana Ziva berteriak di depannya kemarin.
Riko yang paham maksud Tuan nya, dia langsung tersenyum tipis, mencoba menahan tawa.
"Maksud Anda Nona Ziva? Saya rasa dia hanya memiliki kepribadian yang unik dan keras, Tuan. Berbeda dengan wanita-wanita lain yang biasanya Anda temui yang selalu berusaha mencari muka," jawab Riko, tersenyum sopan.
"Kepribadian yang unik? Dia lebih mirip badai kecil yang berisik," ucap Damian mendengus kecil.
"Tapi badai biasanya membawa perubahan, Tuan," jawab Riko berani.
Damian tidak menjawab, yang ada dia justru menatap tajam pada asisten nya itu, memberi isyarat agar Riko meninggalkan ruangannya.
"Saya permisi Tuan," ucap Riko, sopan.
Begitu sendirian, Damian membuka laci mejanya, mengambil sebuah kotak kecil berisi cincin berlian yang sudah disiapkan ibunya, untuk pernikahan nya nanti dengan Ziva, perempuan pilihan orang tua nya
Damian menatap cincin itu dengan tatapan sulit di artikan, dia tidak pernah membayangkan akan menikah dengan cara seperti ini. Baginya, wanita adalah gangguan bagi kerjanya. Namun, ada sesuatu dalam sorot mata Ziva yang membuatnya merasa bahwa hidupnya yang kaku mungkin tidak akan sama lagi setelah ini.
Hah....
Damian menghela nafas nya kasar, menyimpan cincin itu di tempat nya, lalu menutup laci nya, dan kembali mengerjakan pekerjaan nya yang tertunda.
Tepat jam 13.45, Damian berdiri dan mengenakan jasnya, dia berjalan keluar ruangan dengan langkah lebar, Riko sudah menunggu di depan lift.
"Mobil sudah siap di lobi, Tuan. Kita berangkat sekarang?" ucap Riko, mengikuti langkah lebar Tuan nya.
"Ya."
"Dan pastikan jangan sampai ada wartawan yang tahu. Aku tidak ingin fitting baju nanti siang menjadi sirkus publik," perintah Damian, tegas.
Damian paling tidak suka, kalau kehidupan pribadi nya menjadi konsumsi publik.
"Sudah saya tangani, Tuan, keamanan di butik sudah diperketat," jawab Riko mantap.
"Bagus!" ucap Damian, mengangguk puas.
Damian masuk ke dalam lift, menatap pantulan dirinya di cermin, merapikan dasinya, memastikan penampilannya sempurna tanpa cela, karena dirinya akan menjemput gadis nakal itu, dan ia sudah menyiapkan mental untuk menghadapi segala gerutuan yang pasti akan dilontarkan Ziva sepanjang jalan nanti.
Saat lift bergerak turun menuju lobi, Damian masih sempat melirik jam tangannya untuk kesekian kali. Keheningan di dalam lift itu hanya diisi oleh suara napas teratur Riko yang berdiri di belakangnya.
"Riko," suara berat Damian memecah kesunyian.
"Ya, Tuan?"
"Kenapa kau tadi menyebutnya unik? Aku hanya melihat seorang gadis cerewet yang hobi memprotes," tanya Damian, matanya tetap tertuju pada angka lantai yang terus berkurang.
"Dari laporan yang saya baca mengenai latar belakang Nona Ziva selama di luar negeri, dia bukan sekadar sosialita, Tuan, tapi Nona Ziva cukup vokal dalam beberapa proyek seni dan sosial, gadis seperti itu biasanya tidak suka didikte, itu sebabnya dia terlihat sedikit meledak-ledak di depan Anda," jawab Riko tersenyum tipis, menyesuaikan kacamata di hidungnya.
"Meledak-ledak? Dia hampir merusak gendang telingaku," gumam Damian mendengus, sebuah senyum sinis yang nyaris tak terlihat menghiasi sudut bibirnya.
Tapi entah kenapa memilih sifat Ziva, membuat Damian teringat masa kecil nya dulu, waktu dia masih SD dia pernah kehilangan sepeda nya, yang di sembunyikan oleh gadis kecil yang memiliki gigi ompong dan suka melotot.
"Tidak mungkin dia, mana mungkin gadis ompong itu bisa menjadi seorang desainer yang stylish," batin Damian, menggelengkan kepalanya.
Ting
Pintu lift terbuka di lobi utama, kehadiran Damian Alexander di lobi perusahaan selalu menciptakan aura intimidasi yang membuat para karyawan otomatis menunduk hormat.
Tapi, Damian tidak peduli, dia berjalan dengan langkah panjang dan tegap menuju pintu keluar, di mana sebuah Ferrari hitam, mobil pilihan yang sengaja dia buat untuk mengimbangi energi Ziva, sudah terparkir dengan mesin yang menderu halus.
"Sudahlah Tuan," ucap Riko membukakan pintu untuk bosnya.
Sebelum Damian masuk, pria itu berhenti sejenak dan menoleh ke arah asisten pribadi nya itu.
"Kirimkan pesan pada pengawal yang mengikuti Ziva, pastikan mereka tidak mencolok, aku tidak ingin dia merasa sedang diawasi seperti buronan," perintah Damian, masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang.
"Siap, Tuan," jawab Riko, mengangguk kan kepala nya.
Riko berlari kecil, mengitari mobil, lalu masuk dan duduk di kursi kemudi.
"Apa kita berangkat sekarang Tuan? Pengawal tetap berada di radius lima puluh meter dari kafe," lapor Riko, melirik tuan nya dari kaca spion mobil.
"Hem, jalan," jawab Damian, mengangguk kan kepala nya.
Riko menjalankan mobil nya, meninggalkan parkiran perusahaan Alexander Grup, mengemudi dengan kecepatan sedang.
"Riko, kamu tadi bilang dia suka seni? Cari tahu perancang busana favoritnya, jika butik yang kita tuju nanti tidak sesuai seleranya, aku tidak mau mendengar keluhannya selama satu jam penuh," perintah Damian, datar.
Riko mengangguk cepat, dia sudah mengantongi beberapa informasi tentang calon nyonya bos nya itu.
"Nona Ziva sangat menyukai desain minimalis namun berani, Tuan, dan butik milik Madam Celine yang akan kita kunjungi adalah salah satu favoritnya. Anda sudah membuat pilihan yang tepat," jawab Riko, sesuai informasi yang dia dapatkan.
Damian tidak menyahut, dia kembali fokus pada iPad nya, memeriksa beberapa email yang masuk, walaupun pikiran nya berkelan pada gadis cerewet yang menjadi calon istri nya itu.
Biasanya Damian paling benci membuang waktu untuk hal-hal non-bisnis, tapi kali ini ada dorongan aneh untuk melihat reaksi Ziva saat dia datang nanti.
"Kita lihat, apakah pakaian ekspresif yang Mom bilang tadi bisa membuatku terkesan, Ziva Putri Willson," gumam Damian pelan.
Dia melirik ke arah kursi penumpang yang ada di sampingnya yang masih kosong.
Sebuah buket bunga kecil yang tidak terlalu mencolok, namun harganya setara dengan satu unit mobil, buket bunga itu tergeletak di sana.
Tadi pagi Damian memang meminta Riko untuk menyiapkannya, entah lah apa alasan Damian melakukan itu.
Kurang dari lima belas menit lagi, mobil yang di bawa Riko akan sampai di lokasi, tempat Ziva bertemu dengan sahabat-sahabat nya.
abang posesif vs clon suami kutub....🤣🤣🤣
crazy up dpng thorrrrr
koreksi ya semangat
bru brbgi air mnum aja udh baper...
kbyang nnti kl udh nkah,trs tnggal srumah....atw sekamar pula.....🤭🤭🤭